CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
130. Salah Sasaran


__ADS_3

Angin berhembus kencang saat Gavino turun dari mobilnya. Dia berjalan dengan angkuh, berdiri didepan pintu yang terbuat dari baja, menunggu hingga semua pintu berlapis-lapis itu terbuka. Suara bising manusia dan juga hewan terdengar nyaring dipendengarannya. Gavino kembali masuk kedalam lift, yang membawanya turun hingga ke lantai dasar.


DAG*


Suara gerbong lift berhenti, menandakan dia telah sampai tepat dilantai dasar bangunan itu. Gavino masuk keruangan gelap lalu menyalakan sakelar lampu tamaram berwarna kuning, matanya langsung menangkap sosok pria yang duduk dilantai dengan tangan dan kaki terikat, kepala ditutupi kain hitam. Gavino mendekat dan menarik paksa penutup kain itu.


" Hallo tuan Danu Tirta, lama tidak bertemu. Maaf penyambutanku kurang baik untuk tamu istimewaku ini ". Ucap Gavino sambil duduk diatas kursi dan menaikkan kakinya keatas meja. Danu Tirta melihat Gavino dengan tatapan tajam, dia terus saja bergumam tidak jelas, karena mulutnya masih tertutup dengan kain hitam.


" Ohh...maafkan aku tuan Danu, aku lupa bila ikatan mulutmu belum dibuka ". Gavino mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya membuka ikatan mulut Danu.


" Cciihhh...bedebah, beraninya kau melakukan ini padaku ". Umpat Danu, saat mulutnya telah terbuka.


" Tentu....mengapa aku harus takut dengan manusia rendah sepertimu ".


" Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja, setelah apa yang kau lakukan padaku ". Ujar Gavino datar penuh penekanan. Danu tersenyum sinis pada Gavino.


" Sejauh apapun kau pergi, aku pasti akan bisa menangkap tikus penganggu sepertimu ".


" Ha..ha..ha..ha...Gavino, Gavino, kau pikir aku akan takut bila kau menyekapku ditempat gelap seperti ini ?, kau salah tuan Gavino, kau hanya pria pecundang yang hanya berani menyerang dibelakang anak buahmu saja ". Tawa Danu mengejek.


" Itulah gunanya aku membayar mereka, tugas mereka ya untuk menangkap tikus got busuk seperti mu ". Balas Gavino.


" BANGSATTTT...beraninya kau mengatai aku ".


" Ha..ha..ha...santai tuan Danu, tidak perlu marah-marah seperti itu, nanti tenagamu habis ". Ujar Gavino, sambil menggoyang-goyangkan kakinya diatas meja.


" Bisakah kau menceritakan padaku, mengapa kau melakukan semua ini, tuan Danu Tirta ?".


" Cciihhh...!! apa kau sangat penasaran tuan gavino ?". Ejek Danu, sinis.


" Tidak juga, bila kau tidak ingin mengatakannya pun tak apa ....!!!". Jawab Gavino santai, memejamkan matanya sejenak, dengan wajah menghadap keatas.


" Aku masih tak percaya, ternyata istrimu seorang wanita yang sangat berpengaruh dan juga berharga. Andai malam itu aku berhasil membawanya pergi, mungkin saat ini dia sudah menjadi milikku, dan aku akan menikmati keindahan tubuhnya, seperti aku menikmati tubuh kekasih tercintamu itu ". Ujar Danu Tirta terus mencoba memprofokasi Gavino, yang sejak tadi mesih terlihat santai. Dan benar saja, mata Gavino langsung terbuka, dan.....


BUG*


Satu tendangan mendarat tepat kewajah Danu Tirta, membuat Danu terjungkal kebelakang, menyebabkan sudut bibirnya robek. Gavino mendekati Danu, lalu berjongkok.


" Jangan pernah coba-coba kau berfikir atau membayangi tubuh istriku, bila kau masih ingin hidup sampai besok pagi ". Ujar Gavino berang, mencengkeram pundak Danu Tirta dan menekannya kencang. Membuat Danu meringis ngilu, terasa tulang pundaknya patah. Namun sekuat mungkin dia menahannya, lalu membalas tatapan tajam Gavino.


" Kenapa ?, bukankah selama ini tanpa kau sadari kita saling berbagi kehangatan dari kekasih kita masing-masing bukan ".


" Kekasih masing-masing?". Tanya Gavino bingung mendengar ucapan Danu.


" Ya...!!! kau menikmati tubuh calon istriku, begitupun aku menikmati tubuh kekasihmu yang murahan itu ". Gavino terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Danu. Namun Gavino tetap tak menemukan jawabannya, karena sebelum menikah dengan Danira, dia tidak pernah menyentuh wanita lain, selain Stevani yang masih berstatus kekasihnya waktu itu. Melihat Gavino tampak lengah, Danu mulai berusaha membuka ikatan tali ditangannya.


" Aku yakin kau tidak tau bukan, bila selama ini kekasihmu bukan hanya menjadi pemuas nafsumu saja, tapi aku dan banyak pria lainnya yang pernah mencicipi tubuh moleknya itu. Dan satu lagi, kecelakaan yang ibumu alami itu semua ulah Stevani, dia yang berencana membunuh ibumu waktu itu ". Danu Tirta terus membuat Gavino hilang fokus, tangannya dibelakang terus bergerak untuk melepaskan tali pengikatnya.


Gavino mengeraskan rahangnya, mengepal kedua tangannya membentuk tinju, dadanya bergemuruh ketika mendengar perkataan Danu. Gavino marah bukan karena ucapan Danu yang mengatakan dia telah tidur dengan Stevani karena itu sudah tidak penting dan Gavino sudah tak ingin tau tentang hal itu, nanti ada waktunya bagi Stevani menerima pembalasan penghianatan yang telah dilakukan Stevani padanya.


Namun yang sangat mengejutkan Gavino ialah kenyataan yang baru dia ketahui bila dalang dibalik kecelakaan ibunya dulu, ulah Stevani.


Bangsat....!!! wanita sialan,.. ternyata dia yang ingin membunuh mami. lihat saja akan aku buat dia lebih menderita dari yang sedang dia alami sekarang. Batin Gavino geram bercampur marah.


Saat Gavino tertalu sibuk berdialong dengan hatinya sendiri, tanpa Gavino sadari Danu telah berhasil membuka ikatan talinya, lalu berdiri dibelakang Gavino, dan......


" Aaakkhh....". Danu mencekik leher Gavino menggunakan tali yang mengikat tangannya tadi, dia menariknya kuat sehingga membuat wajah Gavino memerah karena tercekik, sakit. Diruangan tamaram itu, hanya ada mereka berdua, sebab Gavino telah meminta semua anak buahnya dan Sean keluar. Sehingga tidak ada yang mengetahui bila didalam sana sedang terjadi perkelahian.

__ADS_1


Gavino terus saja mencoba melepaskan belitan tali dilehernya. Dia merasa sesak, nafasnya terasa berkurang, belitan tali itu terasa perih dilehernya, kakinya mulai meronta menendang udara. Gavino terus berusaha melepaskannya dengan cara memukul bagian tubuh Danu.


" Kau akan mati Gavino, kau akan mati ditangan ku saat ini juga, tidak akan ada yang bisa menyelamatkamu kali ini...!!!. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan padaku. Kau telah menghancurkan impian dan masa depanku ". Ucap Danu semakin menarik tali dileher Gavino sekencang mungkin, Gavino bisa melihat kabut dendam Dimata Danu.


" Kini aku akan menjawab pertanyaanmu, agar kau tidak penasaran ketika nyawamu telah melayang sebentar lagi ".


" Ya....akulah orang yang mengambil Desain produk perusahaanmu, dan menjualnya keperusahaan Radenayu Group. Aku juga yang telah meminta Stevani agar membuat penyerangan dimalam itu, dan mengirim seseorang untuk membunuhmu. Aku juga orang yang mensabotase mobil mu, tapi sayangnya semua rencanaku gagal karena istrimu selalu berhasil melindungimu. Tapi kali ini tidak lagi, kali ini kau benar-benar akan mati ditangan ku Gavino". Tekannya semakin mengencangkan tali dileher Gavino, membuat Gavino semakin sulit bernafas.


" Kau harus membayar semua sakit hatiku...!! karena keberengsekanmu aku gagal menikah dengan orang yang aku cintai, aku akan membuat kau merasakan hal yang sama Gavino, saat nafasmu berhenti, disaat itu juga aku akan merebut istrimu dan menggaulinya dengan berutal seperti yang kau lakukan pada calon istriku ". Ujar Danu dengan tawa licik penuh kemenangan.


Danu telah merencanakan semuanya, dia memang berteman lama dengan Stevani sejak dari bangku sekolah menengah atas. Namun saat mereka bertemu, tanpa sengaja Danu mengetahui bila Stevani kekasih Gavino, dia mulai mendekat semakin intens kepada Stevani hinga dia melakukan hubungan se*s dengan sahabatnya itu, hanya demi membalaskan rasa sakit hatinya pada Gavino. Namun sayangnya Gavino tak perpancing ketika Danu mengatakan bila Stevani adalah wanita yang hebat diranjang ketika dia datang keperusahaan Gavino untuk menjalin kerja sama.


Danu terus berusaha mencari kelemahan Gavino, dia ingin menghancurkan Gavino hingga keakar-akarnya, bahkan dia rela mengeluarkan banyak uang demi membayar orang untuk mencuri desain milik Gavino, tapi lagi-lagi usahanya gagal, niat hati ingin mengadu domba perusahaan Gavino dan RA Group gagal total, karena Danu belum mengetahui bila pemilik RA Group adalah istri Gavino.


Mendengar ucapan terakhir Danu, membuat Gavino semakin naik darah, apalagi mendengar Danu ingin menggauli istrinya emosi Gavino semakin membuncah, darahnya mendidih seakan keluar asap dari hidungnya seperti banteng yang siap menyeruduk kain merah.


BUG*


Kaki Gavino yang tadinya mulai melemas, kini berhasil mendaratkan tendangan kekepala Danu, Sehingga tangan Danu terlepas dari leher Gavino.


UHUKKKK


UHUKKKK


UHUKKKK


Gavino terbatuk-batuk, memegang lehernya yang terasa panas dan perih. Matanya langsung menyelang tajam pada Danu yang terjatuh dilantai, sambil memegang sebelah matanya yang mengeluarkan darah akibat terkena sepatu Gavino. Dengan cepat Gavino bangun lalu menendang area perut Danu.


" BAJINGAN.....kau pikir semudah itu kau ingin membunuhku HAH ?, apa katamu tadi, kau ingin merebut istriku ?, jangan mimpi.....!!! "


BUG*


BUG*


BUG*


" BANGUN BRENGSEK....hanya segini kemampuanmu hah ?, katanya kau ingin membunuhku, ayo cepat bangun....!!! Teriak Gavino kencang, hingga suaranya terdengar keruangan luar.


" Kau menuduh aku merusak calon istrimu ?, siapa ?, bahkan aku tak mengenali siapa calon istrimu. Perlu kau ketahui, bahwa aku tidak pernah menyentuh wanita manapun selain Stevani, sebelum aku menikah dengan istriku. Dan kau berani menuduhku tanpa bukti ". Pekik Gavino mencekik leher Danu Tirta.


" Katakan siapa calon istrimu yang kau sebut sudah aku nodai ??". Paksa Gavino.


" A..a.aayu...dia calon istriku. Kami gagal menikah karena ulahmu ". Ujar danu terbata-bata karena sulit berbicara, akibat tekanan tangan Gavino dilehernya.


Calon istri yang dimaksud oleh danu Tirta adalah Ayu, sepupu tiri Gavino. Danu yang sangat mencintai Ayu harus menelan pil pahit 3 Minggu sebelum acara bahagia mereka. Dia mendapatkan kejujuran dari mulut calon istrinya. Ayu mengaku telah diperkosa hingga hamil oleh Gavino, Bakan Gavino meminta ayu menggugurkan kandungannya. Mendengar pengakuan ayu, Danu sangat marah dan murka hingga akhirnya pernikahan mereka yang sudah didepan matapun harus batal begitu saja. Sejak saat itu, Danu sangat membenci gavino dan ingin membalas rasa sakit hatinya, sehingga dia melakukan berbagai macam cara untuk membalas Gavino.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, ayu yang terlalu terobsesi dengan Gavino, sering melampiaskan kekecewaannya ke diskotik, hingga membuatnya sering tidur bersama pria asing ketika mabuk berat. Karena kecerobohannya itu, dia hamil tanpa tau siapa ayah si cabang bayi, apalagi dia mengingat bila 3 Minggu lagi dia dan tunangannya akan menikah, sedangkan Danu tak pernah menyentuh ayu selama mereka menjalin hubungan. Hal itu membuat ayu frustasi, bila Danu tau dia sering melakukan dengan pria yang tidak dikenal, sudah bisa ayu pastikan dia akan mati ditangan Danu. Tidak ada cara lain, dia menggunakan nama Gavino sebagai alasan untuk membatalkan pernikahan mereka. Dan benar saja, Danu termakan oleh semua pengakuan calon istrinya itu.


Mendengar nama Ayu disebut, membuat Gavino melepaskan cekikannya lalu berdiri dari atas tubuh Danu, dia tertawa keras sambil berkecak pinggang.


" HA..HA...HA..HA...Jadi calon istrimu ayu sijalang itu....?!!".


" Jangan sebut dia seperti itu berengsek....karena kebejatanmu dia hampir depresi ". Gavino semakin tertawa mendengar ucapan Danu.


"Bodoh...bodoh, apa yang telah dia katakan padamu, hingga membuatmu termakan cerita palsunya?, apa dia mengatakan bila aku memperkosanya ?!!!". tebak Gavino. Danu hanya diam namun dari sorot kebenciannya Gavino sudah bisa menyimpulkan jawabannya. Gavino kembali mendekat, lalu menarik kera baju danu hingga membuat Danu terduduk.


" Biar aku beritahu, aku tidak pernah Sudi menyentuh wanita ****** itu ".

__ADS_1


" Cuihh...!!! pembohong, kau pikir aku akan percaya dengan ucapan busukmu itu ". Geram Danu. Gavino mendorong tubuh lemah Danu, hingga membentur dinding.


" SEAN.....!!". Teriak Gavino memanggil Sean yang ada diluar ruangan.


" Saya tuan ".


" Berikan rekaman si ****** ayu pada tuan Danu Tirta ". Sean mengangguk, lalu memutar Vidio-vidio ayu yang ingin menjebaknya beberapa tahun yang lalu, kemudian Vidio ayu bersama banyak pria di diskotik dan berakhir dikamar hotel. Membuat mata Danu terbelalak tak percaya, dengan apa yang sedang dia lihat.


" Bagaimana ?, apa sekarang kau masih mempercayai calon istri tercintamu itu hah..?". Tanya Gavino, yang kini telah duduk kembali diatas kursi. Danu masih terpaku ditempatnya, pikirannya masih mengawang kemana-mana, sulit mempercayai bukti-bukti dari Gavino.


" Tidak...tidak...tidak,, ini tidak mungkin. Pasti kau sudah merekayasa semuanya kan. Dia bukan wanita seperti itu ". Ujar Danu pelan, matanya terus melihat rekaman yang sedang berjalan, berkaca-kaca.


" Cckk...cck..cckkk....kau benar-benar bodoh!!!, mau saja percaya dengan ucapan wanita murahan itu. Bahkan kau melakukan kesalahan besar, kau kalah Danu, kau salah sasaran ". Ejek Gavino, tersenyum sinis. Danu semakin tertunduk lemas, hatinya semakin sakit ketika mengetahui bila dia telah ditipu oleh orang yang sangat dia cintai. Niat hati ingin membalas kekecewaannya, namun kenyataan malah semakin memperburuk nasibnya sendiri.


" Kenapa sekarang kau terlihat sangat lesuh, bukankah tadi kau sangat menggebu-gebu ingin membunuhku ?". Gavino kembali berjalan mendekati Danu, yang sudah tak memiliki tenaga, untuk menyanggah semua ucapan Gavino.


" Kau salah mencari lawan tuan Danu, kau bahkan mengantar nyawamu sendiri dengan suka rela kepadaku ".


" Kau bahkan dengan berani melempar batu kedalam kawah gunung yang penuh dengan lahar api neraka, dan kini kawah itu telah memuntahkan laharnya, dan siap membakarmu hidup-hidup ". Ucap Gavino, penuh penekanan dengan nada yang mengerikan, siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri. Mata Gavino yang memerah, rahang mengeras, menampakkan urat-urat dikeningnya. Danu hanya tertunduk diam pasrah, memohon pun akan percuma, karena dia tau betul bagaimana kejamnya Gavino. Gavino tak akan pernah melepaskannya.


" Dan kau juga sudah berani membayangkan ingin menyetubuhi istriku...!!!, kau tak akan pernah bisa bernafas lagi dengan tenang, bahkan kau akan memohon kematianmu padaku ". Ucap Gavino, melepas cengkeramannya dirambut Danu.


" Sean gantung dia dikandang Hyena. Biarkan dia merasakan tersiksanya hukuman dariku, sampai dia sendiri yang memohon kematiannya ". Titah Gavino. Danu tetap diam, hati dan pikirannya seakan berhenti, rasa sakit hati dan kecewa lebih menguasai dirinya dari pada luka lebam dan ancaman dari Gavino.


Danu ditarik paksa keluar dari ruangan tamaram itu, lalu mereka masuk kedalam ruangan yang sangat mengerikan, bau amis darah dan suara-suara hewan kelaparan menyambut kedatangan Danu Tirta. Kini kesadaran Danu mulai kembali, matanya mulai menelisik keseluruh bagian ruangan besar itu, tubuh Danu gemetar, keringat dingin mulai membanjiri badannya, matanya menangkap sosok pria yang tergantung terbalik didalam kandang Buaya berukuran raksasa. Yang menjerit lemah dengan wajah pucat Pasih, meminta tolong.


" Danu berbalik, dia ingin memohon kepada Gavino untuk mengampuninya. Namun sayang rantai telah mengunci kedua kakinya, dalam hitungan detik tubuh Danu telah terangkat keatas, lalu dimasukkan kedalam kandang hyena yang kelaparan.


" GAVINO....!! tolong lepaskan aku, kau bebas memukulku tapi jangan hukum aku seperti ini ". Jerit Danu yang ketakutan melihat 6 ekor hyena mulai berlomba-lomba ingin mencabik tubuhnya. Gavino mendekati kandang yang terbuat dari besi kokoh itu. Dia menyeringai sinis.


" Nikmati saja hari-harimu disini tuan Danu Tirta, aku yakin kau akan menyukai mereka ". Sinis Gavino, berlalu pergi meninggalkan Danu Tirta yang terus saja berteriak memanggil Gavino.


***


Gavino sudah dalam perjalanan pulang, dia diam melihat jalanan keluar jendela mobil. Emosinya masih belum reda, meski dia telah memberikan hukuman pada Danu.


" Sean...apakah wanita itu masih tertahan dibali ?".


" Masih tuan ". Jawab Sean cepat. Gavino manggut-manggut.


" Aku punya tugas baru untukmu....!!!".


.


.


.


Gavino telah sampai didepan pintu penthousesnya, dia membuka pintu perlahan-lahan, memastikan situasi didalam sana. Tak ada siapapun, gelap. Gavino bernafas lega, sepertinya Danira sudah tidur pikir. Gavino, karena semua lampu telah padam, bahkan tv pun tidak menyala, biasanya jika Danira menunggu kepulangannya, tv selalu menyala menemani Danira yang ketiduran di sofa.


Gavino berjalan perlahan, mengendap-endap seperti maling, berjalan berjinjit. Lalu......


TAP*


Semua lampu ruang tamu menyala, membuat Gavino terdiam mematung.


" Mas dari mana ?".

__ADS_1


................................


...Bersambung........


__ADS_2