CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
125. Mandi bersama


__ADS_3

Di kekeratonan Samudra Brahmacari juga tak kalah hebohnya. Sejak data diri Danira naik kepermukaan, yang menyatakan bila Danira masih hidup. Membuat seluruh rakyat kerajaan berbondong-bondong mendatangi istana samudra. Mereka melakukan aksi demo besar-besaran, menyuarakan meminta raja yang sekarang turun tahta. Rakyat yang sejak awal menolak keras kepemimpinan Raja yang sekarang, sangat senang ketika mendengar berita kehidupan Danira. Oleh karena itu mereka sangat bersemangat untuk membantu Danira mengambil tahtanya kembali. Dulu rakyat tak bisa menolak, karena raja yang sekarang memiliki stempel emas ditangannya.


Banyak aparat kepolisian dan prajurit kerajaan dikerahkan untuk menggamani istana. Sebab banyak rakyat yang mulai berbuat anarkis, seperti membakar poster-poster raja yang sekarang, membakar kendaraan dan mencoba mendobrak gerbang utama, ingin masuk kedalam istana.


Sedangkan didalam istana, Sang Raja duduk dengan santainya menikmati teh hangat beserta cemilan sambil bermain dengan burung hantu berwarna putih kesayangannya. Dia seakan tak ternganggu dengan keadaan yang sedang terjadi diluar istana.


" Apa mereka masih berada diluar ?". Tanya Ndoro Agung pada pengawal yang berdiri tak jauh darinya, sambil mengelus-elus bulu burung hantu ditangannya.


" Masih Ndoro, bahkan jumlah mereka semakin bertambah ". Jawabnya, sambil berlutut.


" Eeemmmhhh....!!!". Ndoro Agung hanya menanggapi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Dia masih asik mengelus-elus bulu burung, sambil bersiul-siul merdu.


" Ini..cckkk..cckkk...makan ini, kau harus tetap sehat ". Ucapnya, menyuapi jangkrik keparuh tajam itu.


Dari arah belakang suara derap langkah menggema, semakin mendekati ruangan Ndoro Agung berada. Dua orang berperawakan tinggi, berpakaian kasual, Berwajah manis, Bibir tipis, hidung mancung dan di wajah mereka ditumbuhi brewok rapi. Berjalan mendekati Ndoro Agung.


" Salam Ayah ". Ucap Pria berkemeja biru.


" Salam Ayah ". Ucap Pria berkaos putih, dilapisi kemeja berwarna navy.


" Kalian sudah tiba ?, bagaimana kalian bisa masuk ?, bukankah diluar sedang dikepung oleh masa ?". Tanya Ndoro Agung melihat putra-putrinya. Wisnu dan Abimanyu.


" Kami masuk melalui jalan rahasia ". Jawab Wisnu putra sulung Ndoro Agung.


" Ayah apakah yang diberitakan itu benar ?, apa dia benar orangnya ?". Kini Abimanyu yang melemparkan pertanyaan. Mereka yang berada diluar kota sangat terkejut ketika mendengar berita tentang pewaris sah kerajaan samudra Brahmacari, karena itu mereka buru-buru datang untuk menanyakan kebenarannya pada sang ayah.


" Eeehhhmmm...!!". Ndoro Agung hanya berdehem sebagai jawaban.


" Apa ayah akan diam saja, tanpa melakukan apapun ?, Sedangkan dia sudah berani mempublikkan dirinya sebagai pewaris sah kerajaan ini ?". Tanya Abimanyu lagi, dia kesal karena sang ayah seakan tak menanggapi hal ini dengan serius, terlalu mengentengkan.


" Lalu kau ingin ayah melakukan apa ?, keluar dari sini dan menyerahkan tubuhku pada rakyat yang sedang dikuasai emosi diluar sana, begitu ?".


" Cckkk...bukan itu maksudku, apa tidak ada cara lain agar semua rakyat berhenti menyuarakan keinginan mereka, dan membubarkan aksi yang sedang terjadi ?". Ujar Abimanyu.


" Ada....!!". Ucap Ndoro Agung santai, sambil menerbang-nerbangkan burung hantu ditangannya. Wahyu dan Abimanyu terdiam, menunggu jawaban ayahnya.


" Apa ?".


" Ikuti saja keinginan rakyat ". Jawabnya enteng tanpa beban.


" Tidak bisa begitu, Sekarang ayah rajanya. Bila memang ayah harus turun, seharusnya aku yang menggantikan posisi ayah, bukan wanita itu". Sungut Wahyu yang sedari tadi memilih diam, menyimak pembicaraan Ayah dan adiknya.


Ndoro Agung membuka pintu sangkar burung yang terbuat dari emas, lalu memasukkannya kembali kedalam sangkar itu, menutup dan menggunci pintunya rapat.


" Bukankah seekor burung yang telah lama terlepas harus segera ditangkap kembali ?, lalu dimasukkan lagi kedalam sangkarnya. Kemudian dilatih dengan siulan merdu dan juga jentikan jari agar dia kembali menjadi penurut dan patuh pada tuannya ". Kakak beradik itu saling lirik, mencoba mencerna dan mengartikan maksud dari kata-kata kiasan sang ayah.


" Ayah aku tidak mengerti apa yang ayah maksud? ". Ujar Wahyu, bingung. Ndoro Agung melirik tajam pada putra sulungnya.


" Hahhh...!! Kau bodoh sekali, mengartikan kata-kata sesederhana itu saja kau tidak bisa, bagaimana kau mampu menjadi seorang raja. Bila kau ingin menjadi penerus ku, latih dulu otakmu yang kosong itu ". Omel Ndoro agung pada putra sulungnya, Wahyu cemberut membuang muka, kesal.


" Lalu apa yang ingin ayah lakukan ?". Tanya Abimanyu, penasaran. Dia yakin, pasti ayahnya tidak akan berdiam diri saja.


" SIMON....?"


" Saya Ndoro Agung ". Jawab Simon, tangan kanan Ndoro agung Bersujud.


" Aku ingin kau mengantarkan surat resmi kepada putri kecilku Raden Ayu Sandanira. Katakan padanya, bila Ayah handanya memintanya datang kekeratonan ".


" Lakukan secepatnya ". Titahnya, lalu menyeruput tehnya yang diatas meja secara perlahan. Mendengar perintah ayahnya, membuat Wisnu mengerutkan keningnya.


" Baik Ndoro, akan segera saya laksanakan ". Ujarnya, bangun dari sujud, mundur dengan kedua lututnya. Setelah berada cukup jauh Simon baru berdiri, lalu pergi.


" Kenapa Ayah malah memintanya datang kemari, bukankah dia ancaman bagi kita ?, itu sama halnya kita menyerahkan semua ini begitu saja ".


" Ekm..ekm..ekm....!! ". Ndoro agung mengeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak setujuh dengan ucapan Wahyu. Dia menaruh kembali cangkir tehnya diatas meja, lalu memandang tanaman yang ada didepan ruangan itu.


" Raden Ayu bukan ancaman, dia itu permata berharga, Dia itu harta Karun ya dunia. Ayah memang selalu berharap dia masih hidup, ayah tidak pernah mempercayai berita kematiannya yang dibuat oleh Adiwilaga. Bila memang dia telah matipun, ayah akan mencari jasadnya, karena tulang belulangnya pun sangat berharga ". Ujar Ndoro agung, menggoyang-goyang kursi doyangnya kedepan dan kebelakang.


" Ayah sangat senang putri kecilku yang bersembunyi telah berani mempublikkan jati dirinya. Jadi ayah tidak perlu repot-repot meminta para pengawal mencari keberadaannya lagi ". Ucap Ndoro Agung sambil tersenyum penuh misteri.


" Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran ayah ". Kesal Wisnu, dia sangat tidak setuju dengan keputusan ayahnya yang meminta Danira datang kekeratonan.

__ADS_1


" Apa ayah tidak tau bila dia sudah menikah dengan pengusaha paling berpengaruh di negri ini ?". Tanya Abimanyu menimpali.


" Oohhh...benarkah ?, bagus itu ". Tanggapnya santai.


" Cckkk....jangan sampai ayah menyesali keputusan ayah ini ". Ketus Wisnu.


" Tak perlu menghawatirkan keputusan Ayah, karena ayah sudah tau mana yang terbaik untuk kita kedepannya. Meskipun dia kembali dan didukung oleh seluruh rakyat pun, itu tak akan berpengaruh apa-apa, kita akan tetap pada posisi kita, hanya saja.....". Ndoro agung mengatungkan ucapannya, membuat kedua putranya semakin penasaran.


" Hanya saja apa ayah ?".


" Kalian tidak perlu tau, cukup nikmati dan ikuti saja alur yang aku buat. Maka kalian akan mendapatkan tujuan kalian ". Ujar Ndoro agung, tersenyum semirik sambil memejamkan matanya. menikmati buaian kursi goyang dan tiupan angin segar menerpa wajah yang mulai dihiasi garis keriput. Wisnu dan Abimanyu hanya bisa menghela nafas, bila sudah begini mereka tak bisa memaksa ayahnya lagi.


...****************...


Di tempat lain.


Gavino dan Danira baru saja tiba dikediaman Paradiksa. Seharusnya mereka kembali ke penthouses namun karena disana juga dipenuhi oleh awak media, jadi Gavino meminta Sean memutar arah kembali ke Mension keluarganya.


Sean dan Sarah turun lebih dulu, membuka pintu mobil untuk Danira dan Gavino.


" Silahkan Tuan ". Ucap Sean.


" Nona ". Ucap Sarah.


" Terima kasih ". Ucap Danira, tersenyum.


" Nona, kalau begitu saya pamit pulang dulu ".


" Apa tidak sebaiknya kamu menginap disini saja Sarah, ini sudah malam. Lagi pula mobil kita tertinggal di kantor mas Gavin ". Ujar Danira.


" Tidak perlu nona, saya bisa naik ojek online saja ". Tolak Sarah.


" Tapi ini sudah jam 10 malam, bahaya bila kau pulang sendiri ". Danira khawatir bila membiarkan saya pulang seorang diri.


" Tidak akan ada bahaya yang berani mendekatinya sayang, bahkan para penjahat akan lari terbirit-birit bila bertemu dengan wanita ini ". Ketus Gavino, masih kesal pada Sarah. Sarah hanya diam, melihat Gavino sekilas datar.


" Iisshh...tidak boleh begitu mas, Sarah juga seorang wanita ". Gavino menghela, lalu melihat kearah Sean, yang masih berdiri mematung ditempatnya.


" Mulai sekarang kau harus membiasakan diri berdekatan dengan wanita Samson ini, karena kalian akan lebih sering bekerjasama ". Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar julukan yang diberikan suaminya pada Sarah, sedangkan Sarah tetap diam malas menanggapi Gavino yang menyebalkan. Sean melirik Gavino, lalu beralih pada Sarah secara bergantian, dia melihat jam ditangannya. Tanpa mengatakan apapun, Sean masuk kedalam mobil.


" Pergilah, biar Sean yang mengantarmu ". Ujar Danira lembut, bila Danira telah berkata seperti ini Sarah tidak akan bisa menolak. Dia hanya mengangguk patuh.


" Kalau begitu, saya permisi tuan, nona ". Ucap Sarah, lalu masuk kedalam mobil. Mobil itupun melaju meninggalkan halaman mansion Dan menghilang dibalik pagar yang menjulang tinggi.


" Cckkk...lihat betapa menyebalkan wanita Samson itu, aku sudah berulang kali memperingati dia, panggil Nyonya, bukan nona. Apa dia mudah pikun ?". Sungut gavino, semakin kesal pada Sarah.


" Sudah mas, biarkan saja apapun panggilannya tidak akan mengubah statusku bukan ?, aku tetap saja istrimu ". Ujar Danira menggandeng tangan Gavino.


" Tapi tetap saja, aku tidak suka wanita Samson itu ".


" Ya...ya..iya, baiklah, aku tidak memintamu untuk menyukainya. lebih baik kita masuk sekarang, aku ingin mandi, badanku lengket sekali ". Ujar Danira, mengajak Gavino yang masih bersungut-sungut masuk. Ketika mendengar kata ' mandi ' wajah Gavino yang tadinya ditekuk, langsung berubah sumringah, otaknya mulai berkeliaran kemana-mana.


" Mandi ?, Ya...kita harus mandi...!! wah...cuaca malam ini cukup dingin. Sayang sepertinya kita harus mandi bersama agar airnya tidak terlalu dingin, bagaimana ?". Ucap Gavino mengedip-edipkan kedua matanya berkali-kali.


" Modus, kan ada pengatur air hangat mas ".


" Air hangat juga akan terasa dingin bila mandi sendiri, ya sayang ya...!! boleh ya mandi bersama. Aku pernah baca bila mandi bersama juga termasuk dalam Sunnah, katanya itu akan mempererat keharmonisan suami istri ". Ujar Gavino, sambil berjalan masuk kedalam mansion.


" Oohh benarkah ?, wahh..wah...sepertinya suamiku akan menggunakan alasan ini untuk mengajak mandi bersama setiap hari ". Ucap Danira, mencandai Gavino, hal itu membuat Gavino salah tingkah, menyengir kuda.


" Boleh ya sayang, kita mandi bersama. Aku janji hanya mandi, tak akan melakukan yang lain-lain, paling membantu menggosokkan punggungmu saja ". Gavino masih berusaha membujuk Danira, dengan menampilkan wajah memohonnya.


" Lebih dari itu juga boleh mas ". Ucap Danira, lalu berjalan mendahului Gavino. Gavino berhenti ditempat, seakan mendengar pengumuman memenangkan lontre di tegah malam. Gavino mengembangkan senyum dibibirnya, berlari kecil menyusul Danira, lalu menggendong tubuh Danira seperti karung beras menaiki anak tangga, menuju kamar mereka.


" Ha..ha..ha...!!". Danira tertawa renyah, saat digendong oleh Gavino.


Tanpa pasangan itu sadari, sedari tadi ada 6 pasang mata, dan 6 pasang kuping melihat sekaligus mendengar, mereka bersembunyi dibalik tembok antara ruang keluarga dan ruang tamu. Kepala mereka menyembul berurut Gio bagian bawah, Gea bagian tegah dan Ny. Calina di bagian atas. Mereka mengintip pasangan yang sedang dimabuk asmara sejak tadi.


" Mi kok kak Gavin minta mandi bersama, memangnya kak Gavin tidak malu ?, kan dia sudah tua mi, masa masih minta dimandikan ?". Tanya Gea polos, meski usianya telah mencapai angka 19 namun segala pergaulannya dibatasi oleh Gavino, kecuali Gio. Gavino membebaskannya, karena dia laki-laki.


" Ini beda Gea, mereka sudah sah jadi bukan hanya sekedar mandi ". Cetus Gio masih melihat Gavino menaiki anak tangga. Dia merasa iri dengan kakaknya yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


" Bukan sekedar mandi ?". Otak Gea berfikir sangat keras, namun dia tetap tidak paham.


" lalu apa maksud dari kakak ipar mengatakan boleh melakukan lebih dari itu, mengapa hanya dengan kata-kata itu saja kak Gavin terlihat sangat bahagia mi ?". Tanya Gea tanpa henti, membuat Ny. calina menghela nafas jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Gea.


" Itu karena kakak ipar mengijinkan kak Gavin melakukan yang enak-enak, begitu saja kau tidak paham dasar oon ". Ketus Gio kesal.


" Usiamu sudah berapa si Gea, mengapa kebodohanmu tak ada perubahan ?". Jengkel Ny. Calina. Rasanya ketika dia hamil dulu, selalu minum susu dan vitamin untuk perkembangan otak janin, apa semua itu tidak berpengaruh untuk Gea. pikir Ny. calina.


" Namanya juga anak kecil mi, mana paham masalah orang dewasa ". Gea cemberut.


" Kecil apanya ?, otakmu yang kecil. Usia sudah 19 tahun sudah tidak termasuk kecil, kalau temen-temen mami dulu seusia kamu sudah punya anak 2 ". Gea dan Gio kompak mendongak melihat mami mereka.


" Masa sih mi ?".Tanya Gea tak percaya.


" Sudah lah, kalian berisik sekali. Mami mau tidur, kalau sampai kakak kalian tau kita mengintip bisa habis kalian ". Ujar Ny. calin memutar tubuhnya ingin masuk kekamar.


" Mamiiiiii......!!" Rengek Gio.


" Sudah lah Gio, mami bosan mendengar kau meregek seharian ini. Pergi sana kembali ke kamarmu ".


" Aku ingin tidur bersama mami ". Gea mengait tangannya ke lengan Ny. Calina.


" Aku juga ". Gio ikut bergelayut ditangan sisi lain Ny. Calina.


" Tidak....Kalian berdua pergi kekamar kalian masing-masing, tubuh kalian sudah terlalu besar untuk tidur bersama mami ". Tolak ny. calina mencoba melepaskan kaitan tangan si kembar. Namun cekalan keduanya sangat kuat, hingga membuat Ny. calina menyerah dan membiarkan mereka tidur bersama dengannya.


" Mi nanti aku ingin membuat buku tentang Kak Gavin dan kak Danira ". Ujar Gea sambil berjalan masuk kekamar.


" Buku ?".


" Iya, yang menceritakan tentang kisah cinta mereka, aku akan memberikan judul bukunya ' Sudah tua masih minta dimandiin ' ". Ny. calina dan Gio saling lirik, lalu menggeleng bersama.


" Ya..ya..ya, terserah kau saja Gea. Lakukan apa yang membuatmu bahagia ". Pasrah Ny. calina sudah malas menanggapi ide cemerlang anakknya.


" Aku memang sangat pintar kan mi...?!!".


***


Gavino keluar dari dalam kamar mandi, hanya menggunakan boxer sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak segar, dan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya. Tak lama Danira pun ikut keluar, menggunakan bathrobe dengan rambut yang masih basah, Danira tersentak saat tubuhnya diangkat oleh Gavino, lalu mendudukkannya diatas meja hias.


" Mm...mas mau apa ?". Tanya Danira, takut bila suaminya minta mengulangi kegiatan yang baru saja terjadi. Gavino hanya tersenyum, mengecup pipi mulus Danira lalu menyalakan hair dryer, dia mulai mengeringkan rambut istrinya.


" Aku hanya ingin mengeringkan rambutmu, tidak perlu cemas begitu. Tidak mungkin kan kau tidur dalam keadaan rambut basah ". Ujar Gavino mengerti maksud dari pertanyaan Danira.


" Tidak perlu mas, biar aku saja. Mas pasti lelah, lebih baik langsung istirahat saja ". Danira Tak enak hati, bila Gavino melakukan hal seperti ini untuknya.


" Sudah diam, apa kau ingin aku mengulangi kegiatan tadi, diatas ranjang ?". Danira membelalakkan matanya, menggeleng cepat. Dia tau bagaimana kuatnya Gavino, bila telah memulai maka akan sulit berhenti.


" Jika tidak mau, maka menurutlah...". Danira hanya diam, matanya melihat dada bidang Gavino yang kekar, dihiasi banyaknya cetakan kotak-kotak di perut Gavino. Jari telunjuk Danira mulai nakal, dia menggerakkan jarinya didada gavino, seperti sedang menulis sesuatu.


" Sayang....". Geram Gavino, geli.


" Jangan menguji kesabaran ku ". Danira hanya terkikik, namun terus melakukan kegiatan yang menurutnya menyenangkan, yaitu menjalin Gavino. Gavino menangkap tangan Danira, lalu menarik dagu istrinya, membuat Danira mendongak dan...


Cup


Gavino m*l*m*a* bibir manis Danira lama, Membuat Danira terengah-engah, pipinya memerah.


" Sudah aku katakan jangan memancingku ".


" Aku tidak memancing mas, aku hanya menyentuh dadamu, memangnya didadamu ada ikannya ?".


" Waahhh...sekarang kau sudah pintar mengejek aku hhmmm?". Danira terkikik geli, saat Gavino mengelitiknya.


" Ha..ha..ha...ampun mas, ampun.....!!". Gavino menghentikan kejahilannya, lalu menangkup wajah cantik Danira. Memandangnya penuh rasa.


" Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkan aku, apapun keadaannya kau harus selalu berada di sisiku ?". Danira mengangguk, lalu Gavino memeluk Danira erat.


Aku tidak bisa berjanji mas, tapi aku akan berusaha menepatinya.


......................

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2