CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
95. Pengganggu


__ADS_3

BRAK**


Suara pintu yang dibuka secara paksa, menimbulkan suara yang menggema kedalam ruangan. Seorang wanita tua berjalan sedikit cepat, diikuti beberapa orang dibelakangnya. Ditangan kirinya memegang tongkat sebagai penyanggah agar saat berjalan tidak terjatuh.


" GAVINO.....!!" Teriaknya, Gavino yang masih berbaring memeluk Danira menghela nafas panjang ketika mendengar suara cempreng itu. Dia sudah bisa menebak siapa pemilik suara cempreng yang memenuhi seisi ruangan ini.


"Oma Jalannya pelan-pelan saja, jangan terburu-buru seperti itu. Nanti Oma bisa terjatuh ". Ucap seorang wanita yang sedari tadi mengikuti Oma Laras dari belakang. Oma Laras tak perduli, dia terus melangkah dengan cepat meski sedikit tertatih.


" Mas..lepas iihh, itu ada yang masuk. Jika dia melihat kita seperti ini malu tau ". Sungut Danira ,kesal karena sedari tadi Gavino mengukung tubuhnya dengan erat.


" Biarkan saja, aku tidak perduli ". Cuek Gavino, karena dia masih betah memeluk istrinya. Bisa dibilang ini pertama kalinya dia memeluk Danira dalam keadaan sadar dan lama sejak mereka resmi menjadi pasangan suami istri, jadi Gavino tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. pikirnya.


" Tapi aku pegal seper.......!!"


" Heehh anak Bangor, cucu kurang ajar. Oma datang bukannya disambut malah melakukan hal yang tidak senonoh seperti ini kepada cucu menantuku, dirumah sakit lagi. Apa kau sudah tak punya rasa malu HAH ?". Ucap Oma Laras, terkejut melihat ulah cucunya sedang berbaring dengan kaki mengatung, memeluk Danira. Oma Laras mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berjalan terlalu cepat. Danira membolakan matanya ketika mendengar suara wanita tua, yang tak lain adalah Oma Laras, nenek suaminya. Danira kembali berusaha melepaskan tangan Gavino yang memeluknya dengan erat, namun lagi-lagi Danira gagal.


" Mas iihh, lepasin ada Oma itu ".


" Biarkan saja, salah Oma sendiri kenapa datang diwaktu yang tidak tepat, lagipula perbuatan tidak senonoh seperti apa yang aku lakukan, aku hanya memeluk istriku sendiri jadi sah-sah saja aku ingin melakukannya dimana ". Ujar Gavino, tetap mempertahankan posisinya.


" Oohhhh dasar cucu kurang ajar ya, berani kamu mengacuhkan Oma mu hah ?". Ucap Oma Laras, mengangkat tongkat yang atasnya berbentuk melengkung, dia mengaitkan lengkungan itu kekera baju rawat Gavino. Dan....


" Aahhh Oma..Oma, lepasin...Oma apa-apa sih. Sakit tau, Oma mau membunuhku ya ?". Sungut Gavino yang sudah duduk, lalu melepaskan kaitan tongkat dikera bajunya. Menggosok-gosokkan lehernya terasa sakit akibat tarikan baju, yang mencekik.


" Rasain, itu akibat bagi cucu yang kurang ajar, bisa-bisanya sedang sakit, malah asik berpelukan". Ketus Oma Laras. Danira buru-buru turun dari tempat tidur menghampiri Oma Laras.


" Assalamualaikum Oma ". Salam Danira, mencium punggung tangan Oma Laras. Oma Laras hanya mengelus kepala Danira.


" Bagaimana kabar Oma, sehat ?, maaf jika penyambutan Danira dan mas Gavino kurang sopan ". Ujar Danira merasa tak enak hati. Oma laras menautkan alisnya ketika melihat penampilan Danira dari atas sampai bawah.


" Kau yang bernama Danira ?, istri dari seorang Gavino Garayudha Pradiksa?". Tanya Oma Laras, dengan tatapan menyelidik tak percaya. Danira mengangguk, apa Oma Laras tak menyukainya karena penampilan pakainnya seperti ini. pikir Danira.


Lalu pandangan Oma Laras beralih pada Gavino yang masih duduk dengan santai diatas ranjangnya, menampilkan wajah cemberut pada Oma laras. Oma Laras menghela nafas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Hhaaahh...!! Mengapa kau mau menikah dengan pria brengsek seperti dia nak, lihatlah dia tak memiliki nilai plus sama sekali. Sedangkan kau, masya allah. Apa kau dipaksa atau diancam untuk menikah dengannya ?".


" Hah ?". Danira terkejut mendengar ucapan Oma Laras, dia pikir Oma Laras akan mencelanya, tapi nyatanya.....


Astaghfirullah....aku sudah berperasangka buruk pada Oma. Batin Danira.


" Maksud Oma apa berkata seperti itu, tidak ada yang mengancamnya. Dia menikah denganku karena dia memang menyukaiku. Siapa yang sanggup menolak pesona seorang Gavino, yang tampan, perkasa, kaya raya ". Ucap Gavino, Danira dan Oma kompak memutar bola mata mereka malas. Lalu Oma mengangkat tongkatnya lagi, mulai memukul Gavino.


" Akh...aduh Oma, sakit tau. Masa cucu sedang sakit malah dipukuli ". Sungut Gavino, menggosok-gosokkan kakinya yang dipukul oleh Oma.


"Oma sudah....jangan pukuli kak Gavino terus, dia sedang sakit Oma ". Ucap seorang gadis membentang kedua tanggannya bermaksud menghalangi tongkat Oma mengenai tubuh gavino.


" Kau sendiri yang mencari penyakit ini Gavino. Kau terlalu percaya diri, pergi sendiri tanpa membawa pengawalan. kau pikir, kau memiliki 9 nyawa apa. Bila dibanding nyawamu dan musuh-musuh mu, lebih banyak jumlah musuh-musuh mu. Apa kau tau itu bocah tengik ". Omel Oma Laras, yang tak habis fikir dengan kecerobohan Gavino kali ini.

__ADS_1


" Aduh...aduh...aduhhh, pinggangku rasanya keram sekali ". keluh Oma Laras.


" Oma, ayo duduk dulu ". Ajak Danira, menarik kursi yang ada disamping ranjang mereka.


" Suamimu itu hampir saja membunuh Oma, dengan kabar dia diserang orang-orang jahat, dan terkena tembakan. Oma sangat buru-buru datang kemari, takut terjadi hal-hal yang buruk menimpa kalian. tapi lihatlah, dia bahkan tidak terlihat seperti orang yang habis terkena tembakan ". Ucap Oma Laras kesal, Danira mengambil air putih yang ada diatas nakas, lalu memberikan kepada Oma.


" Oma tenang lah, ini Oma minum dulu ".


" Alhamdulillah aku dan mas Gavino baik-baik saja Oma, semua atas izin Allah, kami berdua selamat dan bisa bertemu dengan Oma. Jadi Oma tidak perlu khawatir lagi. Maaf sudah membuat Oma cemas ". Ujar Danira lembut, berjongkok dihadapan Oma Laras. Oma Laras membalas dengan senyuman, lalu mengelus kepala Danira lembut.


" Kakak tidak apa-apa kan, apa ada yang sakit?, dibagian mana kakak terkena tembakan ?, pasti itu sakit sekali ya kak ?". Tanya gadis itu memegang kaki Gavino, namun dengan cepat Gavino menarik kakinya.


" Jangan sentuh aku, aku tidak apa-apa". Ketusnya tak suka, meski Gavino bersikap dingin padanya, gadis itu tetap memberikan senyuman yang tulus pada Gavino. Danira menolehkan kepalanya, memperhatikan cara suaminya memperlakukan gadis itu, sangat dingin. Lalu Danira berdiri, mendekati gadis itu.


" Hai...!! Perkenalkan saya Danira ". Danira mengulurkan tangannya, ramah. Berniat memperkenalkan diri. Gadis itu melihat Danira dengan tatapan yang tak bisa Danira artikan, dia melihat Danira dari atas sampai bawah.


" Ayu...." Singkatnya, menjabat tangan darinya, lalu cepat-cepat manarik kembali tangannya, mengelap kebaju bagian belakang, melihat itu Danira hanya tersenyum kecut.


" Kak Gavino mau makan apa, biar ayu ambilkan ya ?".


" Tidak perlu, aku punya istri yang bisa melayaniku dengan baik. Pergi sana, jauh-jauh dariku ". Jawab gavino ketus.


" Tapi istri kakak juga sedang sakit, tidak bisa melayani kakak. Lebih baik ayu saja yang mengambil dan menyuapi makanan buat kak Gavin, bagaimana ?, mau ya ?". Ucap ayu, masih berusaha membujuk Gavino, yang tegah menatapnya tajam.


" Aku tidak lapar, berhentilah bersikap menjijikan seperti itu ".


" Mas kenapa bicara kepada ayu seperti itu, dia hanya berniat membantu mas, kenapa harus jutek begitu sih ?". Tanya Danira, yang merasa aneh dengan sikap Gavino pada ayu. Meski Danira belum mengetahui siapa ayu sebenarnya, tapi jika dilihat dari kedekatan ayu dan Oma yang datang bersama-sama, sepertinya mereka masih keluarga. Tebak Danira. Gavino memilih diam, tak ingin menjawab pertanyaan Danira.


" Sudah lah ayu, lebih baik kau pulang saja. Terima kasih sudah mengantarkan Oma kemari ".


" Dan kau Gavino, berhentilah bersikap kasar seperti itu pada ayu, bagaimanapun dia tetap adik sepupu mu ". Ucap Oma Laras, mengingatkan. Gavino melihat Oma nya kesal. Sejak awal dia sangat tidak suka dengan ayu, menurutnya gadis ini terlalu centil padanya.


" Tidak Oma, ayu mau disini saja, masih mau menemani Oma disini, boleh ya Oma ?". Ayu memohon, memegang tangan Oma Laras, memasang wajah mengibanya. Sedangkan Gavino, mencebikkan bibirnya melihat wajah ayu yang memelas.


" Ciihhh...dasar wanita tidak tau diri. Mengapa kau tidak menjadi artis saja, aku lihat kau pintar sekali berakting seperti itu ". Sindir gavino.


" Kakak, kenapa kak Gavin bicara seperti itu padaku. Aku tidak sedang berakting, aku memang ingin menemani Oma disini ". Jelasnya, dengan memanyunkan bibirnya.


" Pergilah, aku tak suka melihatmu berkeliaran didekatku. Apa lagi melihat wajahmu sok imut begitu, itu sangat menggelikan ". Ketus Gavino, lagi-lagi mengusir ayu. Danira hanya diam, tak ingin ikut campur urusan suaminya dengan ayu, karena dia tak tau apa permasalahan diantara mereka berdua, hingga suaminya tampak sangat membenci adik sepupunya ini.


"Ayu...dengarkan Oma, lebih baik kau pulang saja, dari pada kau harus mendengar kata-kata yang menyakitkan hatimu terus menerus dari kakakmu ". Ucap Oma pelan, dia tau bila kedua cucunya ini sama-sama keras kepala, jadi harus dipisahkan. Oma Laras tak ingin ayu semakin sakit hati jika Gavino kembali mengeluarkan kata-kata sindirannya. Sampai saat ini, Oma laras pun tak mengerti mengapa Gavino sangat membenci ayu, padahal ayu sangat sopan dan baik pada Gavino, dia tak pernah marah meskipun Gavino sering mengata-ngatai dirinya dengan kasar.


" Tapi Oma...!!". Oma Laras memelototkan matanya, sebagai tanda bila dia tak ingin dibantah lagi. Ayu menurunkan bahunya lemas, bila Oma Laras sudah memberikan tatapan begitu, berarti dia sudah tak bisa berkompromi lagi.


" Baiklah....!! kak Gavino ayu pulang diluan ya, sampai bertemu dirumah Oma. Nanti saat kak Gavin pulang, ayu akan buatkan masakan yang enak-enak khusus untuk kak Gavin ". Ujarnya penuh semangat, lalu memberikan penekanan di kata ' khusus ' sambil melirik Danira. Danira tak ambil hati, dengan sikap ayu padanya. Mungkin memang seperti ini sifat ayu, bila bertemu dengan orang yang baru dikenal. pikir Danira.


Setelah berpamitan dengan Gavino, ayu pun berbalik berpamitan dan mencium tangan Oma, tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah katapun pada Danira, yang berdiri tepat disampingnya. Dia keluar dari ruangan itu, begitu saja. Melihat sikap ayu pada Danira, membuat Gavino semakin membenci adik sepupunya itu.

__ADS_1


Dasar wanita centil tidak tau diri. Batin gavino


" Danira....tolong maafkan sikap ayu ya nak. Oma juga merasa heran, mengapa sikapnya sangat tidak sopan padamu, padahal kamu kakak iparnya, biasanya dia tidak seperti ini ". Ucap Oma Laras, merasa tak enak hati atas sikap cucunya. Danira tersenyum.


" Tidak apa-apa Oma, tidak perlu meminta maaf seperti ini. Aku tidak merasa terganggu dengan sikapnya seperti itu. Mungkin karena ini pertemuan pertama kami, jadi dia masih merasa asing. Mungkin, setelah ini kami akan lebih dekat ". Ujar Danira halus. Oma semakin kagum dengan kelembutan hati Danira. Sedangkan Gavino, merasa bangga memiliki istri sebaik dan selembut Danira.


Mengapa aku baru menyadari, bila istriku sangat baik hati, Ahh..beruntungnya aku. Batin Gavino, dia kembali tersenyum-senyum sendiri.


" Kamu sangat baik nak, Oma sangat beruntung memiliki cucu menantu seperti mu. Tapi sayangnya, kamu tidak beruntung memiliki suami seperti Gavino ". Ujar Oma Laras, menyindir Gavino yang memasang wajah cemberut. Danira hanya menanggapi dengan tawa ringan.


" Memangnya aku kenapa ?". Sungutnya tak terima.


***


Diluar, Nyonya Calina baru saja tiba dirumah sakit tempat Gavino dan Danira dirawat. Dia keluar dari dalam lift, berjalan menujuh ruangan anak dan menantunya, tanpa sengaja dia melihat ayu, yang berjalan dengan wajah ditekut, sambil menghentak-hentakkan kaki kelantai.


" Ayu....?". Panggil Ny. Calina.


" Eehh.., mami Calina, baru sampai ?". Tanya ayu, yang terkejut melihat Ny. Calina sudah berdiri didepannya.


" Iya, baru saja....Kamu dari dalam ruangan Gavino ?".


" Iya mi...!!" Jawab ayu pelan, kembali memasang wajah sedihnya.


" Loh, kenapa kamu menjadi sedih sayang, apa terjadi sesuatu pada kakakmu ?". Tanya Ny. Calina, kembali panik. Dia mengira telah terjadi sesuatu yang serius pada Gavino.


" Tidak mami, kak Gavin tidak apa-apa, dia baik-baik saja, sangat baik malah ".


" Terus, kenapa wajahmu tampak sedih dan juga kamu mau kemana?, mengapa diluar ?". Tanya Ny. Calina lagi, sebenarnya Ny. Calina ingin segera masuk kedalam, ingin memastikan bagaimana kondisi anak dan menantu kesayangannya, tapi ketika melihat ayu yang tegah sedih, dia menjadi tak tega langsung pergi begitu saja.


" Ayu diusir mi ".


" Diusir ?, siapa ?


" Apa Gavino yang mengusir kamu sayang ?". Tanya Ny. Calina, dia tau bila putranya itu sangat membenci ayu, jadi sudah tidak heran, bila ayu diusir oleh anaknya.


" Bukan mi ".


" Lalu siapa sayang, orang yang berani mengusir kamu ?".


" Istrinya kak Gavin, dia yang telah mengusir ayu. Dia meminta ayu pulang, katanya dia tak suka melihat ayu berkeliaran didekat kak gavino ". Ucap Ayu, dengan air mata mengalir dipipinya. Ny. Calina mengerutkan dahinya bingung bercampur terkejut mendengar jawaban ayu.


" Apa karena dia cemburu melihat kedekatan ku dengan kak Gavin ?". Ucapnya lagi, sambil terisak.


" Maksud kamu Danira ?". Tanya Ny. Calina, memastikan. Ayu menjawab dengan anggukan kepala.


Danira ?, mengusir ?, mengapa rasanya tidak mungkin. Batin Ny. Calina.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2