
Hera masuk kedalam ruangan Danira dengan wajah merah padam, dimatanya nampak jelas kobaran api kebencian. Dia berjalan mendekati Danira.
" WANITA KEPARAT..!!!Dimana kau sembunyikan anakku ?". Teriaknya lagi, membuat Danira semakin mengerutkan keningnya bingung.
" Assalamualaikum ibu, silahkan duduk dulu ". Ucap Danira halus, namun wanita itu tak memperdulikan ucapan Danira bahkan dia semakin terlihat berapi-api dan ingin sekali menjambak Danira.
" Tidak perlu sok baik dan sok alim dihadapanku, karena wanita jahat sepertimu sangat tidak pantas berprilaku seperti ini. kembalikan anakku Aryo, dimana kau menyembunyikannya hah ?". Danira menautkan alisnya, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hera.
" Kembalikan ?, maaf Bu, saya tidak mengerti apa maksud ibu, karena saya belum bertemu dengan mas Aryo !!".
" Alah....pembohong, kemarin anakku datang kesini. Namun sampai saat ini anakku belum pulang kerumah, ini semua pasti ulahmu kan ?, Pasti kau meminta anak buahmu untuk menyekap anakku. Apa kurang cukup kau mengambil semua harta kami hah ?, dan sekarang kau juga menyembunyikan anakku ?". Tuduh Hera dengan wajah memerah.
Danira menoleh kepada Sarah yang berdiri disampingnya, Sarah mengangkat bahunya tanda tidak tau. Gavino yang sedari tadi mendengar istrinya terus dituduh dan diteriaki mulai geram, dia menutup buku yang ada ditangannya, lalu berdiri.
HEKHEM....
" Hera Narendra, Putri dari Morgan Narendra, seorang politikus yang dihukum mati atas kasus korupsi ditahun 80an. Ccckk...cckkk..cckkk...hidup gelamor tanpa ingin bekerja keras. Memaksa anak untuk menikahi wanita kaya raya agar bisa hidup mewah ".
" Haiss!!...aku tak habis fikir bagaimana bisa ayah mertua ku menyetujui putri sulungnya menikah dengan keluarga berantakan seperti keluargamu ". Ucap Gavino yang kini telah berdiri dibelakang Danira, memegang bahu istrinya. Mendengar itu membuat Hera semakin geram dan mengepalkan tangannya.
" Kau....!! beraninya kau menghina keluargaku hah ?". Pekik Hera semakin kesal dan marah.
" Kenapa kau marah ?, bukan kah itu fakta Ny. Hera. Bahkan kau meracuni suamimu sendiri, hanya demi harta yang tak seberapa itu ". Ujar Gavino lagi, semakin membuka rahasia kelam keluarga Narendra, Hera semakin memelototkan matanya tak percaya. Dari mana Gavino mengetahui semua itu. pikir Hera.
" Berhentilah menuduh istriku, karena istriku tidak mungkin melakukan hal seperti yang kau tuduhkan. Lagi pula, tidak ada untungnya istriku menyekap putramu yang tidak berguna ". Tekan Gavino, mengejek sambil melihat istri Aryo yang hanya terdiam ditempatnya. Danira menyentuh tangan Gavino, lalu mendongak.
" Mas....". Danira menggeleng sebagai tanda dia tidak suka cara bicara suaminya yang terlalu kasar. Gavino mencebikkan bibirnya kesal.
" Ibu kita bisa bicarakan semuanya baik-baik bukan, bagaimana jika kalian duduk dulu ". Ujar Danira masih dengan nada sopan santun. Hera melihat Danira dan Gavino secara bergantian dengan bengis. Dinda memegang lengan mertuanya.
" Danira benar Bu, lebih baik kita bicarakan semua ini baik-baik, supaya kita menemukan jalan keluarnya". Ucap Dinda pelan, yang sedari tadi diam disamping mertuanya sambil memegang tangan anaknya Naya. Kini mereka duduk saling berhadapan, jarak mereka hanya dibatasi dengan meja kerja Danira.
" Jadi begini Danira, kedatangan kami ingin menanyakan keberadaan mas Aryo yang menghilang sejak datang keperusahaan ini. Sebelumnya saya mohon maaf, atas ucapan suami saya tempo hari. Tapi saya juga berharap kamu mengerti, bila mas Aryo sedang dalam keadaan tertekan karena semua perusahaan yang dia miliki kamu ambil ". Ujar Dinda. Danira mendengar secara seksama setiap kata yang di ucapkan istri Aryo ini, ada kata yang menggelitik hati Danira.
" Maaf mbak, saya tidak tau menau dimana keberadaan mas aryo. Dan Shen-Shen Galery dan Shen Diamond BUKAN milik mas Aryo tapi Milik Shena kakak saya ". Tekan Danira, membenarkan ucapan Dinda.
" Ahh...iya, maksud saya milik Shena ". Ucap Dinda, malu dan gugup.
" Tapi Danira bukankah perusahaan itu telah diberikan Shena kepada Aryo ?, mengapa kamu mengambilnya lagi ? ".
" Bila kamu mengambil semua itu karena menuduh aku adalah selingkuhan Aryo, kamu salah besar. Saya dan Aryo telah menjalin hubungan sebelum Aryo bertemu dengan Shena ". Ujar Dinda mulai mengutarakan maksud yang sebenarnya, Danira masih diam menyimak sebatas mana wanita yang ada didepannya ini ingin membela diri.
" Bukankah kamu sudah memiliki segalanya, bahkan kamu juga telah memiliki suami yang kaya raya, tapi mengapa masih mengambil perusahaan yang tidak seberapa ini ?". Ujar Dinda bernada rendah, bergetar. Mencoba mencari belas kasih Danira. Mendengar kata-kata itu, Danira mencondongkan tubuhnya kedepan, mengangkat kedua tangannya diatas meja, menempelkan kedua tangannya yang bertaut dibawah dagunya, Danira menatap lekat Dinda, dia sudah mengerti maksud dari setiap kata-kata yang Dinda utarakan.
" Jangan menangis Din, mama sudah bilang bukan, kita tidak perlu berbicara baik-baik dengan wanita kejam ini. Lihatlah bahkan dia tidak berniat menjawab semua pertanyaanmu ". Ketus Hera yang sejak tadi mencoba menahan emosinya kepada Danira. Gavino yang duduk disofa semakin geram melihat hera yang selalu berusaha memprofokasi istrinya, jika bukan karena Danira yang terus memberi kode mencegahnya, mungkin Hera sudah mendapatkan hadiah paling berharga sedari tadi dari Gavino.
" Danira...., aku dan mas Aryo tidak bersal....!!".
" Jadi.....!! menurut mbak Dinda kakak saya yang sudah masuk kedalam hubungan kalian ?". Potong Danira.
__ADS_1
" Maaf saya menyela ucapan anda. Jika benar begitu, mengapa kalian bisa putus hubungan tanpa komunikasi selama 1 tahun ?, apakah anda tau tahun mas Aryo dan kak Shena menikah ?". Pertanyaan Danira membuat Dinda diam.
" Biar saya beritahu, mungkin ada lupa atau pura-pura tidak tau. Kalian putus hubungan di tahun 2011, Lalu Mas Aryo dan kak Shena menikah ditahun 2013, pernikahan itupun terjadi karena permintaan seorang ibu yang selalu datang kerumah kami, dengan banyak kebaikan dan sopan santun hinga akhirnya orang tua saya menerima pinangan itu. ". Danira menekan kata-kata nya melihat kearah Hera.
"Kemudian diawal tahun 2014 kalian berdua bertemu lagi, dan memulai menjalin hubungan kembali dibelakang kakakku, hinga anda hamil dan memiliki anak yang sekarang telah berusia 7 tahun. Jadi menurut anda, siapa yang telah merusak hubungan disini, kakak saya atau anda yang telah memilih kembali kepada mantan kekasih anda ?". Ujar Danira dengan tenang, namun penuh penekanan disetiap kalimatnya. Dinda terdiam, dia tak menyangka bila Danira bisa tau sampai sedetail itu.
" Saya yakin anda sudah tau status mas Aryo yang telah menikah bukan, karena sampai saat ini status pernikahan kalian tidak terdaftar dalam catatan negara ". Lagi-lagi Danira membuka fakta yang ditutupi oleh Dinda rapat-rapat.
" Dan harus mbak Dinda ketahui bahwa perusahaan itu bukan milik mas Aryo, kak Shena tak pernah memberikan perusahaannya, dia hanya memberi mandat kepada mas Aryo menjadi pimpinan SELAMA dia menjadi suami yang baik bagi kak Shena dan tidak berhianat ".
" Jika anda bertanya mengapa saya menarik semua perusahaan itu kembali, karena kakak saya memiliki ahli waris yang sah. Yang mana kelak saat dia dewasa, anak itu yang akan mengambil alih semuanya. Kakak saya telah meninggalkan surat ahli waris sebelum dia meninggal dalam keadaan yang tragis ". Tekan Danira lagi, melihat Hera yang mulai terlihat pucat. Tanpa mereka bisa melihat wajah Danira, mereka sudah bisa menebak bila wanita yang dihadapannya ini sedang menahan api kemarahan, sangat jelas dari tiap kalimatnya.
" Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana tersiksanya kakak saya, karena saya yakin anda sudah mengetahui cerita dibalik kematian kakak saya". Dinda mengangkat wajahnya, melihat Danira yang berbicara dengan nada yang sangat dingin.
" Da..da..Danira, saya tidak tau menau tentang itu, saya....!!". Dinda mulai gugup bercampur takut.
" Anda tidak perlu melakukan pembenaran didepan saya, karena saya sudah tau semuanya. Sebenarnya saya bisa saja mengambil rumah kalian yang ada di Singapura, dan butik yang anda miliki disana, karena rumah dan usaha itu dibeli dari hasil perusahaan Shen-Shen Galery dan Shen Diamond. Tapi saya tidak melakukannya. Saya memikirkan nasib anak anda yang cantik ini, saya tidak akan melibatkan anak-anak didalam masalah orang dewasa, dia butuh tempat dan biaya yang cukup untuk kehidupannya. Bagaimanapun, dia saudara putri kakak saya ". Seketika air mata Dinda menetes, dia merasa malu dan tertampar dengan ucapan Danira. Dia benar-benar kehilangan muka saat ini.
" Maafkan saya Danira ". Ucapnya lirih, sedangkan Hera hanya diam, didalam hatinya terus menyumpahi Danira dengan kata-kata yang buruk. Bahkan otaknya terus saja berfikir bagaimana cara merebut semuanya kembali. Dia tidak bisa hidup kekurangan.
" Saya sudah memaafkan kalian, insyaallah tidak ada dendam dalam hati saya. Hanya saja, saya juga manusia biasa, terkadang masih memiliki rasa amarah. Saya hanya memberikan sedikit pelajaran kepada mas Aryo dan keluarganya yang telah mendzolimi kakak saya. Semoga dengan semua ini mas Aryo bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik, dan bisa memulai semua dari awal tanpa harus mengambil apa yang bukan menjadi hak nya".
" Tidak bisa begitu dong, anak saya sudah bekerja keras membangun perusahaan kakakmu hinga maju seperti saat ini. Seharusnya kau memberikan salah satunya sebagai tanda balas Budi kepada anakku ". Hera masih tak terima, dia kembali berkata dengan kencang. Danira menghela nafas pelan, memejamkan matanya sejenak, meski hati Danira sejak tadi panas dan ingin sekali meneriaki orang-orang yang ada dihadapannya ini. Namun Danira terus menahannya, berkata dengan nada pelan. Karena diantara mereka ada anak kecil yang tidak boleh mendengar kata-kata kasar. pikir Danira.
" Ibu....!! dengan saya tidak mengambil rumah dan usaha mereka di Singapur, itu sudah menjadi bentuk terima kasih saya. Jika saya ingin, saya bisa mengambil semuanya. Karena itu didapat dari dana perusahaan kakak saya, apa ibu mau saya melakukannya ?". Hera kembali diam, dia tak bisa menebak bagaimana watak Danira. Bila dia terus berusaha memprofokasi Danira, maka semuanya akan hilang. pikir Hera.
" Cciihhh...sombong sekali. Ingat wanita sialan, kau akan menyesali semua perbuatanmu ini. Akan aku pastikan kehancuranmu ". Sungut Hera menarik tangan menantu dan cucunya keluar dari ruangan Danira. Danira hanya beristighfar dan mengelus dada mendengar ancaman Hera.
" Lihat saja, akan aku buat dia lebih menderita dari kakaknya ". Hera terus saja Ngedumel, melewati koridor.
" Lakukan saja jika kau bisa nenek tua ". Ujar Gavino menggangetkan Hera dan Dinda yang baru saja keluar dari ruangan Danira. Gavino yang telah berdiri sambil menyender didinding, dengan tangan terlipat di depan dadanya, sengaja menunggu mereka keluar. Dinda dan Hera menolehkan kepala mereka melihat Gavino.
" Kau...!!" Hera terkejut melihat Gavino berdiri tak jauh dari mereka, perasaan dia masih didalam. Benak Hera.
" Sejak tadi mulut busukmu terlalu banyak bicara. Jaga lah sikapmu bila kau ingin tetap hidup dengan tenang ". Ujar Gavino melirik mereka bengis
"Cciihh...kau pikir aku takut dengan ancaman mu hah?". Sejujurnya Hera sangat takut, dia tau bagaimana sifat Gavino yang terkenal sangat kejam, namun dia tetap mempertahankan keangkuhannya didepan gavino.
" Aku tidak mengancam, aku hanya memberitahu. Berdoa lah dengan mulut berbisamu ini, semoga doamu mampu menyelamatkan nyawa anakmu ". Bisik Gavino yang kini telah berdiri tepat didepan Hera, dengan tatapan iblis dan seringai mengerikan dibibirnya.
Gavino memperlihatkan Vidio yang ada dilayar ponselnya, seketika mata Hera dan Dinda membola besar saat melihat seorang pria yang mereka yakini itu adalah Aryo, sedang tergantung dengan kaki diatas dan kepala dibawah. Dan dibawahnya terdapat Aligator yang sangat besar, seperti siap menelan Aryo hidup-hidup. Setelah itu dia langsung menarik ponselnya, lalu menyimpannya kembali kedalam saku jasnya.
" BERENGSEK...kau apakan putraku hah!!!, lepaskan dia iblis ".
" Sssuuuttt.....!!! pelankan suaramu nenek tua, tingkat suaranmu juga menentukan nasib anakmu ". Bisik Gavino, meletakkan jari telunjuk dibibirnya. Lalu tersenyum sinis.
" Tuan...tolong, tolong lepaskan suami saya, kasihani dia. Kami masih memiliki anak yang butuh sosok ayahnya ". Dinda memohon dikaki gavino, sambil menangis. Gavino mengalihkan pandangannya kesosok anak kecil disamping ibunya yang terlihat ketakutan dan bingung. Gavino semakin mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangan, ketika melihat wajah Naya yang mirip denga Khalisa.
" Aku tidak perduli, itu bukan urusanku ". Ketus Gavino, semakin marah. Gavino membayangkan wajah bayi yang kini menjadi kesayangannya dirumah, tawa renyah Khalisa, semakin membuat Gavino ingin membalas semua kekejaman keluarga Aryo.
__ADS_1
" Tuan, bukankah Danira telah....!".
" Jangan samakan sifatku dengan istriku, Kami sangat berbeda. Dia memiliki hati bak malaikat yang penuh kelembutan dan maaf tapi tidak denganku, aku adalah lawan dari sifat istriku. Aku adalah malaikat yang akan mencabut nyawa dan menghukum setiap orang yang telah berani menganggu ketenangan keluargaku. Aku tidak pernah memandang baik itu wanita atau pria, tua atau muda, bagiku semuanya sama bila mereka bersalah ". Ujar Gavino mengintimidasi Hera yang telah terduduk lemas, dengan derai air mata.
" Kau memang biadab Gavino, kau bukan manusia ". Pekik Hera.
" Ha..ha..ha, kau akan merasakan kebiadaban ku sebentar lagi. Tunggu saja ...!!". Setelah mengatakan itu Gavino pergi meninggalkan Hera dan Dinda yang menangis, berteriak memohon memanggil-manggil nama Gavino.
" Gavino....?".
" Tuan..Tuan...".
Gavino tak memperdulikan suara mereka, hingga dia berhenti didepan pintu ruangan Danira, Gavino mencoba menetralkan kembali suasana hatinya. Lalu melihat Sean.
" Sean...pastikan semua usaha mereka hilang, tak tersisa. aku tidak akan membiarkan mereka menikmati secuil saja dari milik Khalisa, tapi ingat jangan sampai istriku tau".
" Baik tuan ". Angguk Sean patuh. Gavino mengalihkan pandangannya melihat Sarah, yang sedari tadi turut melihat dan mendengar apa yang dia lakukan.
" Apa kau akan melaporkan pada bosmu apa yang kau lihat tadi ?".
" Saya tidak melihat apapun. Selagi itu demi melindungi nona, saya akan tutup mata ". Jawab Sarah datar, Gavino berdecih mendengar jawaban Sarah.
" Kau memang wanita Samson, aku suka dengan kesetiaan mu ". Ujar Gavino, membuka pintu kembali masuk menemui Danira.
" Sayang...?". Panggil Gavino, Danira mengangkat kepalanya yang menempel dimeja. Melihat Gavino yang berjalan mendekatinya, Sarah dan Sean turut dari belakang.
" Mas dari mana ?".
" Aahh...itu tadi ada telpon dari klien, jadi aku harus menjawabnya diluar ". Bohong Gavino. Danira kembali menghela nafas berat.
" sayang....kau baik-baik saja kan ?". Tanya Gavino menyentuh kepala Danira. Danira menggeleng pelan.
" Aku tidak bisa menghukumnya mas, aku tidak bisa. Meski aku sangat marah, tapi aku tetap tidak bisa menyakiti mereka ". Lirih Danira menunduk.
" Aku hanya bisa berdoa semoga Allah mengampuni dosa mereka, dan memberi balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang telah menyakiti kakakku ". Gavino mendekat lalu memeluk Danira.
" Aamiin, semoga Allah segera mengirimkan orang untuk membalas kejahatan mereka ". Ujar Gavino, mengecup kening Danira.
" Mas.....aku harap bukan mas Gavin yang menculik Mas Aryo ". Ujar Danira mendongak melihat wajah suaminya. Hal itu membuat Gavino salah tingkah, dia membuang pandangan kesembarang arah.
" Tentu saja bukan aku, lagi pula untuk apa aku menculiknya ". Jawab Gavino asal, tidak ingin melihat Danira.
" Mas yakin ?".
" Tentu sayangku....!!". Ucap Gavino, lalu memeluk Danira erat. Gavinomelihat kearah Sarah dan Sean, memberi isyarat kepada mereka dengan gerakan tangan seperti memotong leher. Melihat tingkah Gavino, Sarah dan Sean kompak memutar bolah mata mereka malas.
......................
...Bersambung.......
__ADS_1