CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
82. Bertemu


__ADS_3

Ny. calina sedang berada dalam mobilnya. Dia sedang dalam perjalanan menujuh perusahaan Gavino. Diperjalanan, dia terus memikirkan kemana dia harus mencari Danira. Dia sudah meminta orang untuk mencari keberadaan menantunya itu, namun sampai saat ini, belum juga ada kabar.


Saat matanya terus melihat keluar jendela, tiba-tiba pandangannya tertujuh pada sosok wanita yang berpakaian serba hitam tertutup, tengah berdiri dipinggir jalan. Wanita itu seperti sedang membagi-bagikan sesuatu kepada orang-orang yang berlalu lalang dijalanan.


" MANG....BERHENTI MANG..!!". Teriak Ny. Calina kepada supir pribadinya, membuat sang supir menginjak rem secara mendadak.


" Ada apa nyonya ". Tanya mang Diman, ikut panik mendengar Ny. Calina berteriak. Namun yang ditanya telah berlari keluar, menyebrang jalan yang cukup ramai. Suara Klakson bersaut-sautan karena Ny. Calina menyebrang jalan tanpa melihat laju mobil yang kencang, hal itu membuat banyak pengendara memaki dan meneriaki aksi Ny.calina tersebut.


" Woii...sudah bosan hidup hah ?".


" Kalau mau bunuh diri Jagan disini ".


" Sudah gila ya ?".  Berbagai macam caci maki dan teriakan orang-orang yang kesal karena ulah Ny. Calina yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga orang lain.


" Iya maaf, saya tidak gila dan bukan ingin bunuh diri. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya ". Teriak Ny. Calina menjawab ucapan orang-orang itu kepadanya. Para pengendara dan orang-orang sekitar hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Ny. Calina yang aneh.


Ny. Calina terus berjalan mendekati wanita yang tak menyadari kehadirannya. Ny. Calina telah berdiri tepat dibelakang wanita itu, lalu dia menyentuh pendaknya.


" Danira ...?". Panggil Ny. Calina pelan. Merasa ada yang memegang pundaknya, wanita itu membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang menyentuhnya.


" Mami...!!". Cicit Danira pelan, terkejut melihat ibu mertuanya telah berdiri dibelakangnya. Ny. Calina tersenyum senang mendengar ucapan Danira.


" Ah syukur lah, aku tidak salah orang ". Gumam Ny. Calina.


" Kenapa mami bisa ada disini ?". Tanya Danira lembut.


" Tadi mami lewat sini, tidak sengaja mami melihat kamu, jadi mami memaksa mang Diman untuk berhenti mendadak ". Jelas Ny. Calina berbicara sedikit keras, karena kondisi yang ramai. Melihat peluh dari dahi mertuanya, membuat Danira iba dan tidak tega.


" Mami, kita ngobrol di cafe sebrang sana saja ya. Disini terlalu bising dan panas ". Ajak Danira.


" Tapi kegiatan kamu ini belum selesai sayang ".


" Tidak apa-apa mami, nanti Danira minta yang lain untuk melanjutkannya ". Ujar Danira, memanggil seseorang, lalu menyerahkan bingkisan yang ada ditangannya.


" Ayo mi ". Ajak Danira, lalu Danira mengandeng tangan Ny. Calina, mereka menyebrang menuju cafe yang ada disebrang jalan. Meraka telah berada didalam bangunan cafe itu, duduk meja bagian tengah dekat dengan kaca, mereka bisa melihat suasana jalanan yang sibuk.


" Mami mau minum apa ?". tanya Danira, memberikan buku menunya.


" Samain aja sayang ". Ujar Ny. Calina, tanpa memalingkan pandangannya dari Danira, hal itu membuat Danira malu.


" Kenapa mami melihatku terus, apa ada yang aneh di burqaku ? ". Tanya Danira, tangannya mulai membersihkan sesuatu di Burqanya, takut bila ada kotoran yang menempel.


" Tidak ada apa-apa nak, mami hanya merasa senang karena bisa bertemu Dan melihat kamu lagi ".


" Aku juga merasa senang bisa bertemu dan melihat mami dalam keadaan sehat seperti ini ". Ujar Danira, menggenggam tangan Ny. Calina dengan lembut.

__ADS_1


" Kamu tinggal dimana selama ini nak, kenapa tidak pulang kerumah mami saja ?".


" Apa kamu juga membenci mami ?". Tanya Ny. Calina dengan raut wajah sedih. Danira menggeleng cepat.


" Tidak..tidak mami, aku tidak pernah membenci mami, aku bahkan sangat merindukan mami. Alhamdulillah aku tinggal di tempat yang baik dan aman mi, mami tidak perlu khawatir ". Jelas Danira, menggenggam erat tangan Ny. Calina.


" kalau kamu tidak membenci mami, kenapa nomer ponselmu sudah tidak bisa mami hubungi lagi, apa kamu memblokir nomor mami ?".


" Tidak mi, aku tidak melakukan itu. Memang ponselku sampai saat ini belum aku aktifkan. Aku hanya sedang menenangkan diri dulu, itu bukan berarti aku membenci mami ".


" Kalau kamu tidak membenci mami, sekarang Danira ikut mami pulang ke rumah ya, jika tak ingin bertemu dengan Gavino, tidak apa-apa. Danira tinggal di rumah mami saja. Mami janji Gavino tidak akan berani menyakiti kamu lagi. Mau ya sayang ?". Ajak Ny. Calina. Mata Danira berkaca-kaca melihat bagaimana tulusnya Ny. Calina menyayanginya. Sebenarnya, selama ini Danira tau jika Gavino dan ny. Calina terus meminta orang untuk mencarinya. Namun Sarah selalu berhasil menutupi keberadaan Danira.


" Maaf mi, tapi untuk saat ini Danira belum bisa ikut pulang bersama mami ".


" Tu..berarti bener kan, kalau kamu juga marah sama mami ". Ujar Ny. Calina, memperlihatkan wajah sedihnya, dengan memanyunkan bibirnya.


" Bukan mi, Danira hanya belum siap untuk kembali kesana. Danira masih butuh waktu untuk sendiri. Danira harap mami bisa mengerti keinginan Danira ini ". Ucap Danira, memberi alasan, berharap Ny. Calina mengerti dengan keinginannya. Ny. Calina diam sejenak, mulai berfikir cara apa lagi yang bisa dia gunakan untuk membujuk menantunya ini.


Obrolan mereka terputus sejenak, karena ada seorang wanita berpakaian pelayan menghampiri meja mereka, membawa nampan berisi kopi ditangannya. " Permisi nyonya, ini pesanannya ". Ujar wanita itu meletakkan dua cangkir kopi, dihadapan Ny. Calina dan Danira.


" Selamat menikmati ". Ujar wanita itu, tersenyum ramah.


" Terima kasih ". ucap Danira, lalu mengambil sendok kecil yang ada disamping gelas, dan mengaduk kopinya.


" Baiklah, tidak apa bila kamu belum mau pulang bersama mami. Tapi bolehkah mami meminta tolong sesuatu nak ?".


" Tadi pagi, Oma menghubungi mami. Mengabarkan kalau acara keluarga yang biasa diadakan setiap tahun, akan berlangsung Minggu depan. Dan Oma meminta mami untuk membawa kamu kesana, Oma ingin bertemu dengan kamu. Mau kan Danira, mengabulkan keinginan Oma ?". 


Acara keluarga...berarti akan ada mas Gavino juga disana. Batin danira


" Acara keluarga besar ya mi ?". Tanya Danira pelan. Ny. Calina hanya menjawab dengan anggukan kepala.


" Mau kan sayang, ikut mami kesana. Jika Danira tidak ingin melakukannya untuk mami, setidaknya penuhi keinginan Oma mu yang sudah tua renta itu saja ". Ujar Ny. Calina dengan wajah memelas, ini adalah cara terakhirnya untuk membujuk Danira. Bila ini gagal, dia sudah tak tau harus melakukan apa lagi agar danira mau ikut pergi bersama dengannya. Danira diam dan menundukkan kelapanya, dia bingung harus menjawab apa.


" Apa karena Gavino nak, yang membuat kamu ragu seperti ini ?".Danira masih memilih diam.


" Mami bole menanyakan sesuatu nak ?". Tanya Ny. Calina, Danira mengangguk cepat.


" Danira masih belum bisa memaafkan Gavino ya?". Mendengar pertanyaan Ny. Calina, Danira mengangkat kepalanya, menatap manik hitam ibu mertuanya.


" Danira sudah memaafkan semua kesalahan mas Gavino mi, hanya saja untuk bertemu langsung Danira belum siap ". Jawab Danira jujur. Ny. Calina paham, dia bisa mengerti bagaimana perasaan Danira karena dia juga seorang wanita. Istri mana yang rela melihat suaminya masih mencintai wanita lain. Melihat bagaimana sabarnya Danira menghadapi Gavino yang masih berhubungan dengan Stevani saja, membuat Ny. Calina salut. Bila dia yang menjadi Danira, mungkin sekarang Stevani hanya tinggal nama. pikir Ny. Calina.


" Mami paham, mami tidak akan memaksa kamu untuk menerima Gavino lagi. Karena mami sadar dia sudah sangat keterlaluan dan kesalahannya pun sangat fatal. Mungkin, bila mami yang ada diposisi kamu, mami juga akan melakukan hal yang sama, atau lebih parah dari itu. Tapi ijinkan mami meminta maaf untuk putra mami yang gila itu, jika kamu masih ingin memberikan Gavino 1 saja kesempatan terakhir, mami akan sangat berterima kasih. Namun, jika sudah tidak ada harapan lagi, tak apa. Mami tak akan memaksa dan mami akan menerima keputusan kamu nak ". 


" Apapun yang terjadi antara kamu dan Gavino, rasa sayang mami sama kamu tak akan pernah berubah. kamu akan tetap menjadi putri mami, meski kamu dan Gavino tidak bersama lagi ". ujar ny. Calina, dengan air mata telah mengalir dipipinya. Danira merasa tersentuh hatinya, inilah yang membuat dia amat sangat menghormati dan menyayangi Ny. Calina. Meski Gavino anak kandungnya, tapi dia tak pernah berusaha untuk membenarkan kelakuan anaknya, dan tak pernah sekalipun memaksa Danira untuk menerima Gavino kembali. Dia selalu mendukung apa yang menjadi keputusan Danira.

__ADS_1


" Mami tolong Jagan menangis, lagipula ini bukan kesalah mami ". Ujar Danira berpindah duduk kesamping Ny. Calina. Lalu memeluknya. Ny. Calina membalas pelukan Danira dengan sayang.


" Danira sudah menganggap mami seperti ibu kandung Danira sendiri, jadi jangan memohon atau menangis seperti ini ". Ujar Danira, menghapus air mata Ny. Calina.


" Baiklah....!! Danira bersedia ikut bersama mami untuk bertemu dengan Oma Minggu depan. Tapi....!! kalau untuk memberikan kesempatan kepada mas Gavino, Danira harus memikirkannya terlebih dahulu, dan meminta petunjuk dari Allah, agar Danira tak salah dalam mengambil keputusan ". Ujar Danira, mendengar jawaban Danira bersedia ikut bersama dengannya, membuat ny. Calina menyunggingkan senyuman bahagia diwajahnya. Hilang sudah rasa kesedihan dan was-was Yang sempat hinggap karena Danira belum memberikan jawaban kesediaannya. Jika untuk kesempatan bagi Gavino, ny. Calina tak ingin mengambil pusing sekarang, Biar itu menjadi urusan Gavino, agar gavino lebih bekerja keras untuk meluluhkan hati istrinya lagi, yang penting dia sudah membukakan jalan, agar gavino bisa berusaha mendekatkan diri lagi kepada Danira. pikir Ny. Calina.


" Benar sayang, kamu bersedia ikut mami Minggu depan ?". Ulang Ny. Calina memastikan, takut bisa dia salah mendengar. Danira hanya mengangguk.


" Alhamdulillah...terima kasih sayang, pasti Oma sangat senang mendengar kabar ini ". Ujar Ny. Calina semangat dengan mata berbinar-binar bahagia. Danira kembali kekursinya, lalu mulai mengaduk-aduk lagi kopinya dan ingin menyesap kopi itu, namun dia urung saat melihat sesuatu didalam cangkir kopinya, Danira meletakkan kembali cangkir kopi, yang sedang dia pegang keras meja kembali.


" Ada apa Ra, kenapa tidak jadi diminum kopinya ?". Tanya Ny. Calina, bingung melihat Danira tak jadi meminum kopinya.


" Ahh itu, Danira lupa kalau asam lambungnya lagi naik mi, sepertinya Danira belum bisa minum kopi lagi ". Ujar Danira berbohong, memberi alasan.


" Apa ingin mami antar kerumah sakit saja sayang, untuk mengobati asam lambung kamu ?". Tawar Ny. Calina khawatir.


" Tidak perlu mi, Danira masih punya obatnya. dan itu cukup ampuh, tadi saat memesan kopi ini, Danira lupa bila sedang asam lambung ". Ujar Danira lagi. Ny. Calina mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. 


Danira mengedarkan pandangannya melihat kesekeliling, mencari sesuatu.


" Oh iya, apa yang kamu bagikan disana tadi nak ?". Tanya Ny. Calina, setelah menyesap kopinya, Danira tak menjawab, dia masih sibuk melihat kesana kemari tak mendengar pertanyaan Ny. Calina. Melihat Danira seperti sedang mencari sesuatu, Ny. Calina pun ikut celingukan.


" Ra....Danira ?".


" Ah iya mi, maaf...!! mami bertanya apa ?". Ujar Danira melihat Ny. Calina. Ny. Calina tersenyum.


" Kamu mencari siapa nak ?". Tanya Ny. Calina lagi.


" Ehh...itu, tidak ada mi. Aku hanya merasa ada seseorang yang selalu memperhatikan kita sedari tadi ". jawab Danira. Pandangannya tertujuh kepada seseorang yang cukup menarik perhatiannya. Dia melihat seseorang yang sangat mencurigakan, dan selalu memperhatikannya dari tadi, namun Danira tak dapat melihat wajahnya karena orang itu mengenakan Jaket Hoodie, topi, kacamata hitam, dan masker diwajahnya. Merasa Danira melihatnya, orang itu segera pergi terburu-buru hingga menabrak seorang pelayan yang ingin mengantar makanan ke meja pelanggan. Tanpa mengatakan apapun orang itu pergi begitu saja.


" Lihatlah....anak zaman sekarang, dia yang salah, dia juga yang pergi tanpa mengucapkan maaf ". Ketus Ny. Calina kesal melihat orang itu, pergi begitu saja. Danira tak merespon, Dia mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan kepada Sarah.


Sarah...!! aku butuh bantuanmu . Pesan Danira terkirim.


" Oh iya, tadi mami mau kemana ?". Tanya Danira, sambil menyimpan ponselnya kedalam tas.


" Ya ampun...mami sampai lupa, kalau tadi mami mau ke perusahaan Gavino, lalu ada pertemuan dengan teman-teman mami. Haduh, saking senangnya bisa ketemu kamu, mami jadi lupa ada acara hari ini Ra ". Jelas Ny. Calina sambil menepuk jidatnya. Danira tersenyum melihat tingkah ibu mertuanya yang benar-benar lucu.


" Ya sudah...ayo kita pergi mi, mungkin ada pengunjung lain juga yang ingin duduk disini ". Ujar Danira mengajak Ny. Calina pergi.


" Iya kamu benar sayang, ayo...!!". Ucap Ny. Calina, lalu menyambar tasnya yang dia letakkan diatas meja. Mereka berdua pun melangkah keluar meninggalkan cafe itu. Tak berapa lama, dari sepeninggalan Danira. Orang suruhan Sarah telah tiba, dan mengambil kopi yang menjadi Milik Danira, lalu memasukkannya kedalam kantong pelastik, kemudian merekapun pergi.


...Nona....sesuai perintah anda, kopi milik anda akan kami lalukan pengecekan ke laboratorium....


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2