
Hari ini Danira akan datang ke gedung Radenayu Group untuk pertama kalinya, dia akan mulai bekerja dari sana, tidak lagi di mall seperti sebelumnya. Dia akan memulai berinteraksi langsung dengan para karyawannya yang ada disana ditemani oleh Gavino. Namun selama dalam perjalanan, Danira mengunci mulutnya rapat-rapat, dia tetap diam memberi jarak pada Gavino. Danira sangat kesal bercampur malu, rasanya dia kehilangan muka. Ingin sekali Danira bersembunyi untuk saat ini, dari hadapan keluarga suaminya.
" Sayang,...mereka yang menguping kenapa aku yang dimarahi ?". Rengek Gavino, Danira memilih melihat keluar jendela tak mengubris rengekan gavino sejak tadi.
" Sayang jangan begini....!!". Gavino mencolek-colek lengan Danira, menampilkan wajah sedih. Dia tidak bisa bila Danira cuek padanya.
" Sayang......?".
Sean melirik Tuan dan Ny. mudanya dari balik kaca spion kemudi, Sean semakin merasa geli melihat tingkah Gavino yang semakin lama semakin bucin akut stadium akhir pada Danira.
Tuan berhentilah bersikap menjijikan seperti itu, anda sangat tidak cocok. Batin Sean.
" Sayang kan mereka yang salah, kenapa aku yang didiamkan ?". Danira menghela nafas, lalu melihat kearah Gavino yang sejak tadi tak bisa diam.
" Ini kan salah mas Gavin, andai mas Gavin tidak membahas tentang itu, mungkin mereka tidak akan mendegarnya...aku sangat malu mas ". Kesal Danira, cemberut.
" Aku mana tau kalau mereka belum tidur. Kalau aku tau, aku tidak akan mungkin membahas tentang kita mandi bersama ".
PUK*.
" Aaww...kenapa memukulku ?". Sungut Gavino, menyentuh lengannya yang dipukul Danira.
" Mas kebiasaan, tu lihat disini ada Sean, masih saja membahas tentang itu...menyebalkan ". Gavino melihat kearah Sean, yang fokus pada kemudinya.
" Sean...., kau tidak mendengar apapun kan ?".
" Tidak tuan ". Jawab Sean cepat.
" Dia tidak mendengarnya sayang, jadi jangan diamkan aku lagi ya, ya..ya ?". Pinta gavino mengait tangannya dilengan Danira, menyenderkan kepalanya di bahu Danira, mendongak, memberitakan tatapan mengiba. Danira menghela nafas panjang, bila sudah melihat wajah suaminya imut seperti ini, Danira pun tak bisa marah. Dia kembali melihat kearah luar, sambil menepuk-nepuk pipi suaminya lembut.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, mobil mereka pun berhenti tepat didepan lobby gedung Radenayu Group, disana sudah nampak banyaknya awak media yang menunggu. Melihat mobil Gavino berhenti, mereka buru-buru mengerumuni mobil itu. Untung saja mobil Gavino tidak bisa dilihat dari luar, jadi para wartawan tidak dapat melihat orang yang ada didalam sana.
" Sean telpon Bayu, minta anak buahnya menyingkirkan kerumunan ini sekarang ".
" Tidak perlu Sean....!!" Ujar Danira, Gavino mengeryitkan dahinya melihat Danira.
Mengapa tidak perlu. pikir Gavino.
Namun pertanyaan di benak Gavino segera terjawab ketika melihat lebih dari 30 pria-pria bertubuh besar berpakaian serba hitam, dan logo RA Group terpampang didada jas sebelah kiri yang mereka kenakan keluar dari sisi kanan dan kiri, mereka meminta para wartawan untuk mundur, dan menertibkan orang-orang yang masih mengerumuni mobil Gavino.
Semua orang yang ada disana, mundur teratur mengikuti instruksi pria yang bertubuh tegap, berwajah tampan dengan balutan jas hitam berlogo RA Group, yang tak lain adalah Sam. Para pengawal itu berjejer seperti pagar yang saling bergandengan untuk menahan supaya tak ada yang nekat menerobos mendekati pimpinan mereka nanti. Dari dalam gedung Radenayu Group, Sarah keluar dengan wajah dingin nan datarnya seperti biasa. Dia memastikan para pengawal itu telah melakukan sesuai perintahnya, saat dirasa aman bagi Danira, Sarah melangkah mendekati mobil Gavino.
" Cciihh....!! ternyata wanita Samson ini sigap juga ". Salut Gavino. Sean pun ikut melirik Sarah, dia kagum melihat cara Sarah memberikan perlindungan bagi Danira.
Cerdas. Batin Sean.
Tok
Tok
Tok
Sarah mengetuk kaca mobil Gavino. Sean menekan power window, kaca mobil pun terbuka.
__ADS_1
" Nona semua sudah aman ". Ujar Sarah memberi tahu. Danira mengangguk, lalu melihat kearah Gavino yang masih duduk dengan santai.
" Mas yakin mau ikut masuk ?". Tanya Danira memastikan lagi, dia tidak ingin suaminya kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu tentang kematian ayahnya di gedung Radenayu Group.
" Tentu aku akan menemanimu ". Ujar Gavino penuh keyakinan, meski dalam hatinya tidak seyakin yang dia ucapkan.
" Baiklah....". Ucap Danira pelan. Sean yang telah turun, membukakan pintu untuk Gavino. lalu Sean ikut berdiri disamping Sarah. Gavino yang telah turun terlebih dahulu berhasil menarik pandangan para wanita yang ada disana, Gavino melihat orang-orang yang ada disana dengan tatapan tajam dan raut wajah yang dingin dan angkuh. Dia mengulurkan tangannya, menyambut sang istri keluar dari dalam mobil. Saat Danira turun semua Blitz Kamera mulai berkedip-kedip menangkap gambar Danira. Gavino terus menggenggam tangan Danira posesif, dan momen itu tak luput dari sorot kamera yang terus mengarah kearah mereka sejak tadi. Dan lagi-lagi berita ini menjadi Trending topik no.1 di semua media sosial, apalagi banyak akun media sosial dari para wartawan yang menayangkan secara live.
^^^"Masyaallah...mereka memang pasangan yang serasi".^^^
^^^" Aahhhkkk...aku iri, tapi apa dayaku dia wanita yang sulit aku saingi ".^^^
^^^" Gila...ini parah, bagaimana cara Radenayu mengubah Tuan Arogan, menjadi sangat bucin seperti ini ".^^^
^^^" Disini terlihat sekali, bila tuan Gavino sangat mencintai istrinya ".^^^
^^^" OMG....Tatapannya itu loh, kok jadi aku yang baper ya ".^^^
^^^" Aku jadi penasaran, mereka kenalannya dimana ya ? Bukankah selama ini tuan angkuh itu terkenal dingin dan tidak tertarik dengan wanita?".^^^
Dan masih banyak lagi, komentar-komentar para warna net, memenuhi laman media sosial yang terdapat foto atau Vidio Gavino dan Danira.
Danira dan Gavino mulai berjalan diikuti oleh Sean dan Sarah dibelakang. Mereka melewati para wartawan yang mulai berteriak-teriak penuh pertanyaan ditujukan pada Danira.
^^^Wartawan : "Raden Ayu, bolehkah kami meminta waktu anda sebentar ?".^^^
^^^"Benarkah anda pewaris sah kerajaan samudra Brahmacari itu ?".^^^
^^^"Kapan anda akan datang kekeratonan ?".^^^
^^^"Raden ayu, benarkah anda yang menjadi penyebab kematian kakak anda sendiri, seperti yang dituduhkan oleh tuan Aryo tempo hari?".^^^
Deg*
Teriakan seorang wartawan yang menanyakan perihal penyebab kematian kakaknya, berhasil membuat Danira berhenti lalu menoleh ke wartawan itu. Entah mengapa saat Danira berhenti tepat ditengah-tengah mereka yang sejak tadi terus berdesakan ingin menerobos dan mendekati Danira, seketika menjadi hening dan diam. Bahkan tak ada lagi yang melempar pertanyaan ataupun dorong mendorong disana, yang ada sorot kamera yang terus merekam situasi disana.
" Sayang ...apa pertanyaan itu menganggumu ?". Tanya Gavino, ikut melihat kearah wartawan yang bertanya, seketika wartawan wanita itu menjadi gemetar mendapatkan tatapan mengerikan dari Gavino.
" Tidak mas, ayo kita masuk ". Ajak Danira, meninggalkan awak media yang tiba-tiba menjadi hening. Pintu lobby terbuka otomatis. Ketika Danira dan Gavino masuk, mereka langsung disambut oleh ratusan karyawan RA group yang telah berdiri rapi.
" Assalamualaikum....selamat datang Raden Ayu ". Ucap mereka kompak, lalu menundukkan kepala mereka, meletakkan tangan kanan didepan dada mereka serentak. Sarah telah memberi instruksi bahwa tidak ada yang boleh membungkukkan badan, karena Danira melarang keras hal itu. Kemudian dari barisan depan seorang wanita bercadar berjalan mendekati Danira, memberikan sebuket bunga Lily berwarna putih. Danira menerima bunga itu dengan senang hati.
" Waallaikumsalam....terima kasih ". Jawab Danira menundukkan juga kepalanya, tersenyum. Hatinya bahagia bercampur haru mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari para karyawan yang baru saja dia temui.
Gavino yang berdiri disamping Danira merasa sangat bangga sekaligus masih tak percaya, ternyata istrinya benar-benar pemilik dari Radenayu Group dan keturunan raja, Gavino masih merasa semua ini seperti mimpi. Wanita yang dulu sangat dia rendahkan dan dia anggap bodoh, ternyata pimpinan perusahaan besar sekaligus ratu yang akan memerintahkan sebuah kerajaan.
Ini benar-benar gila, cckkk...!! aku masih tak mempercayai semua ini. Ternyata istriku terlahir dari negri dongeng yang tak pernah aku percayai. Batin Gavino.
Para karyawan itu pun membukakan jalan supaya Danira dan Gavino bisa masuk, semua mata yang ada disana tertuju dengan pasangan yang sedang berjalan saling bergandengan tangan itu. Gavino benar-benar tak melepaskan ngengamannya, dia seakan sedang menunjukkan pada dunia bila Danira itu hanya miliknya. Hawa di dalam gedung RA Group terasa sangat kental dengan ketegasan. Bagaimana tidak, mereka sedang menyaksikan Dua pemimpin besar yang paling berpengaruh di negri ini berjalan beriringan dihadapan mereka, Aura mereka berdua mampu menarik banyak mata dan decak kagum. Siapa yang akan menyangka, ternyata pemilik dari Radenayu Group istri dari seorang Gavino Garayudha Pradiksa, King Of Bisnis dan begitupun sebaliknya.
Saat ditengah-tengah lobby, Gavino mengencangkan ngengaman tangannya, dia tetap menatap lurus, tanpa berniat melihat kearah lain. Tatapan Gavino berubah kelam, wajahnya menjadi tegang, bayangan kematian sang ayah tiba-tiba kembali kedalam ingatan Gavino, dimana tempat dia berpijak sekarang adalah tempat sang ayah terbunuh. Danira yang merasakan tangan Gavino menjadi berkeringat dingin, Danira menolehkan kepalanya melihat Gavino.
" Mas...?".
__ADS_1
" Bisakah kita berjalan lebih cepat, aku tidak ingin terlalu lama disini ?". Ucap Gavino datar, tanpa ekspresi. Danira melangkahkan kakinya sedikit lebar, manarik tangan suaminya, lalu masuk kedalam lift. Sarah menekan nomor 70, dimana itu nomor lantai ruang kerja Danira.
Ting*
Lift berbuyi, menandakan mereka telah sampai dilantai yang dituju. Mereka keluar lalu berjalan melewati koridor berwarna putih, sepanjang koridor dihiasi dengan Tamanan anggrek bulan berwarna ungu, didalam pot berukuran besar. Mereka ber-empat berhenti didepan pintu kayu yang terbuat dari jati asli dengan ukiran klasik berwarna coklat tua. Sarah menempelkan ID card yang dia pegang, pintu itupun terbuka bergeser kekanan dan kekiri. Setelah sekian lama, akhirnya ruangan ini terbuka kembali, biasanya Sarah hanya akan membuka ruangan CEO hanya 2 kali dalam 1 bulan, hanya untuk membersihkan saja, tapi sepertinya ruangan ini akan terbuka untuk seterusnya.
" Sarah, bisakah tolong ambilkan air putih ?". Pinta Danira, diangguki oleh Sarah.
" Sean.... bolekah kau meninggalkan kami sebentar ?". Sean pun mengangguk, lalu pergi keluar menunggu didepan pintu. Setelah Sarah dan Sean pergi, Danira mengangkat Burqanya, melihat wajah suaminya yang masih terlihat tegang.
" Mas...?". Panggil Danira lembut menyentuh tangan Gavino. Gavino mengusap wajahnya kasar, menghela nafasnya berat, lalu melihat Danira.
" Aku tidak apa-apa, tenang saja ". Ujar Gavino mencoba senatural mungkin, meski dalam hatinya api amarah mulai membara, teringat isi rekaman kematian ayahnya.
" Seharusnya mas tidak perlu ikut kesini tadi ". Ucap Danira merasa bersalah.
" Sssttt...sudah, tidak perlu merasa bersalah. karena semua ini juga bukan salahmu, aku hanya belum bisa mengendalikan diriku sendiri ". Ujar Gavino, mengelus-elus kepala lalu pipi Danira.
" Mas...kita akan menemukan pelakunya, percayalah ". Gavino hanya diam, melihat mata Danira lalu tersenyum tipis.
Danira telah duduk dikursi kebesarannya yang berwarna putih dibalik meja panjang dan besar berwarna coklat. Sedangkan Gavino duduk disofa sambil membaca beberapa buku yang ada disana.
" Mas tidak pergi kekantor ?".
" Tidak... hari ini pekerjaanku khusus menemanimu ". Jawab Gavino.
" Mas yakin, bukankah hari ini mas ada pertemuan penting ?".
" Tidak ada yang lebih penting darimu ".Ucap Gavino, mengedipkan sebelah matanya. Danira tersenyum malu-malu mendengar gombalan sang suami. Sedangkan Sean dan Sarah mereka saling lirik merasa ngeri dan menggelitik ketika melihat ekspresi Gavino yang dibuat sok imut.
Gavino tampak santai, dan menikmati momen hari ini, Dia membaca buku tentang silsilah keluarga istrinya, sesekali dia melihat Danira yang fokus dengan pekerjaannya bersama Sarah yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya. Gavino tersenyum-senyum sendiri, Padahal hari ini jadwal Gavino sangat padat namun dia lebih mementingkan menemani istrinya dan membatalkan semua pertemuan hari ini.
" Tuan...". Panggil Sean, Gavino langsung menoleh dan memberikan tatapan tajam.
" Sudah aku katakan, hari ini aku tidak ingin membahas masalah pekerjaan. Kau atur saja semuanya !!!". Titah Gavino, kembali memandangi istrinya. Sean mengepalkan tangannya geram, bila tak ingat Gavino adalah atasannya mungkin saat ini Sean telah memukul kepala Gavino yang keras kepala, karena ulah Gavino ini dia harus menerima banyak keluhan dan amarah dari para klien yang sudah datang ke Garayudha Company untuk meeting, tapi malah Gavino meminta diundur dan dibatalkan.
" Berhenti menatapku seperti itu, apa kau sudah bosan dengan kedua bola matamu itu ". Ketus Gavino, tanpa melihat Sean. Sean hanya diam, malas menanggapi Omelan bosnya yang sedang bucin.
Saat Danira masih membaca beberapa dokumen yang harus dia tanda tangani hari ini. Ponsel Sarah berdering....
" Iya...".
"......"
" Tunggu Sebentar !!".
" Nona, Sam mengatakan diluar ada ibu dan Istri dari taun Aryo. mereka memaksa ingin bertemu dengan anda". Ucap Sarah, memberi tahu.
" Biarkan mereka masuk ". Ucap Danira, kembali melihat kertas yang ada dihadapannya. Sarah pun mengangguk lalu menyampaikan perintah Danira pada Sam.
Tak menunggu lama, suara pintu diketuk dan terbuka, menampakkan 3 wanita berbeda generasi berdiri didepan pintu. Seorang wanita paru baya masuk tanpa permisi, dengan wajah berapi-api berjalan mendekati Danira.
" WANITA SIALAN....KEMBALIKAN PUTRAKU ".
__ADS_1
......................
...Bersambung.......