
Malam nan tenang membuat semua orang tertidur pulas dan berkelana dialam mimpi yang indah. Namun tidak dengan Danira, entah mengapa perasaannya menjadi gelisah, dia tak bisa tidur meski sudah berada di tempat ternyamannya yaitu pelukan Gavino. Danira membuka matanya, melihat jam yang ada di dinding kamar, waktu masih menunjukkan pukul 03.10 pagi. Danira menggeserkan tangan kekar Gavino, yang melingkar diatas perutnya kemudian Danira duduk mengucapkan berdoa.
..."La ilaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ala kulli syai'in qadir. Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallah wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah,"....
Artinya, "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, kepunyaannyalah segala kerajaan, segala puji bagi-Nya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah,". ( Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaziri dalam kitab Minhajul Muslim )
Rasulullah SAW bersabda, "Man ta'arraa billaili faqaala hina yastayqizhu... tsumma da'aastujibu lahu,". Yang artinya, "Barang siapa yang terbangun di malam hari, lalu di saat terbangun dia membaca doa tersebut dan seterusnya, kemudian ia berdoa, niscaya dikabulkan doanya,".
Danira mengangkat tangannya, mengadah dan berdoa. " Ya Rab, hamba tidak tau apa yang membuat perasaan ini kian gelisah, semoga tidak akan terjadi hal-hal yang buruk menipa kami. Hamba memohon perlindunganmu, karena hanya Engkau sebaik-baiknya tempat untuk berlindung ". Danira mengusap wajahnya, lalu mulai turun dari tempat tidur.
Dia merapikan piyama tidurnya, menggulung rambutnya yang panjang. Melangkah masuk kedalam kamar mandi, berwudhu. Kemudian dia berganti pakaian, mencari pakaian terbaiknya, lalu menggunakan mukena, Danira mendirikan Solat Sunnah wudhu, lalu solat Sunnah taubat kemudian sholat Tahajud. Setelah melaksanakan solat, Danira masih duduk diatas sajadahnya, memutar tasbih ditangan dengan mata terpejam, bibir terus melantunkan zikir kepada Allah.
Gavino yang masih tertidur, memiringkan tubuhnya. Tangannya mulai meraba-raba mencari sesuatu disampingnya yang terasa kosong. Dia langsung duduk, matanya masih setegah terpejam, rambutnya yang acak-acakan, dengan wajah mengantuk yang lucu. Gavino membuka matanya, melihat kekiri dan kekanan, saat menemukan yang dia cari dia tersenyum tipis, turun dari tempat tidur menghampiri Danira, lalu duduk tepat dibelakang Danira dan memeluknya, manja.
" Apa ini sudah subuh ?". Tanya Gavino, menempelkan kepalanya dipunggung Danira, sambil terpejam. Danira membuka matanya, melihat jam lagi.
" Belum mas, sebentar lagi ".
" Lalu kenapa kau cepat sekali bangun ?".
" Aku hanya tidak bisa tidur mas ". Gavino melepaskan pelukannya, memutar tubuh danira agar menghadap padanya.
" Kenapa ?, apa ada yang menganggu pikiranmu ?". Gavino khawatir, Danira tersenyum.
" Tidak mas, aku jug tidak tau apa sebabnya, hanya saja perasaanku tiba-tiba gelisah tak menentu". Jujur Danira. Gavino melihat mata istrinya, terlihat seperti ada gurat kecemasan yang sulit Gavino artikan.
" Kemarilah....!!". Pintanya menarik tubuh Danira lalu memeluknya. Mereka hanya diam tak mengatakan apapun, hanya saling tatap beberapa saat.
" Bagaimana ?, apa sudah jauh lebih baik ?". Danira mengangguk pelan sambil tersenyum, Gavino mencium kening Danira.
" Aku harus kekamar mandi dulu, aku ingin mandi dan berwudhu. Subuh ini aku yang akan menjadi imam sholatmu ". Danira tercengang, tak percaya dengan pendengarannya.
" Serius ?". Tanya Danira ulang memastikan, Gavino yang sudah hampir menutup pintu kamar mandi hanya tersenyum simpul, mengangguk. Danira masih terdiam tak percaya, lalu dia mencubit pipinya beberapa kali.
" Aww...". Jeritnya sakit. Seketika Danira mengembangkan senyum senang.
Danira berdiri, berjingkrak-jingkrak kesenangan, Dia buru-buru berlari keruang ganti, mencari baju gamis pria yang telah lama Danira siapkan, tak lupa juga kopiah lalu meletakkannya diatas tempat tidur. Tak berapa lama, gavino pun keluar. Danira membuka mukenanya.
" Sayang...kau mau kemana ?". Bukannya mereka akan solat, tapi kenapa Danira melepaskan mukenanya. pikir Gavino.
" Mau ambil wudhu lagi mas ".
" Bukankah tadi sudah, apa kau kentut ?".
" Tidak mas, tadi mas Gavin sudah menciumku jadi wudhuku batal ".
" Memangnya mencium istri sendiri membatalkan wudhu ?, bukannya kita sudah mahram?". Tanya Gavino bingung.
" Bila harus dijabarkan ini akan sangat panjang, tapi ada beberapa pendapat mazhab yang berbeda tentang hal ini. Ada yang mengatakan bila suami istri bersentuhan setelah berwudhu itu batal, ada juga yang berpendapat tidak batal, asalkan tidak mengandung Syahwat. Tapi aku ingin yang lebih aman saja mas, aku memilih bila suami istri bersentuhan tanpa kain, atau penghalang itu sama halnya membatalkan wudhu. Karena aku tidak ingin menjalankan ibadah dalam keadaan was-was ".
__ADS_1
" Antara aku dan mas Gavin memang sudah menjadi mahram, namun hal ini berbeda. Mahram suami istri itu terjadi karena adanya ikatan pernikahan jadi bila kita bersentuhan tanpa penghalang itu membatalkan wudhu, sedangkan mahram yang dibahas dalam hal ini ialah mahram yang berdasarkan garis keturunan ( Nasab ) seperti ayah, ibu, kakak, adik bila mereka saling bersentuhan itu tidak membatalkan wudhu ". Jelas danira singkat, agar Gavino mudah memahaminya. Gavino hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Danira.
Sepertinya aku harus lebih giat lagi belajar urusan seperti ini, agar aku bisa mengimbangi kecerdasan pengetahuan Danira. Batin Gavino, bertekat.
Danira pun sudah keluar dari dalam kamar mandi, namun dia terperangah, terpesona melihat penampilan tak biasa Gavino yang sudah menggunakan gamis panjang semata kaki berwarna putih dan kopiah hitam dikepalanya, tampan benar-benar tampan. Aura Gavino terlihat berbeda Dimata Danira. Perlahan Danira mendekati suaminya, yang sudah berdiri diatas sajadahnya. Danira menggenakan kembali mukenanya, berdiri dibelakang Gavino.
Gavino terdiam sejenak, mengatur detakan jantung yang tak beraturan, gugup bercampur takut. Takut bila bacaannya tidak sesuai, takut bila salah gerakan, Gavino mulai bimbang. Ini pertama kali baginya, menjadi imam solat. Rasanya benar-benar tak karuan. Danira yang menyadari hal itu, tersenyum kecil.
" Mas....!! aku yakin kamu bisa, insyaallah Allah akan membimbing setiap bacaan yang mas lafaz kan". Gavino mengangguk samar, merasa mendapatkan kepercayaan diri, mendengar ucapan lembut istrinya, Dia kembali menghadap kiblat, mulai membacakan niat solat subuh, lalu bertakbir.
" Allahu Akbar ". Ucap Gavino lantang, Danira pun mengikuti dari belakang.
Meski Gavino hanya melafazkan bacaan surat-surat pendek dan belum terlalu fasih dalam melantunkan panjang pendeknya ayat yang dia baca. Namun Danira sangat bersyukur dan menikmati solat berjemaah mereka dengan hikmat. Ini adalah impian Danira yang diwujudkan oleh Gavino. Danira tak menyangka, bila Gavino selalu menepati setiap janjinya, Gavino benar-benar belajar memantaskan diri untuk Danira, bahkan Danira tidak tau kapan Gavino mempelajari semua ini.
" Assalamualaikum Warahmatullah ". Gavino menoleh kekanan.
" Assalamualaikum Warahmatullah". Lalu kekiri, kemudian mengusap wajahnya dengan satu tangannya.
Ya Rab....Terima kasih sudah memberikanku suami seperti mas Gavino, terima kasih telah membuka hati suamiku, karena hanya Engkau yang maha membolak balikkan hati manusia. Semoga suami hamba selalu Istiqomah mendekatkan diri padaMU, hamba memohon keberkahan disisa umurnya, dilancarkan setiap langkah dan pekerjaannya, ampuni setiap kesalahannya. Hamba memohon untuk keselamatan dan kesehatan jiwa dan raganya. Limpah kan dia dengan cinta dan keridhoanMU ya Rab....Aamiin. Doa Danira dalam hati.
Setelah berdoa, Gavino memutar tubuhnya menghadap Danira, mengulurkan tangannya. Danira menyambut tangan Gavino lalu mencium punggung tangan, dan telapak tangan Gavino bergantian. Gavino membalas dengan mencium kening, kedua mata Danira, hidung, lalu pipi kiri dan kanan, dagu dan terakhir kecupan singkat dibibir Danira. Beberapa detik mereka hanya saling tatap.
" Mas....!!".
" Hhmmeemm ..?".
" Mas terlihat sangat tampan, aku sampai pangling ". Ucap Danira jujur, sedari tadi dia ingin mengatakan ini. Mendengar pujian dari danira membuat Gavino salah tingkah, tersenyum-senyum malu.
" Eemmm...suamiku pagi ini sangat tampan, setiap hari juga tampan, namun pagi ini tingkat ketampanannya naik 10 kali lipat ". Puji Danira lagi. Gavino semakin mengulum senyum menunduk malu-malu, Gavino semakin melting. Perasaan Gavino saat ini sangat bahagia, hatinya dipenuhi dengan bunga yang bermekaran. Rasanya Gavino ingin berteriak kegirangan mendapatkan pujian dari istrinya.
" Aku tau sayang, karena aku sudah tampan sejak lahir....!!"
...****************...
Ny. Calina telah duduk manis dikursi teras rumah dengan penampilan yang anggun. Dia menyesap teh hangatnya perlahan sedikit menyegir, takut bila lipstik yang dia kenakan menempel di cangkir tehnya.
" Aahhhh...nikmatnya!! Pagi yang cerah, membuat hati bahagia ". Ny. calina mencoba menyusun kata-kata seperti seorang pujangga, dia seakan sedang menikmati udara pagi, namun matanya tetap mencari sesuatu keluar sana.
" MAMIiii....!!". Suara Gio terdengar dari belakang Ny. calina. Membuat yang dipanggil menghela nafas kasar, dia sudah bisa menebak apa yang Gio ingin keluhkan.
Aaakkhh...sial anak demit sudah bangun. Batin Ny. Calina malas.
" Ini masih terlalu pagi Gio...mami lelah mendengar regekanmu sedari kemarin ". Kesal Ny. calina, Dia ingin menikmati paginya Yang indah tapi sepertinya hancur dengan kedatangan sang putra.
" Miii...!! Gio mau menikah, ayolah mi Carikan Gio istri seperti kakak ipar ?". Regeknya lagi, sejak kemarin Gio selalu mengatakan hal yang sama, sampai-sampai Ny. calina migren dibuatnya.
" Mii...mami....!!". Gio menggoyang-goyangkan tangan Ny. calina.
" YA TUHAN....GIO, berhentilah meregek seperti bayi yang minta susu. Apa kau mau disusui lagi hah ?". Geram Ny. Calina.
__ADS_1
" Aku tidak mau susu mi, aku mau menikah, punya istri seperti kakak ipar, yang baik, lembut, cantik, pintar, sopan, kaya, dan keturunan raja lagi. Mamiii...Carikan aku wanita seperti itu juga ". Sejak mengetahui identitas asli Danira, Gio semakin tergila-gila ingin memiliki istri seperti kakak iparnya, itulah yang membuat dia terus membujuk Ny. calina agar mencarikannya wanita yang sama seperti Danira.
" Diamlah Gio...kau merusak pagi mami yang indah. Cckkk...kau benar-benar menyebalkan. Begini yang katanya mau menikah, tingkahmu saja masih seperti balita 1 tahun, selalu meregek begini. Kau ini sudah dewasa Gio, mana ada wanita yang mau padamu bila sifatmu masih seperti anak bayi begini, apa kau tidak malu hah ?? ". Kesal Ny. calina, rasanya dia ingin sekali melakban mulut putranya yang terus memekakkan telinganya.
" Kenapa aku harus malu, aku kan pakai baju mi ". Ny. calina semakin memijit-mijit kepalanya yang terasa berdenyut.
" Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dari titisan Sun Go Kong ini ". Gumam Ny. calina.
" Iihhh mami pilih kasih sekali sih, aku kan juga putra mami. Masa mami tega padaku, ayolah mi, lakukan lagi seperti apa mami bisa mendapatkan Kak Danira dulu ".
Peltak**
Satu pukulan mendarat dikepala Gio.
" Apa kau menyumpahi agar mami celaka lagi hah ? Astaga....kau memang anak kurang ajar ".
" Hais....!! bukan begitu maksud Gio, aku dan kak Gavin kan sama-sama pria, sama-sama putra mami tapi kenapa mami hanya menjodohkan kak Gavin saja, seharusnya mami menjodohkan aku juga. Bila dibandingkan, aku jauh lebih unggul dari kak Gavin, aku lebih tampan, murah senyum, lebih pintar, lebih muda pokoknya lebih segalanya lah. Sedangkan kak Gavin kan galak, suka mengancam, sudah tua, selalu marah-marah tidak jelas, tapi mami malah menjodohkan dia dengan wanita yang terlalu baik untuknya, kan aku juga mau mi ". Kepala Ny. calina terasa berdenyut-denyut mendengar Gio yang sedang mendongeng.
" Ya Alloh..Ya Alloh...Ya Alloh....Gio kau ingin diam atau mam.....!!!".
"HEKHEM...Mulutmu sudah pintar sekali ya Gio ".
Deg*
Gio membolakan matanya, ketika mendengar suara Barinton yang menyebut namanya dari balik punggungnya. Gio mulai merasa cemas, mulai sulit menelan ludahnya sendiri, seakan bahaya tengah mengintainya. Gio mulai panik, dia berbalik.
" Se..sejak kapan kakak dan kakak ipar ada disini ?". Tanya Gio terbata-bata, takut. Apalagi melihat wajah garang Gavino yang seakan siap menelannya hidup-hidup.
" Sejak mulutmu Tak berhenti menjelek-jelekkan ku ". Gio menunduk takut, sesekali mengintip wajah kakaknya yang masih melihatnya tajam.
" Mami kenapa tidak bilang kalau ada kak Gavin ". Bisik Gio pelan, namun masih bisa didengar yang lain. Ny. calina pura-pura tidak mendengar, kembali menyesap tehnya tak perduli dengan tatapan minta tolong Gio.
" Sepertinya kau sudah sangat bosan menjadi adikku ya, aku akan meminta Sean untuk.....!!".
" Kakak tadi aku hanya bercanda, jangan dibawa serius, itu hanya lelucon dipagi hari....". Ucap Gio sambil cengengesan.
Danira mengalihkan pandangannya pada Ny. calina yang masih asik clingak-cliguk mencari sesuatu didepan sana.
" Mami mau kemana ?, pagi-pagi sudah cantik sekali ?". Tanya Danira, pagi ini mertuanya berdandan tak biasa, dia terlihat sangat anggun dengan balutan dress berwarna Lilac selutut, makeup tipis diwajahnya. Mendengar pujian Danira, membuat Ny. Calina tersipu malu.
" Benarkah mami cantik sayang ?". Danira mengangguk.
" Mami tidak pergi kemana-mana, mami hanya siap-siap siapa tau ada awak media yang datang ingin mewawancarai mami. Jadi kalau mereka datang kan mami sudah terlihat cantik ". Jelas Ny. calina merapikan rambutnya berkali-kali. Danira hanya mengangguk-angguk kecil, dengan mulut sedikit terbuka. Sedangkan Gavino membuang muka malas melihat ibunya dalam mode genit.
" Huaammm!!!...mami ". Panggil Gea berjalan mendekati mereka, dengan wajah bantal dan mata masih setengah terpejam.
" Mami kenapa tidak membangunkan aku ". Ucap Gea sambil mengucek-ucek matanya, lalu melihat orang-orang dihadapannya.
" Eehh... ada kak Gavin dan kakak ipar juga. Bagaimana mandi bersamanya, seru tidak kak. Lain kali Gea ikut ya kak ...!!".
__ADS_1
......................
...Bersambung.......