
Danira Sedang bersiap-siap didalam kamarnya, Hari ini dia harus datang ke salah satu salon kecantikan khusus muslimah dipusat perbelanjaan yang tak jauh dari perusahaannya. Salon itu hanya sebagai formalitas, sebenarnya disana Danira membuatkan kantor khusus, agar Danira dengan mudah menyelesaikan segala pekerjaan tanpa ada yang curiga. karena Dia belum siap bila harus datang langsung ke perusahaannya. Sesuai dengan permintaanya waktu itu kepada Sarah, Dia membutuhkan 1 lantai yang terdapat pusat permainan anak-anak. Menurut Danira usaha mereka akan lebih menarik banyak minat para kaum hawa yang sedang mengantarkan anak-anak mereka, para ibu-ibu bisa melakukan perawatan disana, sambil menunggu anaknya bermain. Salon itu Danira beri nama RG Muslimah Beuty.
Danira memilih kembali tinggal dirumahnya, Dia tidak akan mengikuti keinginan konyol Gavino, apalagi rumah yang diberikan gavino itu benar-benar tidak layak huni, atap bocor dimana-mana, kontor dan bau. Mengingat Danira memiliki Khalisa, sepertinya bukan hal yang bagus bagi Danira menyetujui keinginan suaminya itu.
Danira sudah siap dengan gamis berwarna hitamnya, Khalisa juga sudah cantik menggunakan Kerudung berwana Lilac.
" Ayo bik kita pergi sekarang, mungkin sebentar lagi Sarah akan sampai". Ucap Danira sambil mengangkat tubuh bulat Khalisa dari kursi bayinya.
" Keperluan Khalisa sudah semua kan bik ?".
" Sudah Non, ini". jawab Bik Marni, mengangkat tas bayi ditangannya. Tak berapa lama Sarah telah tiba, mereka semua masuk kedalam mobil dan berlalu menujuh tujuan mereka. 15 menit Mobil yang membawa mereka telah berhenti tepat didepan lobby mall, Danira dan bik Marni turun.
" Nona, anda diluan saja, saya akan memarkirkan mobil dulu". Ujar Sarah dari dalam mobil.
" Baiklah". Danira berjalan masuk kedalam mall, diikuti bik Marni dari belakang. Saat sedang asik menggoda Khalisa dalam strollernya.. tiba-tiba...
Bug*
" Aaww". pekik seorang wanita yang terduduk dilantai. Wanita yang menggunakan pakaian minim berwarna abu-abu dengan sepatu hill mengaduh kesakitan memegang pantatnya.
" Anda tidak apa-apa?". tanya Danira sopan, ingin membatu wanita itu Bagun dari lantai. Wanita itu menajamkan matanya, mendengar ucapan Danira " Apa katamu,...tidak apa-apa? Apa kamu buta hah, lihat saya sampai terjatuh seperti ini karena kesalahanmu ". pekik wanita itu, membuat banyak pasang mata melihat kearah mereka.
" Maaf Nona, tapi anda sendiri yang bejalan terburu-buru dan tidak hati-hati". ujar Danira menjelaskan.
" Oohh, jadi menurutmu saya yang salah hah ?, kamu yang nabrak saya dengan stroller ini, lalu kamu menyalakan saya ?".
" Maaf Nona, tapi memang begitu kenyataannya, anda sendiri Yang terpeleset dan jatuh tepat didepan stroller anak saya". Jelas Danira lagi. Namun wanita itu masih tak terima. Wanita itu bangun dan mendekati Danira dengan wajah memerah, marah.
" Mungkin karena matamu tertutup dengan ini, jadi kamu tidak bisa melihat jalan dengan baik". Wanita itu ingin menarik Burqa Danira, Sarah yang baru datang melihat kejadian itu, dengan cepat berlari dan memegang tangan wanita itu.
" Anda mau apa, Jagan coba macam-macam? Jika tidak, tangan anda yang mulus ini akan saya patahkan". Ancam Sarah, dengan wajah yang datar mengerikan. Wanita itu berusaha melepaskan cekalan tangannya dari Sarah.
" Siapa kamu, Jagan coba-coba ikut campur". Omel wanita itu pada Sarah.
" Anda tidak perlu tahu siapa saya, jika anda berani menyentu nona ini. Maka Jagan salahkan saya akan berbuat kasar kepada anda". Ancam Sarah.
" Sudah rah, aku tidak apa-apa, lepaskan tangannya". Ucap Danira pada Sarah.
" Awas kalian ya, aku akan melaporkan kepada kekasihku. Dia akan memberi perhitungan pada kalian, terutama kepadamu". Pekik wanita itu menunjuk wajah Danira dan Sarah, Dia pergi dengan amarah yang meluap-luap.
__ADS_1
" Anda tidak apa-apa Nona". tanya Sarah dengan raut cemas.
" Aku tidak apa-apa, terima kasih ya rah".Ujar Danira, lalu mereka berlalu pergi.
...****************...
Diperusahaan Garayudha Company, Gavino tegah duduk serius, membaca setiap laporan yang diberikan Sean kepadanya. Dia membuka lembar demi lembar laporan itu lalu membubuhi tanda tangan diatasnya.
"Ini hari apa?". Tiba-tiba suara Gavino mengagetkan Sean yang berdiri didepan mejanya.
" Hari Kamis tuan" Jawab Sean cepat.
" Apa belum ada kabar, atau orang yang menghubungimu". Sean yang mendapat pertanyaan ambigu itu bingung.
" Maaf tuan, siapa yang anda maksud?, jika yang anda maksud para klien kita, semua sudah menghubungi dan dibuatkan jadwalnya tuan" Jawab Sean apa adanya. Tangan Gavino berhenti, Dia mengangkat wajahnya melihat Sean tajam " Maksudku apa wanita itu tidak ada menghubungimu ?". tanya Gavino lagi, Sean makin dibuat bingung Wanita yang mana. pikir Sean.
" Wanita yang aku nikahi beberapa hari yang lalu, apa kau lupa ?". Gavino berucap dengan nada bengis, melihat wajah Sean yang bingung menyebalkan.
Manaku tahu jika nona Danira yang anda maksud. Batin Sean menggerutu kesal.
" Belum ada tuan".
" Maaf tuan, apakah Nona Danira tahu Nomor Ponsel tuan atau saya?". tanya Sean. Gavino melihat Sean, seperti berfikir sejenak.
Benar juga, wanita itu pasti belum memiliki nomor ponselku. Bagaimana dia akan menghubungiku. Batin Gavino, namun dia tak menjawab pertanyaan Sean.
" Minta seseorang untuk melihat, apa yang dia lakukan ditempat itu. Dan pastikan dia tidak betah, supaya dia bisa segera memohon dan bersujud dikakiku". Titah Gavino Sambil tersenyum licik. Sean langsung memerintahkan anak buahnya sesuai dengan instruksi yang diberikan Gavino. Tak lama laporan dari orang merekapun telah diterima oleh Sean.
" Maaf tuan, menurut Bayu rumah itu masih kosong. Tak ada siapapun disana apa lagi bekas dihuni, semua masih tampak sama seperti sebelumnya". Sean memberitahu Gavino dan berita itu sukses membuat Gavino naik pitam.
" Apa kamu bilang, apa kamu yakin Bayu benar-benar kerumah itu?". Tanya Gavino lagi memastikan
" Benar tuan, ini buktinya". Sean memberikan foto rumah yang dia minta untuk Danira tempati.Rumah itu masih tampak sama seperti terakhir kali Gavino melihatnya saat bertemu dengan Danira disana. " Nona Danira, kembali tinggal dirumahnya sendiri tuan. Sepertinya beliau tidak takut dengan ancaman anda".
" Brengsek...!!Beraninya dia tidak mematuhi perintahku, apa dia tidak tahu siapa aku hah?". Gavino teriak membuat Sonya yang ada diluar terkejut.
" Lihat saja, akan aku buat dia menyesal karena selalu membantah dan tidak mematuhi apa yang aku perintahkan". Gavino mengepal tangannya, Dia benar-benar geram pada Danira.
Tapi tiba-tiba pintu ruangan Gavino terbuka secara paksa, Gavino dan Sean menoleh bersamaan melihat siapa yang berani datang tanpa permisi.
__ADS_1
" Honey". Suara manja wanita seksi dengan wajah ditekuk seperti lipatan kain, masuk kedalam ruangan Gavino. Gavino melihat Stevani yang masuk, melirik Sean. Sean yang paham langsung permisi keluar.
" Ada apa, mengapa baru tiba wajahmu seperti itu". Tanya Gavino, masih diposisi duduknya. Stevani mendekat dan duduk dipangkuan Gavino.
" Honey aku sangat kesal, kau tau!!..Tadi aku kemall milik mu, dan disana aku ditabrak oleh seorang wanita dengan pakaian yang menyeramkan. Dia membuatku terjatuh". Stevani menceritakan insiden yang dia alami saat berjalan pusat perbelanjaan tadi, dengan emosi yang masih meluap-luap, sambil mengelus bokonya yang sakit.
" Wanita berpakaian menyeramkan bagaimana maksudmu ?". Tanya Gavino lagi.
" Iya..., wanita itu menutup seluruh tubuhnya menggunakan pakaian serba hitam, sampai-sampai matanya pun tak terlihat. Bukankah itu menyeramkan, huhhh...aku sangat kesal sekali padanya. Rasanya ingin ku tarik penutup wajahnya itu".
" Jika saja teman wanita tadi tidak datang dan mencekal tanganku, mungkin aku sudah menarik kain yang menutupi wajahnya lalu mempermalukannya". Stevani menceritakan sambil tangannya bergerak-gerak seperti memperaktekkan. Gavino masih diam, belum berniat menimpali ucapan Stevani.
" Lihatlah honey, pergelangan tanganku sampai merah begini, ini ulah teman wanita itu" Stevani menunjukkan pergelangan tangannya yang terlihat memerah, dengan raut wajah yang dibuat sesedih mungkin. Gavino yang melihat tangan kekasihnya seperti itu, mulai terpancing emosi lagi.
" Siapa yang berani melakukan ini padamu".
" Kau tenang saja, aku akan mengurus masalah ini. Tak akan aku biarkan orang itu lolos begitu saja karena telah berani menyakitimu seperti ini". Ujar Gavino dengan wajah memerah, dan itu membuat Stevani tersenyum senang. Dia sangat senang karena Gavino akan membalas rasa sakitnya. pikir Stevani.
" Terima kasih Honey, kau memang yang terbaik". Ujar Stevani, lalu memeluk Gavino.
" Masalah ini mudah untuk aku atasi, tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu?". Stevani melepaskan pelukannya, kemudian melihat wajah kekasihnya dalam jarak yang dekat.
" Ada apa, apa yang ingin kamu tanyakan?". Stevani menjawab sambil jarinya memainkan dasi Gavino.
" Kemana saja kau selama seminggu ini ?".
" Mengapa Nomer ponsel mu tidak bisa aku hubungi?".
" Tidak biasanya Nomer ponsel mu mati dalam waktu yang lama seperti itu". Gavino bertanya dengan wajah datar, sorot mata menyelidik melihat Stevani.
Deg*
Pertanyaan Gavino membuat Stevani kalang kabut, raut diwajahnya berubah cemas. Dia mulai memikirkan alasan apa yang harus dia berikan kepada Gavino.
" Aku,...itu...!!!
......................
...Bersambung.......
__ADS_1