
Gavino yang baru keluar dari dalam ruang kerjanya berjalan beriringan dengan Sean. Mata Gavino menangkap banyaknya koper tergeletak dilantai, dia mengeryitkan dahinya, menerka koper siapa ini.
" Koper siapa ini ?". Tanya Gavino pada seorang pelayan yang berdiri didekat pintu.
" ini milik Nona Gea dan Tuan Gio tuan ". Jawabnya menunduk.
Gea, Gio...? mereka kembali ?. Batin Gavino
"Kemana mereka sekarang ?".
" Ada ditaman belakang, menemui Nyonya muda tuan ". Tanpa berkata apapun Gavino melebarkan langkahnya menujuh taman belakang mansion, dia teringat bila saat ini Danira tak menggunakan cadarnya, karena Gavino telah melarang semua pria masuk kedalam mansion, jadi Danira bebas tanpa menggunakan penutup diwajahnya, dan betapa terkejutnya Gavino ketika melihat pertunjukan yang sedang berlangsung didepannya.
"GIO.....Singkirkan tangan sialanmu dari tubuh istriku..!!". Pekik Gavino berlari mendekati adiknya, lalu menarik kerah baju bagian belakang Gio dengan sangat kencang, sehingga Gio merasa tercekik dibagian lehernya. Membuat pelukannya pada Danira terlepas. Gavino langsung menarik tubuh Danira hingga masuk kedalam pelukannya, menempelkan wajah sang istri didadanya.
Uhukkkk
Uhukkkk
Uhukkkk
Gio terbatuk-batuk sambil berjongkok.
" Kak Gavin apa-apaan sih, kenapa mencekik kak Gio ?". Ucap Gea ikut berjongkok mengosok-gosok punggung kembarannya.
" Aku tidak mencekiknya, aku hanya menarik bajunya. Aku tidak suka siapapun menyentuh istriku, walaupun itu adikku sendiri ". Ucap Gavino, menyelang tak suka pada adik-adiknya. Kecemburuan Gavino memang tak pernah melihat siapapun itu, bahkan dengan adik perempuannya saja Gavino menunjukkan sikap tak sukanya ketika Gea memeluk Danira. Gea memutar bola matanya jengah, melihat sikap posesif yang kakak.
" Tuan, saya ijin kembali kekantor ". Suara Sean menarik pandangan Gavino, Gavino lupa bila disini ada pria lain lagi, untung saja posisi Danira membelakangi Sean.
" Heemmm". Gavino hanya menjawab dengan deheman, sambil mengibas-gibas tangannya diudara. Setelah memastikan Sean benar-benar telah pergi, Gavino kembali melirik adik-adiknya.
" Mengapa kalian kembali, bukannya libur semester masih 2 bulan lagi, apa kalian bolos ?". Tanya Gavino ketus.
" Ya suka-suka doang, ini kan juga rumah kami, kenapa kakak seakan tidak senang melihat kamu pulang ?". Kesal Gea, terlihat dari raut wajah kakaknya yang tidak bersahabat melihat mereka.
" Mas lepasin doang, aku tidak bisa bernafas ini ". Ujar Danira, menepuk-nepuk punggung Gavino, dia merasa sesak karena Gavino terlalu menekan kepalanya.
" Kak Gavin, lepasin kakak ipar, dia bisa kehabisan nafas ". ujar Gio berdiri, masih memegang lehernya. Dia memberikan tatapan kesal pada Gavino. Gavino mengendurkan tekanan tangannya dikepala Danira, akibat cemburu Gavino sampai tidak sadar bila perbuatannya hampir menyakiti istrinya. Gavino melihat wajah Danira yang memerah, tengah-tengah.
" Sayang...kau tidak apa-apa?". Gavino menakup wajah Danira, membuat Danira mendogak melihat Gavino.
" Mas ingin aku mati lemas ya ?". Sungut Danira kesal, hidungnya terasa sakit, jadi memerah.
" Tidak...tidak sayang, maaf aku tidak sengaja, ini semua gara-gara dua manusia menyebalkan ini ". Ucap Gavino, menyelang lagi pada Gea dan Gio.
" Uwekk....Sok romantis, sejak kapan kak Gavin yang dingin jadi begini ". Sindir Gea, merasa geli melihat Gavino yang bisa berubah saat bersama Danira.
__ADS_1
" Tutup mulutmu Gea, apa kau ing....!!".
" Mas...!!, kenapa kau galak sekali pada adik-adikmu. Mereka baru juga kembali, kau sudah membuat mereka tidak nyaman ".
" Tu dengar kata kakak ipar, kak Gavin terlalu galak. Adik itu disayang, bukan disakiti seperti tadi ". Ucap Gio, lalu tersenyum-senyum pada Danira. Gavino mendesah, bila ada Danira dia sulit untuk membantah. Namun tatapannya tetap memberi peringatan pada Gio, yang terus tebar pesona pada istrinya.
" Bik Sri ?". Panggil Danira. Bik sri yang sedari tadi menyaksikan kegaduhan atar saudara itu, berjalan mendekati Danira.
" Iya Nyonya ".
" Bik saya titip Khalisa Sebentar ya, itu dia masih asik bermain ". Ucap Danira, diangguki oleh bik Sri. Gio yang mendengar suara halus Danira, jantungnya semakin berdetak tak karuan. Rasanya dia ingin menarik Kakak iparnya, lalu memandangnya dengan sepuas hati.
" Gea, Gio lebih baik kalian istirahat saja dulu. Ayo biar aku antar ". Ucap Danira, yang kini posisinya telah menghadap sikembar. Jangan tanya bagaimana ekspresi Gio saat ini, dia bahkan sampai tak berkedip melihat Danira tepat didepan matanya, sejak tadi dia tidak terlalu jelas melihat wajah sang kakak ipar, karena posisi Danira memeluk Gea, dan membelakanginya, ditambah Gavino langsung menyembunyikan wajah Danira didadanya, tapi kini, Dia melihat kecantikan yang membuatnya gemetar sampai air liurnya keluar tanpa sadar.
Danira mengandeng Gea yang ikut terpesona melihatnya ". Mami kemana kak?". Tanya Gea, tanpa mengalihkan pandangannya dari Danira.
" Mami sedang pergi perawatan ketempat langanannya". Jawab Danira, berjalan beriringan dengan Gea. Gea semakin mengeratkan lengan Danira, bahkan dia menempelkan kepalanya dipundak kakak iparnya itu.
Gavino wajahnya sudah merah padam, tampak sangat kesal melihat ekspresi Gio. Gavino melihat pelayan yang lewat, membawa serbet dipundaknya. Gavino berjalan mendekati pelayan itu, langsung menarik kain serbet yang kotor, lalu kembali mendekati Gio yang masih berdiri mematung. Kemudian Gavino menempelkan serbet itu hingga menutupi seluruh wajah Gio. Dia berlalu pergi menyusul Gea dan Danira.
" Cckkkk...". Kesal Gio, menarik serbet dari wajahnya, lalu membuangnya kelantai.
***
Saat mereka berada diruang keluarga, dari arah depan terdengar suara Ny. Calina yang berteriak-teriak kegirangan.
" Loh...kamu sudah sampai Gea, lalu mana kakakmu Gio ?". Tanya Ny. calina, yang tidak mendapatkan 1 putra kembarnya. Gea masih diam, Dan....
" Ha..ha..ha...ha..ha...!!!". Tawa Gea akhirnya pecah juga, dia benar-benar tak bisa menahannya melihat penampilan sang mami yang aneh.
" Kenapa kau tertawa ?". Tanya Ny. Calina.
" Ha..ha..ha, mami...Mami itu menggunakan kostum apa ?, mengapa terlihat seperti anak Punk begitu ". Ucap Gea, sambil tertawa yang keras. Danira hanya mengulum senyum, sejujurnya dia juga merasa lucu dengan penampilan sang mertua, namun dia takut menyinggung perasaan mertuanya bila dia tertawa.
" Say......!!!". Ucapan Gavino terhenti ketika melihat maminya. Gavino membolakan matanya besar.
" Astaga....mami !!! apa-apaan ini, mengapa berpakaian aneh seperti ini hah ?". Geram Gavino. Bagaimana tidak syok, Ny. Calina pulang dengan penampilan nyentrik mengenakan celana jeans selutut, ditambah sepatu boot hitam berduri, bagian atas mengunakan jaket jeans sobek-sobek, dilehernya melingkar sapu tangan, dan rambutnya berbentuk diangkat keatas, warna lipstik yang hitam, dan eyeshadow hitam menghiasi wajahnya. Tidak lupa anting panjang dan rantai melingkar di tangannya.
" Mami terinspirasi apa ini, apa mami tidak malu. Oh tuhan....!! Astaga mami ". Gavino benar-benar geram, matanya hampir saja keluar melihat tingkah sang ibu yang aneh-aneh setiap harinya.
" Mami ini rambunya gaya apa sih mi, ha..ha..ha ?". Gea tak bisa berhenti tertawa, sampai-sampai dia memegang perutnya terasa keram.
" Kamu Nanyaaaakkk, ini gaya apa. Oke...oke. Biar aku kasih tau yeaa....ini gaya yang lagi trend di tik tok, eemm apa ya namanya. Eemmm....Cem..cem..cepmek...aahh itu namanya ". Jawab Ny. calina meniru gaya bicara konten Creator di akun tik tok miliknya.
" Hhuuhh...!!! pasti kalian tidak tau kan, ini gaya lagi top, bahkan semua geng sosialita mami bergaya seperti ini tadi. Terus cara bicaranya rada di tekan begini...Kamu nanyaakk, kamu bertanyaakk-tanyaakkk...iya ?, Biar aku kasih tau yiaahh..WUARRR. Aahhh pokonya begitu, mami senang sekali. Bahkan mami sudah memiliki akun tik tok tau, apa kalian ingin melihat penampilan mami dan teman-teman mami tadi hhmm? ". Ny. Calina terus saja bercerita dan memperaktekkan apa yang dia dan geng sosialitanya lakukan seharian ini, habis dari perawatan mereka berkumpul dan berdandan ala anak tik tok yang sedang hits. Mendengar cara maminya berbicara, Gavino, Danira, Gea dan Gio terdiam terpaku. Mereka sekan sulit bersuara dengan ekspresi terkejut diwajah mereka. Gavino memejamkan matanya sejenak, mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1
" Mamiiiiii.....!! Ganti pakaiannya sekarang ". Tekan Gavino berbicara dengan gigi merapat, rahang mengeras. geram.
" Tidak mau...! enak saja main suruh ganti, kau tau mami berdandan seperti ini hampir seharian disalon, dan sekarang kau meminta mami berganti pakaian, No Way ". Ny. calina melipat tangannya didepan dada, membuang muka kearah lain. Dia kesal setiap kali dia menemukan kesenangannya gavino selalu saja tidak suka.
" MAMIiii...Berhentilah bertingkah konyol seperti ini, apa mami tidak malu dilihat semua orang ". Ketus Gavino.
" Cckkk...kau menyebalkan sekali. Pantas saja hidupmu monoton, karena kau terlalu datar menikmati hidup, Tidak tau bagaimana caranya menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri, hhuuuhhh....kau tidak seru ". Sungut Ny. Calina.
" Andai saja suamiku masih hidup, dia tidak akan pernah melarang apa yang aku suka ". Ucap Ny. Calina, membuang pandangannya kesembarang arah.
Deg*
Gavino mengepal tangannya, hatinya merasa sakit ketika mendengar sang ibu mengungkit Alm. Ayahnya. Sorot mata Gavino berubah kelam, tanpa mengatakan apapun dia pergi begitu saja. Naik menujuh kamarnya. Danira terdiam melihat perubahan emosi dari raut wajah sang suami. Ny. calina melirik kepergian gavino, lalu menghela nafas panjang.
" Mami...maafkan mas Gavin, dia tidak bermaksud melarang apa yang menjadi kesenangan mami ".
" Kau tidak perlu meminta maaf sayang, mami juga paham maksud Gavino. Terkadang mami butuh cara untuk mengalihkan rasa rindu mami kepada Alm. papi Gavino, ya dengan cara membuat Gavino marah seperti ini ". Ujar ny. calina tergelak renyah, namun Danira bisa melihat dari mata Ny. Calina banyak menyimpan luka dan kerinduan yang terpendam.
" Danira keatas dulu ya mi ?".
" Ya..susul lah suamimu yang sedang merajuk itu ". Ucap Ny. Calina tersenyum pada Danira. Danira beranjak pergi meninggalkan Ny. calina dan kedua adik iparnya. Dia melangkah cepat menyusul Gavino.
Danira membuka pintu kamar mereka, lalu menutupnya kembali. Dia mencari sosok suaminya, Dia melihat Gavino berdiri dibalkon, tangannya mengenggam pagar berwarna emas. Danira berjalan mendekati Gavino.
" Mas....?". Gavino menghela, tanpa mengalihkan pandangan lurusnya kearah taman. Danira berdiri disamping Gavino.
" Kau tau Danira, dulu mami tidak pernah berpakaian aneh-aneh seperti sekarang. Dia memang wanita yang suka seenaknya, suka berbicara ceplas-ceplos, tapi dia selalu menjaga penampilannya didepan semua orang terutama papi. Dia selalu menjaga wibawa suaminya. Mami tidak pernah keluar rumah jika tidak bersama Papi atau anak-anak nya, mami benar-benar menjadi istri dan ibu yang baik untuk kami. Mungkin itu salah satu alasan Papi sangat mencintai mami, Papi sangat memanjakan mami, bahkan papi tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya kepada mami ".
" Tapi sejak papi meninggal, mami seakan memaksakan diri, ikut bergabung dengan geng sosialita yang tidak pernah dia sukai. sering membuat kegaduhan dirumah, selalu mencari masalah padaku ataupun Gea dan Gio yang jauh. Aku tau, semua itu dia lakukan karena ingin mengalihkan rasa rindunya, rasa kehilangannya. Terkadang aku masih sering memergoki mami menangis ditegah malam, sambil memeluk foto papi, sampai dia tertidur. Itu sangat menyakitkan untukku. Hatiku sakit melihat mami seperti ini ".
" Aku tidak masalah bila mami mengomeliku setiap hari, tapi aku tidak bisa melihatnya menutupi segala kesedihannya seorang diri. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna. Itulah mengapa aku memilih tinggal di penthouses dari pada disini, karena aku tidak bisa melihat wajah mami yang memaksa ceria meski sebenarnya menyimpan banyak luka yang tak pernah dia bagi ". Cerita Gavino, tatapannya tetap lurus kedepan, Danira melihat Gavino lalu ikut mengalikan pandangannya ketitik yang sama.
" Terkadang wanita memang seperti itu, memilih diam dan memendamnya sendiri demi kebaikan. Apalagi seorang istri sekaligus ibu, yang kehilangan sebagian jiwanya, itu sama seperti kehilangan sebelah kakinya. Dia merasa pincang, siap tumbang kapanpun karena tidak ada yang mengimbanginya lagi. Tapi dia harus tetap berdiri kuat, karena memiliki anak-anak yang harus dia lindungi, anak-anak yang masih membutuhkan sosok yang kuat untuk mereka, bila si wanita lemah dan meratapi terus menerus kepergian belahan jiwanya, bagaimana dengan nasib anak-anaknya ini. Si wanita pasti berfikir, dia harus kuat dan bertahan karena kehidupan tidak berhenti sampai disini saja, anak-anaknya membutuhkan sosok ibu taguh, cukup mereka kehilangan ayah, jangan sampai mereka kehilangan ibu juga. Dan mungkin, ini lah yang sedang mami jalankan. mami tidak ingin mas Gavin dan Gea, Gio merasa kehilangan 2 sekaligus, mami menahan dan menelan semuanya sendiri, karena tidak ingin anak-anak nya ikut berlarut dalam kesedihannya ".
" Aku memang tidak memahami secara pasti perasaan seorang ibu, karena aku belum pernah merasakan mengandung ataupun melahirkan. Tapi sejak Khalisa masuk dalam hidupku, aku baru menyadari sesuatu, bahwa menjadi ibu sekaligus ayah tidaklah mudah, banyak tekanan yang harus dipendam demi melihat sang buah hati tetap tersenyum bahagia ". Ujar Danira, Gavino mengalihkan pandangannya pada Danira, dia melihat wajah Danira dengan tatapan teduh.
" Mas beruntung masih memiliki sosok ibu yang sangat baik, kuat dan menyayangi mas dan si kembar. Mungkin mami sering membuat kegaduhan, tapi percayalah, itu cara dia menarik perhatian dari mas Gavin, karena dia merasa kesepian, mas yang sibuk dengan pekerjaan, Gea dan Gio yang bersekolah di luar negri. Coba bayangkan, betapa kesepiannya mami, ditegah keramaian ?". Gavino terdiam, dia kembali melihat kearah lain, mencerna ucapan Danira yang benar adanya. Dia menghela panjang.
" Biarkan mami melakukan apa yang dia suka, selagi tak melanggar norma dan batasan wajar " Pinta Danira, menyenderkan kepalanya dibahu Gavino.
" Sayang...?".
" Hheeuumm..?"
" Aku harap kau tak akan meninggalkan aku, tolong jangan pernah memendam apapun sendiri, sekarang ada aku yang ikut dalam membesarkan Khalisa, kau cukup menjadi seorang ibu yang baik untuknya, biar aku yang mengambil peran seorang ayah baginya ". Danira mengangguk, mengembangkan senyuman indah dibibirnya.
__ADS_1
......................
...Bersambung.......