
Kesibukan di perkantoran menjadi hal biasa, apalagi bila sedang menghadapi banyaknya projek-projek baru. Tapi ini berbeda, kesibukan yang terjadi di perkantoran Garayudha Company dikarenakan, sang Presdir tegah marah besar dan meminta setiap karyawan harus memberikan ide, untuk menarik kembali peminat produk-produk mereka yang gagal, akibat kalah saing tanpa terkecuali. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah sejak Garayudha Company berdiri, mengalami kerugian yang cukup besar.
Seorang pria berperawakan tinggi, berkulit putih, berpenampilan modis style, berjalan dengan gaya bak model diatas catwalk, menggenakan pakaian oversized t-shirt putih yang dipadu dengan oversized cargo pants hitam koleksi dari Nevertoolavish. Rambut gondrongnya dibiarkan terurai sampai bahu dan bertengger aksesori bucket hat diatas kepalanya. Pria itu berhenti tepat didepan meja Sonya, Sonya yang tegah fokos dengan layar komputernya tidak menyadari kehadiran Kevin.
Kevin mencondongkan setengah badannya kedepan, dengan pergelangan kaki menyilang dan tangan kiri memangku dagu. Kevin mengukir senyum manis diwajahnya dengan mata tak lepas menatap Sonya. Merasa diperhatikan, Sonya mengusap tengkuk lehernya merinding.
" Seperti ada yang ngeliatin, iihh serem". Gumamnya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
" Hekhemm". Kevin berdehem, membuat kepala Sonya mendongak.
" Astaga...!! tuan Kevin". Sonya refleks memundurkan kursinya hampir terjatuh, terkejut melihat wajah Kevin terlalu dekat. Sonya berdiri dan menundukkan kepalanya.
" Maaf tuan, saya tidak tau kalau anda ada disini" ujarnya kikuk.
Kevin masih dengan posisinya tersenyum gemas melihat rona merah diwajah sonya karena terkejut " tidak apa, aku sengaja karena ingin melihat wajah cantikmu ". gombalan Casanova tercium jelas oleh Sonya.
Sonya tersenyum garing mendengar gombalan Kevin, dia sudah hafal siapa laki-laki yang ada dihadapannya ini. Kevin Orlando pengusaha sekaligus model, yang terkenal dengan julukan The king Casanova. Kevin suka sekali berganti-ganti pasangan bahkan karyawan di Garayudha Company pun banyak yang sudah menjadi teman kencannya.
" Apakah tuan datang, ingin bertemu dengan tuan Gavino, Beliau ada didalam langsung masuk saja". alihnya supaya Kevin cepat menghilang dari pandangannya.
Kevin yang tau maksud Sonya, berdiri membenarkan posisinya ". aiiss kau ini, sudah sering aku katakan jangan panggil tuan, panggil saja Aak atau sayang biar kita terlihat lebih akrab". masih mengeluarkan jurus gombal ala buaya darat. Sonya membuang pandangannya, jengah mendengar rayuan-rayuan Kevin.
" Apa kau ada waktu malam ini, Aku ingin mengajakmu makan malam". Tanya Kevin dengan wajah sedikit tengil, namun yang ditanya hanya diam saja tak memberi respon apapun.
" Maaf tuan". tolakan halus.
" Atau nanti sore, aku saja yang mengantarmu pulang...!! Bagaimana ? Mau ya..mau ya..?". Kevin memperlihatkan mata memohon, dengan wajah dibuat sedih.
Gavino yang sedari tadi memperhatikan dari pintu kaca, Pintu yang yang terlihat biasa namun bisa melihat orang yang ada diluar ruangan, sedangkan orang yang diluar tidak dapat melihat kedalam. Gavino melihat interaksi antara Kevin dan sekertarinya hanya menggelengkan kepalanya. Gavino sudah tau apa yang terjadi melihat wajah tertekan Sonya.
" Berhentilah mengganggunya, dia sedang banyak pekerjaan. Jika kau datang hanya untuk merayu karyawan ku, lebih baik kau pergi saja sana". suara interkom yang ada dimeja Sonya menggagetkan keduanya. Kevin mendengus kesal mendengar suara Gavino, sedangkan Sonya mengulum senyum.
" Aku tunggu jawabanmu ya cantik ". ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya, berjalan masuk keruangan Gavino. Tanpa menghiraukan ucapan Kevin, Sonya kembali duduk menatap layar komputernya.
Gavino kembali fokus memeriksa semua berkas-berkas yang berserakan dimeja. Wajah kusut, tapi tak mengurangi ketampanannya, dasi yang sudah terlepas membuat Gavino benar-benar terlihat kacau.
" Halo bro ".
" Ada apa dengan wajahmu, belum disetrika ya?". Kevin tergelak melihat wajah Gavino Yang menurutnya lucu. Kevin duduk menyadarkan punggungnya disofa, dengan kaki disilangkan. Santai...
" Mengapa kau kemari ?, ingin mencari mangsa lagi hah?, kurang puas dengan Staff bagian humasku kau kencani ". cecar Gavino.
__ADS_1
" Hheeiii...!! kami hanya berkencan bukan tidur bersama". Kevin menyanggah Gavino.
" Ciihh...bentukan sepertimu, mana mungkin hanya kencan biasa".
" Ayo lah Vino...! Bantu aku dekat dengan sekertarismu, aku janji tidak akan macam-macam padanya". ucapnya sambil menggangkat dua jarinya keatas membentuk V. Gavino mencebikkan bibirnya. Sampai sekarang Gavino tidak habis fikir, mengapa dia bisa memiliki 2 sahabat yang benar-benar bertolak belakang, Kevin yang fashionable, terkenal dengan playboy Casanova dan tidak percaya dengan pernikahan, sedangkan Doni yang perfeksionis, amat sangat mencintai kebersihan dan kesehatan, tidak ingin berkencan bila belum menjadi istrinya.
" Haiss..!! kau ini. Jika kau menginginkan Sonya, datang kerumahnya, temui ayahnya yang galak. Itupun jika kau berani ". Ejek Gavino.
" Siapa takut, kau jangan meremehkan aku ya".
" Coba saja, palingan saat kau datang langsung dinikahkan oleh ayahnya, setahuku ayah Sonya bukan hanya galak, tapi juga tidak suka jika anak gadisnya hanya dipacari. Apalagi ada yang mempermainkan putrinya maka si Otong akan diberikan menjadi makanan peliharaannya ". Gavino menakut-nakuti Kevin dengan wajah seriusnya.
Glek...
Kevin menelan ludahnya " Kau jangan menakut-nakuti aku, kau pikir aku tidak tau, itu hanya akal-akalan mu saja kan ? Cihh....".Kevin melempar bantal sofa kearah Gavino, dengan cepat Gavino menangkapnya.
" Ya sudah kalau tidak percaya, buktikan saja sendiri ". ujar Gavino melemparkan bantal sofa itu tepat mengenai kepala Kevin
" Kemana manusia Disenfektan itu, tumben tidak ikut ?".
" Biasa, dia sedang cek....!!".
Brakkkk
" Ada apa, mengapa wajahmu seperti udang rebus begitu ?". tanya Kevin bercanda.
" Ada apa?". tanya Gavino.
" Maaf tuan, Barusan pihak maskapai penerbangan Nyonya Calina menghubungi saya, mereka memberitahu kalau nyonya kemarin malam tidak ikut dalam penerbangan itu."
" Apa maksudmu ? ". Gavino berdiri dari kursinya berjalan menghampiri Sean.
" Nyonya Calina tidak jadi terbang ke Eropa tuan, saya juga sudah mencoba menghubungi supir pribadi nyonya, namun nomer telpon nya tidak aktif, dan saya sudah meminta orang kita untuk melacak mobil Nyonya tuan". jelas Sean masih dengan wajah cemas.
" Lalu kemana mami, jika dia tidak jadi pergi seharusnya dia pulang kerumah semalam". Gavino mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi nomor nyonya Calina, namun tidak ada jawaban, Gavino mulai khawatir.
" Shittt"
Dretzzz...
Suara ponsel Sean mengalihkan pandangan Gavino dan Kevin " tuan ini telpon dari Bayu".
__ADS_1
" Angkat dan lostpacker". Printah Gavino dengan wajah serius, dengan tangan berlipat didepan dada.
" Hallo tuan, kami sudah menemukan mobilnya, tapi kami tidak menemukan Nyonya Calina. Yang ada hanya Supir Nyonya yang telah meninggal karena tertembak dan barang-barang Nyonya saja tuan".
Deg *
Gavino yang mendengar penjelasan anak buahnya seketika lemas, seakan tubuhnya tidak memiliki tulang, matanya memerah, tubuh gavino tersandar dimeja kerjanya, masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Apa kau yakin ?". ujar Sean pada Bayu.
" Sangat yakin tuan, ..saya sudah mengirimkan foto-fotonya ke nomor tuan, jika tuan tidak percaya anda bisa cek sendiri ". Sean segera membuka pesan masuk yang dikirim Bayu padanya. Dan benar saja mayat Supir pribadi Nyonya Calina tergeletak di pinggiran aspal dengan kepala bersibah darah.
" Kirimkan alamatnya, kami akan segera kesana". ucap Sean menutup panggilannya.
" Tuan". panggil Sean pada Gavino yang masih mematung.
" SIAPA YANG TELAH LANCANG MENGGANGGU KELUARGAKU ". Teriak Gavino menggema, memenuhi seisi ruangan hingga karyawan yang diluar terlonjak kaget mendengar teriakan itu.
Gavino menegakkan badannya, amarah terlihat jelas dari sorot mata hitam tajam itu, ruangan berubah menjadi dingin bahkan lebih beku dari kutub utara, aura membunuh menyeruak membuat siapapun bergidik ngeri termasuk Kevin dan Sean yang sedang berdiri tak jauh dari Gavino. Rahang Gavino mengeras, kepalan tangan membuat urat-urat tercetak jelas. Gavino berubah seperti monster yang siap memakan mangsanya hidup-hidup.
" Honey ". Stevani muncul dari balik pintu, dia menautkan alisnya bingung melihat kemarahan diwajah kekasihnya.
" Honey, kamu kenapa ?". Stevani berjalan mendekati Gavino, Gavino hanya diam pikirannya berkelana entah kemana.
" Ada apa, mengapa Gavino terlihat sangat marah seperti ini ". tanya Stevani melihat Kevin dan Sean bergantian meminta penjelasan.
" Nyonya Calina menghilang nona ". jawab Sean singkat.
" Apa !!!". Stevani menutup mulutnya, syok dia benar-benar syok mendengar jawaban Sean, seketika air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.
" AKU AKAN MEMBUNUH SIAPAPUN YANG BERANI MENYENTUH IBUKU". Suara Gavino benar-benar mengerikan, Stevani yang ada disampingnya pun seketika mudur kebelakang.
"Honey, kamu tenang ya, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Tante Calina". Stevani mencoba menenangkan Gavino. Namun hasilnya nihil, Gavino melihat Stevani dengan tatapan intimidasi. Tidak ada tatapan cinta yang seperti biasanya Gavino berikan untuknya. Yang ada hanya tatapan membunuh.
" Sean..!! Siapkan mobil, kita kesana sekarang".
" Aku tidak akan pernah mengampuni nyawa orang yang telah berani mengganggu keluargaku". Suara Gavino terdengar seperti suara iblis yang mengginginkan kematian.
Gavino menyambar jasnya, membuka laci dan mengambil benda berbahaya itu, lalu memasukkannya kedalam saku jasnya. Dia berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan Stevani yang masih menangis dan gemetar disana. Sean dan Kevin juga berjalan mengekor dibelakang Gavino.
Pintu ruangan tertutup, tinggal lah Stevani seorang diri, Dia menghapus sisa air mata dipipinya" Semoga nenek gayung itu sudah mati, jadi tidak ada lagi pengganggu hubunganku dan Gavino ". Gumam Stevani disertai seringai licik dibibirnya.
__ADS_1
......................
...Bersambung......