
Gavino merasakan beban berat yang menimpa perutnya, suatu benda bergerak-gerak juga masuk kedalam lubang hidung lalu mulutnya. Gavino membuka sedikit matanya, mengintip. Dia takut ada hewan yang sedang berada diatas tubuhnya.
"Hhuuhhh..." Gavino bernafas lega, ternyata bukan seperti apa yang dia bayangkan.
Tapi tunggu...!! Mengapa setan kecil ini ada dikamarku. Batin Gavino.
Ternyata, Khalisa yang sudah bangun sedari tadi, merangkak lalu memanjat tubuh gavino, dia menjahili wajah Gavino yang masih tertidur pulas, dengan memasukkan jari-jari nya kedalam hidung Gavino, lalu memasukkan juga jarinya kedalam mulut Gavino yang sedikit terbuka. Gavino perlahan membuka matanya, memegang tubuh Khalisa yang sedang bertengger diatas perutnya. Perlahan Gavino mulai bangun lalu duduk sambil memangku Khalisa.
" Aawww....Kepalaku sakit sekali ". Gavino memegang kepanya yang terasa berdenyut sakit, akibat mabuk semalam.
" Mengapa kau ada dikamarku setan kecil ?". Gavino bertanya sambil memejamkan matanya, Khalisa menarik kemeja Gavino bagian depan, berpegangan ingin berdiri.
" Apa yang kau lakukan, nanti kau jatuh. Aahh...tidak, nanti bajuku sobek bagaimana?. Ibumu tak akan mampu menggantinya". Ujar Gavino mengomeli Khalisa, Khalisa memanyunkan bibirnya siap menangis,melihat itu Gavino dengan sigap memeluk Khalisa.
" Cup..cup..cup..Tolong jangan menangis. Suara tangisanmu bisa memecahkan gendang telingaku". Ujar Gavino, menepuk-nepuk punggung khalisa dan hal itu berhasil.
" Bagaimana kau bisa naik kes....!!". Gavino menghentikan perkataannya melihat sekeliling kamar.
Mengapa tembok kamarku berwarna putih ?, perasaan aku belum pernah mengganti warna catnya, apa mataku bermasalah?. Batin gavino, Gavino masih mengamati sekeliling, beda, semua berbeda, dari tempat tidur hingga lemari pun berbeda. Ini kan kamar tamu. pikir Gavino.
" Mengapa aku ada disini". Gumam Gavino. Gavino mulai mengingat-ingat apa yang terjadi kepadanya, hingga dia bisa ada dikamar Danira. Sedetik kemudian ingatan Gavino mulai terkumpul, seperti potongan puzzle yang menyusun setiap bagian-bagian kejadian semalam.
Gavino mengingat dari awal mula dia bisa datang ke Bar. Akibat kesal kepada Stevani, Gavino menghabiskan hampir 10 botol minuman hingga dia benar-benar mabuk.
1 Detik..
2 Detik..
3 Detik..
Gavino membelalakkan matanya, saat ingatannya telah kembali secara sempurna, Semua kata-kata yang dia lontarkan semalam.
Tawa Danira, pengakuan tanpa sadar, wajah kesal Sean, tingkah konyolnya, ucapan-ucapan yang absurt, semua itu kembali kedalam ingatan Gavino.
" Setan kecil...!! katakan padaku. Apakah ibumu mengatakan sesuatu tentang aku ?, apa dia menertawakan aku semalaman ?, apa dia mengejekku hah ?, ayo cepat, jawab pertanyaan ku, jangan tertawa seperti itu". Khalisa makin tertawa renyah melihat wajah panik Gavino. " Aahh sepertinya aku benar-benar sudah gila semalam". Memukul kepalanya.
" Aahhh..sial, sial, sial..!!" Gavino menepuk-nepuk kepalanya, dan menjambak rambutnya sendiri. Merasa bodoh dengan segala tingkah lakunya semalam. " Mengapa aku bisa mengatakan hal-hal yang memalukan seperti itu". Gavino merutuki dirinya sendiri.
Gavino mencari ponselnya, dia melihat ponselnya ada diatas nakas, dengan cepat dia menyambar benda itu lalu mencari nomor seseorang.
" SEAN....!!! Gavino berteriak, membuat Khalisa yang ada dalam pelukannya terkejut dan siap ingin menangis, Gavino dengan cepat mengelus-elus kepala Khalisa membuat bayi itu tersenyum geli.
__ADS_1
" Mengapa kau membiarkan aku melakukan hal yang memalukan seperti semalam hah ?". Gavino berkata dengan menekan nada bicaranya agar Khalisa tak menangis.
" Seharusnya kau bisa menahanku...mengapa kau hanya membiarkan aku terlihat bodoh seperti itu, pasti wanita Berjubah itu mentertawakan aku kan ?".
" Aku tidak terima apapun alasanmu, gajimu aku potong 50%". Teriak Gavino lagi, mematikan panggilannya, lalu membanting ponselnya keatas bantal.
" Aahhh...bagaimana ini..!! bagaimana caraku menghadapi ibumu, bantu aku setan kecil". Gavino mengangkat tubuh Khalisa, mengajak bayi itu berbicara atau lebih tepatnya meminta solusi. Khalisa yang seakan mengerti hanya memandang wajah Gavino yang kusut, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Bantu aku, pikirkan sesuatu, aku benar-benar malu. Rasanya aku ingin bersembunyi kedalam lubang semut saja". Ujar gavino, Khalisa hanya tertawa, seakan Gavino tegah menggodanya.
" Kau Jagan tertawa saja, aku bukan sedang menggodamu setan kecil. Aku tidak butuh kau menunjukkan 6 gigi mungilmu itu".
" Na..na..na, ya..ya.ya, ". Khalisa berceloteh, seakan memberi saran kepada gavino.
" Sudahlah, lebih baik kau diam saja. aku tidak mengerti apa yang kau katakan". Gavino seperti orang frustasi, matanya kadang terpejam, kadang terbuka, berfikir keras.
"Ayolah Gavino, kemana otak cerdasmu itu, masa kau tidak bisa memikirkan satu carapun,...". Gavino lemetakkan telunjuknya disisi kanan dan kiri di pelipis nya "Ayo berfikir, berfikir...!! Ah sial...sepertinya alkohol-alkohol itu membuat otak sempurnaku tercemar".
Khalisa mengamati wajah Gavino yang terlihat berfikir keras, Khalisa mengulurkan tangannya mengelus wajah Gavino, kemudian dia memeluk Gavino dan menepuk-nepuk pundak Gavino. Khalisa melakukan sama persis seperti yang Gavino lakukan tadi kepadanya.
" Ciihh...!!Apa kau mencoba menenangkan aku setan kecil?". Ketus Gavino, namun tangannya tetap membalas memeluk Khalisa. Ternyata benar, jika anak kecil adalah pengamat terbaik. Batin Gavino.
Gavino dan Khalisa, masih asik saling berpelukan, tiba-tiba pintu kamar terbuka, memunculkan sosok wanita dengan tubuh yang ditutupi hijab dan gamis panjang dari atas sampai bawah, membawa sesuatu ditangannya. Mata Gavino sedikit membesar melihat siapa yang masuk, jantungnya memompa cukup cepat, Gavino belum memiliki muka untuk bertemu Danira sekarang.
Danira mempercepat langkah kakinya, melihat Khalisa yang ada dalam pelukan Gavino, dia takut Khalisa menganggu Gavino. Danira berhenti tepat disamping suaminya.
" Apakah khali menganggu tidur anda ?". Tanya Danira memastikan. Gavino hanya menjawab dengan gelengan kepala cepat, sebenarnya Gavino ingin menjawab iya, namun diurungkan karena dia masih belum siap berdebat saat ini.
" Ini saya buatkan air jahe untuk anda, saya membaca di internet, katanya air jahe bisa menghilangkan efek dari alkohol. Semoga ini bisa membantu meredakan rasa pusing dan mual anda". Ujar Danira, menyerahkan segelas air jahe. Mendengar kata ' Alkohol ' disebutkan, membuat rasa malu Gavino kembali muncul. Namun sekuat tenaga dia mencoba menahan, agar tak terlihat oleh Danira. Gavino hanya diam, tak mengatakan apapun, karena melihat suaminya tak ada memberikan pegerakan atau mengambil gelas yang dia berikan, Danira meletakkan air jahe itu diatas nakas.
" Bole saya mengambil Khalisa ". Pinta Danira, Gavino melepaskan Khalisa yang sedari tadi memeluknya, menyerahkan kepada Danira.
" Nda..Nana..Yaya mam". Celoteh Khalisa. Danira tersenyum mendengar ucapan Khalisa yang dia sendiripun tak tau artinya. Danira membawa Khalisa kesisi tempat tidur yang lain, lalu mendudukkannya disana.
" Selamat pagi anak Sholehah, Bobonya nyenyak sayang ?".
" Bunda minta ijin buka baju Khali ya, biar kita mandi dulu, setelah itu kita sarapan". Danira mengajak Khalisa berbicara, sekaligus melatih agar motoriknya bermain. Semua yang Danira ucapkan dan lalukan tak luput dari pengamatan Gavino. Terlintas rasa kagum dalam hatinya, melihat bagaimana cara Danira memperlakukan Khalisa, lembut dan penuh rasa keibuan.
Danira segera melangkah ingin masuk kekamar mandi, namun suara Gavino menghentikannya. " Tunggu...!!". Danira berhenti, lalu memutar badannya melihat Gavino.
"Hekhem.....,eemm, untuk masalah yang semalam, Aku harap kau tidak berpikir yang tidak-tidak tentang ucapanku itu. Karena itu hanya kata-kata yang tidak penting, semua itu karena aku sedang mabuk berat. Jadi lupakan saja". Ujar Gavino, sambil memegang gelas ditangannya. Danira menautkan alisnya. Menunggu hingga Gavino selesai mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
__ADS_1
" Hanya itu ...?" Tanya Danira, membuat Gavino melihat Danira bingung.
" Baiklah...!! Anda tidak perlu khawatir, saya juga tidak mendengar apapun semalam, lagi pula jika saya mendengarpun, saya sudah melupakannya. karena saya tidak tertarik mendengar ocehan orang yang meminum minuman haram". Ujar Danira tegas sekaligus menyindir.
" Ohh..Baguslah kalau begitu".
" Apa anda akan tetap disini ?, apa anda tidak ingin kembali kekamar anda untuk mandi dan merapikan penampilan anda yang berantakan seperti itu". Ujar Danira jujur, dan itu membuat Gavino mengangga tak percaya.
Apa ini bentuk pengusiran. Batin Gavino.
" Kau mengusirku ?, ingat ini penthouses ku, jadi terserah aku mau tidur dan berlama-lama dimana?". ketus Gavino, membuat Danira memutar bola matanya malas.
" Tapi saat ini, tempat ini kamar saya, jadi suka-suka saya ingin mengusir atau mengijinkan siapa yang berada disini". Danira berucap tak kalah ketusnya.
" Kau...!!" Gavino geram, dia berdiri dari tempat tidur, kakinya terasa dingin, lalu dia melihat kebawah.
" Kemana sepatuku..". Gumamnya pelan, mengedarkan pandangannya kesetiap sudut.
" Sepatu anda sudah saya letakkan ditempatnya, jika anda ingin, ambil saja ditempat sepatu depan". Jelas Danira. Gavino melirik Danira tajam, lalu sedikit menjinjit keluar dari dalam kamar Danira.
" Apa begitu cara anda mengucapkan terima kasih ?". Gavino tak menggubris, dia tetap berjalan sedikit berlari menujuh kamarnya.
" Hhmmm..Dasar suami arogan". Cicit Danira, berlalu masuk kemar mandi.
***
Didalam kamarnya, Gavino langsung berendam didalam buthtup, menghilangkan rasa pening yang menyerang kepalanya. Gavino memejamkan matanya menikmati sensasi rendaman air hangat. Sekelibat dia mengingat sepatunya.
Apa dia yang membukakan sepatuku. Pikir Gavino.
" Tidak mungkin, pasti Sean yang melakukannya sebelum dia pulang".
Gavino telah selesai, dia merasa jauh lebih baik setelah berendam. Kini dia telah siap dengan setelan jas kerjanya. Seperti biasa, dia akan bercermin menilai satu persatu penampilannya.
" Kau memang tampan Gavino, ah...tak ada yang bisa mengalahkan ketampanan dan pesona mu ini. Kau sangat sempurna". Pujinya tersenyum, menunjuk dirinya sendiri didalam cermin besar itu.
Gavino turun dari kamarnya dengan gaya angkuh, lalu duduk menikmati sarapan yang disiapkan Danira. Tak ada yang bersuara, hanya celotehan Khalisa dan dentingan sendok bertemu piring saja. pasangan suami istri itu, lebih memilih menikmati sarapan mereka.
" Hari ini saya ijin kerumah mami, tadi mami menelpon meminta saya kesana". Danira membuka suara, Gavino hanya diam, seperti tak mendengar apapun. Sifatnya telah kembali seperti semula. Karena tak ada jawaban, Danira menyimpulkan bahwa itu ijin dari suaminya. Danira telah selesai, lalu mengambil Khalisa dan menggendongnya, Danira berjalan melewati Gavino.
" Ayo...aku antar kau ketempat mami". Ujar Gavino, membuat Danira berhenti, melihat Gavino tak percaya.
__ADS_1
......................
...Bersambung......