CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
50. Mengacuhkan


__ADS_3

Gavino mendorong pintu rumahnya lalu masuk kedalam, dia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya disemarang. Dia melihat Danira sedang mengelap meja ruang tamu, Gavino bisa menebak bila Danira juga melihat kearahnya, agerakan Danira terlihat buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, Danira mengambil sapu yang dia senderkan disofa berlalu kedapur tanpa menyambut atau menyapa kepulangan Gavino.


Apa dia masih marah padaku. Batinya bertanya-tanya.


Dasar tukang merajuk. Gumam Gavino berlalu naik keatas kamarnya untuk beristirahat.


Didapur, Danira mulai memasak masakan sederhana untuk makan malam, hanya sayur asam, sambal terasi, goreng tempe dan ikan asin. Danira sengaja memasak makanan itu, karena dia sedang tak ingin Gavino makan bersama dengannya. Dia masih marah dan sakit hati atas fitnahan Gavino kepadanya kemarin. Danira masih belum siap, bila harus duduk bersamaan dengan Gavino, dia takut semakin sakit hati mendengar kata-kata suaminya.


Selesai memasak dan menata dimeja, Danira masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Danira keluar, setelah Dia selesai menjalankan solat magrib, namun langkahnya berhenti saat melihat Gavino sudah duduk dikursi meja makan dengan Tenang sambil memainkan ponsel ditangannya. Danira melangkah mendekati meja, meletakkan Khalisa dibangku bayinya lalu dia menarik kursi untuk dia duduki.


Danira mulai mengisi piringnya, lalu makan dalam hening ,tanpa berniat menawari Gavino. Gavino mengalihkan pandangannya dari ponsel melihat Danira yang sedang makan diujung sana.


Hekhemm...!!


Danira tak memperdulikan deheman Gavino, dia makan dengan cuek, sesekali menggoda Khalisa yang makan cemilan bayi.


Hekhemm..!!


Gavino melihat Danira tetap tak ada respon, Gavino mulai kesal.


" Apa bigini caramu bersikap dihadapan suamimu ?". ketus Gavino kesal.


" Apa kau tidak tau cara berbicara, atau kau telah berubah menjadi bisu hah?". Gavino berbicara dengan emosi, namun hal itu tak membuat Danira membuka suaranya. Danira makin tak memperdulikan Gavino, seakan-akan Gavino tak ada diruangan itu. Danira telah selesai dengan makannya, dia mengambil minum dan mengangkat piringnya meletakkan di wastafel piring kotor. kembali kemeja, mengangkat tubuh Khalisa dan mangkuk makanan Khalisa. Berlalu pergi meninggalkan Gavino seorang diri di meja makan dengan wajah memerah geram, tak terima karena diacuhkan oleh Danira.


" Sial...beraninya dia mengabaikanku seperti ini".


" Dia pikir, dia siapa hah ?". Omel nya bersungut-sungut, lalu naik kelantai atas masuk kedalam ruang kerjanya. Hampir 2 jam Gavino berada didalam sana, perutnya terasa perih karena lapar, akhirnya dia turun lagi kedapur mencari sesuatu yang bisa dia makan. Tak sengaja saat dia turun, Danira juga sedang keluar ingin mengambil air minum, Danira tetap dalam mode diam, mengacuhkan tatapan kesal Gavino kepadanya. Gavino mengikuti langkah Danira dari belakang.


" Mengapa kau mengacuhkan aku seperti ini ?".


" Memangnya aku ada berbuat salah kepadamu ?". tanya Gavino seperti tak pernah melakukan kesalahan kepada Danira. Danira berbalik melihat Gavino sekilas, lalu dengan cepat menuangkan air dalam gelas.


Apa kepalanya habis terbentur dan amnesia, bisa-bisanya dia lupa dengan segala fitnahannya kemarin kepadaku. Dasar manusia sombong. Batin Danira kesal menghadapi sikap Gavino.


Aku harus melakukan sesuatu. Batin Gavino. Danira akan meninggalkan Gavino lagi, namun suara Gavino menghentikannya.


" Tunggu dulu...!!"

__ADS_1


" Bisakah kau masakan sesuatu untukku, aku sangat lapar. Sejak kembali tadi aku belum makan apapun". Pinta Gavino, masih dengan nada memerintah.


Danira menghembuskan nafas kasar, melirik Gavino dengan tajam lalu menaruh gelas berisi air yang dia pegang keatas meja. Danira mulai memasak sesuatu yang cepat.


Danira meletakkan satu mangkuk mie instan rebus komplit dihadapan Gavino, lalu dia membuatkan teh hangat untuk Gavino. Walaupun hati Danira menolak keras untuk menyiapkan semua itu, tetap saja akal sehatnya memerintah untuk tetap melayani suaminya dengan baik. Gavino melihat makanan di hadapannya mengeryitkan dahinya.


" Apa ini ?".


" Kau menyiapkan makanan tidak sehat seperti ini untukku?".


" Kau ingin membunuhku ya?". Seakan tak berterima kasih, Gavino malah menuduh Danira yang tidak-tidak. Danira geram bukan main, rasanya ingin sekali Danira menguncir bibir suaminya dan menjambak rambut suaminya hingga mengguncang otak-otak yang ada didalam Kepala Gavino. Danira berjalan mendekati Gavino, tangannya mengambil mangkok mie instan itu dan ingin membawanya pergi, namun lagi-lagi Gavino menghentikannya.


" Heyy...mau kau bawa kemana makananku hah, sini kembalikan. Kau tidak sopan sekali, sudah memberikannya untukku malah sekarang kau mengambilnya lagi...!!!"


Danira memelototkan matanya, rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencang.


Mau Pria ini apa sih, bukankah tadi dia sendiri yang mengatakan makanan ini tidak sehat untuknya, mengapa sekarang dia menyalahkan aku lagi karena ingin menyimpannya. Gumam Danira geram dalam hati. Danira meletakkan lagi mangkuk itu dihadapan Gavino, dia sudah tidak bisa berlama-lama lagi dihadapan Gavino, bisa-bisa Danira terpancing emosi dan mengatakan hal yang tidak pantas untuk suaminya. Tanpa berkata apapun Danira pergi meninggalkan Gavino.


Gavino menghembuskan nafas kasar, sebenarnya Dia sengaja membuat Danira kesal kepadanya, supaya Danira mau bersuara atau berdebat kepadanya seperti biasa. Namun sayangnya, Gavino gagal.


" Eemmm, enak juga". ucapnya sambil merasa kepanasan dalam mulutnya.


...****************...


Gavino telah tiba dikantornya, dia duduk dikursi kebesarannya dengan wajah makin masam dari biasa. Bagaimana tidak, saat dia akan berangkat tadi pagi, Danira masih mendiamkannya. Bahkan dengan terang-terangan menghindar dari Gavino. Sekarang Gavino mulai merasakan sesuatu yang aneh ketika Danira mediamkannya seperti ini.


" Sial..!!".


" Ada apa denganku, mengapa aku menjadi galau seperti ini disaat wanita itu mengacuhkan aku".


" Tapi bukankah ini bagus, semakin dia membenciku semakin cepat dia menyetujui untuk menyelesaikan pernikahan ini". Gavino bergumam sendiri seperti orang kurang waras, mengetuk-ngetuk meja kadang membentak dirinya sendiri.


" Tidak...tidak..tidak mungkin ".


" Tidak mungkin kan, kalau aku mulai tertarik dengan wanita itu!!!, ini tidak boleh terjadi". Gavino mulai mengelak dengan perasaannya.


" Aku hanya mencintai Stevani, tidak ada wanita lain. Hanya dia wanita satu-satunya yang aku harapkan menjadi istriku". Ucapnya lagi meyakinkan hati sendiri yang mulai goyah.

__ADS_1


" Iya tidak ada wanita lain, dan tidak boleh ".


Gavino sedang berperang dengan perasaannya sendiri, tiba-tiba suara serak-serak basah wanita datang langsung memeluknya.


" Honey ". Panggil Stevani mesra, seketika Gavino tersadar terkejut melihat Stevani sudah duduk dalam pangkuannya.


" Kau disini ?". Tanya Gavino seperti orang Ling-Liung.


" Ada apa denganmu honey ?, mengapa kau seperti orang kebingungan melihat aku disini?". tanya Stevani melihat wajah Gavino.


" Ahh...tidak ada, tadi aku sedang memikirkan pekerjaan!!". Elak Gavino, tidak mungkin dia mengatakan kepada Stevani kalau dia sedang memikirkan Danira bukan, bisa kacau bila Stevani tau.


" Oohhh...Baguslah !! aku kira kau sedang memikirkan wanita penggoda itu". tebak Stevani, membuat Gavino sedikit tersentak kaget karena tebakan Stevani.


" Tentu saja tidak, untuk apa aku memikirkan wanita itu". Ujar Gavino meyakinkan.


" Memangnya mengapa ?".


" Tidak...!! aku hanya takut, bila kau mulai tertarik pada wanita penggoda itu, menggingat kalian tinggal bersama, bisa saja kan wanita itu menggodamu dengan cara kotor". Stevani berucap sambil memainkan dasi Gavino.


" Aku tidak akan pernah tertarik padanya, percayalah".


" Tapi bagaimana jika wajahnya cantik dan menarik. Apa kau yakin tidak penasara dengan wajah wanita itu?". Tanya Stevani melihat mata Gavino mencari kejujuran kekasihnya. Gavino terdiam sejenak, sejujurnya ada rasa penasaran yang besar dalam hati Gavino, setiap kali mendengar suara lemah lembut Danira, itu selalu menarik rasa ingin tahunya. Ingin rasanya Dia membuka penutup wajah Danira, namun Ego dan akalnya masih berjalan dengan baik, selalu menghentikan keinginannya itu.


" Tidak, aku tidak penasaran sama sekali, seperti yang aku katakan padamu. Dia tak mungkin secantik dirimu". Jawab Gavino, sambil melihat kearah lain.


" Kau yakin Honey ?".


" Tentu, apa kau meragukan aku ?".


" Mana mungkin aku meragukanmu honey". Jawab Stevani, lalu memeluk Gavino erat.


Semoga kau berkata jujur honey dan aku tidak akan mentolerir bila kau mulai tergoda dengan wanita sialan itu. Batin Stevani.


......................


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2