CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
105. Rahasia Baru


__ADS_3

Oma Laras mengintogasi Danira dari tatapannya, melihat gestur Danira yang memang bukan seperti kalangan orang biasa.


" Siapa kau sebenarnya ?".


Deg*


Danira terkejut mendegar pertanyaan Oma Laras, apa Oma Laras mencurigainya, atau Oma Laras telah mengetahui siapa dia sebenarnya. pikir Danira, tangannya kembali meremas gaun pengantinnya sama halnya seperti waktu awal dia menikah dengan Gavino, bedanya jika dulu yang melemparkan banyak tuduhan dan pertanyaan adalah Gavino, kini berganti dengan Oma Laras.


Apa Oma akan memintaku berpisah dari cucunya. Batin Danira.


" Apa maksud Oma ?".


" Jawab saja, siapa kau sebenarnya ?, mengapa namamu memiliki gelar kebangsawanan didepannya, lalu apa hubunganmu dengan kesultanan Brahmacari penguasa kerajaan di jawa ?". Oma Laras melemparkan banyak pertanyaan pada Danira. Mendengar itu Danira terdiam, menunduk. Tidak tau harus berkata apa.


" Apa benar kau putri kandung dari Raja Adiwilaga Batara Brahmacari ?". Danira masih diam menunduk, menimbang-nimbang haruskah dia mengatakan kebenarannya.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


" Benar Oma, aku putrinya ". Ucap Danira jujur, menganggukan kepalanya. Oma Laras gemetar, matanya melotot, menutup mulutnya syok, dia sangat terkejut mendengar pengakuan Danira. Tanpa diduga Oma Laras turun dari atas sofa, lalu meletakkan kedua lututnya dilantai, kemudian bersujud seperti memberi hormat pada Danira, tentu saja hal itu membuat Danira terkejut, lalu ikut duduk dilantai.


" Apa yang Oma lakukan ?, mengapa bersujud seperti ini ?". Tanya Danira, mencoba mengajak Oma Laras bangun.


" Maaf...!! maafkan aku terlambat menyadari siapa dirimu sebenarnya ". Ucap Oma Laras, mengatupkan kedua tangannya didepan Danira, melihat itu membuat Danira semakin tak nyaman.


" Oma tolong jangan begini, aku juga manusia bukaan tuhan yang harus diperlakukan istimewa, ayo kita duduk diatas saja, aku mohon ". Pinta Danira memegang lengan Oma Laras, lalu mengajak duduk tepat disampingnya.


" Bagaimana bisa, bukankah kau sudah....!". Oma Laras tak melanjutkan ucapannya, dia terus menatap mata Danira.


" Aku memang masih hidup Oma, aku tidak pernah mati seperti yang diberitakan. Aku juga tidak tau apa alasan bapak mengeluarkan surat kematianku bahkan menghapus semua tentangku dari dunia luar ". Oma Laras semakin terkesiap mendengar ucapan Danira.


" Lalu dimana ibumu sekarang nak ?". Tanya Oma Laras. Air mata Danira telah menggenang di pelupuk mata, dia menunduk.


" Semua keluargaku sudah tiada Oma, mereka meninggal terbunuh didalam rumah kami ". Jawab Danira bergetar. Lagi-lagi Oma Laras terperanjat mendengar berita yang baru saja dia dengar.


" Ya Tuhan....apa yang sebenarnya terjadi. Lalu selama ini kau tinggal dimana nak ?". Tanya Oma, matanya telah basah akibat air mata.


" Bapak menitipkan aku di sebuah pondok pesantren sahabatnya Oma, aku tumbuh dan besarkan disana ". Jawab Danira sambil tersenyum pilu. Danira menceritakan kejadian malam itu. Oma Laras syok, Dia tak menyangka orang yang begitu baik, bisa dibunuh secara sadis.


" Ya Tuhan...malang sekali nasibmu nak, Oma tak bisa membayangkan betapa menderitanya kamu selama ini. Oma juga tak habis fikir mengapa ada orang yang begitu tega melakukan hal keji seperti itu kepada keluargamu ".


" Tidak apa Oma, Aku sudah mengikhlaskan semuanya, aku hanya berdoa semoga pelakunya cepat bertaubat ".


" Oma...!!, Bagaimana Oma bisa mengenal orang tuaku ?". Tanya Danira yang juga penasaran. Sepertinya Oma Laras banyak mengetahui tentang keluarganya. pikir Danira.


" Oma tidak mengenal orang tuamu secara dekat, hanya sekedar tahu saja. Dulu sekitar 40 tahun yang lalu saat Oma dan Opa ada kunjungan ke keratonan, Oma sempat bertemu sekali, mereka sangat ramah. Orang tuamu menyambut kedatangan kami dengan sangat baik meski itu pertemuan pertama kami, Ibumu yang cantik dan anggun, dia wanita yang sangat menawan, matanya yang indah persis seperti bola matamu ".


" Kemudian sekitar 2 tahun berikutnya, Oma dan opa diundang lagi ketika penobatan ayahmu menjadi raja, waktu itu ibumu dinyatakan hamil kamu, anak pertama mereka setelah penantian lama ". ujar Oma Laras, mata Danira memanas, hatinya merasa senang bisa mendengar kisah orang tuanya meski sedikit namun ada ucapan Oma Laras yang membingungkan Danira. Oma Laras bangun dari duduknya, berjalan menujuh sebuah lemari yang terbuat dari jati, lalu mengambil sesuatu dari dalam sana.


" Penantian lama ?, bukankah ibu dan bapak sudah memiliki kak Shena anak pertama mereka ?". Tanya Danira bingung, Oma menggeleng kan kepalanya.


" Dia bukan putri kandung orang tuamu, mereka mengadopsi Shena sejak bayi, karena orang tuamu telah lama menikah belum juga dikaruniai keturunan, hingga mereka sepakat untuk mengadopsi seorang bayi. Oma hanya tau ceritanya sampai disitu ". Jawab Oma, sambil berjalan mendekati Danira lagi. Tentu saja berita yang baru saja dia dengar membuat Danira terkejut tak percaya. Danira terdiam sejenak, pikirannya melayang-layang mencoba mencerna rahasia baru, yang baru saja diketahuinya.


" Itulah mengapa sejak awal Oma selalu memperhatikanmu dan juga Khalisa. Oma sudah curiga bila dia bukan putri kandung mu, karena kalian tak memiliki kemiripan sama sekali ". Danira masih terdiam, hatinya masih sulit mempercayai semua ini. Hingga Danira tersadar, ketika Oma Laras meletakkan sesuatu di pangkuan Danira.


" Apa ini Oma ?".


" Buka lah ". Ujar Oma, meminta Danira membuka album foto itu. Danira perlahan membukanya, disana terdapat foto-foto jadul, masih berwarna hitam putih. Danira kembali melihat Oma Laras, meminta penjelasan.

__ADS_1


" Ini adalah foto-foto saat Oma dan opa datang kerajaan keluargamu dulu. Sebenarnya Opa yang lebih sering berkunjung kesana Karena adanya pekerjaan, namun Oma beberapa kali diajak, itu pun karena Oma yang memaksa ingin ikut ". Ujar Oma Laras tertawa mengingat masa lalunya dan suami.


" Kau lihat ini ". Tunjuk Oma Laras pada sebuah foto, disana ada 6 orang yang berjejer rapi.


" Ini Adalah Eyang Kakung mu, Sultan Agung Abimanyu Brahmacari ". Tunjuk Oma Laras pada sebuah foto pria yang berwajah tegas dan bijaksana, dengan postur tubuh tinggi berisi. " ini foto eyang putrimu, Sultana Agung Sasmaya putri Brahmacari, saat masih muda, sangat mirip denganmu, apa kau sudah pernah bertemu dengan mereka ?". Tanya Oma Laras, Danira menggeleng, air matanya pun telah terjatuh mengenai gambar wajah sang ibu. Oma Laras mengelus pundak Danira.


" Jika yang ini kau pasti sudah mengenalnya kan ?". Tunjuk Oma lagi pada gambar pria dan wanita yang berdiri di sisi kiri. Danira mengangguk.


" Mereka Bapak dan ibu ". Jawab Danira, air matanya semakin membanjiri pipi, melihat foto jadul keluarganya. Oma membasuh air mata dipipi Danira penuh kasih sayang.


" Kau memiliki sifat yang sama persis seperti eyang putrimu, lembut namun tegas, penyayang namun bijak. Jika mereka masih hidup, pasti mereka akan sangat bangga padamu Danira ". Ujar Oma memeluk Danira.


" Apa Eyang Kakung dan Eyang putriku sangat baik Oma ?".


" Kata baik tak bisa menggambarkan mereka berdua, mereka sangat dermawan dan penuh belas kasih, bahkan dulu saat usaha opa sedang jatuh, eyang kakungmu dengan senang hati menawarkan kerjasama. Lalu disaat musim paceklik melanda di hampir keseluruh penjuru negara. Opa mengirimkan surat meminta bantuan kepada beliau. Waktu itu opa sudah sangat pasrah bila eyangmu tak bisa membantu, karena melihat situasi waktu itu sangat sulit. Tapi ternyata 5 hari berikutnya, eyang kakungmu mengirimkan orang untuk mengantarkan banyaknya bahan pokok ke sini, lalu terdapat surat menyatakan agar semua bahan pokok yang ada, dibagi rata ke masyarakat yang membutuhkan ".


" Eyang kakung dan Eyang putrimu banyak sekali berjasa kepada keluarga Oma dan opa, hingga kami tidak tahu harus membalasnya seperti apa ". Ujar Oma Laras, menceritakan kilas balik sejarah pertemuan dirinya beserta suami kepada keluarga Danira, Danira terus mendegarkan secara seksama, meski dia belum pernah sama sekali bertemu Eyang Kakung dan Eyang putrinya, tapi Danira bisa membayangkan betapa baiknya mereka, terpancar dari cara Oma Laras menceritakan kisah mereka dengan raut wajah bahagia.


" Apa kau tau, Oma sangat menyukai kepribadian keluarga kekeratonan itu. Hingga Oma pernah berangan-angan didalam hati, Semoga saja suatu hari nanti, anak, cucu atau cicit Oma ada yang berjodoh dengan keturunan mereka. Ternyata Tuhan mendengar harapan Oma. Tanpa kita duga, kau dan Gavino menjadi pasangan suami istri. Oma sangat bersyukur dan bahagia ". Ujar Oma Laras tersenyum menampakkan beberapa gigi yang hampir habis, Danira membalas senyuman lalu kembali melihat foto-foto di album itu.


" Danira boleh Oma bertanya sesuatu ?". Danira mengangguk.


" Jika ayahmu pergi meninggalkan tahtanya, dan kau dinyatakan meninggal. lalu yang menjadi raja sekarang siapa ?, setau Oma, ayahmu tidak memiliki saudara, karena keluarga kerajaan sangat sulit memiliki keturunan, akibat Eyang kakung maupun Ayahmu memilih tak memiliki selir ". Danira terdiam, dia juga tak tau harus menjawab apa, Danira sering mencari artikel tentang keluarga kekeratonan, namun semuanya seakan ditutup, data pribadi merekapun tak bisa Sarah akses. Diberita harian pun hanya memberitakan kinerja yang baik-baik saja, tanpa memberitakan kehidupan didalam sana.


" Maaf Oma, Danira tidak bisa menjawab pertanyaan Oma, karena danira pun belum banyak tau tentang keluarga Danira sendiri ". ujar Danira. Oma Laras hanya mengangguk-anggukkan mengerti apa yang dialami Danira.


Ya Allah... jadi kak Shena bukan kakak kandungku ? dan siapa yang menjadi raja sekarang ?, mengapa semakin hari mulai banyak teka teki yang bermunculan. Batin Danira bertanya-tanya.


" Apa Gavino sudah mengetahui siapa kamu ?". Tanya Oma lagi, Danira menoleh lalu menggeleng.


" Belum Oma ". Jujur Danira.


***


Diluar Ruangan.


Gavino berjalan kesana kemari mencari keberadaan Danira. Gavino yang tadi pergi keluar untuk mengangkat panggilan telpon dari Sean meminta Danira untuk kembali kekamar mereka terlebih dahulu, namun saat Gavino masuk kekamarnya, dia tak menemukan sang istri disana.


" Mami dimana Danira ?". Tanya gavino ketika melihat Ny. calina yang baru saja keluar dari dapur.


" Mana mami tau, mami tidak mengantongi istrimu ". Ujar Ny. Calina santai.


" Aku serius mi ". Geram Gavino.


" Mami dua rius Gavino ". Jawab Ny. calina, Gavino mencebik bibirnya sebal dengan jawaban ibunya.


" Memangnya istrimu kemana ?". Tanya Ny. calina balik.


" Jika aku tau dia dimana, aku tidak mungkin menanyakannya pada mami ". Ujare Gavino, berlalu pergi mencari Danira lagi.


" Ddiihhh mami kan cuma bertanya Gavin, gitu aja sewot. Tapi iya juga sih, bila dia tau, dia tak mungkin bertanya". Ujar Ny. calina, berbicara sendiri. Lalu mengangkat kedua pundaknya berlalu pergi.


Gavino melangkah ketaman belakang, mungkin sosok istrinya berada disana. pikir Gavino. Namun sampainya disana, dia tak melihat Danira yang ada hanya beberapa anggota keluarga yang sedang mengobrol, dan para pelayan yang berlalu lalang.


" Kemana sih dia, mengapa pergi tidak bilang dulu ". Gumam Gavino kesal. Gavino mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan wanita.


"Iya tuan ".


" Apa kau melihat kemana Nyonya Danira ?". Tanya Gavino, saat pelayan itu telah berdiri didepannya.


" Tadi saya melihat beliau masuk kedalam kamar Oma tuan ". Jawabnya sambil menunduk. Tanpa berkata lagi, Gavino berjalan cepat menujuh kamar sang Oma.

__ADS_1


**


" Kenapa kau tidak memberi tahu Gavino?". tanya Oma Laras, bingung mengapa Danira masih merahasiakan jati dirinya.


" Tidak apa-apa Oma, aku belum siap saja. Lagi pula cepat atau lambat juga mas Gavino akan tau dengan sendirinya ". Ujar Danira, kembali tersenyum.


" Tapi alangkah leb.....".


Cekrek *


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan kedua wanita itu. Danira segera menarik burqanya kebawah, menutup kembali area matanya. Sosok pria tinggi nan tampan muncul dari balik pintu.


" Oh jadi ternyata Oma yang menculik istriku ?". Ujar Gavino berjalan mendekati mereka.


" Menculik ?".


" Iya...aku kesana kemari mencari istriku, ternyata dia ada disini, itu sama saja Oma menculinya dari ku ". Ucap Gavino, melipat tangannya kedepan dada. Oma Laras memukul kaki Gavino dengan tongkatnya, dengan cepat Gavino menghindar.


" Kau memang cucu kurang ajar, kau pikir Oma penjahat ". Kesal Oma Laras. Gavino tak memperdulikan ucapan sang Oma, gavino mendekat, lalu duduk disamping Danira.


" Apa yang kalian bicarakan, mengapa hanya berdua saja. Apa ini sangat rahasia ?".


" Tentu, ini sangat rahasia. Kau pun tak boleh mengetahuinya ". Sungut Oma, menyenderkan punggung ke sandaran sofa.


" Benarkah ?". Ujar Gavino lagi, lalu matanya menangkap benda yang ada dipangkuan Danira.


" Cckkk...jadi Oma menceritakan tentang kerajaan kesayangan Oma ini pada istriku juga ?". Ujar Gavino, duduk bersandar membentangkan tangan kirinya disandaran sofa.


" Tentu Oma harus menceritakannya, dia juga harus tau sejarah bagaimana Oma bisa kenal dengan keluarga.....". Ucapan Oma Laras terhenti, saat Danira menyentuh lutut Oma Laras. Oma Laras menghela nafasnya.


" Apa Oma tidak bosan menceritakan keluarga dongeng itu terus menerus, aku bahkan sudah bosan sedari kecil Oma memuji mereka, menceritakan kebaikan mereka ". Ujar Gavino mencibir Oma Laras .


" Mereka bukan keluarga dongeng Gavino, mereka benar adanya, kau ini ". Geram Oma Laras, dengan ketidak percayaan Gavino.


Sejak dulu, ketika Oma Laras menceritakan tentang kekeratonan, Gavino tak pernah mempercayainya, menurut Gavino semua itu hanya dongeng. Meski Oma memberikan foto-foto sebagai bukti, tapi Gavino tetap tak mempercayai, Gavino berpendapat bila itu hanya karangan sang Oma karena terlalu suka dengan cerita menyangkut kerajaan. Meski Gavino pernah mendengar di pulau Jawa masih ada satu sistem kerajaan yang masih berdiri, dia tetap tak mempercayainya, menurutnya itu hanya sebuah perusahaan bisnis, yang berkedok kerajaan. Supaya menarik minat masyarakat yang senang dengan cerita-cerita sejarah seperti itu.


" Kau jangan terlalu percaya, Oma terkadang suka mengada-ada. Aku yakin keluarga yang Oma ceritakan tidak pernah ada ". Bisik Gavino ketelinga Danira, Danira menoleh melihat wajah suaminya, menatap Gavino penuh dengan tanda tanya dikepalanya. Gavino berdiri lalu melihat pada Oma Laras.


" Oma aku dan Danira akan pulang kejakarta sekarang ".


" Sekarang ?, kenapa ?". Tanya Oma Laras terkejut mendegar ucapan Gavino yang mendadak.


" Aku ada pekerjaan mendesak, jadi aku harus pulang sekarang ".


" Kau saja yang pulang, Danira biar tetap disini dulu ". Ucap Oma Laras, memegang tangan Danira.


" Tidak bisa begitu Oma, kami baru saja menikah tadi, masa harus berpisah lagi ". Tolak Gavino tak terima.


" Biar saja, Oma tidak perduli. Salah kau sendiri mengapa buru-buru sekali ". cuek Oma terus memegang tangan Danira.


Danira melihat wajah suaminya yang masam, meski Danira masih ingin tinggal lebih lama dengan Oma Laras, dia ingin mendengar lebih banyak cerita tentang keluarganya, tapi Danira tak boleh egois, dia harus lebih mementingkan suaminya, dia harus ikut kemanapun suaminya pergi.


" Oma....!! Danira ikut mas Gavin pulang kejakarta dulu ya, lain kali Danira akan berkunjung kesini lagi, bertemu Oma. Sekarang Danira harus ikut mas Gavin, karena tidak mungkin Danira membiarkan suami Danira pergi sendiri, apa lagi dia tidak mengijinkan Danira tinggal, Danira akan berdosa bila membangkang. Tidak apa kan Oma ?". Ujar Danira lembut, penuh hati-hati memberi pengertian. Oma Laras melihat Danira, lalu berganti melirik Gavino kesal.


" Kau beruntung vino, memiliki istri yang sangat baik dan patuh seperti Danira. Oma hanya berpesan jangan pernah kau menyakitinya Vin, karena Oma sangat menyayanginya ". Ujar Oma Laras, dengan mata berkaca-kaca, Gavino melihat Omanya. mendekat.


" Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakitinya ".


......................


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2