CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
63. Tragedi Resepsionis


__ADS_3

Danira dan Ny. Calina telah tiba didepan lobby perusahaan Gavino, Danira mendongak, takjub melihat gedung pencakar langit milik suaminya ini. Danira menapakkan kakinya untuk pertama kali keperusahaan Gavino, setelah melawati banyak pertimbangan, danira akhirnya setujuh mengikuti keinginan Ny. Calina yang mengajaknya datang kekantor Gavino, dengan alasan supaya Danira tau dimana suaminya bekerja. Mereka mulai melangkah masuk.


"Astaga....". Ny. Calina menepuk keningnya, tiba-tiba berhenti, danira pun ikut menghentikan langkahnya.


" Ada apa mami ?".


" Handphone mami tertinggal didalam mobil Ra". Nya Calina celingukan mencari keberadaan Scurity yang biasa berjaga dipintu lobby.


" Ini scurity pada kemana sih, kok tidak ada ditempat ". Gerutu Ny. Calina. Dia ingin meminta tolong agar scurity saja yang mengambil ponselnya diparkiran, namun dia tak menemukan siapapun disana.


" Mungkin sedang ketoilet mi ". Ujar Danira memberi alasan.


" Ya sudah, kamu tunggu disini dulu ya Ra, kalau tidak, kamu masuk saja diluan, nanti mami menyusul. Mami mau keparkiran dulu mengambil handphone mami". Ujar Ny. Calina, menyerahkan Khalisa yang ada dalam gendongannya kepada Danira.


" Iya mi ...".


Ny. Calina mulai berjalan keluar meninggalkan Danira didepan pintu Lobby. Danira melangkah masuk, berinisiatif menanyakan kepada bagian resepsionis dimana ruangan suaminya. Keadaan diperkantoran cukup ramai, karena waktu sudah memasuki jam makan siang, jadi para karyawan sudah banyak keluar menuju kantin. Saat dia berjalan, semua mata melihat kearah Danira dengan berbagai macam ekspresi. Danira merasa risih dengan tatapan orang-orang kepadanya, dia berhenti tepat didepan meja resepsionis.


" Selamat siang, ada yang bisa saya bantu ?". Tanya wanita cantik yang ada dibelakang meja besar itu dengan sopan dan tersenyum ramah kepada Danira.


" Siang mbak, saya ingin menanyakan ruangan Tuan Gavino dilantai berapa ya ?". tanya Danira tak kalah sopan.


" Maaf, kalau saya boleh tau, saya berbicara dengan siapa dan ada keperluan apa ya ?, apa anda sudah membuat janji sebelumya ". Tanya resepsionis itu lagi.


" Saya Danira, saya istri dari Tuan Gavino. Maaf saya tidak membuat janji apapun ". Jawab Danira. Seketika senyum ramah diwajah cantik wanita itu menghilang, diganti dengan tatapan menyelidik, melihat Danira dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Wanita itu menaikan satu alisnya lalu tersenyum sinis.


"Anda ingin menipu saya ya ?, anda salah tempat. Apa lagi mengaku-ngaku sebagai istri tuan Gavino dan membawa anak seperti ini, anda salah besar. karena satu Indonesia pun tau, bila Tuan Gavino belum pernah menikah, apalagi punya anak".


" Jika anda ingin menipu atau menjebak seseorang pintar sedikit kek, Jagan menggunakan trik lama seperti ini, BASI ". Ketus wanita itu, Dia melipat tangannya kedepan dada, melihat Danira tatapan merendahkan. Hilang sudah sikap sopan santun dan keramahan wanita ini, berganti dengan kebengisan.


Inilah yang sedari tadi Danira takutkan, akhirnya terjadi juga. Orang-orang tidak akan percaya bila dia mengatakan istri Gavino, karena pernikahan mereka masih dirahasiakan oleh suaminya itu. Danira menghela nafas pelan.


" Mbak saya tidak berbohong, apa lagi berniat menipu, saya memang istri tuan Gavino". Jelas Danira masih mempertahankan kesopanannya.


" Apa buktinya jika anda benar-benar istri dari tuan Gavino ?, atau begini saja, anda telpon saja suami anda itu, jika dia benar-benar suami anda, pasti dia akan turun menjemput anda kesini bukan?". Ucap wanita itu dengan gaya kesombongan. Danira mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya, mulai mencari kontak Gavino. Wanita resepsionis itu sedikit ketar-ketir, jika wanita ini benar istri Gavino habis sudah riwayatnya.


" Astaghfirullah...". Cicit Danira pelan, Danira baru ingat bila dia dan Gavino tak pernah bertukar nomor ponsel. Seketika senyum sinis kembali terukir diwajah wanita itu.


" Bagaimana, apa anda tidak punya nomer ponselnya ?".


Cek...


Cek...

__ADS_1


Cek...


" Jika ingin jadi penipu, belajar dulu ya mbak. lebih baik anda pergi dari sini sekarang, sebelum saya panggilan Scurity untuk menyeret anda keluar". Usir wanita resepsionis sinis.


Belum sempat Danira melangkah pergi, Seorang laki-laki bertubuh besar, menggenakan seragam bertuliskan Scurity, berjalan mendekati mereka.


" Ada apa ini ?". Tanya Scurity yang bernama Jonatan.


" Ini pak Jo, wanita ini membuat kegaduhan dengan mengaku-ngaku sebagai istri tuan Gavino". Wanita itu berbicara cukup keras, membuat karyawan yang ada disana melihat kearah mereka semua, Danira bisa mendengar para karyawan mulai berbisik-bisik, melihatnya sinis dan merendahkan. Pak Jo menatap Danira tajam.


" Apa anda punya bukti bila anda benar istri tuan Gavino ?". Tanya Pak Jo.


" Maaf pak, saya tidak membawa buku nikah kami ". Jawab Danira jujur.


" Tu kan pak, dia banyak sekali alasan. jelas-jelas tuan Gavino belum menikah, bisa-bisanya dia berani ingin menipu kita". Ketus wanita resepsionis.


" Nona...anda bukan orang yang pertama datang kesini, mengaku-ngaku sebagai istri atau simpanan tuan Gavino, sudah ratusan wanita yang datang dengan alasan seperti itu. jadi anda tidak akan bisa membodohi kami".


" Apa jangan-jangan Anda ini seorang pencuri atau penjahat yang akan mencelakai tuan Gavino hah ?". Tuduh pak Jo kejam. Danira menggeleng-gelengkan kepalanya, miris mendengar tuduhan mereka.


" Sudah pak, buka saja penutup wajahnya. biar kita tau wajah penjahat ini, bila perlu kita viralkan saja dia ke media sosial. agar tidak menipu orang lain juga". Danira membelalakkan matanya mendengar ucapan wanita resepsionis itu, Danira mulai terpancing emosi. Pak Jo mendekat, ingin menarik Burqa Danira.


" Hentikan tangan anda...!!, jangan anda berani-berani menyentuh barang seujung kain ditubuh saya. Saya bisa menuntut Anda dan juga anda, karena ini kasus pelecehan terhadap saya ". Tekan Danira, menunjuk wajah pak Jo dan wanita Resepsionis, hilang sudah rasa sopan santun Danira menghadapi wanita ini, sudah sepatutnya dia membela dirinya sendiri sekarang.


" Jadi menurut anda, menilai kecantikan seorang wanita itu hanya dari paras dan ke sexyan tubuhnya saja ?". tanya Danira.


" Tentu..."


" Berarti anda manusia purba ".


" Maksudmu ?".


" Iya,...hanya manusia purba yang masih mempamerkan kemolekan tubuhnya dengan telanjang, tanpa penutup. Sedangkan wanita modern, tidak akan rela, memperlihatkan tubuhnya secara percuma, malah mereka akan mengikuti perintah Allah untuk menutup semua Auratnya, demi menjaga martabat dan kehormatannya sebagai seorang wanita muslimah". Jelas Danira dengan lugas.


" Beraninya kau mengataiku manusia purba hah ?". Wanita resepsionis emosi, mendekat ingin menampar Danira, namun dengan cepat Danira menahan tangan wanita itu.


" Jangan sekali-kali anda berani menyentuh saya, sudah cukup saya bersikap baik dan sopan kepada anda. Tapi jika anda sudah begini, jangan salahkan saya bila saya akan membuat perhitungan kepada anda....Mbak". Danira berbicara dengan nada yang sangat dingin, membuat wanita resepsionis dan pak Jo sedikit merinding. Danira menghempaskan tangan wanita itu dengan keras, membuat si wanita resepsionis sedikit terhempas memudurkan langkahnya, dia melihat pergelangan tangannya memerah, perih.


Ny. Calina yang baru saja tiba, terkejut melihat banyaknya karyawan yang berkerumunan, dia penasaran, melangkah dengan cepat ingin mengetahui apa yang terjadi. Salah satu karyawan melihat kedatangan Ny. Calina, terkejut lalu berteriak.


" NYONYA BESAR TIBA ". teriak karyawan laki-laki, semua melihat kearah pintu, lalu berbaris menundukkan setengah badan mereka memberi hormat, termasuk Scurity dan wanita Resepsionis. Danira hanya berdiri, menghembus nafas lega melihat ibu mertuanya sudah datang.


" Ada apa ini ?, mengapa kalian berkumpul disini ?, apa ada pertujukan pawai ?". Tanya Ny. Calina kepada Karyawan Gavino. Wanita Resepsionis itu mengangkat wajahnya, melihat Ny. Calina.

__ADS_1


" Nyonya, wanita ini datang membuat kegaduhan, dengan mengaku-ngaku sebagai istri dari tuan Gavino. Kami telah mengusirnya. Namun dia malah menolak, dan menyakiti saya". Ujar Wanita resepsionis itu, melebih-lebihkan ucapannya, dengan mengangkat tangannya yang masih memerah. Dia tersenyum miring kepada Danira. Ini akan menjadi jalan baginya untuk bisa mendekati gavino, bila dia berhasil mengambil hati Ny. Calina, pasti Ny. besarnya ini akan senang karena dia telah melindungi nama baik putranya. Pikir wanita itu.


Namun tanpa disangka-sangka, bukannya mendapatkan ucapan terima kasih, melainkan sebuah tamparan diwajah cantiknya.


Plakkk...


Suara tamparan itu menggema disana, hingga semua mata melotot tak percaya. Wanita resepsionis itu memegang pipinya yang terasa perih, melihat Ny. Calina penuh tanya. Danira pun tak kalah terkejut dengan tindakan Ny. Calina.


" Beraninya kau mengusir menantu kesayanganku Hah ?". Pekik Ny. Calina, membuat semua orang yang ada disana, kembali terkejut. Tak terkecuali pak Jo dan wanita Resepsionis.


" Jadi, apa yang dikatakannya benar ". Cicit pak Jo pelan. Mereka berdua melihat Danira. Tubuh mereka bergetar ketakutan, mereka telah melakukan kesalahan besar, dengan mempermalukan Danira, apa lagi mereka hampir saja membuka penutup wajah istri bos nya ini. Bagaimana bila Tuan muda mereka sampai tau. itulah yang ada didalam pikiran mereka, menerka-nerka, seperti apa kemurkaan Gavino nanti.


" Apa yang mereka semua lakukan padamu nak ?". Tanya mami pelan kepada Danira. Danira melihat wajah pucat pak Jo dan wanita Resepsionis itu bergantian, tergambar jelas ketakutan menyelimuti mereka.


" Tidak ada mami, mereka tidak melakukan apapun kepadaku, Ini hanya salah paham". Jelas Danira lembut kepada sang mertua. Tentu saja jawaban Danira tak membuat Ny. Calina percaya, dia berjalan mendekati wanita resepsionis itu, lalu menarik nametag didadanya dengan kasar.


" Wulan....namamu Wulan ". Ny. Calina membaca nametag ditangannya.


" Kau aku pecat..." Tegas Ny. Calina, mendengar hal itu, membuat wanita yang bernama Wulan bersujud meminta ampun. Danira membelalakkan matanya tak percaya dengan keputusan yang diberikan ibu mertuanya ini.


" Ampun Nyonya, ampun...saya tau saya telah melakukan kesalahan, saya berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Beri saya 1 kesempatan lagi Nyonya, saya mohon. Jika saya dipecat dari sini, tidak akan ada perusahaan yang mau menerima saya bekerja lagi. Jadi saya mohon, tolong maafkan saya". Ny. Calina hanya mendegus kesal, tak perduli dengan permintaan wanita itu. Wulan beralih bersujud dikaki Danira, Dia ingin memegang kaki Danira, sontak saja hal itu membuat Danira mundur, tak ingin Wulan melakukan itu kepadanya. Danira ikut berjongkok, memegang pundak Wulan.


" Berdirilah, jangan seperti ini. Jangan pernah bersujud dihadapan manusia, karena setatus kita sama. sama-sama mahluk Allah". Ujar Danira, menarik Wulan untuk berdiri. Perkataan Danira semakin membuat Wulan dan karyawan yang ada disana takjub sekaligus merasa tertampar, hati mereka merasa bersalah telah mencemooh dan memandang rendah Danira hanya karena penampilannya.


" Nyonya muda, tolong maafkan saya. saya benar-benar menyesali semua perkataan saya tadi. Saya mohon beri saya kesempatan". Pintanya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya, wajahnya sembab memerah karena tangis dan bekas tamparan yang mulai terlihat jelas. Danira merasa iba, tak tega melihat Wulan yang menangisi tersedu-sedu.


" Saya sudah memaafkan kamu, jadi jangan memohon seperti ini". Ucap Danira lembut, menggenggam tangan Wulan yang memohon kepadanya.


" Mami...tolong maafkan dia. Dia tidak bersalah mi, Wulan hanya menjalankan tugasnya, untuk melindungi nama baik suamiku, dari para wanita yang sering datang kesini mengaku-ngaku sebagai istri mas Gavino. Bukan Begitu pak Jo ?". Tanya Danira kepada scurity yang sedari tadi hanya menunduk, dengan keringat mulai membasahi dahinya.


" Be..be..benar Nyonya ". Jawab pak Jo terbata-bata.


" Jadi seharusnya kita berterima kasih, karena mereka telah menjalankan tugas mereka dengan baik. Mereka tidak ingin suamiku dilukai orang lain". Ujar Danira penuh kelembutan, membuat semua karyawan disana terpesona mendengar suara Danira.


Ny. Calina menghela nafas kasar, dia tau pasti para karyawan yang ada didepannya ini telah menyakiti Danira dengan kata-kata kasar. Namun, Danira dengan mudah memaafkan mereka, entah terbuat dari apa hati menantu nya ini. pikir Ny. Calina semakin bangga.


Ny. Calina melihat wajah karyawan Gavino yang ada disana satu persatu. " Baiklah...kali ini kalian berdua aku maafkan, atas permintaan menantuku. Tapi jika kalian berbuat hal yang serupa, jangan salahkan aku, bila karir kalian akan hancur saat itu juga".


" Dengar kalian semuanya, bahwa Gavino Garayudha Pradiksa, putraku. Telah MENIKAH, ingat itu baik-baik". Tekan Ny. Calina memberi pengumuman. Wulan dan pak Jo membungkukkan setengah badan mereka sambil mengucapkan terima kasih. Ny. Calina mengajak Danira berjalan masuk, meniggalkan kerumunan yang masih berbisik-bisik.


......................


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2