
Gavino membeku ditempatnya, tubuhnya menjadi kaku, Jantungnya berdegup kencang. Berharap dia salah mendengar.
"Bisakah kau ulangi ucapanmu barusan ?". Ujar Gavino pelan.
" Heemmmh...!! Danira menghela nafas, menutup matanya sejenak, lalu mengulang ucapannya lagi.
"Sepertinya lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini ". Ulang Danira, dengan tangan sibuk memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam koper.
" Kenapa secara tiba-tiba, eemm...maksudku kenapa kau malah setujuh mengakhiri pernikahan ini sekarang ?".
" Memangnya kenapa jika kita akhiri sekarang, toh juga sama saja, baik nanti, ataupun sekarang. Kita akan tetap berpisah bukan ". Ujar Danira, mengatup kopernya lalu, menurunkan dari tempat tidur dan siap menariknya keluar.
" Danira..., tunggu dulu, kita harus bicarakan semua ini secara baik-baik. Bukankah kau yang selalu mengingatkan aku untuk menyelesaikan masalah tanpa emosi ?". Danira menghela nafas panjang, dia menghentikan langkahnya.
" Baiklah...!! katakan apa yang ingin Anda sampaikan ".
" Kenapa kau sampai semarah ini, apa karena perkataan Stevani ?". Tanya Gavino, mendengar pertanyaan suaminya membuat Danira tersenyum miris, ternyata suaminya bulum paham juga atau memang tidak peka. pikir danira.
" Anda benar ingin tau ?, Anda yakin ?". Tanya Danira, dengan melihat Gavino yang menjawab dengan anggukan kepala.
" Siapa saya bagi anda saat ini ?". Tanya Danira berusaha bersikap tenang.
" Kau istriku ".
" Lalu kenapa anda membiarkan kekasih anda masuk kerumah ini?".
" Saya tau, ini adalah rumah anda, mungkin dulu kalian sering menghabiskan waktu disini. dan saya tak ingin tau itu. Tapi bisakah anda mencoba menghargai keberadaan saya saat ini, ditempat ini ?". Ujar Danira dengan suara mulai bergetar, matanya mengembun. Gavino mulai paham apa yang membuat Danira mengambil keputusan itu.
" Aku tidak tau bila stevani sudah disini dan aku akui memang Stevani mengetahui password rumah ini, karena aku lupa mengganti password nya". Jelas Gavino, Danira hanya mengangguk tanda mengerti.
" Terima kasih atas penjelasannya ". Ujar Danira lalu menarik kopernya lagi. melihat Danira mulai melangkah melewatinya, Gavino dengan cepat merebut koper yang ada ditangan Danira, lalu membuangnya ke sudut ruangan.
__ADS_1
BRUUKK*
Mata Danira mengikuti arah kopernya yang dilempar oleh Gavino, lalu Danira melihat Gavino tajam.
" Kenapa anda membuang koper saya ?". Sugut Danira, mulai tak bisa mengendalikan emosinya lagi menghadapi sikap Gavino yang sudah keterlaluan menurutnya.
" Aku belum selesai bicara. Mengapa kau malah ingin pergi. Apa kau cemburu dengan Stevani ?". Ujar Gavino, dengan suara sedikit keras, mendengar suara Gavino meninggi, Danira memutar tubuhnya menghadap Gavino.
" IYA SAYA CEMBURU ". pekik Danira, tak bisa mengontrol emosinya lagi.
Deg *
Gavino terdiam mendengar pengakuan Danira.
" Dan hal itu wajar, karena saya istri anda, istri sah secara hukum dan agama. Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya dipeluk dan digandeng wanita lain hah?, istri mana ?". Ujar Danira dengan suara telah bergetar, air matanya telah menggenang.
" Apa anda mau mencoba berada diposisi saya, supaya anda tau apa yang saya rasakan? ketika pulang melihat kekasih suaminya sudah duduk mengenakan pakaian yang tidak pantas didalam rumahnya. Bagaimana perasaan anda, apa anda bisa menerimanya hah?, apa anda akan tetap merasa baik-baik saja ?".
" Saya juga manusia biasa, yang memiliki hati dan perasaan. Saya pun bisa merasakan sakit hati seperti yang lainnya". Suara Danira terdengar pilu, seakan semua ucapanya keluar dari hatinya, hati yang penuh amarah sekaligus kekecewaan.
" Pernakah anda membayangkan bagaimana perasaan saya, saat mendengar bahwa suami saya sendiri telah berjanji dihadapan wanita lain, tidak akan pernah menyentuh saya. Pernakah anda berpikir apakah saya akan sakit hati bila mengetahui hal itu?. Tapi sepertinya anda tidak perna berpikir sejauh itu, yang anda kedepankan hanya keegoisan diri anda sendiri". Danira meluapkan segala kekesalan dihatinya, yang telah dia tahan selama ini. Dia sudah tidak bisa mentolerir lagi. Baginya Gavino telah menginjak-injak harga dirinya.
" Danira aku.....!!!"
" DIAM....!! saya belum selesai bicara, kali ini anda harus mendengarkan saya. Sudah cukup anda mempermainkan hidup saya dengan harus mematuhi semua kesepakatan-kesepakatan konyol itu.". tegas Danira, mengangkat kelima jarinya dihadapan Gavino. Gavino ternganga, ini kali pertama Gavino melihat kemarahan Danira, yang membuat hatinya sedikit menciut.
" Saya tidak pernah ingin tau apa yang kalian lakukan dibelakang saya, saya juga tidak ingin tau bagaimana masa lalu kalian. Tapi setidaknya tidak dihadapan saya, anda bisa bermesraan dengan kekasih anda diluar sana. Mungkin memang tempat ini akan menjadi tempat tinggal kekasih anda nanti, tapi setidaknya tunggu hingga hubungan kita selesai ".
" Mengapa anda selalu dengan gamblang menceritakan tentang aib rumah kita dengan orang lain, tidak bisakah anda menyimpannya untuk diri anda sendiri". Pecah sudah tangisan Danira, air matanya sudah tak bisa dia tahapan lagi, hingga Gavino bisa melihat dengan jelas tangisan Danira yang telah membasahi Burqanya.
Danira berhenti sejenak, menarik nafasnya dalam. mencoba meredakan tangisnya dengan nafas yang memburu. Kali ini dia benar-benar berasa terhina oleh Gavino.
__ADS_1
" Kita akhiri saja pernikahan ini, tidak ada gunanya juga kita teruskan. Sekuat apapun saya mencoba mempertahankan pernikahan ini, itu tak akan pernah bisa berhasil, bila hanya saya sendiri yang memperjuangkannya. Semua akan sia-sia ". Ujar Danira dengan suara tercekat-cekat.
" Menikah lah dengan kekasih anda, saya tidak akan menjadi benalu dalan hubungan kalian lagi. Tapi...sebelum anda lakukan itu, CERAIkan saya."
" Bukankah Anda telah berjanji bahwa anda akan menikahinya ?, Tunaikanlah janji anda kepada kekasih anda, tidak baik jika anda mengingkarinya, tapi lepaskan dulu janji yang terlah anda ikrarkan di hadapan Allah saat menikahi saya ".
" Saya sudah tidak bisa mengikuti kesepakatan konyol yang anda buat. Saya akan akan mengurus perceraian kita ke pengadilan besok ". Ujar Danira, berjalan mengambil kopernya yang tergeletak dilantai.
" Danira..." Panggil Gavino melangkah ingin menyentuh istrinya. Tapi tangannya mengatung diudara ketika memundurkan langkahnya kebelakang.
" Berhenti....!!, tolong Jagan sentuh saya. Antara kita sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi. Bukankah ini yang selama ini anda inginkan, menuggu jawaban saya, untuk menyetujui perpisahan ini. Maka kali ini saya yang meminta kepada anda, tolong jatuhkan talak untuk saya sekarang". Pinta Danira dengan suara lantang.
DAM *
Gavino membelalakkan matanya yang telah memerah, tubuhnya bergetar mendengar permintaan Danira, yang bagaikan Sambaran petir yang sedang menggelegar menusuk hatinya. Secara tiba-tiba bibirnya terkunci rapat, lidahnya seakaan keluh, suaranya tertahan di tenggorokan.
Bukankah saat-saat seperti ini yang aku inginkan, ketika dia telah menyetujui untuk berpisah. tapi kenapa, hatiku tidak rela mengucapkan kata-kata yang selama ini ingin aku ucapkan. Ada apa denganku, mengapa aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Batin Gavino.
Melihat Gavino tak bereaksi, hanya diam mematung ditempatnya. Membuat Danira menyimpulkan sendiri jawabannya, dengan kebisuan yang Gavino berikan. Danira melangkah dan berdiri berjarak 1 meter didepan gavino, dia menatap mata suaminya, dan melihat pahatan sempurna wajah suaminya. Danira bisa melihat raut keterkejutan bercampur kesedihan Dimata Gavino, tapi Danira sudah tak ingin perduli, dia terlanjur kecewa.
" Maaf karena saya telah lancang berbicara keras kepada anda, mungkin kata-kata saya tadi ada yang menyingung perasaan anda. Semoga anda berkenan memaafkan saya. Maaf juga karena belum bisa menjalankan kewajiban saya sebagaimana seorang istri pada semestinya. Semoga anda menemukan kebahagiaan anda setelah ini ".
"Saya pergi, Assalamualaikum ". Ujar Danira pamit, menarik kopernya keluar dari dalam kamar, meninggalkan Gavino seorang diri disana.
Gavino terduduk dilantai, dengan punggung menyentuh dipan tempat tidur, pikirannya nanar melayang entah kemana. Gavino menekuk kakinya, lalu membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya, tanpa Gavino sadari air matanya lolos begitu saja membasahi pipi.
" Maafkan aku Danira ".
......................
...Bersambung.......
__ADS_1