CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
80. Bulan


__ADS_3

Danira sedang duduk di tepi kolam renang. Dengan kaki masuk kedalam air. Matanya melihat kearah bulan yang tidak terlalu bulat dan terang.


" Ibu, Bapak....!!Apa kalian melihat aku saat ini ?".


" Aku sangat merindukan kalian. Aku ingin sekali bercerita banyak hal kepada kalian, Tetang kisah rumah tanggaku yang aku pun tidak tau akan seperti apa akhirnya nanti ". Gumam Danira dengan terus menatap bulan diatas sana, air matanya telah mengalir membasahi pipi cantik nya.


" Maafkan aku, aku belum berhasil menemukan siapa yang telah membuat keluarga kita seperti ini. Tapi aku akan terus berusaha mencari keadilan untuk kalian ". Ucap Danira sambil menghapus air matanya.


Tidak terlalu jauh dari tempat Danira, Sarah telah berdiri dan mendengar semua ucapan nona nya, matanya pun ikut berkaca-kaca, mendengar setiap kata-kata Danira. Dia yang mengetahui bagaimana Danira menutupi segala kesedihan dan rasa kesepiannya selama ini. Bahkan prahara rumah tangganya pun tak pernah dia ceritakan kepada siapapun. Sarah melangkah, mendekati Danira.


" Nona ...?". Panggil Sarah pelan. Danira menoleh melihat Sarah yang telah berdiri disampinya. Danira hanya tersenyum.


" Anda sedang apa nona, mengapa anda duduk disini sendirian ?". Tanya Sarah.


" Aku hanya sedang ingin sendiri rah, sambil melihat bulan. Sayangnya bulannya tidak bulat sempurna malam ini ". Jawab dari kembali melihat keatas.


" Boleh saya menemani anda nona ?". Tanya Sarah meminta ijin.


" Tentu, silahkan duduk disini...". Danira menjawab memukul-mukul lantai disampingnya. Sarah duduk tepat di samping Danira.


" Apa saya boleh bertanya sesuatu nona ?".


" Eemmm...!!". Danira mengangguk.


" Apa anda begitu sedih, karena permohonan anda ditolak oleh pengadilan?".


" Hheemmm....!! Sejujurnya aku tidak sedih rah, entahlah perasaanku mengatakan hal sebaliknya, hatiku malah merasa senang saat permintaan itu ditolak. Tapi jika aku tetap bertahan, apa aku bisa menahan perasaan sakit terus menerus, melihat suamiku bersama wanita lain dan bahkan mereka saling mencintai ". Jelas Danira tanpa pengalihkan pandangannya dari atas langit.


" Apa nona mencintai tuan Gavino ?". Tanya Sarah lagi. Danira diam, melirik Sarah lalu menghela nafas pelan.


" Aku tidak tau, bagaimana rasa cinta. karena ini pertama kalinya aku sangat dekat dengan laki-laki. Aku belum pernah merasakan jatuh cinta, jadi aku tidak bisa membedakannya ". Ujar Danira menunduk, melihat pantulan dirinya didalam air kolam.


" Bila tuan Gavino datang kemari menjemput nona, apakah nona bersedia ikut tuan Gavino kembali kerumahnya ?". Danira melihat Sarah, lalu menggeleng. Sarah menautkan alisnya.


" Aku belum bisa kembali kesana rah, itu bukan tempatku. Tempat itu terlalu banyak kenangan bagi mereka, dan aku tak ingin diantara kenangan itu. Lagipula aku belum kepikiran untuk bertemu dengannya lagi, meski status kami masih suami istri tapi dia masih memiliki masalah hati yang belum selesai ". Ujar Danira lirih. Sarah memilih diam, tak ingin membuat suasana hati nonanya semakin sedih.


Dari belakang, terdengar suara langkah mendekati mereka.


" Permisi Nona, makan malam telah siap ". Ujar seorang pelayan wanita memberi tahu.


" Baik bik ".


" Ayo rah ". Ajak Danira, Sarah hanya mengangguk mengikuti Danira dari belakang. Mereka melangkah menujuh ruang makan. Mata para pelayan membulat sempurna, dengan mulut terbuka lebar. Mereka mematung melihat kedatangan Danira tanpa menggunakan Cadar dan Burqa di wajahnya.


" Silahkan Nona ". Ujar Sarah, menarik kursi untuk Danira duduki.


" Masyaallah....makanannya banyak sekali ". Ucap Danira, melihat berbagai macam menu makanan tersusun diatas meja makan. Sarah memberi kode agar ada yang memberi jawaban atas pertanyaan nonanya.


" Maaf nona, kami para koki belum tau apa makanan yang nona suka, jadi kami berinisiatif memasak semua yang kira-kira menjadi selera nona ". Ujar koki wanita memberi jawaban. Danira tersenyum mendengar jawaban itu.


" Terima kasih banyak, telah menyiapkan semua ini untukku ". Ucap Danira halus.


" Apapun yang kalian masak akan saya makan, saya tidak memiliki alergi apapun ".


" Karena makannya terlalu banyak, jadi malam ini kalian semua harus makan bersama denganku, ayo semuanya ambil tempat masing-masing. Kita makan bersama, aku sendiri tak akan sanggup menghabiskan semua ini". Ujar Danira, mengajak para pelayannya. Semuanya terdiam, saling melempar lirik dengan kepala menunduk. Tak ada yang berani mengikuti keinginan Danira, karena rasa canggung, merasa tak pantas makan 1 meja dengan majikan. pikir mereka. Melihat tak ada yang bergerak, membuat Danira berdiri, menarik salah satu pelayannya untuk duduk tepat disampingnya. Mereka melirik Sarah, dan sarah menganggu. Merasa mendapat persetujuan, mereka semua duduk dikursi masing-masing.

__ADS_1


" Ayo dimakan, semua ini harus habis ya. sayang bila harus membuang-buang makanan ". Ujar Danira lembut.


" Iya nona ". Jawab mereka serentak, semua menikmati makan malam dengan hangat, kadang saling melempar canda tawa.


" Nona apa anda suka ikan ini ".


" Nona apa anda mau ayam bakar ini ".


" Nona, makanlah sayur ini. Ini akan menjaga kesehatan tubuh anda ". tawar mereka, meletakkan banyak lauk dihadapan Danira, membuat Danira tertawa.


" Terima kasih banyak, nanti akan aku ambil sendiri. Jika kalian meletakkan semua dihadapanku, aku takut aku tak akan bisa tidur semalaman karena kekenyangan ". Ujar Danira bergurau, mendengar candaan Danira membuat rasa cangung sedikit menghilang.


" Bik Marni, tolong ambilkan untuk scurity didepan ya bik, antarkan kepada mereka ". ujar Danira.


" Baik nona ". Jawab Bik Marni, lalu menyiapkan sesuai perintah nonanya.


...****************...


Di Club malam


Stevani baru saja tiba, Dari luar negri seperti Minggu - Minggu sebelumnya, dia masuk kedalam sebuah Club malam ternama di ibu kota, mengenakan pakaian serba minim.


" Hallo cantik ". Goda seorang pria pada Stevani, Stevani tak menggubris, dia terus berjalan melewati krumunan pria hidung belang yang terus mencoba menggodanya.


Stevani terus saja masuk, hingga melihat seorang pria tegah duduk dikrumuni oleh wanita-wanita seksi di sisi kiri dan kanannya. Stevani langsung duduk di sofa, tanpa menyapa pria itu. Melihat Stevani telah datang, pria itu mengangkat tangannya, meminta para wanita penghibur itu pergi meninggalkan mereka.


" Kau sudah tiba ". Ujar pria itu, duduk mendekati Stevani.


" Kau kenapa memintaku kemari, kau tau, aku sangat lelah baru saja tiba dari LA. Aku ingin pulang dan beristirahat". Ujar Stevani, dia benar-benar lelah, bahkan terlihat jelas diwajahnya. Pria itu menyalakan rokoknya, lalu menghembuskan asap rokok itu kewajah Stevani.


" Apa yang kau kerjakan disana, perasaan kau setiap Minggu keluar negri ?". Tanya Danu, dia sangat penasaran apa yang Stevani lakukan disana. Mendengar pertanyaan Danu, Stevani mengambil minuman di atas meja lalu meminumnya hingga tandas.


" Haa..Haa..Haa.....!! Stevani, Stevani....kau pikir aku bodoh apa, sejak kapan kau punya pekerjaan di luar negri, kecuali kalau kau punya...". Danu menarik turunkan alisnya, menebak sesuatu. Melihat itu, Stevani mencebikkan bibirnya malas.


" Ya terserah, bila kau tidak percaya ".


" Cepat katakan, apa hal penting yang ingin kau sampaikan padaku ?, aku benar-benar lelah hari ini Danu ". Ujar Stevani, sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


" Baik..Baiklah, kau sudah tidak sabaran sekali sayang ". Goda Danu, sambil mengelus paha mulus milik Stevani, stevani hanya diam dengan apa yang dilakukan Danu kepadanya.


" Apa kau mengenal Gavino ?". tanya Danu, mendengar nama kekasihnya disebut, membuat Stevani membenarkan posisi duduknya.


" Dari mana kau tau tentang Gavino ?". tanya Stevani balik, dia terkejut mendengar Danu menyebut nama kekasihnya itu.


" Ya jawab dulu pertanyaanku, apa kau mengenal Gavino ?, apa dia juga salah satu pria yang pernah menghangatkan ranjangmun?". Tanya Danu lagi, dia mulai penasaran. Apa lagi melihat bagaimana raut wajah cemas Stevani.


" Iya..aku sangat mengenalnya. Sekarang giliran kau menjawab pertanyaanku, bagaimana bisa kau tau Gavino ?". tanya Stevani tak sabaran.


" Bukankah 1 negara ini mengenalnya Van ?". Ujar Danu santai, sambil menyesap minumannya.


" Iya aku tau itu, maksudku bagaimana kau tau bila aku juga mengenalnya ". Danu meletakkan gelas minumannya, lalu mendekatkan tubuhnya kepada Stevani, mengendus-endus aroma tubuh wanita yang sering menemani malam-malam sepinya, Stevani mendorong sedikit tubuh Danu, dia masih menunggu pria itu menjawab pertanyaannya.


" Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu ". Danu mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Gavino kemarin, mulai dari pengajuan kerjasama hingga membahas tentang Stevani, mendengar semua ucapan Danu membuat Stevani membesarkan matanya terkejut, tak percaya.


PLAKKK*

__ADS_1


Stevani memukul punggung Danu, geram.


" Bangsat....!!! kenapa kau malah mengatakan hal menjijikan seperti itu kepadanya hah ?". Pekik Stevani geram, karena Danu menyebutnya ahli diatas ranjang.


" Loh...!! memangnya kenapa, bukankah itu fakta darling, bahkan akupun sering merasakannya ". Ujar Danu, tanpa merasa berdosa sedikitpun.


" Iya...tapi tidak mengatakan didepan gavino bodoh ". Kesal Stevani, dengan wajah telah memerah. Pasti Gavino saat ini tegah marah besar kepadanya. pikir Stevani.


Sial...Sial..Sial...!! Jangan sampai Gavino mulai menyelidiki tentang aku, bisa hancur semuanya. Batin Stevani cemas.


" Memangnya kau ada hubungan apa dengannya, hingga membuatmu sangat takut seperti ini ?, apa kau ada hubungan spesial dengannya ?".


" Dia itu kekasihku, bahkan dia sudah sering ingin melamar ku, tapi aku masih terus menolaknya ". Jelas Stevani, mulai memikirkan apa yang harus dia jelaskan kepada Gavino nanti.


" Cciihh...kau bermimpi terlalu tinggi Van, mana mungkin seorang Gavino mau dengan wanita sepertimu, ". Cibir Danu, tak percaya dengan ucapan Stevani.


" ya terserah, jika kau tak percaya. Kami bahkan telah menjalin kasih 7 tahun lamanya, hanya saja, hubungan kami dirahasiakan ". Ujar Stevani, sambil mengeluarkan ponselnya memberikan bukti kepada Danu. Danu memelototkan matanya tak percaya, melihat foto-foto Stevani bersama Gavino.


" Jadi kau serius,...kau tidak berbohong ?". Tanya Danu, masih ragu.


" Sudahlah....aku sangat kesal kepadamu, pasti sekarang dia tegah marah besar akibat ucapanmu kemarin ". Sungut Stevani, lalu berdiri ingin pergi.


" Hei...kau mau kemana ?".


" Aku harus menemuinya sekarang, menjelaskan kegaduhan yang telah kau ciptakan kemarin ". Ketus Stevani pergi meninggalkan Danu begitu saja.


" Hei Van, Vani tunggu dulu, kau bel.....!!". Ucapan Danu mengatung diudara, karena Stevani telah menghilang, ditegah kerumunan. Melihat Stevani pergi, Danu menyandarkan punggungnya disandaran sofa, lalu melipat kakinya, dia menghisap rokok yang ada ditangannya secara perlahan, lalu menghembuskan ya, dibibirnya menerbitkan seringai miring dan misterius.


Stevani telah tiba didepan pintu penthouses Gavino, dia mulai memasukkan kode PINnya, namun....


" Loh...kenapa ini tidak bisa ?". Gumam Stevani, melihat pin yang dia masukkan salah. Berulang kali dia mencobanya, namun tetap gagal.


" Aneh, apa Gavino telah mengganti kodenya ?". Tanya Stevani pada dirinya sendiri, dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Gavino namun tak ada jawaban.


Aahhh sial, kemana dia. Batin Stevani kesal.


Gavino yang baru saja selesai mandi, mendengar suara pintu penthouses yang ingin dibuka, dia berjalan menuruni anak tangga hanya dengan menggunakan jubah mandi. Dengan handuk kecil yang terus digosok-gosokkan kerambutnya yang masih setegah basah. Gavino melihat kearah monitor kecil, siapa yang datang.


Matanya menangkap sosok wanita, yang tengah menghentak-hentakkan kaki kelantai, karena kesal. Gavino yang tau siapa itu, memilih masuk kedalam, tanpa membukakan pintu untuk Stevani. Dia sedang malas berurusan dengan kekasihnya itu, apa lagi pikirannya masih kacau, mengingat ucapan Danu kemarin tentang Stevani. Bukannya kembali ke kamarnya, Gavino memilih masuk kekamar Danira, lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur yang biasa Danira gunakan.


Tring *


Tring*


Suara pesan masuk keponsel Gavino, Dia membukanya.


" Honey ..."


" Aku tau kamu didalam, buka pintunya Honey ".


" Honey kita harus bicara, aku ingin menjelaskan semuanya kepadamu ".


" Honey...ayolah, jangan merajuk seperti anak kecil, dia temanku. Dia memang sering bercanda, ayolah honey, buka pintunya ". Deretan pesan yang Stevani kirimkan. Gavino Hanya baca tanpa niatan membalas, dia benar-benar sedang lelah. Dia sedang tak ada tenaga untuk meladeni kegilaan Stevani nantinya, Gavino memilih mematikan ponselnya, lalu meletakkan ponsel itu keatas nakas. Yang ada didalam pikirannya saat ini, dimana istrinya.


" Selamat malam Danira, secepatnya aku akan menemukanmu, dan membawamu pulang bersamaku ". Gumam Gavino.

__ADS_1


......................


...Bersambung........


__ADS_2