CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
89. Dikepung


__ADS_3

Mobil yang Gavino bawa tiba-tiba menjadi oleng, Gavino menginjak pedal rem secara mendadak. Dengan cepat tangannya menahan kening Danira agar tidak terkena dashboard mobil.


" Kau tidak apa-apa?". Tanya Gavino tampak khawatir.


" Tidak, aku tidak apa-apa ".


" Terima kasih ". Ujar Danira, Gavino mengangguk lalu menegakkan posisi duduknya.


" Aku akan memeriksa sebentar, Kau tunggu saja disini. Diluar tengah hujan deras ". Ujar Gavino sambil membuka jas yang sedang dia kenakan. Danira menggangguk patuh. Gavino memiringkan tubuhnya kebelakang, mengambil payung yang ada di bawah kursi. Kemudian dia membuka pintu, dan membentangkan payung, untuk melindunginya dari guyuran air hujan.


" Ccckkkk....sial, kenapa ban nya pecah dalam keadaan seperti ini sih". umpat Gavino sambil menendang ban mobil. Gavino melihat kesekeliling, sepi dan gelap. bahkan celana Gavino pun menjadi kotor akibat percikan air hujan, yang mengenai tanah berlumpur. Gavino melangkah membuka pintu bagian belakang, untuk mengambil Ban Serep.


" Ada apa ?". Tanya Danira penasaran.


" Ban mobilnya pecah, aku akan menggantinya dulu, kau harus tetap disana. Jangan coba-coba turun ". Ujar Gavino memperingatkan.


" Anda yakin bisa menggantinya sendiri ?".


" Kau meremehkan aku hhmm, ini sangat mudah, hanya mengganti Ban mobil saja. Kecil?". Sombongnya pada Danira.


" Bukan begitu, biar saya membantu anda memegangkan payung agar anda tidak kebasahan ". Jelas Danira, dia tak tega bila membiarkan suaminya seorang diri Menganti ban mobilnya, apalagi mengingat siapa suaminya ini, pasti belum pernah melakukan hal itu sebelumnya.


" Tidak perlu, kau turuti saja perintahku. Tetap duduk didalam, aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Bila kau ikut turun nanti kau terkena hujan, lalu sakit. Itu akan semakin merepotkan ku". Ujar Gavino lagi, tak ingin dibantah. Danira memajukan bibirnya, cemberut. Gavino mulai menurunkan ban serepnya, dan mengeluarkan perlengkapan untuk ganti ban, dia mulai berjongkok.


"Benar-benar sial, kenapa bannya bisa pecah. Padahal mobil ini baru saja aku beli, semuanya masih baru. Dan juga bagaimana caraku menggantinya, bahkan aku belum pernah melalukan ini sebelumnya. Jika tau begini, lebih baik aku membawa Sean saja". Gerutu Gavino, mulai mendongkrak. Tubuh gavino setengah basah, akibat payung yang dia pegang tak bisa memayunginya secara sempurna, karena kedua tanggannya tegah melepaskan ban dari badan mobil. Mata Gavino menyipit ketika melihat sesuatu yang melekat diban mobilnya. Bukankah ini....


BRUKKK**


Danira menendang seseorang yang ingin menusuk punggung Gavino dengan berlatih dari belakang. Gavino mendongakkan kepalanya melihat kebelakang, matanya membesar melihat seorang pria bertubuh besar telah berbaring ditanah. Lalu pandangannya beralih kepada istrinya. Danira yang sedari tadi duduk sambil terus memperhatikan Gavino dari dalam, tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang berjalan mengendap-endap mendekati suaminya. Tanpa memperdulikan peringatan Gavino tadi, Danira segera turun dan menendang pria itu dari samping.


" Anda tidak apa-apa?". Tanya Danira khawatir, belum sempat Gavino menjawab. Segerombolan pria bertubuh besar berlari mengepung mereka, mungin sekitar 20 orang. Gavino berdiri, sambil memayungi Danira.


"SIAPA KALIAN ?". Teriak gavino, menarik Danira kebelakang punggungnya.


" Anda tidak perlu tau siapa kami, kami tak ingin mencari masalah kepada anda. Kami hanya mengginginkan wanita itu, jadi serahkan saja dia. Maka anda akan kami biarkan pergi ". Ujar seorang pria, yang berdiri dibarisan paling depan. Sepertinya dia adalah ketua dari geng itu. Gavino mengerutkan dahinya, mendengar ucapan pria itu yang menginginkan danira.


" Apa kau mengenali mereka ?". Tanya Gavino menoleh pada danira.


" Tidak....aku tidak mengenali mereka ". Ujar danira, menggeleng cepat.


" Jika kau tak mengenali mereka, untuk apa mereka menginginkan mu ?". Tanya Gavino lagi, masih penasaran bercampur bingung.


" Aku tidak tahu ".


" Cepat serahkan wanita itu kepada kami, jika kau masih ingin hidup ". Ancam pria itu pada gavino. Gavino tersenyum miring. Dia mengepalkan tangannya, melihat orang-orang itu satu persatu dengan tatapan tajam dan kelam. Gavino mengeraskan rahangnya, mendengar ancaman pria itu. Suasana disana semakin terasa mencekam, mereka bisa merasakan aura kemarahan dan membunuh dari sorot mata Gavino.


" Cciihhh.....beraninya kau ngancam aku hah ?, apa kau tidak tau siapa aku ?".


" Kami tau siapa anda, maka dari itu kami akan melepaskan anda. Namun, anda harus menyerahkan wanita itu kepada kami. Setelah itu, anda boleh pergi ". Ucap pria itu lagi, mendengar itu membuat amarah Gavino semakin menjadi.

__ADS_1


" BERENGSEK....!! Beraninya kau meminta ISTRIKU hah ?, apa kau pikir istriku sebuah barang yang dengan mudah kau pinta. Lebih baik kalian saja yang pergi dari sini, sebelum aku semakin marah dan membunuh kalian semua ". Geram Gavino, yang semakin tersulut emosi. Dia menggenggam tangan Danira semakin erat. Danira melihat Gavino dengan mata berkaca-kaca.


Para pria itu saling lirik, lalu tertawa bersama-sama, mendengar ancaman Gavino.


" HA..HAA..HAA...!! apa kau pikir kami akan takut dengan anda tuan muda yang sombong. Aku telah memperingatkan anda, tapi sepertinya anda tetap pada pendirian anda. Baiklah, itu tak jadi masalah untuk kami. Malah ini akan lebih menguntungkan, bila kami berhasil membunuh seorang King Bisnis dinegara ini, maka kekuatan kami akan semakin diakui dan ditakuti banyak orang ". Jelas ketua geng, sambil menyalakan api rokok ditangannya. Mendengar ucapan ketua geng itu, membuat Danira semakin cemas gemetar.


Ya Allah, inikah arti dari firasat kegelisahan ku sedari tadi. Apa mereka adalah orang yang selalu mengintai keluargaku. Ya Rab, hamba mohon lindungi hamba dan suami hamba. Karena hanya Engkau tempat sebaik-baiknya memohon pertolongan dan perlindungan. Batin Danira berdoa. Perasaan Danira semakin tak karuan, rasa takut semakin menjadi. Melihat para pria berwajah sangar yang tengah mengepung mereka berdua.


" Tetaplah didekat ku, jangan pernah pergi menjauh". Ujar Gavino pelan, setegah berbisik kepada Danira. Danira mendogak melihat Gavino.


" Tapi anda tidak akan mungkin bisa mengalahkan mereka seorang diri, dalam segi jumlah saja kita sudah kalah. Lebih baik anda pergi saja, selamatkan diri anda, bukankah mereka hanya menginginkan saya. Jadi pergilah, jangan korbankan diri anda untuk saya". Ujar Danira, dia benar-benar mencemaskan Gavino, meski dia belum sepenuhnya menerima Gavino kembali. Tapi dia tak akan bisa melihat suaminya terluka, apa lagi ini menyangkut masalah pribadi keluarganya. Gavino semakin mengeratkan ngenggaman ya, melihat Danira tajam.


" Aku tak akan meninggalkanmu kepada pria-pria bajingan seperti mereka seorang diri. Aku akan berusaha melindungimu, meski nyawaku taruhannya ". Tekan Gavino, Danira tak kuasa menahan harunya, tanpa terasa air mata Danira menetes begitu saja.


" Kau tenang saja, kita akan selamat dari sini. Tapi bila nanti terjadi sesuatu padaku, kau harus pergi dari sini, berlari secepat mungkin". Ujar Gavino pelan, Danira menggelengkan kepalanya tanda menolak. Mana mungkin dia bisa meninggalkan suaminya seorang diri, itu tak akan mungkin. pikir Danira. Gavino meraba-raba sakunya mencari sesuatu.


Cekk...sial, pistolku tertinggal didalam jas tadi. Gumam Gavino, semakin kesal.


Ketua Geng memberikan kode dengan menggoyangkan sedikit kepalanya, kepada para anak buahnya. merekapun mulai maju mendekati Danira dan Gavino.


" Mari kita hadapi bersama-sama, saya juga tidak akan pernah meninggalkan anda seorang diri disini. Bila harus mati, maka kita akan mati bersama ". Ujar Danira, semakin mengeratkan tangannya pada Gavino.


" Tapi kau seorang Wanita,.....!!". Ucapan Gavino kembali terhenti, saat Gavino mencekram dengan erat tangan pria yang ingin menyentuh Danira.


" JANGAN PERNAH KAU COBA-COBA MENYENTUH ISTRIKU ". Tekan Gavino dengan nada datar, sorot mata tajam penuh amarah. Dia mencekram tangan pria itu, hingga membuat si pria berteriak kesakitan. Danira merasa ketakutan, dia gemetar. Gavino mendorong pria itu hingga tersungkur ketanah.


" BRENGSEKKKKK....!!!". pekik Ketua geng, lalu membuang rokok yang ada ditangannya.


" Bunuh dia ". Teriaknya, memerintah anak buahnya lagi. Gavino mengepal tangannya, dia telah bersiap tanpa melepaskan genggamannya pada Danira. Gavino mulai memukul dengan tangan kananya dan menendang satu persatu penjahat-penjahat itu. Danira benar-benar takut, dia bingung harus melakukan apa, karena tangannya tak bisa lepas dari ngenggaman Gavino.


Ya Allah aku harus apa, tolong kami ya Rab. Batin Daria terus saja memohon. Karena lawan semakin banyak, Gavino melepaskan ngenggamannya pada Danira. Beberapa kali pukulan orang-orang itu mengenai wajah Gavino, tapi Gavino tak menyerah, dia terus mencoba melindungi Danira. Dia melakukan perlawanan, tanpa menjauh dari tempat Danira berdiri.


Namun dari Atas mobil, seorang pria melompat dengan memegang sebuah pentungan besi. Melihat itu Danira membolakan matanya, dengan cepat dia mendorong Gavino agar tak terkena pukulan itu. Danira menarik kaki pria itu, hingga pria itu terjatuh.


BRUKKK*


Danira tak bisa diam lagi, bila dia tak membantu suaminya, maka mereka berdua bisa mati disini. pikirnya.


Danira mengambil pentungan besi pria tadi, mulai mengayunkan pentungan itu kekiri dan kekanan, mengenai perut dan punggung lawan. Ini bukanlah hal yang sulit bagi danira, karena dia telah berlatih beladiri, menembak, dan bermain pedang. Sejak dia mengetahui keselamatannya selalu terancam, Sarah menyarankan agar Danira berlatih itu semua. Supaya, ketika dia pergi seorang diri, tanpa adanya Sarah disampingnya. Danira dapat melindungi dirinya sendiri. Dan sepertinya, saat ini waktu yang tepat bagi Danira, memperaktekkan kemampuannya.


BUK*


BUK*


BUK*


Suara pukulan demi pukulan terdengar nyaring, Gavino yang sedang berkelahi cukup jauh, mulai mencari keberadaan Danira, dia panik tak mendapatkan Danira dibelakangnya lagi.


Dari jarak yang cukup jauh darinya, Gavino menangkap sosok wanita Berjubah tengah berkelahi dengan beberapa pria. Gavino menyipitkan matanya dan betapa terkejutnya Gavino melihat adegan itu, dia membesarkan matanya, ketika melihat Danira sedang menendang pria yang akan memukulnya dari samping. Gavino membulatkan matanya tak percaya, dia seakan tegah menonton serial film laga. Dimana pemain utamanya seorang wanita. Danira terus saja memukul dan menendang lawannya dengan gesit, membuat beberapa pria itu tumbang.

__ADS_1


Benarkah dia Danira, istriku ?. Batin Gavino.


Karena terlalu fokus melihat Danira, Gavino sampai lengah dengan lawan yang kembali mengepungnya.


BAK*


BUK*


Gavino kembali menerima serangan di bagian punggung dan perutnya berkali-kali, hingga membuat Gavino merasa kesakitan, dan membuatnya berlutut ditanah.


"Aaggghhh ".


"Uhukkkk...." Gavino memuntahkan darah segar dari mulutnya, membuat kemeja putih itu berlumur darah.


" Ha..ha...ha..ha nona, lebih baik anda menyerah saja. Lihatlah suami anda telah terkapar, apa anda ingin melihatnya lebih parah dari ini ". Teriak ketua geng, yang berdiri dibelakang Gavino. Mendengar suaminya disebut, Danira mengalihkan perhatiannya, dan benar saja, dia melihat Gavino telah terduduk ditanah. Dengan noda berwarna merah dimulut dan pakaiannya.


" Mas....!!". Lirih Danira. Dia terkejut melihat keadaan suaminya.


" Bila anda ingin suami anda tetap hidup, maka ikutlah bersama kami. Tapi jika anda tetap melawan, maka dia akan mati disini ". Ujar ketua geng dengan penuh nada ancaman, disertai seringai licik. Gavino memberikan kode gelengan kepala pada Danira. Danira mulai bimbang, haruskah dia menyerah demi suaminya. atau dia kabur sesuai permintaan Gavino tadi.


Tidak..aku tidak boleh egois, dia telah mengorbankan keselamatannya demi aku. maka akupun harus melakukan hal yang sama, aku tidak akan meninggalkannya dalam keadaan begini. Aku harus menyelamatkannya, dan memastikannya tetap hidup seperti sebelumnya. Batin Danira.


" Baik, saya akan ikut dengan kalian. tapi tolong lepaskan dulu suami saya". Pekik Danira lantang, pandangannya terus menatap Gavino yang mulai melemas. Mata Danira kembali mengembun, melihat keadaan suaminya yang memperihatinkan.


" Baiklah...kami akan melepaskannya, silahkan anda ikut anak buahku ". Ucapnya lagi, Danira masih bergeming, dia terus menatap suaminya.


" Jangan Danira, jangan lakukan itu. Pergilah dari sini jangan perdulikan aku ". Ucap Gavino, dengan suara mulai melemah.


BUK*


" Diam Bodoh....Aku tidak meminta saran darimu!!". Bentak ketua geng, memukul kepala Gavino lagi, Danira menutup mulutnya, menangis.


" Tolong jangan sakiti dia lagi, aku mohon. saya akan ikuti semua perintah anda, tapi saya mohon lepaskan suami saya". Ujar Danira dengan suara bergetar, mendengar itu ketua geng tersenyum miring. Lalu mengangguk-anggukan kepalanya.


" Lepaskan tuan muda arogan ini ". Titah ketua geng kepada para anak buahnya yang mengepung Gavino, mereka pun mengikuti instruksi dari bosnya itu.


" Silahkan ikuti anak buahku nona ". Ucap ketua geng, menunjuk 3 orang pria yang berada disamping Danira. Danira masih melihat suaminya, Mungkin ini yang terakhir Danira bisa melihat Gavino. pikirnya.


Ya Allah....lindungi suamiku, lindungi suamiku, lindungi suamiku. Batin Danira terus berdoa, hanya meminta keselamatan Gavino.


Danira mulai melangkah mengikuti ketiga pria itu, dia melihat Gavino terus saja menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Danira jangan pergi. Tanpa sengaja mata Danira melihat kearah kiri hutan, dari jarak yang cukup jauh, Danira melihat seseorang memegang senjata api, yang diarahkan tepat kepada Gavino. Danira membesarkan matanya. Tanpa berpikir panjang, Danira berlari kearah gavino lalu memeluknya dengan erat.


" Tetaplah hidup, saya telah memaafkan mas Gavino dan terima kasih sudah berusaha melindungi saya ". Bisik Danira dalam pelukan Gavino, lalu.......


DORRR***


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2