CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
70. Benturan Kening


__ADS_3

Danira melihat kedatangan Gavino. Wajahnya kembali masam, tak ada keramahan sedikitpun. Danira benar-benar kesal kepada suaminya. Bagaimana tidak, Danira sudah dikurung dirumah sakit hampir 1 Minggu lamanya. Setiap kali dia ingin pulang, Gavino selalu menahannya dengan alasan tunggu sampai Danira benar-benar sembuh. Padahal ini adalah cara Gavino membalas kekesalannya, karena merasa Danira telah mempermalukannya. Saat dia membawa Danira kerumah sakit mengenakan Bathrobe.


Tapi yang menariknya adalah, Gavino selalu datang menemani Danira. Selama Danira dirawat, Gavino selalu datang siang kekantornya, hal itu membuat pekerjaan Gavino kian menupuk, yang semakin sibuk menghandle semuanya tentu saja Sean sang asisten setia. Bila waktu makan siang, Gavino akan datang, dan hanya duduk disofa berdiam diri tanpa melakukan ataupun mengatakan apapun hingga jam makan siang habis, terkadang membuat Danira risih. Sadar atau tidak, semakin hari Gavino semakin menunjukkan rasa pedulinya kepada Danira.


Seperti saat ini, Gavino telah bersiap akan kembali kekantornya, dia berdiri dan siap melangkah pergi. Namun suara Danira menghentikan langkah kakinya.


" Berapa lama lagi anda akan menahan saya disini ?". Tanya Danira bernada ketus. Gavino hanya menoleh, tanpa membalikkan badannya.


" Tunggu sampai kau benar-benar sembuh ". ujar Gavino singkat. Danira semakin memajukan bibirnya geram mendengar alasan Gavino.


" Bisakah anda memikirkan alasan yang lain, anda tidak kreatif sekali. Menggunakan alasan yang sama terus menerus untuk menahan saya disini ".


" Lalu kau ingin aku mengatakan apa lagi, kau memang masih sakit dan butuh perawatan sampai kakimu benar-benar sembuh ". Ujar Gavino, sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Danira mengeraskan rahangnya kesal, dia turun dari ranjang lalu berjalan dan berdiri tepat dihadapan Gavino. Gavino sedikit menundukkan kepalanya melihat Danira yang tingginya hanya sebatas dagu Gavino.


" Tuan Gavino...kaki saya sudah sembuh, coba lihat. Saya sudah tidak merasakan sakit apapun ". Danira berucap, sambil melompat-lompat didepan gavino, membuktikan bahwa apa yang dia katakan benar. Gavino menautkan alisnya melihat tingkah Danira.


" Lagi pula, kaki saya hanya terkena kepingan Keramik dan goresan kecil. Bukan tertusuk tombak sampai menembus jantung saya, sampai-sampai harus dirawat selama ini". Geram Danira, bingung harus menjelaskan seperti apa lagi kepada suaminya yang batu ini. Gavino hanya mendengarkan Danira dan melihat dengan wajah datarnya.


" Kau masih butuh istirahat, jadi lebih baik kau tidur lagi sana ". Perintah Gavino, Danira semakin tak percaya mendengar jawaban dari mulut suaminya.


" Tapi saya tidak butuh istirahat lagi, saya sudah bosan disini ". Regek Danira, Gavino menaikkan satu alisnya.


" Nanti akan saya fikirkan, kegiatan apa yang cocok untukmu agar tidak merasa bosan disini ". Ujar Gavino, dengan mata melihat kearah lain. Dia tau saat ini pasti Danira sangat kesal kepadanya. Danira ternganga dan membulatkan matanya tak percaya.


"Apa katanya...kegiatan disini, apa dia sudah gila dan berniat mengurungku sepanjang waktu disini ". Batin Danira, merasa salah mendengar.


" Baiklah...aku harus pergi sekarang. apa ada yang kau inginkan?.. Nanti biar aku suruh Sean yang mengantarkannya kesini ". Tanya gavino, sambil melirik arloji branded ditangan kirinya.


" Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin pulang dan keluar dari sini ". Ketus Danira, sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Gavino melirik Danira sekilas, lalu berjalan mendekati Danira, mencondongkan wajahnya, kedepan kewajah Danira menyisakan hanya beberapa centi saja. Hal Itu membuat Danira memundurkan kepalanya.


" Akan aku pertimbangkan keinginanmu ". Bisik Gavino, lalu membenturkan keningnya, ke kening Danira pelan.


Gavino menegakkan lagi tubuhnya, berjalan melewati Danira lalu pergi, menghilang dibalik pintu. Danira masih berdiri mematung, sedetik kemudian kesadarannya kembali. Danira melihat pintu yang telah tertutup.


" Aahhhh..!!!


" kenapa dia menyebalkan sekali. Kalau saja membunuh orang tidak termasuk dosa besar dan hukuman penjara. mungkin sudah aku gantung kepalanya di pohon beringin. Biar sekalian dikawinin kuntilanak". Gerutu Danira kesal, dengan suara sedikit keras Dia mengepalkan kedua tangannya membentuk tinju, dan menghentak-hentakkan kakinya kelantai. Danira benar-benar kesal sampai ke ubun-ubun. Danira benar-benar seperti anak kecil yang tegah merajuk kepada ayahnya.


Gavino yang posisinya masih berdiri didepan pintu, bisa mendengar semua ucapan dan umpatan Danira kepadanya. Gavino mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah Danira.


Dia lucu sekali. Batin Gavino, terukir senyum tipis dibibirnya. Dr. Richard yang sedang berjalan menujuh keruangan Danira, terpaksa menghentikan langkahnya dan Memilih bersembunyi dibalik tembok, karena melihat Gavino yang sedang berdiri didepan pintu dan senyum-senyum sendiri.


" Baru kali ini aku melihat dia bersikap seperti ini, sepertinya Bongkahan Baja sudah mulai melebur ". Gumam Dr. Richard tersenyum.


" Ada apa dok ?". Tanya suster yang ada dibelakang dr. Richard.


" Ehh..tidak ada. Ayo ". Ajak dr. Richard. Mereka berjalan lagi, setelah melihat Gavino pergi.


Danira masih saja bersungut-sungut diruangannya. Dia masih saja mengumpat suaminya dengan kata-kata yang masih dia jaga. Dr. Richard berdiri didepan pintu, memperhatikan tingkah Danira.

__ADS_1


" Hekhem ". Danira berbalik, saat mendengar suara deheman seseorang dari belakang.


" Assalamualaikum... ". Salam Dr. Richard, tersenyum ramah.


" Wa.. waallaikumsalam om ". Jawab Danira kikuk. Danira menjadi salah tingkah karena Dr. Richard pasti melihat aksi konyolnya barusan. Wajah Danira semakin memerah. Yang tadinya kesal berubah menjadi rasa malu.


" Maaf om, Danira tidak tau kalau om sudah ada disini ". Cicit Danira pelan, dengan menundukkan kepalanya.


" Ha..ha..ha...Tidak apa-apa, om juga hanya ingin memeriksa keadaanmu saja ".


" Hemmmhh....!!! Om kan sudah tau, kalau kondisiku baik-baik saja, sangat baik malah". Ujar Danira, sambil menghela nafas pelan.


" Iya...om tau, ini hanya formalitas saja. Karena kamu masih berada dirumah sakit ini, om wajib menanyakan kondisimu ". Jelas Dr. Richard, lalu meminta suster mengecek tensi Danira dan mencatatnya.


" Kenapa kamu terlihat sangat kesal, Apa ini karena Gavino ?". Tanya Dr. Richard, telah duduk dihadapan Danira yang sedang diperiksa oleh suster mengunakan tensimeter.


" Ti..tidak om, danira tidak kesal ". Elak Danira, menunduk.


" Tadi om melihat suamimu senyum-senyum sendiri didepan pintu seperti orang gila, sepertinya dia sangat senang sekali ". Danira melihat kearah Dr. Richard.


"Didepan pintu ?". Ulang Danira, dan dijawab anggukan oleh Dr. Richard.


Apa dia mendengar umpatanku tadi, ahh...bisa gawat jika sampai dia mendengar semuanya. Haduhhh Danira, kau dalam masalah besar. Pasti suamimu akan membalas dengan kejahilan yang lebih parah. Batin Danira, Dia mengigit bibir bawahnya, berpikir.


"Iya...kenapa ?, apa dia membuat ulah lagi ?".


"Tidak om, mas Gavino tidak membuat ulah apapun ".


" Apa suamimu belum memberi tahu?".


" Memberi tahu tentang apa om ?". tanya Danira penasaran.


" Nanti sore kamu akan pulang, selamam suamimu sudah mengatakannya kepada om ". Mendengar itu, danira kembali kesal, lagi-lagi dia dijahili suaminya. rasanya ingin sekali Danira mencekik leher Gavino saat ini.


" Mas Gavino tidak mengatakan apapun om ". Ujar Danira.


" Aiiiss...!! dasar bocah kampret itu".


" Om, jangan sebut suamiku seperti itu". Bela Danira, dia tak terima bila suaminya diumpat dengan kata-kata yang tidak baik.


" Kamu masih saja membelanya, Walaupun dia sering kali menjahilimu, jika om jadi kamu, si gavino sudah om kutuk jadi keong racun lalu om tendang masuk kesawah ".


" Bagaimana pun mas Gavino suamiku om ". Ujar Danira lembut.


" Hemm...ya..ya..ya, om tidak akan mengatai suamimu lagi ".


" Dok, sudah selesai ". Ujar suster memberi tahu.


" Oke, ..kita sudah selesai. Kalau begitu om pergi dulu, karena masih banyak pasien yang harus om periksa". Ujar Dr. Richard menepuk kedua lututnya, lalu berdiri". Danira ikut berdiri dan mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih om ".


***


Tok


Tok


Suara ketukan pintu, mengambil alih pandangan orang-orang yang ada diruangan itu, mereka melihat siapa yang datang.


" Assalamualaikum Danira ". Salam Doni, yang berdiri diambang pintu.


" Waallaikumsalam". Jawab Danira.


Doni melangkah masuk. Dr. Richard melihat kedatangan Doni seorang diri mengeryitkan dahinya, merasa ada yang aneh. Apa lagi melihat buah tangan yang Doni bawa, bingkisan buah dan sebuket bunga mawar merah. ini seperti seorang pria tegah menjeguk wanitanya. Dan dokter Richard juga bisa merasakan dari tatapan mata Doni memandang Danira, ada keinginan dan mendamba. Dr. Richard yang sudah tau siapa Doni, tentu sudah paham dan hapal dengan kepribadian Doni, bagaimana cara dia dengan para wanita. " Ada yang berbeda ". Batin Dr. Richard.


" Om..." Sapa Doni saat mereka telah berhadapan.


" Don..kau kesini sendiri ?". Tanya Dr. Richard, menyelidik.


" Iya om ".


" Ya sudah, kalau begitu om pergi dulu Don ". Pamit Dr. Richard, sambil menepuk pundak Doni dan berlalu pergi.


Dr. Richard telah berada diluar, namun secara tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat kedalam ruangan. Terlintas ide jail dalam otaknya. " Akan aku buat kau tidak tenang berada di kantormu. kau akan seperti cacing kepanasan setelah melihat ini ". Gumam Dr. Richard mengeluarkan ponselnya, lalu mengambil gambar saat Doni menyerahkan buket bunga mawar kepada Danira. Dr. Richard mengirim foto itu ke nomor seseorang, dan terkirim. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya.


" Ini untuk mu ". Ujar Doni, seraya memberikan buket bunga mawar cukup besar dan bingkisan buah yang telah diletakkan diatas meja.


" Untuk saya ?". Tanya Danira bingung.


" Iya...Saya mendengar kamu sakit dari gavino. Jadi maaf saya baru bisa menjenguk kamu sekarang, karena saya sedang ada perjalanan bisnis kemarin". Ujar Doni menjelaskan.


" Tidak apa-apa, seharusnya kakak tidak perlu repot-repot datang kesini untuk menjenguk saya ". Jawab Danira sopan. Mendengar Danira menganggilnya dengan sebutan ' Kakak ', hati Doni semakin berbunga-bunga, merona seperti mawar yang dia bawa.


" Ini terima lah, angap saja ini bentuk doa saya, yang mengharapkan kamu cepat sembuh ". Ujar Doni lagi, masih menyodorkan buket kehadapan Danira. sejujurnya Danira tak ingin menerima pemberian dari pria lain, namun dia tak enak hati untuk menolak, mengingat Doni adalah sahabat suaminya.


" Baiklah ,saya terima. Terima kasih kak ". Ucap Danira lembut. Sesaat mereka sama-sama diam, Danira yang mulai tidak nyaman.


" Maaf apa ada lagi yang ingin kakak katakan ?, karena sejujurnya saya kurang nyaman berada dalam satu ruangan bersama pria yang bukan mahram saya. apa lagi saya telah bersuami, saya takut akan menimbulkan fitnah". Danira mengutarakan rasa ketidak nyamanan ya karena hanya berdua dengan Doni.


Mendengar ucapan Danira, Doni menjadi canggung, dia memahami maksud dari perkataan Danira. Namun Doni ingin menanyakan satu hal yang selama ini mengganjal dihati dan pikirannya.


" Boleh saya bertanya sesuatu ?".


" Ya...silahkan kak ".


Doni mulai menimbang apakah dia harus menanyakan hal ini, atau diurugkan saja. tapi dia ingin mengetahui jawabannya, agar rasa penasarannya mereda.


" Eemmm...Apakah kamu bahagia bersama Gavino ?".

__ADS_1


......................


...Bersambung......


__ADS_2