
Pagi ini Sean dan Sarah sudah berada didalam mobil yang sama menuju kediaman bos mereka. Didalam mobil tak ada pembicaraan apapun, semua hening, yang ada hanya suara deru mesin mobil. Setelah 30 menit mobil Rolls-Royce milik Danira pun berhenti basemen.
Kini mereka telah berdiri tepat didepan pintu penthouses Gavino, Sean menekan bel, tak berapa lama pintu terbuka, menampakkan wanita yang ditutupi kain hitam dibalik pintu.
" Assalamualaikum Nona ".
" Nyonya ".
Sapa Sean dan Sarah bersamaan.
" Waallaikumsalam....". Jawab Danira, memperhatikan Sean dan Sarah bergantian, merasa ada yang janggal pagi ini.
" Kalian datang bersama ?". Tanya Danira merasa aneh, karena tak biasa dua manusia Es ini bisa datang diwaktu bersamaan.
" Siapa yang datang sayang ?". Suara Bariton dari dalam mengalihkan perhatian Danira.
" Sean dan Sarah mas ".
" Ayo masuk dulu ". Ajak Danira, memberikan jalan.
" Tumben kalian bisa datang bersamaan ? Tanya Gavino keluar sambil memasang arloji ditangannya, dia menautkan alisnya melihat wajah Sean dan Sarah, apalagi melihat disudut bibir mereka sama-sama luka memar dan Sean masih menggenakan pakaian yang sama seperti kemarin.
" Semalam saya tidur ditempat Nona Sarah ". Jawab Sean datar.
" Hah....?". Gavino.
" Hah...?". Danira.
Suami istri itu saling berpandangan, lalu Danira dengan cepat melihat Sarah.
" Lalu mengapa sudut bibir kalian sama-sama memar, apa kalian.....!!!" Gavino menaikkan kedua tangannya, membentuk mengerucut lalu membenturkan Ujung-ujung jari-jarinya, tersenyum semirik. Sean dan Sarah menghela bersamaan.
" Sarah....?".
" Tidak nona, kami tidak melakukan apapun. Semalam tuan Sean menolong say.....!!".
" Hheiii calon bojo, mengapa kalian suka sekali meninggalkan aku hah ?". Teriak seseorang yang muncul dari balik pintu, memotong ucapan Sarah. Semua kepala yang ada didalam ruang tamu itu menoleh kearah pintu penthouses yang masih terbuka.
Lagi-lagi Kevin ditinggalkan begitu saja didalam mobil karena masih tertidur, Sarah dan Sean sudah berulang kali membangunkannya, namun karen Kevin tidur seperti orang pingsan, sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkannya saja.
" Siapa dia ?". Tanya Gavino, tak mengenali orang yang masuk, lalu dengan seenaknya duduk di sofa kosong sebelah Gavino.
" Dia sahabat anda tuan, dia tuan Kevin ". Gavino membelalakkan matanya mendengar jawab Sean, lalu melihat wajah Kevin yang memprihatinkan lebih dekat.
" Berhentilah menatapku seperti itu, aku tau aku memang sangat tampan, rupawan melebihi ketampanan mu !! ". Ujar Kevin, menyenderkan kepalanya disandarkan sofa.
" Astaga....Kevin, apa yang terjadi denganmu ?". Gavino benar-benar terkejut, bahkan di tak mengenali sahabatnya sendiri. Siapa yang tidak terkejut, bila wajah Kevin sekarang tampak bengkak, dengan benjolan besar di keningnya, ditambah melingkar warna biru kehitaman di kedua matanya, wajah Kevin sekarang benar-benar persis seperti ikan lohan kamfa, ikan terjenong.
" Ini bentuk pengorbanan demi menyelamatkan wanita masa depanku, yang diganggu geng motor berisik semalam ". Ujar Kevin, sambil tersenyum merekah pada Sarah. Gavino mengikuti arah mata Kevin, yang terus menatap Sarah, Gavino paham maksud tatapan sang sahabat. Sedangkan Sean, tanpa sadar Sean mengepal tangannya membentuk tinju, merasa terganggu dengan panggilan kevin untuk Sarah. Meski tatapannya tetap lurus kedepan, namun sesekali dia melirik kearah Sarah, ingin tau, apa Sarah bereaksi ketika mendengar kata-kata menggelikan dari Kevin atau tidak.
" Cciihhh... sok-sokan ingin menyelamatkan, kau saja tidak bisa berkelahi, yang kau tau hanya bertempur di ranjang ". Cetus Gavino, membuat dia mendapatkan tendangan di kaki dari Kevin.
DUG**
" Aakkhh...kenapa kau menendang ku ". Gavino meringis, memegang tulang kering kakinya, terasa nyeri.
" Mulutmu tidak bisa dijaga apa ?, jaga image ku sedikit ". Kesal Kevin.
" Itu memang kenyataannya, lagi pula tanpa aku mengatakannya pun wanita Samson ini sudah tau semua kelakuan nakalmu yang suk..eeuummm...eemm...!!". Kevin memiting leher Gavino, lalu menutup mulutnya, membuat Gavino bergumam tak jelas.
" Calon bojo jangan dengarkan perkataan manusia laknat ini ya, aku telah berubah, sudah tak seperti dulu, sejak pagi ini aku telah tobat ". Ujar Kevin, sambil tersenyum pada Sarah yang tak sedikitpun melihat kearahnya. Dia tetap berdiri tegap, tanpa ekspresi.
" Sarah...ada apa ?, apa yang sebenarnya terjadi ?". Kini Danira bertanya, tak perduli dengan kelakuan suaminya dan Kevin yang sedang saling piting memiting leher, seperti anak kecil yang saling balas membalas.
__ADS_1
" Semalam saat saya pulang dari supermarket, saya diganggu oleh para preman nona, dan tuan Kevin dan Tuan Sean yang telah menolong saya, itulah sebabnya pagi ini kami datang bersama karena mereka tidur ditempat saya semalam ". Jelas Sarah singkat.
" Tapi preman-preman itu tidak melukaimu kan ?". Danira khawatir.
" Tidak nona ".
" Tidak akan ada yang bisa melukainya sayang, dia kan wanita Samson, otot kawat tulang baja ". Timpal Gavino, memegang lehernya masih terasa perih akibat pitingan Kevin. Sarah melirik Gavino kesal.
" Iya, dia wanita yang hebat, bahkan dia semalam melindungiku, saat hampir dipukuli oleh geng berisik. Cceekkk dia benar-benar calon istri idamanku ". Kevin berucap dengan penuh percaya diri.
HEKHEM**
Sean berdehem kencang, membuat semua orang yang ada disana melihat kearahnya.
" Kenap kau Sean, apa balok kayu preman semalam tersangkut di tenggorokanmu ?". Sean tetap diam, tak perduli dengan pertanyaan tidak penting Kevin. Kevin mencebikkan bibirnya, sambil menggosok-gosok keningnya yang masih terasa berdenyut.
" Hhiiss, sial sekali. Wajah rupawan ku menjadi seperti ini, untung saja rambutku tidak apa-apa ". Gumam Kevin kesal, lalu pandangannya beralih melihat Danira.
" Aaahhh...iya!!!! aku sampai lupa, aku sudah melihat berita yang tersebar di media sosial, apakah itu benar Vin, bila Danira pewaris sah kerajaan besar itu ?". Tanya Kevin memastikan.
" Tentu saja...". Gavino merangkul Danira, tersenyum bangga.
" Wwwaahhhh....!!! aku benar-benar tidak menyangka, ternyata istri sahabatku seorang ratu. Aku jadi iri padamu ".
" Terima lah salamku ini Queen..!". Kevin berdiri, memutar-mutar tangannya, membungkuk. Tangan kirinya kebelakang punggung dan tangan kanan dimajukan kedepan.
" Mas Kevin tidak perlu seperti ini, biasa saja denganku ". Ujar Danira. Kevin menegakkan tubuhnya lalu menepuk lutut Gavino.
" Geser Vino ".
" Apa ?
" Kau Minggir dulu sebentar, aku ingin berkonsultasi dengan Queen, cara meluluhkan hati pengawalnya yang dingin itu ". Ujar Kevin menaikkan sebelah alisnya mengarah kearah sarah, menarik-narik tubuh Gavino, supaya bergeser, dia ingin duduk di tegah, dekat Danira.
" Cciihhh...!! kau pelit sekali, aku tidak akan macam-macam dengan Queen, aku hanya ingin mengobrol sebentar. Kita kan sahabat ". Kevin memasang wajah memohon pada Gavino.
" Quan, Queen, Quan, Queen.....kau pikir istriku Silver Queen. Tidak ada, bila ingin mengobrol jarak 20 meter, tidak boleh dekat-dekat. Kau ini seorang Casanova, mata keranjang, jangan cemari istriku dengan aura burukmu". Ketus Gavino, semakin membuat Kevin kesal.
" Queen, suamimu galak dan posesif sekali ".
" Bukankah mas Kevin sudah tau, memang begitu sifat suamiku ?". Jawab Danira.
" Iya, tapi ini hanya berlaku untukmu, dulu saat dengan Stevani dia tidak begini ".
" Jangan sebut-sebut nama wanita itu lagi ". Ketus Gavino tak suka.
" Ciihh, sekarang saja bilang begitu, dulu....!!".
BUG**
Gavino melemparkan bantal sofa mengenai wajah Kevin.
" Sudah pulang sana, pagi-pagi sudah namu ke rumah orang membuat mood ku menjadi buruk saja, apa lagi melihat wajahmu seperti habis digebuk masa seperti itu, membuatku semakin ingin menambahnya ". Ejek Gavino, mengusir Kevin, yang telah cemberut melihat Gavino.
" Kau sungguh tega. Diriku ini sahabatmu, bukannya musuhmu, tak perlu kau siksa aku...!!" Kevin malah berucap mengunakan lirik lagu salah satu band ternama di negrinya, sambil berirama. Mendengar temannya yang tengil ini bernyanyi membuat Gavino berdecih, lalu berdiri.
" Queen tolong aku..... Queen......??". Teriak Kevin semakin mendramatisir, yang tegah diseret keluar oleh Gavino.
" CALON BOJO, MAMAS PULANG DULU YA, JANGAN RINDU. BIAR AKU SAJA".
...****************...
Gavino telah berada didalam mobilnya, dengan Sean yang berada dibalik kemudi. Gavino terus saja memandang foto sang istri yang ada dilayar ponsel sambil tersenyum-senyum sendiri, lalu menciumnya. Tadi pagi saat Danira tengah menguncir rambutnya, lagi-lagi Gavino kembali memotret Danira secara diam-diam. Sepertinya itu sudah menjadi rutinitas pagi Gavino saat bangun tidur.
__ADS_1
Istriku, mengapa kau bisa cantik sekali sih...aaahhh sial, bahkan belum ada 10 menit aku telah merindukannya lagi. Batin Gavino, rasanya dia ingin meminta Sean memutar arah menyusul kekantor Danira saja.
Gavino memasukkan ponselnya kedalam saku kemeja, lalu melihat Sean yang sejak masuk kedalam mobil hanya diam saja, tanpa memberi tahu agenda kerja Gavino hari ini. Hal itu membuat Gavino merasa aneh.
" Hari ini jadwalku apa saja ?". Tanya Gavino, Sean tetap diam, fokus pada stir kemudinya. Tak mendengar jawaban, Gavino semakin memperdalam kerutan dikeningnya.
" Sean,.....?". Tetap hening.
" SSSEEEAANNNN.....??!!". Teriak Gavino, membuat Sean terkejut lalu menekan pedal rem mendadak.
" Saya tuan, ada apa ?, apa ada yang tertinggal ?".
PLAK*
Gavino memukul kening Sean, gerem melihat Sean yang tidak fokus.
TITTTT**
TITTTT*
Dari belakang suara klakson mobil saling bersaut-sautan, meminta mobil Gavino yang berhenti secara mendadak ditengah jalan, agar segera melaju kembali. Karena hal itu membuat pengendara lain kaget dan menjadi kemacetan panjang.
" Cepat jalankan lagi mobilnya ". Sungut Gavino, kesal.
" Iya tuan ". Sean kembali menekan pedal gas, melajukan kembali mobil mereka.
" Ada apa denganmu ?, tidak biasanya kau seperti ini ?".
" Maaf tuan, saya tidak apa-apa".
" Hhuummhh....?! Kau menyukai wanita Samson itu ?, kau cemburu karena Kevin juga menyukainya bukan ?". Tebak Gavino, Sean melihat Gavino dari balik kaca spion kemudi.
" Tidak tuan ". Jawaban Sean bukan bermaksud menutupi, sebab dia juga tidak tau dengan perasaannya sendiri. Karena Sean belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.
" Cckkk, kau ini bodoh sekali...!! Kau sudah lama ikut dengan ku, jadi aku tau bagaimana karaktermu, tanpa sadar kau mulai menyukainya, aku bisa melihat caramu memperlakukannya. Karena selama ini kau tidak pernah seperti itu pada wanita manapun".
" Bila kau tidak menyukainya, untuk apa semalam kau lewat di kawasan rumahnya, sedangkan rumahmu dan rumah wanita Samson tidak searah, kau dibarat, dia diutara sana ". Sean terdiam, dia tidak bisa menyangkal ucapan Gavino, bahkan dia juga masih tidak mengerti, mengapa semalam dia kekeh ingin pergi ke area rumah Sarah setelah mengantarkan Gavino pulang.
" Aku tidak masalah kau menyukai siapa, dan ingin dekat dengan siapa kecuali istriku^. Tapi tidak sampai menganggu konsentrasimu saat bekerja seperti ini ".Ujar Gavino memperingatkan sambil melihat keluar mobil.
" Maafkan saya tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi".
" Baguslah.....kau tau aku bukan, aku paling tidak suka dengan orang yang bekerja tidak profesional ". Sean mengangguk paham.
" Dan untuk Kevin, kau tak perlu khawatir saat ini aku hanya melihat dia masih sebatas tertarik pada wanita itu, belum masuk ke fase benar-benar menyukai. Tapi aku tidak tau bila nanti dia bergerak cepat, dan mencuri start membuktikan ucapannya menikahi Sarah lebih dulu ". Gavino antara memberi tahu dan menakut-nakuti Sean, dia ingin melihat bagaimana ekspresi Sean saat dia mengatakan hal itu.
Deg*
Tiba-tiba jantung Sean merasa berdetak cepat, dia merasa tak suka dengan ucapan Gavino, apa lagi di bagian Kevin akan menikahi Sarah, rasa tak rela muncul begitu saja. Dia menggenggam stir mobil kencang. Gavino melirik Sean, melihat ekspresi Sean yang tiba-tiba berubah, membuat Gavino menaikkan sudut bibirnya, tersenyum tipis.
Dasar Jomlo karatan, perasaannya sendiri pun tidak tau. Batin Gavino.
" Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan kemarin ?". Tanya Gavino, mengalihkan topik pembicaraan mereka.
" Sudah tuan ".
" Bagus....!!! aku tidak sabar ingin melihat dia menjadi gila ". Ujar Gavino, menyenderkan kepalanya, lalu memejamkan matanya sejenak. Sekelibat ucapan sang istri terlintas dalam benaknya.
" Sean, kita langsung ke puncak sekarang ".
......................
...Bersambung........
__ADS_1