CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
72. Di Tabrak


__ADS_3

Jalanan masih belum tampak lengang mungkin karena ini akhir pekan, jadi para pengendara bersiap menujuh destinasi liburan mereka. Gavino dan Danira telah duduk dibangku penumpang belakang dengan Sean yang duduk dibelakang stir, mereka akan pulang ke rumah. Suasana didalam masih hening, tak ada yang berniat membuka suara. Sean melihat dari kaca spion kemudi, tuan dan Nyonya mudanya duduk saling berjauhan. Terutama Danira, dia duduk sangat menempel dengan pintu, tak ingin dekat-dekat dengan Gavino. Matanya fokus melihat keluar jendela, sejak masuk kedalam mobil. Begitupun dengan Gavino, tapi dia sering mencuri-curi pandang melirik Danira, yang tak bergeming.


Apa aku jujur saja kepadanya, bila aku tidak suka ada pria lain yang menyukai dan mendekatinya.


Ahh...tidak, itu akan membuat wanita Berjubah ini besar kepala, dia akan mengira bahwa aku telah menyukainya. Batin Gavino berdialong.


Sean yang tau apa penyebab tuan dan Nyonya mudanya seperti itu, hanya bisa diam. tak berani mengatakan sepata katapun. Dia memilih fokus memperhatikan kendaraan diluar yang juga terjebak macet seperti mereka.


" Hekhem...." Gavino berdehem, dengan tangan melonggarkan dasinya.


" Hekhem...." Gavino kembali berdehem, sambil melirik Danira lagi, memancing reaksi istrinya. sayangnya itu tak berpengaruh apapun. Gavino menghela nafas pelan, mencoba mencari ide supaya Danira mau mengeluarkan suaranya lagi. Danira yang tau Gavino melihatnya sedari tadi, memilih mengunci rapat mulutnya. Dia masih sangat kesal dengan Gavino yang sangat Egois menurutnya.


" Apa kau marah padaku ?". Tanya Gavino, dengan mata tetap melihat kearah luar.


" Sean, tolong sampaikan kepada tuanmu. Katakan bahwa saya tidak marah kepadanya, hanya kesal dengan keegoisannya ". Ucap Danira meminta Sean menyampaikan ucapannya. Gavino menoleh bingung, begitu pun Sean namun tetap mengikuti keinginan Danira.


" Tuan...Kata Nyonya dia tidak marah, dia hanya kesal karena anda terlalu egois ". Ulang Sean, dengan melirik Gavino.


" Aku mendengarnya Sean, kau tak perlu mengulanginya lagi ". Ketus gavino.


" Saya hanya mengikuti perintah Nyonya tuan ". Mendengar jawaban Sean, Gavino mendengus sebal.


" Kemarikan ponselmu ?". Pinta Gavino, tanpa bertanya untuk apa, Danira langsung saja mengambil didalam tas selempangnya lalu memberikan kepada Gavino, tanpa melihat suaminya. Gavino mengambil ponsel Danira, dia mengernyitkan dahinya kemudian melirik Danira lagi sekilas.


Bukankah dia dulu hanya penjual kue dipasar dan tidak memiliki pekerjaan apapun lagi, tapi kenapa dia bisa memiliki ponsel iPhone keluaran terbaru seperti ini. Sedangkan dia tak menerima uang dariku sepeserpun, apa ini pemberian mami ?. Batin Gavino, dia baru menyadari barang-barang milik Danira. Gavino lalu mengetik nomor ponsel, kemudian melakukan panggilan ke nomor itu. Ponsel Gavino bergetar.


" Ini...!! aku telah menyimpan nomor ponselku di handphonenmu. Bila ada apa-apa hubungi aku". Ujar Gavino, mengembalikan ponsel Danira. Danira menerimanya, lalu melihat nama kontak yang buat Gavino ' Suamiku yang tampan'. Danira melirik Gavino.


Idih....!! dia narsis sekali. Batin Danira. Danira kembali menatap keluar.


" Apa kau ingin makan sesuatu ?".


" Sean, katakan kepadanya kalau saya tidak lapar, saya ingin segera sampai dirumah". Ucap Danira lagi kepada Sean.


" Tuan, kata Nyon.....!!!"


" Aku mendengarnya Sean......!".


" Ada apa denganmu, apa kau masih marah karena tadi ?, kau bisa langsung mengatakannya padaku, tak perlu melalui prantara seperti ini". Ujar Gavino bersungut-sungut. " Sean pinggirkan mobilnya ". Pinta Gavino, Sean mengikuti keinginan tuannya. Mereka menepi diatas jembatan gantung. Tanpa diperintah Sean telah keluar dari dalam mobil, menunggu diluar.


" Kenapa kita berhenti disini, dan kenapa Sean harus keluar?". Tanya Danira bingung, dia sedikit was-was, takut bisa Gavino ingin melakukan hal yang macam-macam kepadanya.


" Kita harus bicara sekarang. Bukankah kau tak suka bila urusan rumah tangga kita diketahui oleh orang lain, jadi dia harus menunggu diluar ". Jawab gavino yang telah mengubah posisi duduknya, menghadap Danira. Danira menjadi risih dengan tatapan Gavino.


" Me..memangnya anda ingin membicarakan apa ?, bukankah saya sudah menceritakan semua apa yang terjadi". Ujar Danira kikuk, menundukkan kepalanya. Gavino terus menatap Danira dalam, lalu dia menghembuskan nafas pelan.

__ADS_1


" Danira ?". Danira refleks menoleh melihat Gavino, ini pertama kalinya Gavino memanggil namanya.


" Aku...aku ingin min.....".


BRUUKKKKK*


Mobil mereka ditabrak dari belakang, membuat tubuh Danira terhenyung kedepan. Untung saja Gavino dengan cepat menahan kepala Danira dengan tangannya, bila tidak kepala Danira telah terbentur sandaran kursi kemudi.


" Ya Allah ". Pekik Danira terkejut.


" Kau tidak Apa-apa ?". Tanya Gavino, memastikan keadaan Danira.


" Aku tidak apa-apa".


Sean langsung membuka pintu secara tiba-tiba " Tuan, Nyonya kalian tidak apa-apa kan ?". Sean bertanya dengan wajah panik.


" SIAPA YANG TELAH MENABRAK MOBILKU ". teriak Gavino kepada Sean, dia keluar dari dalam mobilnya, Gavino melihat mobil bagian belakangnya penyok cukup parah. lalu mata Gavino beralih ke mobil Box yang berhenti tepat dibelakang mobilnya.


" TURUN KAU....". Perintah Gavino, sambil berkecak pinggang.


Seorang pria dengan wajah lesu dan peluh dikeningnya turun dari dalam mobil, dia gemetar melihat Gavino yang memandanginya dengan tatapan membunuh.


" Tu..tu..tuan tolong maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja. Saya sangat mengantuk, jad.ja..jadi saya tidak sadar bila mobil yang saya kendarai menabrak mobil tuan ". Jelas pria itu terbata-bata, dia ketakutan.


" Aku tidak mau mendengar alasanmu, bila kau mengantuk, mengapa kau terus memaksakan untuk mengendarai mobil. Itu bisa membahayakan semua orang".


" Lalu sekarang coba kau lihat, mobilku rusak parah seperti ini, apa kau sanggup Menganti rugi semua ini Hah ?". Gavino benar-benar marah, rasanya dia ingin membunuh pria yang ada didepannya ini.


" Tuan ..tuan...saya benar-benar minta ampun, saya akui kalau saya salah, tolong maafkan saya tuan ". Mohon pria itu, berlutut dihadapan Gavino, mengatup telapak tangannya dan menangis.


" Cciihhh...sekarang saja kau menangis. Aku tidak mau tau, kau harus Menganti kerusakan mobilku ini 500 Juta ". Cetus Gavino meminta jumlah ganti ruginya, mendengar nominal yang di ucapkan gavino, membuat pria itu membelalakkan matanya.


" Tuan...saya tidak memiliki uang sebanyak itu, saya hanya supir angkut barang tuan, dan gaji saya pun belum mencukupi untuk kebutuhan keluarga saya sehari-hari. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu tuan".


Danira Yang masih didalam mobil, mendengar kegaduhan yang sedang terjadi, dia keluar dan mendekati suaminya.


" Ada apa, kenapa bapak ini sampai berlutut ?". Tanya Danira lembut, melihat pria yang ada dikaki suaminya.


" Dia orang yang telah menabrak mobil kita, dan hampir membahayakan nyawamu ". Jelas Gavino, terus menatap pria itu tajam.


" Pak, tolong berdiri, Jagan berlutut seperti ini, kita selesaikan semuanya secara baik-baik saja". Pinta Danira, karena mereka saat ini telah menjadi pusat perhatian para pengendara yang melintas.


" Nyonya tolong maafkan saya, saya tidak mampu untuk membayar ganti rugi sebanyak itu ". Danira melihat suaminya.


" Mas...tolong maafkan bapak ini, kasihan dia mas ". Gavino menaikan satu alisnya, melihat Danira.

__ADS_1


" Kasihan ?, dia hampir saja membunuh kita, dan kau bilang kasihan ". Ketus Gavino kepada Danira, geram kepada istrinya yang selalu saja mudah memaafkan.


" Aku tidak perduli darimana dia akan mendapatkan uangnya, yang jelas aku ingin dia Menganti kerugian mobilku 500juta cash sekarang juga ". Ujar Gavino tegas, pria itu hanya bisa menunduk dan menangis.


" Mas....kamu sudah memiliki banyak uang, kamu tidak akan menjadi miskin hanya dengan memaafkan bapak ini".


" Jadi tolong mas, kali ini saja, aku mohon ". Danira mengatup kedua tangannya, meminta suaminya mengabulkan keinginannya. Gavino menghela nafas kasar, melihat Danira yang sedang memohon kepadanya. Dia memutar tubuhnya, hingga membelakangi Danira masih dan posisi berkecak pinggang.


" Pergilah....aku melepaskanmu kali ini, jangan pernah muncul lagi dihadapanku. jika sampai aku melihatmu, maka Jagan salahkan aku bila kau harus mati". Ujar Gavino dengan nada ancaman. Danira tersenyum bahagia, karena Gavino mengabulkan keinginannya kali ini.


" Terima kasih tuan, terima kasih Nyonya ". Ucap pria itu, berdiri lalu pergi mengendarai mobil boxnya meninggalkan pasangan suami istri itu.


" Terima kasih mas " Ucap Danira, tanpa sadar memegang lengan suaminya. Gavino melirik lengannya yang pegang Danira, rasa amarah yang tadi membuncah seketika menghilang entah kemana. Danira yang menyadari kelancangannya dengan cepat menarik tangannya kembali.


" Ma..maafkan saya, saya hanya terlalu senang ". Ucap Danira menjadi salah tingkah.


" Sean...ayo kita pulang sekarang ". ujar Gavino, berjalan dan masuk kedalam mobil mendahului Danira.


Didalam mobil box, pria tadi menyentuh pundak seseorang yang duduk menunduk disebelahnya.


" Bangun lah, kita sudah aman. Mereka telah tertinggal jauh dibelakang ". Ujar pria lusuh tadi. Pria bertubuh kekar, mengenakan baju kaos hitam, topi dan masker diwajahnya bangun dan membenarkan posisi duduknya. Dia melihat mobil Gavino yang telah tak terlihat lagi dari kaca spion.


" Ternyata Aktingmu bagus juga, aku akan segera melapor ke bos besar ". Ujar pria yang mengenakan masker, mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.


" Hallo Bos, Sepertinya kami telah menemukan wanita sesuai yang ada didalam Vidio, dan ternyata dia telah menikah bos".


" Baik bos, secepatnya kami akan melakukan perintah anda ". Ujar pria bermasker, lalu tersenyum kepada rekannya.


***


Mobil yang membawa Gavino dan Danira telah berhenti di basment Penthouses. Gavino telah turun diluan, tanpa menunggu Danira. Sean juga turun dan membukakan pintu untuk Nyonya-nya.


" Terima kasih Sean ". Ucap Danira tulus. Sean hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


" Sean...urus perbaikan mobil ini, aku ingin besok pagi mobilku telah mulus kembali ". Titah Gavino.


" Siap tuan ".


Danira mengikuti langkah suaminya dari belakang, Tiba-tiba Danira menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang, melihat kesegala arah, namun tak menemukan siapapun.


Sepertinya ada yang memperhatikanku, apa ini hanya perasaanku saja. Batin Danira bertanya-tanya, dia merasa sejak mereka sampai ada yang mengintai mereka. Danira kembali melangkah menyusul suaminya.


Mereka berdua telah sampai didepan pintu penthouses, dan siap memasukkan PINnya. Tapi ternya pintu telah terbuka, mereka saling lirik. Tanpa menunggu, mereka langsung mendorong pintu dan masuk.


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2