CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
90. Hutan Kelam


__ADS_3

Di kediaman Pradiksa, Ny. Calina terus saja mencoba menghubungi ponsel Gavino. Tapi sayang, berkali-kali dia mencoba, tetap saja tidak bisa, yang ada hanya suara operator memberitahu bila nomor tersebut sedang diluar jangkauan. Ny. Calina semakin merasa gelisah, dia cemas.


" Bagaimana Nyonya, apa tuan Gavino sudah bisa dihubungi?". Tanya bik Sri sambil menggendong Khalisa.


" Belum bik, nomor ponselnya masih tidak aktif dari tadi ". Mencoba menghubungi lagi.


" Mungkin disana sedang tidak ada sinyal nyonya, 'bukankah tadi Nyonya Laras mengatakan bila disana sedang cuaca buruk ". Ujar bik Sri, Ny. Calina sudah menghubungi ibunya yang ada dikalimantan, menanyanyakan apakah Gavino dan Danira sudah tiba disana atau belum, karena sedari tadi perasaannya sangat kacau dan merasa cemas tanpa sebab. Namun Oma Laras mengatakan bila mereka belum sampai, mungkin disebabkan cuaca buruk.


" Bisa jadi bik, tapi aku tidak tau kenapa perasaanku benar-benar khawatir dengan Gavino. Sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. Dia sering kali pergi ke luar kota ataupun ke luar negri, tapi kali ini aku benar-benar mencemaskannya ". Jelas Ny. Calina, apa yang tegah dia rasakan. Bik Sri bisa melihat dengan jelas raut khawatir Ny. besarnya ini, karena memang benar, Ny. Calina tak perna bersikap seperti ini sebelumnya.


" Apa Nyonya sudah mencoba menghubungi Ny. Danira?".


" Aahh iya kau benar, kenapa aku tidak kepikiran menghubungi Danira ". Ujarnya, Dengan cepat Ny. Calina mencari kontak menantunya, lalu menekan tombol panggil. Namun, sama halnya dengan Gavino, nomer ponsel Danira juga sama tak aktif. Mendengar suara operator kembali menyatu, membuat raut wajah Ny. Calina menjadi kesal.


" Sama bik, nomer Danira pun tak aktif. Ya Tuhan, mereka berdua kemana sih ". Ny. Calina duduk dengan gelisah, jantungnya masih berdegup kencang, rasanya tak karuan. Lalu dia teringat Sean, dengan segera Ny. Calina menghubunginya.


TUT*


" Selamat Malam Nyonya ". Suara Sean langsung menyapa dari sebrang telpon.


" Sean, apa Gavino ada menghubungimu hari ini ?".


" Belum ada Nyonya, memangnya ada apa Nyonya ?".


" Sedari tadi aku sudah mencoba menghubungi mereka berdua, tapi ponsel mereka sama-sama tidak aktif. Perasaanku benar-benar mencemaskan mereka. Sean, bisakah kau tolong lacak keberadaan mereka ?". Pinta Ny. Calina. Sean dapat menangkap gurat kegelisahan dari suara Ny. Calina.


" Mungkin tuan muda Ny. Danira sedang beristirahat dihotel Nyonya, karena menurut laporan dari pihak bandara tadi, mereka melihat Tuan muda berhasil memberikan kejutan kepada Ny. Danira tadi siang. Bisa jadi saat ini mereka sudah berdamai, dan merayakan hal itu ".


" Kejutan...? ".


" Benar Nyonya, tuan muda membuat sebuah kejutan permintaan maaf kepada Ny. Danira, dan sepertinya itu berhasil ". Jelas Sean memberitahu.


" Kau yakin Danira sudah menerima Gavino kembali ?". Tanya Ny. Calina lagi memastikan.


" Menurut informasi orang-orang kita yang melihat langsung disana, memang seperti itu adanya Nyonya ".


" Aahhhh...syukurlah, aku sangat senang mendengarnya. Semoga saja mereka saat ini tegah menikmati kebersamaan mereka, dan aku segera mendapatkan cucu lagi ". Ujar Ny. Calina senang, Ny. Calina sangat senang mendengar kabar seperti ini. Dia sangat berharap ini awal yang baik bagi hubungan anak dan menantunya.


" Tapi Sean, perasaanku sangat tidak tenang. tiba-tiba aku menghawatirkan Gavino ".


" Anda tenang saja nyonya, saya akan memastikan Tuan muda dan Ny. muda dalam keadaan baik, saya akan meminta orang-orang kita yang ada disana melacak keberadaan mereka sekarang".


" Eemmmm....bila sudah mendapatkan kabar, segera kabari saya ". Ucap Ny. Calina.


" Baik Nyonya ".

__ADS_1


Setelah sambungan telpon itu berakhir, Ny. Calina menyandarkan punggungnya kesadaran sofa, pandangannya lurus kearah foto pernikahan Gavino dan Danira, Ny. Calina mencoba menenangkan rasa gelisah dalam hatinya.


Ya Tuhan, tolong lindungi anak dan menantuku, semoga ini hanya perasaanku saja. semoga kecemasan tanpa sebab ini, tidak berarti apa-apa. Doa Ny. Calina dalam hati.


***


Ditempat lain.


Hujan semakin deras, gelap semakin pekat, jarak pandang mulai terbatas akibat tak adanya pencahayaan sama sekali. Danira terus menarik Gavino masuk kedalam hutan, tanpa tau arah dan tujuan. Yang pasti dia harus membawa suaminya pergi secepat mungkin, menghindari kejaran para penjahat itu. Danira sudah tak memperdulikan lagi gelapnya hutan, dia sudah tak merasakan takut bila ada hewan buas ataupun hewan berbisa lainnya yang menghadang mereka.


" Mas, kamu bertahan ya. Aku mohon ". Ujar Danira merangkul gavino. Gavino yang tenaganya semakin melemah hanya bisa diam, dengan terus berusaha mengimbangi langkah kaki Danira. Meski Gavino sudah tak sanggup lagi, tapi dia terus berusaha menggerakkan kakinya untuk berlari. Namun karena terus berlari, membuat Danira tak melihat bila ada kayu yang melintang cukup besar didepannya, dan......


BRUK**


Mereka berdua jatuh tersandung, Gavino terjatuh dalam posisi terlungkup, dia ingin sekali bangun dan berdiri, tapi tubuhnya sangat lemas tanpa tenaga.


" Aawww.....!!" Jerit Danira merasakan kesakitan ditangan dan lututnya, lalu pandangannya mencari keberadaan suaminya yang masuk kedalam semak-semak.


" Mas Gavino, ya Allah mas. Maafkan Danira ". Ujarnya mencoba mengangkat tubuh suaminya. Danira sangat kesusahan, karena tubuh gavino yang besar dan kekar, membuat Danira kesulitan mengangkat tubuh gavino untuk berdiri. Berkali-kali mereka terjatuh, tapi Danira tak pernah menyerah. Dia terus berusaha membawa suaminya pergi dari sana, dia tak akan membiarkan orang-orang itu membunuh suaminya.


" Bismillah....ayo mas bangun, mas pasti bisa". Ujar Danira, Gavino tetap diam. Dia benar-benar sudah tak memiliki tenaga, meski hanya untuk menjawab satu kata saja. Air hujan yang membasahi tubuh mereka tak membuat Danira menyerah, meski diselingi tangisannya, dia kembali memeluk tubuh gavino dan kembali mengangkat tubuh besar itu. Tapi tiba-tiba Danira mendengar suara langkah kaki semakin mendekat kearah mereka, Danira mulai panik. Dia takut bila penjahat yang mengejar mereka tadi menemukan keberadaan mereka. Danira menarik Gavino kearah pohon yang sangat besar, Danira menyandarkan tubuh suaminya dibatang pohon itu lalu dia memegang lengan Gavino dengan erat.


Ya Rab, tolong tolong lindungi dan selamatkan kami. Hanya dengan pertolongan dan kuasamu kami bisa selamat dari sini . Batin Danira berdoa, dia benar-benar memasrahkan segalanya kepada sang khalik.


" Bagaimana, apa kau menemukan mereka ?". Tanya seorang penjahat pada rekannya. dari balik pohon Danira menutup mulutnya, menahan nafas. Dia sangat takut, bila para penjahat itu menemukan mereka. Jarak mereka hanya pohon besar itu saja.


" Ya kau benar sekali, apa lagi hutan bagian ini juga terkenal dengan keangkerannya. iiihhh...seram, aku tidak ingin menjadi tawanan para penghuni hutan ini ". ujar rekannya bergidik ngeri.


" Ayo kita kembali saja, katakan saja pada ketua, bila mereka berdua mati terjatuh kedalam jurang yang ada diujung sana ". usul penjahat itu pada rekannya.


" Iya, itu ide yang bagus. Agar kita terhindar dari amukan bos besar ". Mereka berdua pun pergi berlari dengan kencang, karena bulu kuduk mereka sudah merinding, membayangkan penghuni hutan itu menampakkan wujud dihadapan mereka. Danira menghela nafas lega, mendengar langkah kedua penjahat itu perlahan menjauh, dan menghilang.


" Alhamdulillah, terima kasih ya Rab ". Syukur Danira.


" Ayo mas, kita harus pergi dari sini ". Ucap Danira, kembali membantu mengangkat tubuh gavino, tapi....


" Uhhukkk..." Gavino kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya, Danira dapat mencium aroma darah. Danira kembali menangis, melihat kondisi suaminya. Dia terus mencoba membawa Gavino berjalan perlahan, menyusuri hutan lebat dan gelap.


" Mas aku mohon sabar dan bertahan ". Danira berucap dengan suara bergetar, mereka sudah berjalan hampir 20 menit, tapi mereka belum menemukan jalan keluarnya. Gavino terus berusaha mengumpulkan kesadarannya, dia tidak boleh pingsan saat ini, kasihan Danira. pikirnya. Danira menghentikan langkahnya, lalu mengangkat burkanya untuk melihat sesuatu didepan, kemudian menutupnya lagi.


" Mas, sepertinya didepan ada tempat untuk kita berteduh sebentar. Ayo ". Ucap Danira kembali membawa Gavino yang semakin melemah. Mereka sudah sampai didepan Shelter yang Danira lihat, Shelter yang terbuat dari kayu sebagai bahan penyanggah/tiang dan dedaunan sebagai atap, dinding dan lantainya, bentuknya tidak terlalu tinggi tapi cukup untuk tempat beristirahat sementara. Sepertinya ini Shelter milik seseorang yang pernah kesini. berarti tempat ini aman. pikir Danira.


Danira memasukkan Gavino kedalam, lalu membaringkannya.


" Mas untuk sementara kita beristirahat disini dulu ya, karena hujan semakin deras dan malam semakin gelap. Setidaknya sampai kita bisa melihat jalan keluar dari sini ". Ucap Danira, Gavino tetap diam, dia hanya memejamkan matanya. Danira meraba tubuhnya yang basah, tapi tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu dibalik hujab panjangnya. Dia menariknya kedepan, dan berapa bersyukurnya Danira. ternyata tas selempangnya masih berada ditubuhnya, dia pikir tasnya tertinggal didalam mobil Gavino. untung saja tas itu berbahan kulit, jadi tak ditembus oleh air hujan.

__ADS_1


Danira mulai meronggoh tas miliknya lalu mengeluarkan ponselnya, dia ingin menghubungi Sarah. tapi sepertinya Danira harus kembali bersabar, karena ponselnya tidak mendapatkan sinyal sama sekali. Dia mengambil ponselnya yang satu lagi, namun hasilnya tetap sama, tak ada sinyal.


"Ya Allah, bagaimana aku bisa meminta pertolongan kalau begini". Gumam Danira, bingung. Danira menyalahkan senter diponselnya, lalu mengarahkan kewajah suaminya. Alangkah terkejut Danira, ketika melihat wajah suaminya yang penuh luka, lebam dan pucat. Danira kembali menangis, apalagi melihat baju suaminya penuh dengan darah, ditambah luka tembak yang ada lengan kanan Gavino. Danira semakin pilu dan merasa bersalah. Danira menyalahkan senter satu lagi diponselnya, lalu menyelipkan Kedinding dedaunan, hingga membuat keadaan didalam Shelter itu mendapat pencahayaan. Danira mengambil tisu basah dalam tasnya, mulai membersihkan bekas darah yang ada diwajah suaminya, sambil menangis dan mengucapkan kata maaf berkali-kali.


Flashback on.


" Aku sudah memaafkan mas Gavino, tetaplah hidup dan terima kasih sudah berusaha melindungiku". Ucap Danira sambil memeluk Gavino erat.


DORR**


Mendengar suara tembakan mengarah kearah mereka, Gavino mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, lalu dengan cepat memutar tubuhnya, hingga tembakan itu mengenai lengan tangan sebelah kanan Gavino.


" Aaggghhh....." Gavino mengerang kesakitan, merasakan timah panas telah bersarang dilengannya, Danira membolakan matanya. Merasakan darah segar kembali keluar dari sisi lain tubuh suaminya. Gavino semakin melemah, tubuhnya mulai limbung, dia akan segera jatuh ketanah, tapi lagi-lagi Danira menahan dengan sekuat tenaga tubuh suaminya.


" TIDAK.....mas, mas Gavino. Ya Allah aku mohon jangan lakukan ini ". Tangis Danira kembali pecah. dia menangis sejadi-jadinya, dia menyelang melihat semua penjahat yang sedang tertawa terbahak-bahak, mengejek mereka.


" Kenapa kalian melakukan ini, apa yang kalian inginkan hah ?". Teriak Danira yang sudah dipenuhi amarah.


"HA..HA..HA...!!,sudah aku katakan bukan, menurutlah bila ingin dia selamat, tapi apa yang anda lakukan ". Ucap kepala geng, sambil tertawa mengejek.


" Bohong....!! kau bilang jika aku mengikuti anak buahmu pergi, maka kalian tidak akan membunuhnya. Tapi nyatanya apa, anak buahmu malah menembakkan senjata api pada suamiku ". Teriak Danira emosi, dengan suara bergetar.


" Itu bukan atas perintahku, dan bukan dari anak buahku. Aku tidak tau siapa yang melakukannya. tapi yang jelas Ini akan menjadi berita yang besar, bila sampai dunia tau, jika seorang King Bisnis yang sombong dan arogan ini mati dalam keadaan mengenaskan. HA..HA..HA ". Ujarnya lagi, senang.


" Kalian semua benar-benar biadap, apa kalian tidak takut dengan dosa. ingatlah, Allah akan membalas setiap rasa sakit yang suamiku terima atas perbuatan kalian ini ". Ucap Danira, semua pria itu hanya saling lirik, lalu mereka kembali mentertawai ucapan Danira.


" Kami tidak perduli, itu urusan nanti bila sudah mati. Lagi pula lihat saja sekarang, bahkan tuhanmu tak mengirimkan pertolongan untuk kalian bukan ". Sinis ketua geng, kemudian dia memberi kode isyarat kepada anak buahnya untuk menyeret Danira. Tapi tiba-tiba, mereka kembali mendengar suara tembakan...


DOR**


Para penjahat itu mulai mencari dimana asal suara tembakan, mereka terkejut melihat sekelompok pria berjas hitam berlari kearah mereka dengan senjata api yang ada ditangan mereka.


" Lepaskan Nona Danira ". Ucap salah seorang dari mereka, mengarahkan senjata api kearah ketua geng. Sang ketua tersenyum miring melihat hal itu.


" Jika kami tidak mau, kau mau apa ?".


" Brengsek, serang mereka dan selamatkan Nona....!!!". Teriak salah seorang pengawal Danira. Keadaan semakin memanas, suara tembakan saling saut-sautan, melihat semua orang tegah sibuk berkelahi. Danira mengambil kesempatan ini, untuk membawa suaminya kabur.


" Mas....mas Gavin masih bisa bangun kan ?". Tanya Danira berbisik, Gavino hanya diam, kesadarannya akan menghilang. " Mas, aku mohon bertahan sebentar lagi, kita pergi dari sini ya ". Bisik Danira lagi, dan kali ini Gavino hanya menjawab dengan Anggukan kepala, lemah. Perlahan Danira membantu suaminya berdiri, lalu mereka menyelinap diantara para pria yang sedang berkelahi. Dengan cepat, Danira mengajak Gavino berlari, hingga masuk kedalam hutan.


" Bos...!!! mereka kabur ". Teriak seorang penjahat pada Ketua Geng, mendengar ucapan anak buahnya membuat ketua geng semakin murka.


" Kurang ajar,....cepat kejar dan tangkap mereka berdua ". Titahnya, penuh amarah.


Flashback off.

__ADS_1


......................


...Bersambung........


__ADS_2