
Gavino telah mengenakan pakaian santainya, dia duduk disofa, dengan kaki sedikit terbuka.
Pandangannya tak pernah lepas dari pintu kamar mandi. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk sandaran sofa, Gavino berdiri, duduk lagi, kemudian mendekat kearah pintu lalu menempelkan telinga, masih terdengar jelas suara gemercikan air dari dalam.
" Kenapa dia lama sekali sih didalam ".
" Apa saja yang dia kerjakan dididalam sana ". Gumam Gavino berjalan mondar mandir, tak sabar menunggu Danira keluar.
Ceklek *
Gavino mendengar Suara kunci pintu terbuka, dengan cepat dia kembali duduk disofa sambil memegang majalah, pura-pura membaca, Gavino mengatur nafas, lalu menghembusnya pelan. Danira keluar telah lengkap dengan pakaian gamis panjang berwarna Lilac, hanya saja kini dia sudah tak menggunakan penutup diwajahnya lagi. Gavino kembali terpaku melihat wajah Danira, tak berkedip.
" Mas sedang membaca apa ?". Tanya Danira yang kini telah berdiri didepan gavino.
" Majalah ". Singkatnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Danira. Danira tersenyum sambil mengangguk.
" Apa mas sudah terbiasa membaca majalah dengan terbalik seperti itu ?".
" Hah ?". Gavino melihat majalah ditangannya, dan benar saja dia membaca majalah yang terbalik. Danira terkikik renyah, lucu dengan wajah Gavino seperti habis kepergok mencuri.
" Ha..ha..ha...". Gavino melempar majalahnya, berdiri menghampiri Danira yang masih tertawa.
" Oowhh..apa kau senang sekali mengejek suamimu hhmm ?". Ucap Gavino melotot, tangannya melingkar dipinggang Danira, membuat Danira tersentak menghentikan tawanya.
" Ma..maaf, aku tidak bermaksud mentertawai mas ". Ujar Danira terbata, menunduk tegang.
" Apa saja yang kau lakukan didalam sana, mengapa lama sekali ?, apa kau sengaja membiarkan aku menunggu hhmm?".
" Ti..ti..tidak, aku tidak bermaksud membuat mas menunggu. aku hanya mandi dan mencuci pakaian yang kita kenakan tadi ". Jawab Danira terbata, tak ingin melihat mata Gavino. Dia benar-benar gugup berada diposisi sangat dekat seperti ini.
" Benarkah ?". Gavino mengeratkan pelukannya, menarik pinggang Danira hingga benar-benar menempel pada tubuhnya, membuat Danira memundurkan kepalanya. Gavino menarik dagu Danira, memaksa Danira menatapnya. Kini mata mereka saling bertaut satu sama lain, Gavino kembali terhipnotis dengan tatapan bola mata indah Danira.
" Cantik...". Gumamnya pelan, namun masih bisa Danira dengar.
" Mengapa kau tegang sekali, apa kau takut padaku ?". Tanya Gavino, Danira menggeleng pelan.
" Ma..mas mau apa ?".
" Melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kenapa ?, apa kau keberatan ? ". Gavino terus menatap Danira kian dalam, membuat nafas Danira semakin sesak.
" Bukan keberatan, ta..tapi bukankah ini ma..masih terlalu sore ?". Ujar Danira, mencoba bernegosiasi. Gavino menaikkan satu alisnya.
" Memangnya kenapa ?, mau siang, sore, malam, pagi, subuh atau pun itu, bukankah tidak jadi masalah lagi ".
" Ha.ha.ha...iya mas benar, sudah tidak jadi masalah ya mas ". Ujar Danira tertawa garing, mencoba menguasai hati yang sedang deg-degan.
Oh jantung coba lah tenang, mengapa sedari tadi kau selalu maraton seperti ini. Batin Danira. Gavino mengelus pipi semulus sutra itu, tanpa aba-aba Gavino melayangkan kecupan dikening danira lama, hingga membuat mata Danira terpejam. ibu jarinya kembali bersemayam dibibir ranum Danira, Gavino perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Danira, namun.....
KRYUKKK **
Suara perut Danira, menghentikan niat Gavino.
" Kau lapar ?". Danira mengangguk malu, saking malunya, wajah Danira kembali memerah. Gavino tersenyum, lalu mencium pipi Danira sekilas, Danira kembali membelalakan matanya.
" Ayo kita pesan makanan ".
__ADS_1
" Tidak, aku akan kedapur saja ". Ujar Danira, telah melepaskan tangan gavino yang melingkar dipinggangnya, lalu keluar kamar buru-buru. Gavino mengulum senyum melihat tingkah Danira, berusaha menghindarinya.
Ya Allah, mengapa jantungku rasanya akan meledak seperti ini, aku tidak bisa terlalu lama didekat mas Gavino, bisa-bisa aku terkena diabetes dengan semua perlakuan manisnya. Batin Danira.
Danira membuka kulkas namun dia tak menemukan apapun, kemudian dia membuka lemari tempat biasa Danira menyimpan banyak stok makanan, sama kosong. Danira berjongkok, membuka laci bagian bawah, melihat apa ada sesuatu yang bisa dia masak, lagi-lagi Danira tak menemukan apapun.
Tanpa Danira sadari, sedari tadi Gavino selalu membuntuti kemana langkah Danira, dia selalu mengikuti gerak gerik Danira, seperti saat Danira berjongkok, gavino pun ikut berjongkok, kini Danira berdiri, gavino pun ikut berdiri sambil berkecak pinggang. Seperti anak ayam meniru induknya.
Aahh..mengapa tidak ada apapun. lalu aku harus memasak apa ?. batin Danira, sambil memegang perutnya yang terasa perih.
" Apa yang kau cari ?".
" Astaghfirullah....". Ucap Danira, terkejut mendegar suara Gavino sudah berdiri dibelakangnya.
" Mas ih....mengangetkan saja ". kesal Danira, memegang dadanya. Gavino hanya diam memasang wajah tanpa bersalah.
" Aku mencari bahan makan yang aku simpan sebelum pergi ".
" Apa kau lupa, sudah berapa lama kau pergi meninggalkan penthouses ini, Otomatis semua bahan makanan itu sudah busuk Danira, dan beralih ketempat sampah ". Jelas Gavino, menyenderkan bahunya ditembok sambil melipat tangan didepan dada.
" Ah iya, mas benar. Aku sampai lupa ". Danira menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal.
" Jadi kita makan apa ?". Tanya Danira, bingung karena tidak ada bahan apapun yang bisa dia masak.
" Kita pesan makanan online saja ". Usul Gavino. Danira yang tak terlalu suka makanan diluar, hanya bisa menurut. Kini mereka telah duduk di kursi ruang tengah.
" Kau ingin makan apa ?". Tanya Gavino, membuka aplikasi makanan online.
" Apa saja, yang penting ada nasinya ". Ujar Danira santai, Gavino menaikkan alisnya melihat Danira lalu mengangguk.
" Tidak, Kitakan hanya makan nasi saat masih dikalimantan tadi pagi, dan perutku tidak bisa jika hanya makan nasi sedikit, kurang nendang ". Jelas danira tersenyum, menampakkan deretan gigi putih nan rapinya. Membuat gavino semakin tak bisa berpaling.
Hening....mereka kembali terdiam, hanya ada suara jam didinding yang menggema disana. Mereka berdua bingung ingin membicarakan apa lagi. Gavino terus menatap Danira, membuat Danira merasa risih dan malu. Danira berdiri, merasa kantung kemihnya penuh. Melihat Danira berdiri, Gavino pun refleks ikut berdiri juga, membuat Danira bingung.
" Mas mau kemana ?".
" Mau ikut kamu ".
" Aku mau ketoilet mas, buang air kecil. Mau ikut juga ?".
" Oh ayo...aku akan menunggumu diluar ". Jawab Gavino ikut melangkah bersama Danira.
" Mas tunggu disini saja, kenapa harus ikut kesana, kan aku jadi malu mas ". Jujur Danira kesal, sejak suaminya melihat wajahnya, Gavino seakan tak mau jauh-jauh darinya, bahkan meminta ijin untuk mandi tadi pun, penuh dengan drama perdebatan panjang.
Aku juga masih didalam penthouses ini, bukan buang air kecil ke planet venus. Batin Danira geram.
" Baiklah...baiklah, aku akan tunggu disini ". Ujar Gavino mengalah, meski begitu matanya terus mengawasi Danira hingga menghilang dibalik tembok.
Cckkk...sial, sepertinya aku memang sudah gila. Bahkan tergila-gila dengannya. batin Gavino, diapun merasa aneh dengan dirinya sendiri.
***
Danira keluar, dia melihat Gavino telah mentata semua makanan diatas meja makan, ada berbagai macam makanan cepat saji disana. Mulai dari Burger, spaghetti, chicken, sosis, pizza dan tentunya ada nasi.
" Duduklah, kau ingin makan yang mana biar aku ambilkan ". Gavino telah menarik kursi Danira memintanya duduk, Danira semakin tak enak hati diperlakukan seperti ini oleh Gavino.
__ADS_1
" Tidak perlu mas, seharusnya Danira yang menyiapkannya untuk mas Gavin ".
" Oh, baiklah...". Gavino kembali duduk dikursinya. Danira mengambil sepiring spaghetti lalu meletakkannya didepan gavino, kemudian dia meletakkan segelas air putih disamping piringnya. Gavino selalu memperhatikan setiap gerak Danira, dia tak habis-habisnya berdecak kagum.
Bagaimana bisa ada wanita sesempurna ini didunia ini. aku pernah mendengar sebuah pepatah mengatakan, bila tak ada satu manusia pun yang sempurna dimuka bumi, tapi lagi-lagi pepatah seperti itu tidak benar, buktinya aku bisa melihat kesempurnaan yang nyata dihadapanku, bahkan sekarang wanita sempurna itu milikku, milik seorang Gavino Garayudha Pradiksa. Batin Gavino bangga, dia terus memandang Danira tanpa berpaling sedikitpun, bahkan makanan yang ada dihadapannya pun tak tersentuh. Danira yang sedari tadi merasa diperhatikan, meletakan sendoknya diatas piring.
" Apa mas tidak lelah sedari tadi melihatku terus ?, apa mata mas tidak pegal, selalu seperti itu tanpa berkedip ?". Kesal Danira, merasa seakan sedang diawasi. Gavino kikuk, dia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
" Siapa juga yang melihatmu, aku sedang melihat kulkas, berfikir ingin mengisinya dengan apa saja ". Elak Gavino.
" Lagi pula apa salahnya jika aku ingin melihatmu, kau istriku. Aku bebas melihatmu atau melakukan yang lebih dari itu ". Ucap Gavino santai, menarik turunkan alisnya tersenyum miring. Melihat itu membuat Danira menghela nafas.
" Aku tau....tapi aku jadi takut bila mas menatapku seperti itu, mas seperti buldozer ".
" Buldozer...?!!". Ulang Gavino melotot tak percaya. Danira mengangguk ragu.
" Wah...wah...ternyata kau mulai berani mengatai aku hhmm ?". Danira menunduk, mengigit bibir bawahnya, dia teringat bila dia telah salah berkata seperti itu, apa Gavino akan memarahinya. pikir Danira.
" Baiklah....aku akan memperlihatkan bagaimana seorang Gavino berubah menjadi buldozer padamu nanti. Aku akan menggusurmu hingga hancur, lalu mencabik-cabik tubuhmu, kemudian akan aku makan dagingmu hingga tak tersisa ". Ujar Gavino bernada menyeramkan, disertai seringai menakutkan. Membuat Danira membesarkan matanya, bergidik ngeri.
" Apa mas juga seorang kanibal?". Gavino mengerutkan dahinya, mendengar pertanyaan aneh Danira.
" Ya...karena hanya seorang kanibal yang mau memakan daging sesama manusia hingga kenyang ". Ujar Danira, Gavino kembali menghela sebal.
" Ya ..ya..terserah kau saja ingin menamaiku apa, angap saja kau adalah mangsa pertamaku ". Gavino berucap sambil memasukkan spaghetti kedalam mulutnya, disertai senyuman miring. Mendengar itu Danira semakin merinding.
Mas Gavino tidak akan serius dengan ucapannya bukan ?, aduhh...mengapa perasaanku jadi tidak enak begini sih. Batin Danira, selera makannya jadi menghilang, sesekali melirik Gavino, yang senyum-senyum sendiri.
***
Danira baru saja selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia melepaskan mukena, melipatnya beserta sajadah lalu menyimpannya didalam lemari. Kemudian Danira masuk kedalam wardrobe mencari pakaian tidur Gavino, Danira membuka satu persatu lemari disana, namun alangkah terkejut Danira ketika melihat banyaknya lingering berbagai macam warna dan bentuk bergelantungan rapi disana.
"Astaghfirullah....apa ini milik wanita itu". gumam Danira, hatinya merasa panas, membayangkan bila semua pakaian ini milik Stevani.
Namun saat Danira memegang salah satu lingerie itu, ternyata masih bersegel baru, Danira mengecek satu persatu, semua sama. Kemudian dia membuka lemari yang disebelahnya, Danira kembali terkejut melihat banyaknya gamis berjejer rapi dengan merek yang sering Danira gunakan.
Apa semua ini, dia yang menyiapkannya ?. Danira mengulum senyum, seketika rasa sakit hatinya berubah menjadi senang.
Danira keluar membawa pakaian tidur Gavino, lalu meletakkannya diatas tempat tidur. Dia juga menyiapkan segelas susu hangat, lalu meletakkannya diatas nakas. Kemudian dia berlalu pergi, masuk kekamar mandi untuk bersih-bersih.
Gavino yang masih duduk didalam ruang kerjanya, melotot melihat Vidio yang sedang berputar, tangannya mengepal, rahangnya mengeras, lava amarah dalam dirinya, siap meledak. Kemudian Gavino membuka file yang baru dikirim Sean....
PYAR**
Gavino melempar pas bunga ketembok hingga pecah berhamburan dilantai, matanya memerah menandakan tingkat marahnya.
" BANGSATTTT....Beraninya selama ini dia mempermainkan aku ". umpat Gavino berteriak kencang. Nafasnya memburu tak beraturan, dia benar-benar emosi.
" Lihat saja akan aku buat kau menyesali apa yang telah kau lakukan padaku ". Geram Gavino, kembali meninju meja berkali-kali membuat punggung tangannya mengeluarkan darah. Gavino mencari ponselnya, sedetik kemudian dia teringat, bila ponselnya telah hancur ketika dia membuangnya tadi sore.
" Shits......". Umpatnya semakin kesal.
Gavino melihat jam didinding, waktu telah menunjukkan pukul 9.45 malam, dia beranjak dari kursinya. Suasana hatinya benar-benar buruk, rasanya Gavino ingin sekali membunuh orang malam ini. Saking emosinya, Gavino tak menyadari bila kakinya pun terinjak pecahan pas bunga yang berhamburan dilantai.
...****************...
__ADS_1
...Bersambung.......