CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
123. Menghadapi Bersama


__ADS_3

Sarah mendorong pintu ruang kerja Gavino dengan kasar, perasaan Sarah sudah tak karuan rasanya. Takut, cemas Dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. Dia takut bila terjadi hal buruk pada Danira, apalagi mendengar suara tembakan berkali-kali didalam sana. Ketika pintu sudah terbuka, mata Sarah terbelalak ketika melihat situasi yang terjadi didalam sana.


Wajah Sarah yang tadinya pucat, kini berubah menjadi merah bak kepiting rebus. Sarah langsung memutar tubuhnya menutup kembali pintu itu. Sean menautkan alisnya bingung melihat wajah Sarah yang putih, berubah warna.


" Mengapa wajah anda jadi merah begitu ?". Tanya Sean datar. Sarah memegang wajahnya yang terasa panas, dia melirik Sean tajam tak berniat menjawab pertanyaan Sean.


Astaghfirullah....mataku. Batin Sarah malu. Namun dengan cepat Sarah mengembalikan ekspresi seperti sebelumnya, seakan-akan tak melihat apapun.


" Ada apa nona, apa kami harus masuk kedalam menyelamatkan Nona Danira ?". Tanya Sam, yang sudah siap dengan senapannya.


" Tidak perlu.....kita tunggu saja disini ". Ucap Sarah, kembali berdiri diposisinya., Sarah menjadi salah tingkah sendir. Cckk tidak seharusnya di nekat masuk. pikir Sarah.


***


Setelah Danira mengatakan kata cintanya, Gavino semakin mengencangkan pegangan pistol ditangannya, Dia menatap Danira yang terpejam dengan rasa tak menentu. Gavino seakan sedang memilih tetap menuntaskan dendamnya atau mempertahankan cintanya, dan.....


DOR*


DOR*


Gavino menarik butuh Danira, lalu mendaratkan bibirnya, dibibir ranum Danira. Gavino menekan tengkuk Danira, ******* bibir itu dengan rakus dan kuat, seakan menyalurkan segala kekesalan dan amarahnya melalui ciuman yang dia ciptakan. Sehingga membuat Danira sulit bernafas, Danira membuka matanya ketika pipinya terasa basah. Gavino menangis.


Danira berusaha mendorong tubuh Gavino, namun tenaga Gavino sangat kuat, meski dia hanya menahan tubuh Danira dengan satu tangan, karena tangan kanannya masih mengatung diudara, setelah mengeluarkan isi pistol kearah dinding, tapi hal itu tak membuat Danira bisa melepaskan diri begitu saja, hingga Gavino mulai menyadari bila Danira sulit bernafas.


Gavino melepaskan panggutannya, menempelkan keningnya pada kening Danira. Nafas Danira terengah-engah, jantung Danira hampir saja berhenti akibat ulah Gavino yang terlalu berutal menciumnya.


" Mengapa kau lakukan ini padaku Danira ?, bagaimana bila aku benar-benar melakukannya ?, bagaimana bila tembakan sniper tadi benar-benar masuk kedalam tubuhmu. Apa kau tak pernah memikirkan perasaanku hah ?, apa kau tak berfikir bagaimana gilanya aku bila semua itu terjadi ?, mengapa kau jahat sekali padaku. Dan kau mengungkapkan cintamu disaat kau meminta aku membunuhmu ?, kau jahat sekali". Lirih Gavino. Danira menarik wajahnya memberi jarak, Dia melihat wajah Gavino yang basah kerena air mata, pertama kalinya Danira menyaksikan secara langsung Gavino menangis seperti ini. Danira mengangkat tangannya membasuh wajah Gavino.


" Mas....!!".


" Mengapa kau tak pernah jujur?, mengapa kau selalu menutupinya dariku ?, apa kau belum menganggapku ada ?". Ucap Gavino, melihat Danira dengan rasa bersalah.


" Tidak.....!! aku selalu ingin jujur, tapi sifatmu yang keras kepala dan sulit mempercayai sesuatu tanpa bukti, itu membuatku kesulitan. Aku harus mencari semuanya dengan teliti, agar kau bisa mempercayai aku, maafkan aku mas ?". Ucap Danira kembali memeluk Gavino, membenamkan kepalanya didada bidang suaminya. Gavino membuang pistol yang ada ditangannya, lalu membalas pelukan Danira. Gavino tak bisa menggambarkan betapa takutnya dia, ketika timah panas itu melayang kearah Danira, Gavino memang marah. Tapi rasa cintanya mengalahkan segala amarahnya.


" Aku benar-benar takut Danira, aku takut tidak bisa menguasai emosiku, aku takut bila dendamku benar-benar membunuhmu. Bagaimana bisa aku menghadapi diriku sendiri, jika itu terjadi, aku bisa gila Danira ".


" Tapi nyatanya kau tak melakukannya mas, kau bahkan bisa mengendalikan emosi mu meski aku telah meletakkan senjata itu ditangan mu. Apa sekarang kekuatan cinta telah mengalahkan dendam dihatimu mas ?". Ucap Danira, melepaskan pelukannya. Gavino memalingkan wajahnya, dia menghapus air mata yang tak mau berhenti keluar.


" Hekhem...!! berhentilah menggodaku, aku masih marah padamu ". Ucap Gavino serak bercampur malu karena Danira melihatnya menangis, namun tangannya terus melingkar erat dipinggang Danira, bahkan tak berniat melepaskannya.


" Baiklah....maafkan aku ya suamiku?". ucap Danira, menampilkan wajah mengiba. Gavino menghela nafas panjang, lalu kembali menatap Danira.

__ADS_1


" Danira berjanjilah, jangan pernah kau melakukan ini lagi, itu sama saja kau membunuhku Danira, aku bahkan hampir kehilangan kewarasanku karena ulahmu ini ". Ujar Gavino, mengelus-elus wajah Danira lembut. Danira mengangguk-anggukkan kepalanya, tersenyum.


"Jadi sekarang mas sudah bisa menerima kebenarannya ?, apa sekarang kesalahpahaman ini sudah berakhir ?, mas sudah tak membenci ayahku ?". Gavino diam sejenak, dia hanya manggut-manggut pelan, meski dalam hati Gavino masih tersimpan sedikit keraguan, namun dia akan menguburnya dan mencari kebenarannya.


" Terima kasih mas ". Danira kembali memeluk Gavino, dia sangat senang akhirnya permasalahannya dengan Gavino berakhir, kini Danira hanya akan fokus untuk menghadapi para musuh yang masih bersembunyi. Gavino mengelus kepala Danira.


" Jadi kau benar-benar ratu dari negri dongeng ?, wahh...aku benar-benar tidak menyangka, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya selama ini".


" Belum mas, tahta itu masih jauh, meski aku pewaris sahnya, namun ada orang lain yang telah mengisinya. Lagi pula Apa mas tidak menyadari dari namaku dan Bapak ?".


" Namamu terlalu panjang, terkadang aku sulit mengingatnya ". Ujar Gavino, memang sejak awal dia menikah dengan Danira, Gavino merasa aneh mengapa nama calon istrinya ini sangat panjang, namun karena hati belum siap menerima, Gavino hanya cuek tak terlalu memperhatikan hal itu. Ditambah lagi, ketika dia minta sean mencari info tentang data diri Danira, semuanya kosong. Sampai mereka menikah lagipun, Gavino tak terlalu memperdulikan tentang nama istrinya yang panjang bak jalan tol, Yang terpenting Danira sah kembali menjadi istrinya. Inilah Kelemahan Gavino, bila dia telah mencintai seseorang dia tidak perduli bagaimana latar belakang dari wanita yang dia sukai.


" Apa nama itu sudah sejak lahir ?". Tanya Gavino, yang kini mulai penasaran. Sebenarnya sudah sejak lama gavino ingin menanyakan hal ini, namun selalu gagal. Sebab bila sudah didekat Danira, Gavino seakan lupa segalanya. Danira mengangguk.


" Setauku sih begitu, tapi saat aku diasingkan. Bapak sama ibu hanya memanggilku dengan Sandanira Batara, tanpa ada embel-embel nama kebangsawanan dan marga keluarga. Mungkin demi melindungiku bapak merahasiakan nama asliku dan mengganti dengan nama masa kecil. Dan aku juga baru tau ternyata bapak menggunakan nama masa kecilku untuk membuat surat kematianku ". Ujar Danira, menundukkan kepalanya, namun matanya melihat darah yang masih mengalir segar dari tangan suaminya. Danira menarik tangan Gavino, lalu membawanya duduk disofa, Danira melihat luka yang ada dipunggung tangan suaminya.


"Cckkk ..!! Kenapa mas suka sekali melukai diri sendiri sih ?". Kesal Danira, mengambil kotak P3K Yang ada dibawah meja. Lalu mulai menuangkan alkohol ke kain kasa, untuk membersihkan luka Gavino. Gavino tak menjawab, dia hanya fokus memperhatikan wajah cantik istrinya, yang hampir dia lukai. Sedetik kemudian Gavino teringat sesuatu....


" Sayang....apa lehermu sakit ?". Tanya Gavino menarik tangannya.


" Sedikit ". Jawab Danira tanpa melihat gavino. Tanpa aba-aba Gavino membuka kerudung Danira, dia ingin melihatnya sendiri.


" Sayang maafkan aku...aku telah menyakitimu hingga membuat kulitmu memerah seperti ini ". Sesal Gavino, Danira menangkap tangan Gavino lalu menurunkannya.


" Tidak apa, aku baik-baik saja. Aku mengerti, mas tidak sengaja melakukannya ". Ujar Danira halus, mendengar jawaban istrinya membuat rasa bersalah Gavino kian besar, Gavino mendekatkan wajahnya lalu mencium leher kiri Danira lembut.


" Aku berjanji, tidak akan pernah melakukannya lagi ".


" Ya aku percaya ". Ucap Danira tersenyum manis. Danira kembali membersihkan luka Gavino, menutupnya dengan kain kasa.


" Sayang...!!".


" Ya...?".


" Boleh aku bertanya lagi?".


" Tentu, mas bebas menanyakan apapun, karena aku sudah siap menjawab semuanya ". Ujar Danira


" Apa karena ini alasan mu tak pernah ingin membahas tentang keluargamu, dan juga membawaku berziarah kemakam mereka ?". Danira menghentikan kegiatannya, menutup kotak P3K, lalu menyimpannya.


" Bukan, aku bingung harus membahasnya dari mana, dan aku juga tidak tau dimana makam mereka ". Jawab Danira, menunduk, matanya kembali berkaca-kaca mengingat keadaan yang sangat pelik seperti ini. Gavino menautkan alisnya bingung dengan jawaban Danira.

__ADS_1


" Sayang....". Danira mengangkat wajahnya menghadap Gavino.


" Aku akan menceritakan tentang keluargaku, tentang hidupku. Kerena aku sudah berjanji pada mas Gavin, bahwa aku tidak akan menutupi apapun lagi ". Gavino menatap mata indah Danira yang telah berkaca-kaca, Gavino mengelus lembut rambut istrinya.


" Tidak perlu, bila kau belum siap aku tidak akan memaksa, kita masih memiliki banyak waktu ". Ujar Gavino bernada rendah. Meski dia teramat penasaran, namun Gavino tak ingin memaksa, sebab Gavino bisa melihat banyaknya luka dan tekanan didalam tatapan istrinya. Gavino masih sanggup menunggu.


" Mas....aku sudah siap menceritakan semuanya, mungkin tidak akan sedetail itu, tapi aku akan menceritakan garis besarnya saja ". Ujar Danira penuh keyakinan. Gavino hanya mengangguk.


Danira mulai menceritakan semuanya, tak ada yang dia tutup-tutupi lagi, sudah saatnya Gavino mengetahui semuanya. Bagaimanapun Gavino suaminya, orang yang kini bertanggung jawab atas dirinya. Ekspresi gavino berubah-ubah ketika mendengar Danira bercerita tentang, kehidupannya yang tumbuh jauh dari orang tua, musibah yang menimpa keluarganya, kematian Shena, tentang Khalisa, teror yang terus berdatangan hingga yang terakhir masalah Aryo yang mulai memberi ancaman.


Gavino mengingat kejadian dimana tiba-tiba Danira menangis semalaman, hingga tak sabar ingin bertemu khalisa. Dan tatapan mengerikan yang Danira pancarkan disaat media menyangkan berita tentang Shen-Shen Galery dan Shen Diamond. Kini Gavino paham apa yang mendasari istrinya seperti itu, karena Gavino pun tak kalah marahnya ketika mengetahui kebejatan Aryo yang turut adil dalam kematian kakak iparnya. Gavino mengepalkan tangannya, wajahnya kembali merah padam, rahangnya kembali mengeras, apa lagi kini melihat istrinya bercerita sambil berlinang air mata. Gavino bisa merasakan kepedihan Danira.


Ya Tuhan, seberat inikah beban yang kau pukul selama ini. mengapa aku tidak mengetahui salah satunya. Bahkan kau selalu menyuguhkan aku dengan senyuman indah, disaat hatimu selalu menjerit dan terluka. Batin Gavino.


" Ma...ma..mas...!! Mungin mas tidak menyadari bila selama ini mas sering diikuti oleh orang asing, itu semua orang-orang ku, aku meminta Sarah untuk menepatkan pengawalan untukmu tanpa kau ketahui, karena musuh yang mengincar ku juga mulai mendekatimu. Beberapa kali pria misterius ingin melakukan penyerangan padamu, pernah juga mereka sampai memutuskan tali rem mobilmu. Untung saja para pengawal itu selalu mengawasi gerak gerik orang yang ada disekitar mas Gavin, hingga mereka dengan cepat memperbaiki mobil mas Gavin. Waktu itu aku sangat takut, bahkan aku tidak bisa duduk dengan tenang, aku takut hal buruk menimpa mas Gavin, tapi Allah maha baik, dia selalu melindungi mas Gavin, aku sangat bersyukur akan hal itu ".


" Mas, aku tidak tau kapan semua ini akan berakhir, aku hanya bisa melindungi mas Gavin semampuku. Aku harap dengan aku menceritakan ini mas lebih waspada lagi. Karena sekarang jati diriku sudah di publikkan, semua masyarakat sudah mengetahuinya, dan mungkin saja orang-orang jahat itu sudah melihatnya dia media. Bisa jadi sebentar lagi penyerangan akan dilakukan secara terang-terangan.". Ucap Danira menatap Gavino dengan wajah sembab.


BAM**


Gavino terdiam, hatinya nyeri seakan tertimpa batu yang besar. Gavino merasa malu dan tertampar dengan kenyataan yang baru dia dengar. Jadi selama ini istrinya memberikan perlindungan khusus untuknya, yang mana seharusnya Gavino yang melakukan itu untuk Danira. Gavino marah pada dirinya sendiri, yang buta dengan masalah yang menimpa Danira. Gavino mengusap wajahnya kasar, dia ingin marah tapi pada siapa, Karena kesalahan terbesar ada pada dirinya sendiri yang tidak peka. Gavino memejamkan matanya, dia tak menyangka wanita yang terlihat lemah dihadapannya memiliki power yang sangat kuat, bahkan dia mampu menahan segalanya sendiri. Gavino merasa salut sekaligus sedih.


" Mas aku sangat takut !!! takut mereka mencelakaimu. Aku belum sanggup bila harus kehilangan untuk kesekian kalinya, meski aku menyadari usia manusia sudah ada yang menentukan, tapi aku tetap merasa takut. Bahkan aku sampai ingin menyerah, aku seakan merasa sendiri menghadapi semua ini. Aku juga sangat merindukan mereka yang telah tiada mas, aku...aku....". Suara Danira semakin serak terbata-bata akibat tangis. Gavino menarik tubuh Danira memeluknya erat, dia sudah tak tahan melihat istrinya menangis tersedu-sedu seperti ini, hati Gavino terasa hancur. Dia tak akan membiarkan hal buruk menimpa istrinya lagi.


" Kau tidak sendiri Danira, kau sudah memiliki aku. Maaf aku telat menyadari semua ini, maaf telah membuatmu menanggungnya sendiri. Kini kita hadapi bersama, tidak akan aku biarkan orang-orang itu menyentuh barang seujung benang ditubuhmu ". Ucap Gavino dengan tatapan berapi-api. Dia mengecup kening Danira lama. Danira benar-benar menumpahkan segala kesedihannya, dia sudah menemukan tempat untuk berbagi segala beban yang dia pukul sendiri. Rasanya sangat melegakan dihati Danira.


Danira...aku tidak pernah menyangka, cintamu padaku sebesar ini, hingga kau mempertaruhkan segalanya demi melindungiku. Aku pikir cintaku yang lebih besar, ternyata aku salah...dalam diammu pun, kau selalu mengungapkan rasa melalui doa-doamu.


Danira....mungkin aku telat menyadari karena kekuranganku yang tidak peka, tapi aku berjanji akan melindungimu segenap jiwaku. Tak akan aku biarkan siapapun menyakitimu, nyawaku taruhannya.


Danira...Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Kau memang wanita yang luar biasa, kau hebat. Bisa menutupi semuanya dengan senyuman. Kini giliran ku untuk melindungimu, menjagamu, dan membalas semua apa yang telah mereka lakukan padamu. Aku berjanji akan mengembalikan semua milikmu. Batin Gavino


Gavino menangkup wajah Danira yang sembab, dia menghapus air mata dipipi Danira dengan bibirnya.


" Jangan menangis lagi hhmmm!!!.. aku tidak bisa melihatmu seperti ini ". Ucap Gavino lembut, lalu dia mengambil kerudung Danira dan memasangnya kembali.


" Sayang tersenyumlah.....!! kita akan menyelesaikan semuanya satu persatu ".


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2