
Kamis pagi, Suasana di mansion keluarga Pradiksa lebih sibuk dari biasanya. Karena Ny. Calina baru saja menerima panggilan telpon dari Danira. Danira mengabarkan bahwa dia sudah dalam perjalanan menujuh mansion keluarga Ny. Calina. Mendengar hal itu, tentu saja membuat Ny. Calina bahagia bukan main. Bahkan dia sudah meminta semua koki untuk memasakkan banyak makanan untuk menyambut kedatangan menantu kesayangannya. Karena mereka akan berangkat ke Kalimantan pukul 12.00 Siang, jadi Sebelum itu Ny. Calina ingin sarapan bersama.
" Bik Sri, pastikan semuanya sudah siap. Aku ingin menyambut kembalinya menantu dan cucuku ". Ucap Ny. Calina dengan binar bahagia terlihat jelas dimatanya.
" Baik Nyonya, semua ruangan dipastikan bersih dari debu dan para koki juga sedang memasak semua makanan yang anda perintahkan tadi Nyonya ".
" Memangnya Nyonya muda akan benar-benar kembali kesini Nyonya ?, atau hanya berkunjung saja ?". Tanya bik Sri, Ny. Calina tersenyum miring mendengar pertanyaan bik Sri.
" Kamu lihat saja nanti, ini akan menjadi awal kembalinya Danira kerumah ini. Dan aku akan memastikan itu terjadi ". Ujar Ny. Calina penuh percaya diri.
" Semoga saja Nyonya ". Ucap Bik sri, Ny. Calina menyelang melihat bik Sri.
" Jadi kamu meragukan kemampuanku hah ?". Sungut Ny. Calina, tak suka seakan bik Sri tak yakin dengan ucapannya.
" Maaf Nyonya, bukan begitu maksud saya ". Bik Sri menunduk merasa bersalah dalam berucap.
" Sudahlah...!! ayo kita lihat taman didepan, apa mereka sudah merapikan tanaman disana atau belum ". Ujar Ny. Calina sambil melangkah, bik Sri hanya mengangguk mengikuti Ny. Calina dari belakang.
" Mang.., itu pohonnya tolong dirapikan lagi, masih terlalu rimbun ".
"Baik Nyonya ". Jawab tukang kebun.
" Nyonya, apakah tuan Gavino sudah tau kalau nyonya muda akan ikut pergi hari ini ?".
" Belum bik, aku sengaja tidak memberi tahunya. Biar menjadi kejutan saja nanti ". Jelas Ny. Calina, sambil terus melihat mang Ujang yang sedang memotong ranting-ranting pohon yang terlalu panjang. Tak berapa lama, sebuah mobil Rolls Royce milik Gavino berhenti tepat didepan Ny. Calina.
" Panjang umur juga ini anak, baru juga diomongin, sudah muncul ". Gumam Ny. Calina. Sean berlari membuka pintu penumpang, Gavino keluar dari dalam mobilnya, dengan setelan jas yang rapih.
" Pagi Mi ". Ucap Gavino, lalu mencium pipi maminya.
" Selamat Pagi Nyonya ". Sapa Sean, memberi hormat.
Ny. Calina melihat jam ditangannya, waktu baru menunjukkan pukul 6.30 pagi, tapi Gavino dan Sean sudah terlihat sangat rapi.
" Tumben kamu sangat antusias kali ini pergi kerumah Oma, biasanya kamu kalau mau pergi kesana pasti sudah kabur entah kemana ". Ujar Ny. Calina pada putranya.
" Siapa juga yang akan ikut pergi kesana, hari ini aku ada perjalanan dinas keluar, jadi tidak bisa menghadiri acara ditempat Oma ".
" Aku mampir hanya ingin memberi tahu mami dan ingin menitipkan ini untuk Oma, mami sampaikan maafku kepada Oma kalau aku belum bisa datang membawa cucu menantunya kesana ". Jelas Gavino, sambil memberi paper bag kepada ibunya. Ny. Calina mengeryitkan dahinya melihat Gavino.
__ADS_1
" Kenapa perjalanan dinasmu, bisa pas sekali hari ini ya Gavin. Apa kau sengaja menghindar tak ingin datang hhmmm ?". Selidik Ny. Calina, melihat Gavino dengan memicingkan mata.
" Ini perjalanan dinas sangat mendadak mi, kemarin malam Sean baru memberitahu aku, kalau proyek yang ada di Bangkok ada sedikit masalah. Jadi aku harus berangkat, dan memeriksanya langsung. Iya kan Sean ?". Jelas Gavino, sambil menyingkut lengan Sean.
" Benar Nyonya ". Jawab Sean datar.
" Ckckckck....kalian pikir mami percaya begitu saja, ini hanya akal-akalan kalian saja kan ?, lihatlah muka Sean, sangat terlihat tertekannya ". Sindir Ny. Calina. Gavino melirik Sean yang hanya diam tanpa ekspresi.
" Wajahnya memang dari dulu seperti itu mi, datar seperti jalan tol, bukan karena aku ". Ujar Gavino santai, Sean hanya melirik tuannya sekilas lalu melihat lurus kedepan lagi.
" Pokonya kamu harus ikut mami ketempat Oma, batalkan saja perjalan-perjalanan dinas dadakanmu itu. Acara ini jauh lebih penting dari pada proyekmu yang disana ". Paksa Ny. Calina. Bila Gavino tak ikut, bisa-bisa semua rencananya untuk mempertemukan Gavino dan Danira bisa buyar. Belum lagi amukan sang ibu, yang akan memecahkan gendang telinganya. pikir Ny. Calina.
" Tidak bisa begitu dong mi, proyek ini juga penting. Apa mami mau aku mengalami kerugian, lagi pula kan mami sudah datang kesana, jadi sudah mewakili semuanya ". Ujar Gavino, Ny. Calina memelototkan matanya melihat Gavino, geram mendengar jawaban gavino.
" Kau pikir ini acara pemilihan RT ada perwakilan, lagipula bila kau rugi proyek yang disana, kau tidak akan langsung jatuh miskin bukan ?, jadi kali ini kau harus ikut, mami tidak mau tau. Mami tidak ingin menjadi bahan bulanan omamu, yang bila mengomel susah berhenti ". Ucap Ny. Calina, memaksa Gavino.
" Ayolah mi, mamikan tau sendiri aku tidak suka dengan acara seperti itu. Ditambah lagi, aku tidak bisa membawa Danira pergi kesana, Aku tidak siap bila Oma akan mengeluarkan ocehan panjangnya. Jadi kali ini, mami saja yang datang kesana. Katakan saja pada Oma, kalau aku, benar-benar sibuk, tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Oke mi ?". Gavino berucap memperlihatkan wajah memohonnya, Ny. Calina memutar bola matanya malas.
" Cihh...!!! kali ini ?, ini bukan pertama kalinya kau seperti ini Gavino kutu ayam. Ini yang keseribu kalinya, kau menumbalkan mami menjadi bahan ocehan Oma mu, dan kali ini mami tidak mau itu terjadi, pokonya kau harus ikut. Titik, mami tidak terima alasan apapun lagi ". Tegas Ny. Calina melipat kedua tangannya didepan dada, melihat Gavino tajam.
" Tapi aku tidak bisa mi, penerbangan ku sudah terjadwal pagi ini. Tolong sampaikan maafku kepada Oma, kalau aku belum bisa datang kali ini ".
" Ayo Sean, kita pergi sekarang. Nanti kita bisa terlambat". Ucap Gavino, membalikkan tubuhnya melangkah dan masuk kedalam mobilnya lagi.
" Jika kau tidak ikut sekarang, kau akan menyesalinya Gavino ". Pekik Ny. Calina, yang semakin kesal dengan keras kepala putranya. Sean menutup kupingnya, karena merasa berdengung akibat teriakan Nyonya besarnya yang teramat nyaring.
" Kalau begitu, saya juga permisi dulu Nyonya ". ucap Sean memberi hormat. Saat Sean tengah membungkuk, sebuah taksi berhenti tepat dibelakang mobil Gavino, Ny. Calina mengalihkan pandangannya dan bisa menebak siapa yang datang. Seketika rasa kesal dalam hatinya berubah menjadi rasa senang. Dari dalam taksi, Danira sudah melihat Ny. Calina dan mobil Gavino didepan sana.
Bukankah itu mobil Mas Gavino, berarti dia ada disini sekarang. Apa ini waktunya aku bertemu dengannya ?, Ya Allah, aku harus bersikap seperti apa, kenapa rasanya gugup sekali. Batin Danira, Danira menarik nafas dalam lalu membuangnya secara perlahan.
Bismillah. Gumam Danira pelan.
Danira turun dari dalam taksi, sambil menggendong Khalisa. Supir taksi turut membantu mengeluarkan satu buah koper Danira yang ada didalam bagasi.
" Ini nona, kopernya ". Ucap Supir taksi tersebut.
" Terima kasih pak ". Ucap Danira sopan. Danira menarik kopernya, melangkah mendekati Ny. Calina. Saat Sean membalikkan tubuhnya, dia terkejut melihat siapa yang datang.
" Nyonya...!!" Gumam sean pelan. Danira menundukkan kepalanya sekilas kepada Sean.
__ADS_1
"Assalamualaikum mami ". Salam Danira, mencium punggung tangan Ny. Calina.
" Waallaikumsalam sayang, akhirnya kamu datang juga ". Ucap Ny. Calina sambil memeluk Danira.
" Cucu Oma sayang, ya ampun...!! kamu makin montok saja sih khali ". Goda Ny. Calina, mencubit gemas pipi Khalisa yang semakin bulat. Khalisa hanya tertawa, mendapat cubitan dari Omanya.
" Sini gendong Oma, Oma sangat rindu sama cucu gemoy ini ". Ucap Ny. Calina, mengambil alih Khalisa dari gendongan Danira.
" Selamat pagi Nona ". Sapa Sean, memberi hormat.
" Pagi juga Sean, bagaimana kabarmu ?". Tanya Danira, melirik Sean sekilas lalu melihat kearah lain.
" Saya baik Nyonya ". Jawab Sean, Sean lalu mengalihkan pandangannya kearah mobil Gavino. Sepertinya Tuan Gavino belum menyadari kehadiran Nyonya. Batin Sean.
Dimana dia kenapa dia tidak ada disini, apa dia tidak ikut datang?, Apa Mungkin hanya Sean sendiri yang kesini membawa mobilnya. Batin Danira, menebak-nebak, ada rasa kecewa yang muncul begitu saja dalam hatinya.
Gavino yang telah berada didalam mobil, belum menyadari kedatangan Danira. Dia masih sibuk membaca agenda kerjanya didalam Tab, Namun Sayup-sayup telinganya mendengar suara yang amat sangat familiar. Gavino mengangkat kepalanya melihat keluar, seketika matanya membola, melihat siapa yang tegah berdiri dihadapan maminya.
Danira....Batin Gavino. Tanpa Gavino sadari, Tab yang ada ditangannya terjatuh kelantai mobil. Gavino tak memperdulikan tabnya lagi, Dia membuka pintu mobil dan keluar. Dia mulai berjalan perlahan mendekati Danira.
" Danira....?" Panggil Gavino pelan.
Deg*
Deg*
Deg*
Jantung Danira berdetak dengan sangat cepat, mendengar namanya dipanggil, Danira sangat mengenali suara bariton ini. Danira membalikkan tubuhnya, melihat keasal suara. Gavino berhenti ditempat, mata mereka saling bertaut. Danira bisa melihat lingkaran hitam dibawah mata suaminya, dan wajah Gavino sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, namun dia tetap terlihat berkharisma dan tampan. pikir Danira.
Mereka berdua sama-sama terdiam, berdiri mematung ditempat masing-masing. Gavino kembali merasakan getaran aneh didalam dadanya, melihat Danira ada dihadapannya, seketika timbul rasa rindu yang entah datang dari mana. Gavino ingin sekali berlari, dan memeluk Danira dengan erat. Namun kakinya terasa berat, seakan ada yang menahannya, lidahnya terasa keluh, hanya untuk mengatakan sesuatu kepada Danira.
Ny. Calina dan Sean hanya saling lirik, melihat Danira dan Gavino sama-sama diam saling berhadapan. Mereka berdua seperti sedang menonton adegan film romansa, dimana pasangan yang telah lama terpisah, dipertemukan kembali.
" Hekhem....!! Apa kalian berdua akan berdiri disini, dan saling tatap-tapan seperti film India sampai azan magrib ?". Sindir Ny. Calina. Mendengar itu, wajah Danira menjadi panas karena merasa malu, untung saja wajahnya tertutup bila tidak, sudah pasti wajahnya yang memerah akan terlihat jelas. Begitupun dengan Gavino, kupingnya memerah dan tersenyum kikuk sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu melihat Danira lagi.
" Eemmm...Hai ". Sapa Gavino mengangkat tangannya keudara, dia bingung harus mengatakan apa, hanya kata-kata itu yang terlintas dibenaknya saat ini.
" Assalamualaikum mas Gavino...".
__ADS_1
......................
...Bersambung.......