
Gavino melipat tangannya didepan dada. Dia duduk menegakkan tubuhnya, tanpa menyenderkan punggungnya disenderan kursi pelastik. Dia melihat sekeliling, risih dan merasa jijik. Pandangannya beralih kepada Danira, yang duduk dengan tenang dihadapannya, menyantap semangkuk bakso panas dengan lahap dan Segelas Es teh manis.
" Anda yakin tidak mau ?". Tanya Danira lagi, Gavino menggeleng cepat.
" Tidak, dari tempatnya saja sudah tidak menjamin kehigienisannya. Apa lagi dengan rasanya ". Ujar Gavino dengan tampang jijik.
" Ya sudah jika tak mau, lagi pula rasanya sangat nikmat, benar-benar sesuai selera saya". Danira kembali memasukkan pentol bakso kedalam mulutnya, dia benar-benar menikmati makanan kesukaannya ini.
" Apa kau tidak risih makan disini, lihatlah tempatnya saja kotor seperti ini, bising lagi. Makanan ini benar-benar tidak sehat untukmu. Jika kau sampai sakit akibat makanan itu, lihat saja akan aku hancurkan kedai ini ". Ujar Gavino lagi, Danira mencebikkan bibirnya kesal mendengar suaminya selalu mencela dagangan orang lain. Dan selalu berprasangka buruk.
" Apa menurut anda diskotik tempat yang nyaman dan bersih ?, dan juga alkohol yang sering anda konsumsi menjamin kesehatan bagi tubuh Anda ?". Balas Danira monohok, membuat Gavino bungkam sejenak.
" Cceekkk....!!! ternyata kau pandai membalikkan ucapan juga ya ". Cibir Gavino, menyelang tajam. Danira tak memperdulikan tatapan suaminya, dia fokus menikmati semangkuk bakso panas yang pedas miliknya.
Gavino terus memperhatikan cara Danira makan, yang membuatnya sedikit kasihan.
" Kau tidak kesulitan makan menggunakan penutup itu terus hhmm ?". Danira mendongak melihat Gavino, lalu menggeleng.
" Tidak, saya sudah terbiasa ". Singkat Danira. Gavino tak mengalihkan pandangannya dari Danira. Dia terus memperhatikan cara Danira makan.
Apa memang seenak itu, kenapa dia terlihat benar-benar menikmati makanan kotor ini. Batin Gavino. Aroma bakso yang sedap sedari tadi telah masuk kedalam Indra penciumannya, sejujurnya cacing-cacing dalam perut Gavino telah memberontak minta diisi. Tapi dia terlalu ragu dan gengsi mengatakannya pada Danira. Gavino menelan ludahnya.
" Eekkmmm...!! memangnya itu benar-benar enak ?". Tanya Gavino pelan.
" Sangat....apa anda ingin mencobanya ?". ujar Danira menawari bakso miliknya.
" Tidak....itu makanan tidak sehat ". Tolak Gavino, tapi sayangnya perut dan ucapannya berbanding terbalik. Rasa ingin mencoba sangat besar, Gavino berusaha sekuat tenaga menahan keinginan itu. Dia membuang pandangannya, mencoba mengalihkan perhatiannya dari makanan Danira, tapi lagi-lagi aroma itu benar-benar menggugah selera. Danira tersenyum geli, melihat wajah ingin Gavino yang terlihat lucu.
" Anda yakin tak ingin mencoba, ini sangat enak dan nikmat. Anda tidak akan menyesalinya bila makan bakso ini. Ayo, cobalah. Makanan itu tidak seperti yang ada dalam pikiran anda, tenang saja. Anda tidak akan mati hanya karna mencobanya sedikit, bukan ?". Goda Danira, Gavino melirik Danira tajam. Lalu matanya beralih ke mangkuk yang Danira sodorkan.
" Ya sudah jika tida.....!!!" Belum selesai Danira berucap, mangkuk bakso itu sudah Gavino tarik kehadapanya.
" Sudah aku katakan aku tidak mau. Tapi baiklah, bila kau terus memaksa. Aku akan mencobanya ". Ujar Gavino, dia mengangkat sendok yang berisi kuah berwarna merah itu, ada rasa ragu, tapi tak urung untuk mencobanya. Gavino memelototkan matanya, saat merasakan rasanya.
" Kenapa rasanya seperti ini ?". Tanya Gavino, dengan wajah terkejut. Ini pertama kalinya Gavino mencoba bakso yang ada di kedai pinggiran jalan. Biasanya dia memakan bakso buatan koki dirumah, ataupun di restoran ternama.
" Kenapa, apa menurut anda tidak enak ?, bila anda tidak suka jangan dipaksa ". Ujar Danira, merasa tak enak hati. Tapi Danira dibuat tercengang karena Gavino memakan semua bakso miliknya.
" Pak Tambah 2 mangkok lagi ". Teriak Gavino kepada pemilik kedai, dan diangguki oleh bapak itu. Danira mengerjap-ejapkan matanya. Dia tak salah dengar kan, ini benar-benar suami arogannya yang angkuh dan sombong. pikir Danira.
Gavino meminta Danira membumbui baksonya, seperti bakso milik Danira tadi. Dia tak memperdulikan Danira yang tegah melihatnya, dia terus menikmati 2 mangkuk bakso yang ada didepannya. Gavino menghabiskan bakso-bakso itu hingga tandas dan juga es teh manis yang dia sebut tak higienis tadi.
Ternyata benar-benar enak. Batin Gavino.
****
__ADS_1
Setelah acara makan siang dan sore selesai, kini mereka sudah berada didalam mobil lagi, menujuh desa tempat kediaman Oma Laras berada. Gavino kembali fokus memperhatikan jalanan. lalu melirik Danira sekilas.
" Hekhem....kau jangan berfikir yang tidak-tidak, aku memakan makanan itu tadi karena kau yang memaksa terus. Ternyata rasanya tidak terlalu buruk ". Jelas Gavino, dia tak ingin Danira mengira bila dia menyukai baso tadi. Danira tersenyum manis, mendengar penjelasan Gavino, padahal Danira tak mengatakan apapun, mengapa tuan muda arogan ini harus menjelaskannya.
" Iya...memang sudah terlihat jelas dari cara anda menghabiskan 3 mangkuk tadi ". Sindir Danira, Gavino mencebikkan bibirnya kesal.
" Oohh...jadi kau sudah pandai mengejekku sekarang..hhmmm !!, kau mengejek aku ". Ujar Gavino reflek mengelitik Danira. Mendapat serangan itu, Danira tertawa terbahak-bahak karena merasa kegelian.
"HA..Ha..Ha....Ampun, ampun saya tidak bermaksud mengejek anda ". Ucap Danira disela tawanya ". Gavino ikut tersenyum senang mendengar Danira tertawa renyah seperti itu, tapi itu tak berlangsung lama. Mereka berdua seakan teringat sesuatu lalu sama-sama terdiam. Danira menarik tangannya perlahan, yang tadi berusaha mengehentikan tangan Gavino mengelitiknya. Seketika suasana canggung amat terasa didalam mobil.
Mengapa kau melakukan hal konyol seperti tadi Gavin, itu sangat memalukan. Kau benar-benar bodoh Gavino. Batin Gavino merutuki dirinya. Dia melirik Danira disampingnya.
" Eemm...Sorry ". Ujar Gavino pelan. Merasa tak enak karena telah lancang menyentuh Danira.
" Tidak apa, bukankah Anda tidak sengaja ?". Jawab Danira canggung bercampur gugup. Gavino mengangguk. Mereka berdua kembali terdiam dengan debaran didada masing-masing.
" Apa rumah Oma masih sangat jauh ?". Tanya Danira memecah keheningan diantara mereka. Gavino menoleh sebentar lalu kembali fokus kedepan.
" Iya, mungkin sekitar 1,5 jam lagi. Kita akan tiba sebelum pukul 6 sore ". Danira mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Danira..."
" Ya.."
" Anda ingin menanyakan apa ?". Tanya Danira melihat Gavino.
" Apa hubunganmu dengan pemilik Radenayu Group, memang sedekat itu ?, maksudku apa persahabatan kalian memang sangat erat ?, sehingga dia bersedia memberikan perlindungan untukmu seperti kemarin saat kau pergi dari rumah ?". Tanya Gavino, dia masih menyimpan banyak rasa penasaran tentang Danira dan pemilih perusahaan Radenayu Group. Danira diam sejenak, tampak berfikir haruskah dia berbohong lagi, atau mengajarkan kejujurannya.
" Iya...sangat erat ". Jawab Danira, dia memilih tidak jujur, karena banyaknya pertimbangan.
" Apa dia punya kakak atau adik laki-laki ?".
" Kenapa anda menyakan itu ?". Tanya Danira bingung dengan pertanyaan Gavino.
" Jawab saja, ada atau tidak ?".
" Tidak, dia hanya memiliki kakak perempuan. Namun kakaknya telah lama meninggal ". Jawab Danira jujur. Gavino melihat Danira sekilas, terkejut mendengar jawabannya.
Syukurlah....Batin Gavino. Dia senang bila pemilik Radenayu Group tidak memiliki anak laki-laki. Jadi besar kemungkinan, keluarga itu tidak akan menjodohkan Danira dengan anak laki-laki mereka, pikir Gavino.
" Apa sahabatmu itu tinggal dirumah yang kemarin kau tinggali juga ?".
" Dari mana kalian bisa berkenalan ?". Lagi-lagi Gavino menanyakan tentang pemilik Radenayu Group, dia ingin mencoba menggali informasi tentang pemilik Radenayu Group yang misterius itu dari istrinya ini. Danira menautkan alisnya melihat Gavino.
" Sepertinya anda sangat tertarik dengan sahabat saya ?, apa anda menyukainya ?".
__ADS_1
" Bagaimana bisa aku menyukai orang yang belum aku kenal dan tidak tau bentuk rupanya seperti apa ".
" Aku hanya penasaran saja, kami menjalin hubungan kerjasama, tapi sampai saat ini kami belum pernah bertemu. Dia terkesan misterius. Bahkan data dirinya pun tidak ada yang tau. Jadi ketika aku mengetahui bila kalian bersahabat dekat, itu sangat mengejutkanku ". Ujar Gavino tetap fokus pada stir mobilnya.
" Jadi anda akan menyukai seseorang karena melihat rupanya saja ?".
" Tentu....!!".
" Apa anda percaya dan meyakini adanya Allah dan Rasul-nya?". Gavino menoleh melihat Danira, Gavino bisa merasakan keseriusan dari nada suara Danira.
" Mengapa kau menanyakan hal itu ?".
" Jawab saja, saya hanya ingin tau. Apakah anda percaya dan cinta kepada Allah dan Rasulnya?". Ulang Danira lagi.
" Tentu aku percaya dan cinta, memangnya kenapa ?".
" Bagaimana bisa anda memiliki rasa percaya dan cinta terhadapNYA ?. Bukankah Anda tidak pernah melihat bagaimana wujud dan rupa NYA ?". Tanya Danira lagi, Gavino terdiam mendengar pertanyaan Danira. Dia bingung harus menjawab apa. Meski pertanyaan Danira terkesan sederhana, namun tetap tak bisa membuat Gavino menjawabnya.
Karena tak mendengar jawaban dari Gavino, Danira kembali menatap jalanan didepan sana.
" Ini lah mengapa hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Karena anda hanya akan menerima saya bila telah melihat rupa saya saja. Dan saya tidak akan pernah menunjukkannya bila dihati anda belum bisa menerima saya apa adanya. Apa lagi anda masih memiliki hubungan sepesial dengan wanita lain ". Gumam Danira pelan, membuang pandangannya keluar jendela, sambil memangku dangunya dengan tangan kiri.
" Kau mengatakan sesuatu ?". Tanya Gavino melirik sekilas. Danira menjawab dengan gelengan kepala.
Perjalanan mereka mulai memasuki kawasan hutan, sebelum sampai kedesa Oma Laras. Mereka harus melewati hutan yang bernama Hutan Adat Pikul Pengajid, mereka harus melewati hutan yang seluas 100 hekter itu terlebih dahulu. Cuaca tampak mendung, angin mulai berhembus kencang, awan hitam mulai bertebaran dilangit. Menandakan sebentar lagi akan turunnya hujan. Dan benar saja, gerimis pun mulai turun.
" Cceekkk....Kenapa harus hujan sekarang sih ?". Kesal Gavino, memukul stirnya.
" Jangan mencela hujan. Hujan itu Rahmat dari Allah. Seharusnya anda perbanyak berdoa ketika hujan turun, karena itu salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Bukan malah mencelanya ". Danira kembali mengingatkan tuan muda arogan yang ada disampingnya ini. Gavino mencebikkan bibirnya, lagi-lagi Danira menceramahinya. pikir Gavino.
" Aku bukan mencela hujan, tapi dia turun diwaktu yang tidak tepat. Coba kau lihat, kita sudah memasuki kawasan hutan, dan lihatlah jalanannya ini masih berbentuk tanah yang belum diaspal. Bila hujan sekarang maka jalannya akan menjadi licin, lalu aku harus memperlambat laju mobil ini dan kita berdua akan terlambat sampai dirumah Oma. Begitu ibu ustazah, apa sudah paham...!!! ". Jelas Gavino, menekan nada suaranya yang sedang kesal.
" Ini lah alasan mengapa aku selalu menolak kerumah Oma. Sudah jalannya masih berbentuk tanah, harus melewati hutan dan jauh dari mana-mana lagi, seperti terisolasi. ". Sungut Gavino yang mulai memperlambat kecepatan mobilnya, karena gerimis telah berganti hujan. Danira memilih diam, dia tak ingin membuat Gavino semakin kesal.
" Jika anda tau jalannya seperti ini, mengapa anda tidak membawa supir seperti biasa ?". Tanya Danira, ini adalah pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan. Namun selalu diurung, karena melihat Gavino yang selalu kesal padanya.
" Itu karena aku ingin menghabiskan waktu berd.......!!!.
DORRRRR**
DORRRRR**
......................
...Bersambung.......
__ADS_1