CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
91. Malam penuh tangis


__ADS_3

Danira kembali berlari keluar Shelter mencari tumbuhan yang bisa menghentikan darah yang terus keluar dari tubuh gavino. Danira terus mengarahkan senter ponselnya, hingga dia berhasil menemukan tumbuhan yang dia cari, yaitu tumbuhan bandotan.


Danira pernah membaca di sebuah artikel, bahwa Tanaman bandotan (Ageratum conyzoides L.) merupakan salah satu tanaman herba dan gulma yang digunakan oleh masyarakat untuk obat luka dipercaya dapat menghentikan pendarahan dan mempercepat proses penyembuhan pada luka yaitu dengan mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri.


Danira akan mencoba menggunakan tumbuhan ini, untuk mengobati Gavino. Setidaknya, sampai dia bisa membawa Gavino kerumah sakit. pikir Danira.


Kini Danira sudah duduk disamping Gavino yang masih berbaring lemah, melihat itu Danira kembali menangis, dia benar-benar tak tega melihat Gavino yang biasanya gagah dan arogan kini menjadi lemah tak berdaya.


" Ma...m..mas, Danira ijin buka kemejanya yah, biar Danira bersihkan dulu lukanya ". Ucap Danira lembut, dengan suara bergetar dan serak akibat tangis. Gavino tetap diam, dengan mata terpejam. Perlahan Danira membuka setiap kancing kemeja Gavino, tangannya gemetar, matanya makin mengembun, memerah saat melihat bagian perut sixpack milik Gavino penuh dengan luka lebam, Danira semakin terisak.


" Heks...Heks...Heks....Maaf, maafkan aku ". Gumam Danira disela tangis. Danira membuka baju Gavino perlahan, membuat Gavino telah bertelanjang dada. Danira mengambil lagi tisu basah, dan mulai membersihkan tiap luka Gavino.


" Kenapa mas mau melakukan ini semua, seharusnya mas Gavino pergi saja. Tidak perlu memperdulikan aku, hiks..hiks. Andai saja mas Gavino tidak nekat melindungiku, mungkin ini tak akan terjadi ". Ucap Danira pilu, dia merasa amat sangat bersalah, semua ini terjadi karena dirinya. pikir Danira, menyalahkan diri sendiri.


Danira mulai mengambil tumbuhan bandotan tadi. Dia bingung, bagaimana cara dia bisa menghaluskan tumbuhan itu sedangkan disini tak ada batu ataupun apapun yang dapat dia gunakan untuk membuat tumbuhan itu hancur. Danira berfikir sejenak, tak ada pilihan lain......


Danira mengunyah tumbuhan bandotan, meski rasanya tak karuan, pahit, pedas, langgu dan lainnya. Danira tatap menguyah dan menahan rasa mual karena tertelan air dari tumbuhan itu. Dia sudah tak memperdulikan apa akibat bila tumbuhan itu tertelan olehnya. Setelah dirasa halus, Danira meletakkan hasil kunyahannya diatas daun. lalu dengan segera Danira kembali keluar, memuntahkan sebagian air yang tertelan.


" Huekkk...Huekkk....Ah ini pahit sekali, rasanya benar-benar aneh dan tidak enak ". Gumam Danira. Merasa sudah cukup menghilang rasa pahit dilidahnya, Danira kembali melihat Gavino yang semakin pucat, tubuhnya pun mulai panas, Dia demam.


Danira merobek ujung gamisnya, lalu membasuhnya dengan air hujan. Kemudian dia mulai meletakan tumbuhan bandotan tadi ditisu yang kering, lalu Danira menempelkan dibagian luka tembak Gavino dengan pelan.


" Aakkhhh..." Erang Gavino merasa perih. Danira menghentikan sejenak " Tahan sebentar ya mas, maaf ini akan terasa perih ". Ujar Danira, meniup-niup lalu meletakkannya lagi secara perlahan, lalu Danira menggikatnya dengan sobekan gamisnya. Setelah bagian itu selesai, Danira beralih ke luka Gavino yang lainnya.


" Maaf, tolong maafkan aku, ini semua salahku. Hingga mas Gavino mengalami semua ini, andai kita tidak pernah bertemu, mungkin mas tidak akan pernah mengalami hal seperti ini ". Lirih Danira, mendengar Danira selalu mengucapkan kata-kata seperti itu berulang kali, membuat Gavino perlahan membuka matanya meski tak sepenuhnya, lalu melihat Danira. Perlahan Gavino memegang pergelangan tangan Danira.


" Be..be..berhentilah, menyalahkan dirimu sendiri, aku tidak apa-apa. ini hanya luka kecil, tak perlu cemas begitu ". Ucap Gavino pelan, terbata-bata. Dia dengan susah payah, menyelesaikan kata-katanya. Mendengar ucapan Gavino, mumbuat tangisan Danira semakin menjadi.


Hiks...


Hiks...


Hiks...


" Tapi ini semua salahku, andai saja mas......"


" Shuuttt ".

__ADS_1


" Sudah aku katakan berhentilah, ini bukan karena dirimu. kenapa kau selalu mengulangi kata-kata yang sama sedari tadi. Bi..bisakah kau diam, tak banyak bicara dulu. Aku benar-benar tak bisa menjawab semua ocehanmu saat ini, apa kau tidak lelah mengoceh terus dari tadi...hhmmm?". Ujar Gavino, mencoba mengalihkan rasa bersalah Danira dengan ucapan ketus Gavino seperti biasa.


Mendengar ucapan suaminya, Danira menunduk, meski air matanya terus mengalir, dia berusaha untuk diam dan menahannya. Gavino tau Danira masih menangis, terlihat dari bahunya yang masih bergetar dan suara isakan yang sesekali terdengar. Perlahan dia mengambil tangan danira lalu menggenggamnya.


" Kenapa kau masih menangis, kau tenang saja aku tidak akan mati secepat itu. Tidak akan ada yang bisa membunuh seorang Gavino ".


" Sudah jangan menangis lagi, karena aku tidak bisa menyentuh wajahmu untuk menghapus air matamu, dibalik kain ini".


" Apa kau ingin kita berdua mati tenggelam disini ?". Ujar Gavino, Danira menatap Gavino bingung.


" Tenggelam ?".


" Iya...bila kau terus menangis sedangkan diluar masih hujan deras, itu kan menimbulkan banjir bandang ". Goda Gavino. Bukannya diam, Danira malah semakin menangis, karena meski dalam keadaan seperti ini, Gavino masih berusaha menghibur dengan lelucon garingnya.


" Danira, berhentilah menangis, apa kau tidak lelah dari tadi menangis terus. Apa kau tidak takut air matamu menjadi kering hhmmm ?, tenang saja, aku tida apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sebentar, jadi kau Jagan menangis lagi ". Danira mengangguk mendengar permintaan Gavino, dia menghapus air matanya, lalu kembali menempelkan sisa tumbuhan bandotan di luka bagian perut Gavino.


Danira melihat, Gavino mulai memejamkan matanya lagi, Terlihat dari wajahnya, bila Gavino menahan rasa sakit yang teramat. Setiap kali Danira meletakkan tumbuhan itu, Gavino selalu mengerutkan dahinya seperti merasakan perih. Danira berusaha keras menahan air mata yang sudah menggenang kembali. Danira terus saja terjaga, dia tak bisa memejamkan matanya, dia terus memperhatikan Gavino yang terpejam. Merasa tak ada pergerakan dari suaminya, Danira menyentuh tangan Gavino memastikan bahwa suaminya baik-baik saja.


" Mas...Mas...Mas Gavin ?". Panggil Danira, namun Gavino tetap diam, tak bersuara atau membuka matanya. Danira mulai panik.


" Aawww....hhhmmmm!!!!, Danira aku baru saja ingin tertidur, kenapa kau malah menggangguku lagi. Tenang aja, suamimu ini belum mati. Lebih baik kau juga tidur, supaya besok pagi, kita langsung pergi dari sini ". Ucap Gavino dengan mata masih terpejam. Danira bernafas lega, mendengar jawaban Gavino. Danira sudah memikirkan yang tidak-tidak.


" Tidak, aku akan bergaja saja. Mas saja yang tidur, aku akan menunggu sampai pagi tiba ". Ucap Danira duduk sambil memeluk lututnya, dia kedinginan. Gavino tak menjawab, dia kembali tertidur. Dengan susah payah Danira menahan kantuk yang menyerangnya, berkali-kali dia terpejam dan memaksakan matanya untuk kembali terbuka. Tiba-tiba Sayup-sayup Danira mendengar suara ranting pohon yang Patah seperti terinjak.


TRAK**


Danira Membuka matanya lebar-lebar, rasa panik kembali menyusup kedalam dirinya. Takut bila penjahat itu kembali, dan menangkap mereka. Danira memeluk lututnya semakin erat, mendengar tapak kaki semakin mendekati Shelter mereka. Suara langkah itu semakin dekat, dekat......


Danira memejamkan matanya, menunduk. Dia sudah pasrah, dia sudah tak bisa bila harus bertarung lagi, apa lagi melihat kondisi Gavino yang semakin lemah. Dia sudah mempasrahkan segalanya, dia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan menurunkan pertolongan untuk mereka.


Ya Rab...bila memang ini takdir hamba dan mas Gavino kembali kepangkuan mu, maka terima lah kematian kami dalam keadaan yang Engkau Ridhoi, matikan lah kami dalam keadaan Husnul khatimah ya Rab...hambah pasrahkan semuanya kepadaMU. Batin Danira terus berdoa. Danira mendengar langkah kaki itu telah berhenti tepat didepan Shelter. Danira terus beristighfar dan memeluk lututnya dengan erat.


" Nona...." Suara berat seorang pria memanggil namanya, Danira diam, tak ingin menyaut apa lagi mengangkat kepalanya.


" Nona Danira, ini saya Sam, pengawal anda ". Ujar pria itu memberi tahu. Mendengar itu, perlahan Danira memberanikan mengangkat kepalanya melihat pria yang mengaku sebagai pengawalnya. Danira melihat pria yang telah berjongkok berjarak didepannya, kemudian dia melihat logo RG dijas pria itu. Seketika Danira terduduk dan bernafas lega.


" Kenapa kalian lama sekali ". Ujar Danira pelan......Kesal.

__ADS_1


" Maaf nona, tadi kami tidak bisa lewat karena ada pohon tumbang. Maafkan kami karena terlambat nona ". Ujar pria itu, menunduk merasa bersalah.


" Sudahlah, yang penting kau sudah ada disini. Apa diluar sudah aman ?".


" Sudah nona, para penjahat tadi sudah pergi ".


" Tapi bagaimana bisa kamu bisa lolos dari mereka ?". Tanya Danira masih penasaran, karena dia melihat ada beberapa lebam di pipi Sam.


" Nanti akan saya akan ceritakan nona, lebih baik kita pergi dari sini, sebelum para penjahat itu kembali ".


" Iya kau benar, kita harus segera membawa suamiku kerumah sakit, kita harus segera mengeluarkan peluru yang masih bersarang di lengannya ".


" Baik nona..." Sam memanggil 2 rekannya yang sudah berdiri berjaga disisi kiri dan kanan shelter.


" Mas Bangun, kita pergi sekarang yuk ". Ucap Danira lembut, mengelus punggung tangan Gavino. Gavino tak ada pergerakan, dia tetap diam seperti tidur dengan wajah pucat.


" Mas Gavin ".


" Mas ..."


" MAS....!!!". Danira mulai menaikkan nada suaranya, dan mengguncang tubuh gavino cukup kencang, tapi Gavino tetap diam tak memberi respon atau pergerakan apapun. Danira kembali panik, dia sudah menangis lagi.


" Nona, lebih baik kita bawa tuan sekarang, Agar kita cepat sampai kerumah sakit, dan mengetahui kondisi tuan ". Ujar Sam, Danira tak menjawab, dia hanya mengangguk, dan terus menangis. Danira telah membayangkan hal-hal yang buruk akan terjadi pada Gavino.


Gavino digotong oleh kedua pengawal Danira, mereka berlari keluar dari dalam hutan, menujuh mobil yang tersembunyi dibalik rerumputan yang tinggi. Danira, duduk dibagian belakang sambil memangku kepala Gavino.


" Bisakah kau membawa mobil lebih cepat sam ?". Ucap Danira bernada tinggi dan panik, Sam sedikit tersentak mendengar Danira berkata seperti itu, karena ini pertama kalinya nonanya berbicara dengan nada yang meninggi. Tapi Sam tidak ambil hati, karena melihat kondisi Gavino yang memang memprihatinkan. Wajar bila Nona nya menjadi cemas dan panik. pikir Sam.


" Baik Nona ". Sam melajukan mobil dengan kecepatan penuh, membelah jalan yang masih basah akibat hujan. Kini mobil mereka telah berhenti tepat didepan lobby IGD rumah sakit terbesar yang ada di kota itu. Tak menunggu lama, para perawat telah tiba menggambil alih Gavino, lalu meletakkannya diatas brankar dan mendorongnya dengan cepat.


" Tolong....tolong selamatkan suami saya, saya mohon. Keluarkan peluruh dari tubuhnya ". Ucap Danira pilu terus berlari. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Gavino, dia takut bila terjadi hal yang tidak dia harapkan. Danira terus berlari, mengikuti para perawat dan dokter. Hingga akhirnya dia terjatuh dan,.......Pingsan.


BRUK**


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2