CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
56. Keras Kepala


__ADS_3

Di pesantren.


Ilham baru saja tiba saat waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Umi dan Abah terkejut melihat kepulangan Ilham yang mendadak, apalagi melihat keadaan Ilham yang kacau, dengan wajah lesuh. Umi membawa anaknya masuk, lalu meminta Ilham untuk beristirahat dahulu, walaupun banyak pertanyaan dan rasa penasaran didalam hati umi. Umi Siti tidak tega menanyakan banyak hal kepada Ilham. Namun Ilham menolak, dia langsung meminta umi dan Abah menjawab semua pertanyaan yang sedari tadi bergelayut didalam benaknya. dan disinilah mereka sekarang duduk bertiga saling berhadapan di ruang keluarga, Umi Siti makin bertanya-tanya perihal apa yang ingin Ilham tanyakan hingga anaknnya seperti ini. Sedangkan Abah sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang ingin ilham tanyakan.


" Apa kamu ingin menanyakan prihal Danira ?". Abah langsung saja melempar pertanyaan terlebih dahulu, sebelum Ilham membuka mulutnya. Dan itu membuat Ilham mengangguk walau dia bingung darimana abahnya tahu apa yang ingin dia ketahui.


" Mengapa Abah tega menikahkan Danira dengan laki-laki lain. Sedangkan Abah tau bagaimana perasaanku kepadanya ?".


" Bahkan aku pulang berniat ingin mengkhitbah Danira menjadi istriku, lalu aku ingin membawanya kembali ke Kairo". Ucapan Ilham membuat umi dan Abah saling bertatapan lalu mereka melihat Ilham lagi, umi bisa melihat kesakitan dalam mata anaknya itu.


" Mengapa Abah tidak mengabari aku tentang ini bah ". ujar Ilham melirih.


" Dari mana kamu tahu Danira telah menikah nak?". tanya umi yang sedari tadi penasaran.


" Tadi siang aku tak sengaja bertemu dengannya dipusat perbelanjaan dijakarta, saat aku sedang berbicara dengan Danira, seorang laki-laki datang dan mengaku sebagai suaminya, ucapan pria itu dibenarkan oleh Danira. Lalu Danira mengatakan jika Abah yang telah menikahkan mereka". Ilham bercerita dengan wajah memerah, dia emosi.


" Mengapa Abah tega melakukan ini kepadaku ?". Ilham berbicara sedikit menaikan suaranya, itu membuat umi Siti tersentak, karena selama ini Ilham tidak pernah sedikitpun berucap dengan nada meninggi dihadapan orang tuanya.


" Aak...". Umi Siti memperingati Ilham dengan tatapannya, namun Ilham tak memperdulikan peringatan umi, Dia masih melihat kyai Roslan dengan tatapan tajam meminta penjelasan. Karena sedari tadi abahnya tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya diam mengamatinya, itu makin membuat Ilham geram.


" Apa kau sudah menanyakan apa alasan Danira menikah dengan laki-laki itu ?".


" Abah sudah berulang kali menghubungimu, tapi nomor telepon tak pernah bisa dihubungi".


" Mengapa Abah menikahkan mereka, karena itu permintaan Danira sendiri, yang meminta Abah menjadi wali nikahnya. Lalu Abah harus apa bila yang punya badan yang meminta, tidak mungkin Abah melarang niat baik mereka". Jelas Kyai Roslan kepada Ilham. Ilham bergeming, dia belum puas dengan jawaban abahnya.


"Apapun alasannya, seharusnya Abah atau umi bisa menyakinkan Danira agar tidak menerima pinangan laki-laki lain, bukankah Abah dan umi tau kalau aku sangat mencintai Danira selama ini. Apa Abah dan umi tidak berfikir bagaimana hancurnya perasaanku saat mengetahui semua ini." Ujar Ilham berapi-api namun lirih, terdengar jelas rasa sakit. Kyai Roslan menghela nafas pelan mendengar penuturan Ilham.

__ADS_1


" Umi dan Abah memang tau, aak mencintai Enang Danira. Tapi kita tidak bisa memaksakan bila itu sudah keputusannya sendiri. Walaupun diawal pernikahan mereka didasari paksaan ibu mertuanya, tapi mendengar aak mengatakan mereka pergi ke Mall berdua berarti hubungan mereka sudah jauh lebih baik, iya kan bah?". Umi menjelaskan dengan lembut kepada Ilham, dia tau saat ini anaknya sedang patah hati dan emosi. Ilham mengeryitkan dahinya...


" Apa maksud umi dipaksa ?". selidik Ilham. Umi melihat suaminya, kyai Roslan tau apa maksud dari tatapan istrinya itu, lalu melihat kesembarang arah. Kyai Roslan mulai menceritakan semua yang dia tau bagaimana pernikahan Danira bisa terjadi, Ilham semakin geram dan mengepal tangannya.


" Bukankah sebelum kau berangkat Abah sudah mengingatkanmu, apa kau lupa ?". tanya Kyai mengingatkan, mata Ilham mulai memerah, memori setahun yang lalu mulai berputar dikepalanya, semua Tetang nasehat Abah meminta Ilham meminang Danira, semakin menambah penyesalan dalam hati Ilham.


Harusnya aku mendengarkan nasehat Abah untuk menyegerakan niatku waktu itu. tapi...Batin Ilham menyesal.


Umi menitikkan air matanya, melihat mata putranya memerah menahan tangis, umi ingin berpindah tempat duduk disamping Ilham, namun Abah menahan tangan umi.


" Aak...mengapa Nomor telpon aak tidak bisa dihubungi lagi ?". tanya umi lembut, dia masih penasaran Tetang itu.


" Ponsel Ilham hilang umi, saat Ilham bekerja ponsel itu terjatuh entah dimana. Itulah mengapa Ilham tidak pernah memberi kabar kepada umi dan Abah". cicitnya pelan. pikirannya masih melayang-layang entah kemana, namun sedetik kemudian dia menegakkan kepalanya lagi melihat Abah dan umi bergantian.


" Jika menurut cerita Abah, laki-laki itu tidak menyukai Danira kan? berarti ada kemungkinan sampai saat ini juga masih sama, berarti aku masih ada harapan, iya kan umi ?". Ilham seperti orang frustasi membuat tangisan umi makin deras, sedangkan Abah mulai geram dengan Ilham.


" Berhentilah bersikap seperti ini, ingat Danira sudah menikah dan dia sekarang sudah sah menjadi istri orang lain. Kamu tidak bole memiliki perasaan seperti itu lagi kepadanya. Apalagi berniat ingin merebut Danira dari suaminya. Bukankah kamu tau hukumnya apa, dan Allah sangat tidak menyukai hal seperti itu". Ujar Abah tegas memperingati Ilham.


"Jadi mulai saat ini berhentilah, tidak perlu kamu teruskan perasaanmu lagi. Karena dia telah menjadi milik orang lain". Sejujurnya kyai Roslan bisa merasakan kepedihan hati Ilham, namun dia harus tega mengatakan segala bentuk kepahitannya, agar Ilham tak lagi berharap.


" Aku tau bah, dan sangat tau larangan itu. Tapi ini masalah hati, aku tidak bisa membuangnya ataupun melupakan begitu saja".


" Aku akan merebut Danira kembali bah". Ujar Ilham yakin, dan itu membuat umi dan Abah terkejut, tak percaya dengan kata-kata putra mereka. Membuat Kyai Roslan marah.


" Berhentilah keras kepala Ilham...!!, itu sama saja kau melakukan dosa besar dengan berniat merebut istri orang lain, terima saja kenyataan bila dia memang tidak ditakdirkan untukmu". Abah berbicara dengan nada meninggi mulai emosi menghadapi kekeras kepala Ilham.


" Aak...abahmu benar nak, lupakan saja Danira. mungkin memang dia bukan jodoh untuk aak. Mungkin suatu hari nanti aak akan menemukan gadis yang lebih baik lagi nak". Umi menimpali, dengan wajah telah sembab. Dia tak ingin anak dan suaminya bertengkar.

__ADS_1


" Tidak umi, aku akan memastikannya dulu. Bila Danira merasa bahagia dengan suaminya, maka aku akan mengikhlaskan dia untuk selamanya. Tapi jika dia masih tidak memiliki perasaan apapun kepada laki-laki itu, ataupun sebaliknya. Maka aku akan merebutnya kembali dan membawanya pergi bersamaku". Ilham berbicara dengan tegas dan lantang, melihat umi dan Abah secara bergantian.


" Maafkan Ilham bah, tapi Ilham akan memperjuangkannya dulu, maaf kali ini Ilham harus membatah keinginan Abah dan umi. Untuk kali ini saja, ijinkan Ilham memastikan semuanya, agar rasa sesal dihati ini bisa menghilang". Tegasnya lagi sambil berdiri, lalu beranjak pergi menuju kamarnya.


" Abah bagaimana ini, tolong hentikan keinginan Ilham itu bah, umi tidak mau Ilham terjerumus kedalam lembah dosa. Umi tidak mau, jika Ilham mendapat kemurkaan dari Allah...tolong lah bah, Ya Allah maafkan anak hamba". Umi berujar dengan airmata semakin deras. Kyai Roslan hanya diam dengan mata terpejam, didalam hatinya terus saja berzikir dan beristighfar untuk meredam rasa amarah dan emosi yang sempat menjadi.


" Sudah lah umi, biarkan saja anakmu itu menuntaskan rasa penasaran yang ada didalam hatinya. Dia tidak akan bertidak melebihi batas, Bukankah kau juga telah mengenal bagaimana sifat Danira. Dia wanita yang berpendirian teguh. Tak akan goyah hanya karena Ilham mengungkapkan segala perasaannya". Jelas Kyai Roslan, Umi hanya mengguk, berharap apa yang diucapkan suaminya benar.


***


Didalam kamarnya Ilham duduk ditepi ranjang berukuran sedang, Ilham duduk dengan kepala menunduk dengan kedua tangan meremas dipan. Matanya tertujuh pada lemari kecil yang ada disisi tempat tidur, tangannya bergerak meraih pegangan laci lalu menariknya. Ilham mengambil sebuah album yang usang, terlihat dari warna sampul yang telah memudar. Dia membuka album itu, terlihat berbagai foto zaman Ilham masih duduk dibangku sekolah menengah atas, bersama dengan teman-temannya. Saat Ilham membuka lembaran kelima, dia berhenti, terukir senyum kecil diwajah Ilham dengan mata berbinar. Dia mengelus foto seorang gadis kecil yang sedang menangis, mengenakan baju gamis dengan hijab berwarna pink.


" Neng..!!"


" Apa neng ingat, ini adalah foto pertama Eneng datang kesini. Saat itu Eneng menangis karena tidak ingin tinggal disini. Enang benar-benar lucu waktu itu". Ilham berbicara sendiri dengan foto Danira kecil. Saat itu Danira tegah menangis dibawah pohon mangga, didepan rumah Ilham, Danira menangis karena tak ingin tinggal dipesantren. Ilham yang baru saja pulang dari sekolah melihat itu merasa lucu, lalu mengambil ponselnya dan memfoto Danira kecil secara diam-diam.


Ilham telah menganggumi Danira dari dia masih berusia 9 tahun, sehingga saat teman-teman wanitanya mendekati, Ilham selalu beralasan telah memiliki pujaan hati. Ilham telah menambatkan hatinya kepada Danira hingga sekarang.


" Neng Dira, maafkan Aa yang kurang cepat. Hingga Eneng harus menikah dengan laki-laki lain".


" Aa sangat cinta sama Eneng Dira". Ilham berdialog sendiri, pedih dihati makin terasa, saat Ilham teringat tangan Danira dingenggam laki-laki lain.


" Aa akan menemui Eneng, tunggu aa ya neng ?


......................


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2