
Di Garayudha Company.
Gavino yang sedang menghadiri meeting dengan semua pemegang saham, tampak tidak fokus mendengarkan penjelasan seseorang yang ada di kursi bagian lain. Hati Gavino gelisah, matanya tak beralih dari ponselnya yang dia letak diatas meja.
^^^Gavino :"SAYANG.....?!!". Gavino kembali mengirim pesan kepada danira.^^^
Lama menunggu, namun belum juga ada tanda-tanda Danira membalas pesannya, hanya dua centang biru yang menandakan bila pesan itu telah dibaca. Gavino menggetok-getok ponselnya, mengangkat tinggi seperti sedang mencari sinyal. Semua orang yang ada diruang meeting itu mengalihkan perhatian mereka kepada Gavino.
" Ada apa tuan ?". Tanya Sean penasaran, sejak tadi Gavino hanya sibuk pada ponselnya.
" Coba kau cek ponselku, apa ini rusak ?". Gavino menyodorkan ponselnya kepada Sean, Sean menautkan alisnya bingung.
" Maaf tuan, ponsel anda tidak mungkin rusak, bukankah baru kemarin anda menggantinya ". Bagaimana mungkin bisa rusak, kemarin Sean sendiri yang membelikan ponsel keluaran terbaru untuk Gavino, bahkan dalam 1 bulan ini Gavino telah mengganti ponsel sebanyak 12 kali, hanya karena lecet bagian pinggir casingnya saja.
" Bila tidak rusak, kenapa istriku tidak membalas pesanku, biasanya dia paling cepat membalasnya ". Kesal Gavino.
" Mungkin Nyonya sedang sibuk tuan, atau beliau juga ada pertemuan penting ".
"Tidak mungkin ini saja pesa.....!!!".
Tring**
Kalimat Gavino terhenti ketika mendengar nada pesan masuk, buru-buru dia merebut ponselnya dari tangan Sean. Namun ketika dia membaca pesan tersebut, bukannya senang, Gavino malah semakin mengerutkan dahinya bingung.
...My Wife: Iya....tidak apa-apa!!"....
" Kenapa dia balas seperti ini, biasanya selalu ada kata-kata manis, tapi kenapa ini kesan dingin sekali ?". Gumam Gavino, dia ingin mengetik pesan kembali, namun suara Sean menghentikan jarinya.
" Maaf tuan, dewan direksi masih menunggu anda ". Gavino mengangkat kepalanya melihat semua mata yang sedang melihat kearahnya. Gavino langsung meletakkan kembali ponselnya.
" HEKHEM.....lanjutkan ". Ujar Gavino. Gavino kembali memasang wajah datarnya, tak merasa bersalah sedikitpun. Padahal dia baru saja melanggar peraturan yang telah dia buat sendiri. Yaitu dilarang bermain ponsel saat pertemuan berlangsung. Namun Gavino tak perduli, rasanya saat ini Gavino ingin sekali pergi, menemui istrinya, menanyakan mengapa dia membalas sangat singkat seperti itu. Tapi sayangnya, saat ini Gavino tidak bisa kemana-mana, karena pertemuan ini sangat penting tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Para anggota dewan pun kembali memperhatikan lalu menjelaskan prihal-prihal yang ingin mereka sampaikan kepada Gavino.
Gavino melirik Sean yang berdiri dibelakangnya, lalu mengangkat jarinya, meminta Sean mendekat, dia berbisik.
" Hubungi nyonya, tanyakan dimana dia saat ini ". Titah Gavino, Sean hanya mengangguk lalu keluar dari ruang meeting itu.
Setelah 10 menit Sean keluar, kini dia kembali masuk lalu sedikit menunduk mendekat Gavino.
" Maaf tuan, ponsel nyonya tidak bisa dihubungi, sedangkan Sarah tidak menjawab sekalipun panggilan-panggilan saya ". Ujar Sean, memberi tahu. Mendengar hal itu membuat Gavino semakin resah.
Tumben sekali, tidak biasanya ponselnya mati. Batin Gavino.
" Apa ini masih lama ?". Tanya Gavino pada Sean, setengah berbisik.
" Mungkin sekitar 3 jam lagi tuan...!". Gavino membelalakkan matanya.
" Hah....3 jam, apa tidak bisa dipercepat ?". Sean hanya menggeleng pelan, sebagai jawaban.
" Cckkk....". Gavino mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada pertemuan ini. Tapi tak bisa Gavino pungkiri bila dia sangat khawatir, bertanya-tanya dalam benaknya, kemana Danira saat ini.
" Minta Bayu, mengecek istriku dikantornya ". Bisik Gavino, Sean kembali mengangguk lalu keluar.
Gavino duduk dengan gelisah, berkali-kali dia merubah posisi duduknya, miring kekiri, miring ke kanan, memangku dagu, menggigit ibu jari, lalu kembali menegakkan tubuhnya, bahkan air mineral diatas mejanya telah habis 2 botol, akibat gerah dari dalam.
" Bisakah kalian lebih cepat, langsung saja pada intinya. Tidak perlu berputar-putar seperti ini. Lelet sekali...!!! ". Ketus Gavino sudah tak tahan, dia ingin segera pergi dari ruangan yang mengesalkan ini. para pria-pria yang sebagian telah beruban itu saling pandang, merasa aneh dengan tingkah Gavino, yang tidak biasanya begini.
" Apa telah terjadi sesuatu tuan, sehingga anda terlihat khawatir dan tidak tenang sedari tadi?". Tanya salah seorang dari anggota itu.
" Ya...!!". Singkat Gavino. Saat pria tadi ingin bertanya lagi, Sean kembali masuk, buru-buru. Sean berbisik ditelinga Gavino. Mendengar apa yang baru saja Sean sampaikan, membuat Gavino langsung berdiri dari kursinya, wajahnya tampak tegang, berubah merah. Dia berlalu pergi meninggalkan ruangan pertemuan itu tanpa mengatakan apapun.
" Tuan-tuan, sepertinya pertemuan kali ini cukup sampai disini dulu, saya akan menjadwalkan ulang untuk pembahasan yang belum terselesaikan. Tapi untuk saat ini, tuan Gavino tidak bisa menyelesaikan pertemuan ini sampai dengan waktu yang telah dijadwalkan, karena beliau dalam keadaan kurang enak badan, jadi beliau butuh istirahat. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya ". Ujar Sean, lalu membungkuk kepada dewan direksi, yang telah berbisik-bisik disana.
***
Didalam ruangannya, Gavino mondar-mandir sambil terus mencoba menghubungi nomor ponsel Danira, tapi lagi-lagi hanya suara wanita yang menjawab panggilan Gavino.
__ADS_1
Maaf, saat ini nomor yang anda tuju tidak bisa menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi. Suara wanita operator terus saja mengatakan hal yang sama, membuat Gavino semakin geram bercampur kesal, dia mengeraskan rahangnya.
" Aakkhhh....sial.., kemana kau Danira.!!!". Geram Gavino, lalu melirik Sean yang baru membuka pintu.
" Apa saja yang Bayu katakan, apa dia yakin istriku benar-benar tidak ada dikantornya ?".
" Menurut info dari Bayu, dia sudah datang ke RA Group untuk memastikan keberadaan Nyonya, dan staff disana mengatakan bila Nyonya ada didalam ruangannya. namun saat dipastikan, ruangan itu kosong tak ada siapapun, padahal orang-orang yang biasa mengawasi nyonya juga tak melihat nyonya keluar dari gedung itu".
" Jadi maksudmu istriku menghilang lewat tembok, seperti hantu begitu ?, bila ingin bergurau jangan sekarang, ini sangat tidak lucu Sean !!!". Kesal Gavino, bagaimana mungkin istrinya menghilang didalam gedung perusahaannya sendiri. pikir Gavino.
" Tuan, ada salah satu pengawal mengatakan bila tadi mereka melihat Nona Stevani datang menemui nyonya ". Sean memberitahu, apa yang disampaikan oleh pengawal yang dikirim Gavino untuk menjaga Danira.
Deg*
Gavino terkejut lalu melihat Sean tajam.
" Apa......!!! Stevani ...?"
" Bagaimana bisa, bukannya aku sudah memintamu menahannya di Bali ?". Tanya Gavino bernada ketus.
" Iya tuan, barusan saya juga menghubungi orang-orang yang bertugas menahannya di bali, mereka juga baru tau bila nona Stevani kabur ". Sean memberi tahu Gavino sedikit takut-takut, pasalnya dia tau bagaimana kemarahan Gavino bila apa yang di perintahkan gagal.
" Berengsekkkk....,!!!! bagaimana dia bisa kabur hah. Hubungi mereka lagi aku ingin bicara ?". Ujar Gavino marah. Sean segera menghubungi ketua pengawal yang ditugaskan untuk mengurung Stevani, tak lama panggilan itupun diangkat.
" Bagaimana dia bisa kabur bodoh ??". Teriak Gavino, Membuat orang yang ada di seberang sana menjauhkan ponselnya dari telinga, sambil gemetar.
" Ma...ma..maafkan kami tuan, kami tidak tau bila nona Stevani kabur. Padahal kami telah menguncinya didalam kamar itu ". Jelas sang ketua, tubuhnya jadi panas dingin mendengar deru nafas Gavino yang tegah emosi padanya.
" Bagaimana kalian bisa tidak tau, apa kalian tidur disana ?, bukankah sudah aku katakan jaga 24 jam, jangan lengah. BODOHH...BODOHH...KALIAN SEMUA BODOH !!!". Pekik Gavino kesal, mungkin bila si ketua pengawal itu ada dihadapannya kini, sudah bisa dipastikan, dia akan dihajar habis-habisan oleh Gavino.
" Menjaga satu wanita saja kalian tidak becus!!!!".
" Cepat pulang kemari, dan pastikan kalian kembali menangkapnya. Jika kalian gagal, dan si jal*ng itu berhasil menyakiti istriku, maka kau yang akan aku kuliti hidup-hidup ". Ancam Gavino, lalu melempar ponsel Sean hingga hancur. Melihat ponselnya berhamburan, membuat Sean menahan nafas.
Hahhh...mengapa selalu ponselku yang jadi korbannya. Batin Sean sebal.
" Minta Bayu melacak dimana keberadaan istriku dan juga Stevani. Aku ingin kalian menemukannya secepat mungkin ". Titah Gavino. Dia mondar-mandir dengan tangan kiri berada di pinggang, Gavino berusaha kembali menghubungi nomor Danira, sambil menunggu Sean selesai memberi instruksi kepada Bayu.
" Shittt....Danira kau kemana ?, jangan buat aku khawatir seperti ini ". Gumam Gavino, berkali-kali menekan nomor Danira, meski dia tau yang akan menjawab panggilannya adalah wanita operator.
" SEAN....kita ke rumah mami sekarang, mungkin dia ada disana ". Ujar Gavino, sambil melangkah keluar dari dalam ruangannya. Dan diikuti oleh Sean.
...****************...
Kini Sean dan Gavino telah berada didalam mobil, menuju ke kediaman keluarganya. Gavino kembali bersungut-sungut pada Sean, karena menurutnya, sean membawa mobil terlalu lambat.
" Cceekkk....kau bisa Bawak mobil tidak hah ?, lebih cepat Sean...lebih cepat!!!... kau lelet sekali seperti siput ". Kesal Gavino, terus saja mengomeli Sean sepanjang jalan.
" Ini sudah paling cepat tuan, karena didepan juga sedang macet ". Sean pun akhirnya berani menjawab, karena mulai jengah selalu dimarahi oleh Gavino. Gavino mencebikkan bibirnya, mendengar jawaban Sean.
" Pinggirkan mobilnya...". Sean pun menurut, lalu menghentikan mobil mewah itu dipinggir trotoar.
" Turun....biar aku saja yang membawanya ". Ujar Gavino. Keluar, lalu memutari mobil, beralih duduk dibelakang kemudi. Wajah Sean mulai tampak pias, rasa was-was mulai menyelimuti hatinya. Nyali Sean tampak menciut. Dan....
WWUUUSSSS***
Gavino langsung menginjak pedal gas, padahal Sean belum selesai memasang sabuk pengamannya, hal itu membuat Sean hampir mencium dasbor mobil. Gavino membawa mobil bak kesetanan, bahkan membuat banyak pengendara lain mengumpatnya, Sean memejamkan matanya sambil berpegang erat. Sean yang biasanya tak pernah berdoa, tapi kali ini dia selalu menyebut tuhan dalam hatinya, memohon perlindungan. Gavino tak perduli bagaimana pucat nya wajah Sean, dan banyaknya suara klakson pengendara lain yang memintanya berhati-hati. Gavino menginjak pedal gas kian dalam, melaju mobil semakin cepat, menyalip kekiri dan kekanan, dia tak perduli lagi bila harus dikejar oleh polisi lalu lintas. Yang dia tau saat ini, dia harus segera bertemu istrinya.
Tak sampai 15 menit mobil Rolls-Royce Gavino telah berhenti tepat didepan rumah megah itu. Dia langsung turun, berlari masuk kedalam. Tak peduli dengan nasib Sean yang sedang muntah-muntah taman.
" DANIRA....sayang ???DANIRA ?". Teriak Gavino memanggil-manggil nama istrinya. Suara Gavino menggemparkan seisi mansion, membuat semua orang yang ada disana keluar, melihat sang tuan muda yang sedang berteriak-teriak.
Ny. Calina, Gea dan khalisa keluar bersamaan sambil menutup kuping mereka.
" Ada apa sih Gavin, ini bukan hutan. Mengapa harus berteriak-teriak segala, kau pikir di rumah ini pada tuli apa ??". Omel Ny. Calina. Gavino tak perduli dengan Omelan sang mami, dia masih kesana kemari mencari keberadaan istrinya.
__ADS_1
" Iisshhh...ni anak, ditanyain malah maminya dicuekin ". Kesal Ny. calina.
" Heh....kutu ayam, mami ini bertanya, kamu cari siapa sih ?".
" Dimana Danira mi ?, tolong suruh dia keluar ". Ujar Gavino, tanpa melihat sang ibu yang melihatnya bingung.
" Lohhh...bukannya kakak ipar ada sama kak Gavin ?, kak Danira hari ini belum datang kesini ". Ucap Gea, sambil menggendong Khalisa.
" Pa...pa...papa .." Panggil khalisa, mengangkat tangannya meminta digendong Gavino. Mendengar suara khalisa, Gavino mengalihkan pandangannya, beralih melihat balita yang menggemaskan di gendongan adiknya. Gavino mendekat lalu mengambil khalisa.
" Khali, apa bundamu ada disini ?". Gavino mengelus rambut hitam khalisa lembut.
" No..no, nda Ndak disini ada pa....nda kesini belum !!". Jawab khalisa, berbicara cadel terbalik. Gavino menghela mendengar jawaban khalisa, bila khalisa telah menjawab seperti itu berarti Danira benar-benar tidak ada disini.
Sayang kau kemana ?. Batin Gavino.
" Memangnya kau kemana kan lagi menantu mami hah ?".
" Aku juga tidak tau mi, karena ponselnya tidak aktif, dan dia juga tidak ada dikantornya ". Jawab Gavino lesu, dia bingung harus mencari Danira kemana lagi, sedangkan anak buahnya belum ada satupun yang memberi kabar dimana keberadaan istrinya.
" Kamu apa kan lagi menantu mami hah ?, sudah mami bilang, istrimu itu dijaga bukan disakiti. Bila sudah kabur begini, kamu mau cari kemana hah ?, apa kamu lupa istrimu itu banyak diintai orang, musuhnya masih bertebaran, kalau sampai menantu mami kenapa-napa, kamu mami gantung di pohon talas Bogor ". Sungut Ny. calina. Tentu saja ucapan Ny. calina semakin menambah keresahan dihati Gavino saat ini.
" Aku tidak melakukan kesalahan apapun mi, tiba-tiba saja ponselnya tidak bisa dihubungi, begitupun dengan asistennya. Aku juga tidak tau dia kemana, karena anak buahku belum memberikan kabar apapun. Tidak biasanya Danira pergi tanpa pamit seperti ini ". Gavino terduduk di sofa, sambil memangku khalisa yang menyender di dadanya. Balita itu seakan mengerti keresahan sang papa.
" Tidak mungkin, tidak ada apa-apa dia kabur. Pasti ada sesuatu ". Ketus Ny. Calina, ikut duduk disamping Gavino.
" Menurut informasi salah satu pengawal yang biasa menjaga Danira, tadi Stevani datang menemuinya ".
" APA ??, wanita jadi-jadian itu lagi ?, Astaga.....mengapa wanita itu masih hidup ?, mami kita dia sudah ditelan hiu ".
" Ini semua salahmu, andai kau tak pernah berhubungan dengan wanita seperti itu, menantu mami tidak akan kabur seperti ini ". Ny. calina mendaratkan pukulan ke lengan kekar Gavino, menyalurkan kekesalannya.
" Ma....no..no..no, atit nanti papa, tabok jangan". Khalisa memeluk Gavino, seakan melindungi papanya dari amukan sang Oma. Ny. calina menghela nafas panjang.
" Papa mu harus Oma beri pelajaran, biar kapok terus jadi pintar, sayang ". Khalisa tak mendengarkan ucapan sang Oma, dia memeluk leher Gavino erat, melindungi papanya.
" Mami tidak mau tau, kau harus membawa menantu mami kembali sekarang juga, bila tidak.......!!!".
" Iya...iya...aku akan membawanya kembali, mami pikir aku bisa tanpanya, apa mami tidak lihat betapa stresnya aku ". Jawab Gavino berdiri sambil mencium pipi gembul khalisa, lalu menyerahkan khalisa lagi pada Gea. Setelah itu Gavino berlalu pergi, tak perduli bila ibunya masih mengomel panjang lebar didalam sana.
" Gavino....Gavino, heii mami belum selesai bicara. Heh kutu ayam, upil kera......!!!". Teriak Ny. calina membisingkan telinga.
"o..o..omaa...belisik..". Ucap Khalisa, menutup kupingnya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, Gavino sudah hampir mengelilingi seluruh ibu kota, mencari keberadaan istrinya. Namun sampai saat ini pun keberadaan Danira belum juga diketahui, begitupun dengan Stevani. Hal itu membuat Gavino kian emosi, bahkan berkali-kali memaki-maki anak buahnya.
" Tuan...?". Panggil Sean pelan.
" Antar kan aku ke penthouses ". Ujar Gavino lesu.
" Baik tuan ". Sean Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sesekali melirik bosnya yang kacau. Baru beberapa jam danira tak ada kabar, hal itu telah berhasil merubah segala dunia Gavino, semuanya seakan hancur, bahkan sejak tadi wajah Gavino semakin kelam, muram.Tak ada cahaya kehidupan disana. Penampilan Gavino benar-benar berantakan.
" Cari Ja*ang itu sampai ketemu, sudah cukup aku memberinya kesempatan bebas!!! ". Titah Gavino bernada sangat dingin, sambil memejamkan matanya. Sean hanya diam, namun dia bisa merasakan kemarahan dari nada bicara Gavino.
Gavino telah sampai di penthouses nya, dia membuka pintu, kelam tak ada satu lampu pun yang menyala, biasanya ketika dia pulang, lampu ruang televisi masih menyala, tapi hari ini beda, benar-benar beda.
" Ya Allah, Danira ku kemana ?". Gumam Gavino.
Gavino mencari saklar lampu, ingin menyalakannya, namun berkali-kali Gavino menekannya, lampu-lampu itu tidak ada yang hidup, Gavino semakin mengerutkan keningnya, ketika melihat sesuatu yang aneh diarea tangga yang ada di balkon. Gavino menyipitkan matanya, melihat benda-benda itu.
" Apa Ini....?".
......................
__ADS_1
...Bersambung.......