
Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Danira mengalah, mengikuti keinginan Gavino untuk dibawa kerumah sakit. Dan disinilah mereka sekarang, diruangan VVIP yang besar, Danira berbaring, dengan kaki yang sedang diperiksa oleh seorang dokter wanita, dan diawasi oleh dokter Richard. Sebenarnya Gavino mengginginkan dokter Richard saja yang menangani Danira, namun Danira menolak dan meminta dokter wanita saja.
Seharusnya Danira bisa ditangani diruang IGD saja, tapi Gavino malah meminta ruangan VVIP. Tak ada yang bisa menolak, bila pemilik rumah sakit telah mengeluarkan titahnya. Gavino duduk disofa sambil memeluk Khalisa yang tertidur, Gavino tidak bisa melihat apa yang para dokter lalukan karena mereka dibatasi dengan gorden berwarna hijau. Dr. Richard berjalan dan duduk disamping Gavino, dia melihat wajah khawatir yang sangat tertera di muka Gavino.
" Jangan Khawatir, istrimu tidak apa-apa. Itu hanya luka kecil ". Ujar Dr. Richard, menepuk pundak Gavino. Gavino terkejut, menoleh kesamping.
" Sejak kapan Om ada disini ?". Tanya gavino yang tak menyadari bila Dr. Richard ada disampingnya.
" Sejak 20 tahun yang lalu ".
" Maksudku, sejak kapan Om duduk di sampingku ". Tanya Gavino ulang, Dr. Richard malah terkikik melihat Gavino kesal kepadanya.
" Saat kau terlalu fokus melihat gorden yang tertutup itu. Apa kau sangat mengkhawatirkannya Vin?". Tanya Dr. Richard.
" Tidak ". Jawab Gavino singkat, namun matanya tetap mengawasi kegiatan yang ada dibalik gorden hijau. Dr. Richard mengangguk-angguk kepalanya dengan bibir tersenyum jahil.
" Tidak khawatir ?!!, tapi kau malah berteriak-teriak membuat seisi dirumah sakit ini menjadi gempar dan kau juga memarahi semua suster yang berjaga karena tak membantu menangani istrimu. Apa itu masih dibilang tidak khawatir ?". Ejek Dr. Richard, karena saat Gavino datang dia telah berteriak dari depan lobby seperti orang kerasukan. Membuat semua tenaga medis merasa ketakutan dan panik melihat kemarahan Gavino.
Gavino melirik Dr. Richard sinis " Bukan begitu maksudku,...aku hanya tak suka mereka bekerja dengan lelet ". Ujar Gavino mengelak.
" Cihh....alasan saja !!, coba kau lihat dirimu, kau bahkan lebih parah dari istrimu yang terluka ". Ujar Dr. Richard menunjuk dengan alisnya.
" Memangnya kenapa dengan.....!!". Gavino membelalakkan matanya melihat apa yang dia kenakan. Ternyata Gavino kerumah sakit masih mengenakan Bathrobe saat dia selesai mandi tadi. " Aahhh...sial, sial. Mengapa aku bisa lupa berganti pakaian dulu, pantas saja orang-orang melihatku dengan tatapan aneh...! Ini semua gara-gara wanita Berjubah itu, awas saja akan aku balas dia, karena telah membuat aku malu seperti ini". Batin Gavino bersungut-sungut, merutuki kebodohannya sendiri. untung saja dia telah menggenakan Boxernya. Jika tidak, sejagat raya akan gempar melihat benda pusaka milik Gavino.
" Ini..itu..!!, karena aku baru selesai mandi. Lalu wanita itu berteriak minta tolong, makanya aku buru-buru, jadi aku tidak sempat berganti pakaian om". Gavino kembali memberi alasan. Dr. Richard hanya mencebikkan bibirnya tak mempercayai ucapan Gavino.
" Sudah lah Vin..Vin, kalau kamu suka ya tinggal bilang suka, kalau peduli ya akui saja. Kenapa mesti gengsi sih ?, toh juga dia itu istrimu sendiri, bukan istri orang lain". Ucap Dr. Richard sambil tertawa, merasa lucu melihat Gavino yang kupingnya memerah, malu.
Seorang dokter wanita yang menangani Danira telah keluar dari balik gorden, dia berjalan mendekati Gavino dan dokter Richard.
" Tuan, luka istri anda sudah saya bersihkan dan diperban. Untunglah, lukanya tidak dalam, jadi tidak perlu ada tindakan jahitan. Dan jika tuan mau, Nyonya Danira juga sudah diperbolehkan pulang". Jelas dokter wanita itu kepada Gavino. Gavino menyimak, dengan mata tak beralih dari gorden yang masih menutup disana.
" Tidak...dia harus dirawat inap disini sampai kakinya benar-benar pulih, dan bisa berjalan normal lagi". Tegas Gavino. Dokter wanita hanya mengangguk patuh mendengar perintah Gavino, sedangkan dokter Richard hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dasar bocah, katanya tidak peduli dan khawatir. tapi lihatlah, istrinya tidak apa-apa saja minta dirawat. pantas saja ibumu menyebutmu dengan sebutan kutu kera. Bukan hanya gengsian, tapi juga merepotkan banyak orang. Batin Dr. Richard.
" Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi keluar ". Pamit dokter wanita, belum sempat dokter itu melangkah keluar. Tiba-tiba pintu sudah dibuka secara paksa.
Duarrr*
__ADS_1
" Mana Menantuku ". Pekik Ny. calina masuk tanpa mengucapkan salam. Gavino dan Dr. Richard membolakan mata mereka melihat penampilan Ny. Calina, yang datang dengan baju tidur bermotif Doraemon berwarna ungu, bandana berwarna pink berkuping kelinci diatas kepalanya, dengan wajah masih menggunakan masker lumpur berwarna hitam yang telah retak-retak, lalu dikakinya memakai sendal rumah berbulu. dan tangan masih terbungkus masker. Sejenak mereka saling bertatapan, kemudian melihat Ny. Calina lagi yang masih ngos-ngosan.
"Siapa yang memberitahu mami ?". Gumam Gavino.
"Tadi om yang menghubungi mamimu ". Jawab Dr. Richard dengan mennyegir kuda, Gavino melirik Dr. Richard kesal.
" Mami..." Panggil Gavino pelan, memastikan apakah ini benar ibunya atau bukan. Yang dipanggil menoleh, melihat Gavino tajam. Itu semakin menambah kesan horor diwajah Ny. Calina.
" Kau benar-benar ya bocah edan,... apa yang sudah kau lakukan kepada menantuku hah ?". Pekik Ny. Calina berlari kearah gavino yang sedang duduk, lalu menjewer telinga putranya.
" Aduh...aduhh, ampun mi, aduh...sakit mami". Ujar Gavino mencoba melepaskan tangan maminya, namun tetap saja tidak bisa. Ny. Calina juga memukul punggung Gavino yang kekar berkali-kali.
" Beraninya kau membuat menantuku terluka upil kera ".
" Bukan aku mi, aku tidak melakukan apapun. Dia sendiri yang menjatuhkan guci dan menginjaknya saat mati lampu ".
" Mati lampu ??, yang benar saja. Sejak kapan Penthouses mu bisa mati lampu ?". Ny. Calina tak mempercayai ucapan Gavino. Pasalnya gedung penthouses milik Gavino adalah gedung yang Gavino desain sendiri dan sudah memiliki sistem emergency, bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran ataupun mati lampu, lampu gedung akan tetap menyala dan tak mempengaruhi apapun.
" Aku berkata jujur mi, tadi aku telah menghubungi bagian maintenance server yang menangani gedung. kata mereka memang ada masalah dibeberapa titik, jadi mereka harus memadamkan aliran listriknya dulu". Gavino menyampaikan sesuai dengan yang diterangkan orang-orang nya tadi.
" Kau pikir mami percaya dengan alasanmu, hek... sorry la ya ". Ketus Ny. Calina melipat kedua tangannya. Gavino menggosok-gosok kupingnya yang terasa panas.
" Aku tidak menyembunyikannya mi, tu..itu disitu menantu kesayangan mami itu. Buka saja gordennya". Ujar Gavino jengah mendengar tuduhan-tuduhan ibunya. Ny. Calina berjalan mendekati ranjang Danira, lalu membuka semua gorden itu hingga menampakkan Danira yang sedang berbaring.
" Sayang...Danira sayang ". Panggil Ny. Calina, namun yang dipanggil hanya diam tak menyahut. Ny. Calina berubah panik, melihat Dr. Richard.
" Chard, kenapa menantuku diam saja. Apa terjadi hal yang serius padanya ?". Tanya Ny. Calina khawatir.
" Tenang saja Lin, menantumu baik dan sehat. Hanya saja ini ulah putramu yang sontoloyo ini. Dia memaksa menyuntikkan Danira obat bius, dengan alasan takut bila Danira kesakitan saat melepaskan kepingan Keramik yang masih menancap dikakinya tadi. Padahal Danira telah menolak, tapi putramu itu tak bisa dibantah keinginannya". Jelas Dr. Richard mengenai kondisi Danira yang masih tertidur akibat pengaruh obat bius.
" Katanya tidak perduli, tapi nyatanya takut juga bila istrinya merasa kesakitan ". Sindir Dr. Richard sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ny. Calina. Gavino menghela nafas pelan melihat kedua sahabat lanjut usia didepannya.
" Bukan begitu om, aku hanya tidak ingin dia merengek dan menangis karena kesakitan, dari pada aku mendengar dia begitu, lebih baik aku antisipasi dengan meminta dibuatkan saja". Jelas Gavino, beralasan.
" Alah....!!! itu alasan basi zaman kuno, dulu juga papimu begitu sama mami, sok gengsi, tapi taunya cinta sampai mati sama mami ". Ujar Ny. Calina mengejek. Gavino memutar bola matanya malas, tak menggubris dia memilih diam dengan sesekali melirik kearah ranjang tempat Danira tertidur.
" Lin...apa kau tidak merasa malu datang kesini dengan penampilan seperti orang-orangan sawah begitu ?". Tanya Dr. Richard, Ny. Calina melihat penampilannya di kaca panjang yang ada diruangan.
" Astaga....itu siapa ?". Ny. Calina terkejut melihat pantulan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Itu bentukan jin tomang ". Ejek Dr. Richard sambil tertawa, Ny. Calina melirik Dr. Richar tajam dan cemberut.
" Lagian kau kesini berpenampilan seperti badut".
" Aku tidak sempat berganti pakaian dulu, karena sudah panik saat kau memberi tahu kalau menantuku masuk rumah sakit...dodol. Aku sudah bersiap-siap akan tidur, saat kau menelponku tadi !!". Jawab Ny. Calina sambil berjalan duduk disamping Gavino.
" Tapi dia benar baik-baik saja kan Chard ?". Tanya Ny. Calina sekali lagi, memastikan.
" Iya....dia baik-baik saja, tidak ad yang perlu dikhawatirkan. Anakmu ini saja yang terlalu lebay, istrinya tidak apa-apa dan sudah boleh pulang, malah minta dirawat sampai lukanya sembuh ". Sindir Dr. Richard melirik Gavino sambil tersenyum jahil.
" Gavino benar chard, biar luka Danira cepat sembuh ". Ny. Calina menyetujui ide Gavino. mendengar jawaban sahabatnya Dr. Richard hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Ibu dan anak sama saja, sama-sama edan".
"Sudahlah aku mau pulang, jam kerjaku sudah lama habis ". Ujar Dr. Richard berdiri dan keluar dari ruangan Danira.
" Mami juga pulang saja, biar aku yang menjaganya disini ".
" Tidak, ...mami mau disini saja menemani menantu mami. Nanti kamu apa-apain lagi". Ketus Ny. Calina menolak, Gavino menghela nafas kesal.
" Memangnya apa yang bisa aku lakukan dengan orang yang sedang tertidur seperti itu mi, lagi pula ini rumah sakit ".
" Lebih baik mami pulang, dan sekalian bawa bayi ini bersama mami. Kasihan bila dia harus disini ". Ujar Gavino sambil meletakkan Khalisa di pangkuan ibunya.
" Ahh mami sampai lupa dengan cucu gemoy mami ini, baiklah mami akan membawa Khalisa pulang. Tapi ingat, jangan kamu macam-macam sama Danira ". Ancam Ny. Calina dengan memperagakan jari telunjuk dan jari tengahnya menusuk kematanya dan juga mata Gavino. Gavino hanya diam, tak menjawab apapun lagi.
Sepeninggalan Ny. Calina, Gavino melangkah mendekati Danira dan berdiri tepat disamping istrinya. Lama Gavino memperhatikan Danira yang tak terlihat apapun, rasa penasaran kembali muncul, Gavino perlahan mengangkat tangannya ingin membuka kain yang menutupi wajah Danira, dekat....dekat..semakin dekat, Gavino hanya tinggal menariknya saja. Tapi....
Tok..
Tok..
Tok..
" Permisi tuan ". Suara ketukan dan sapaan mengatungkan keinginan Gavino.
......................
...Bersambung.......
__ADS_1