CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
137. Rencana Danira


__ADS_3

Gavino berjalan mendekat kearah tangga balkon, menyipitkan matanya melihat benda-benda kecil seperti lampu hias berkedip-kedip melingkar-lingkar di pagar tangga, dan ada juga yang membentuk seperti tanda panah, yang mengarah kelantai atas, yaitu rooftop pribadi Gavino. Gavino yang kian penasaran, mengikuti semua petunjuk yang ada disana. Perlahan kaki Gavino mulai menaiki satu persatu anak tangga, di setiap langkahnya terdapat setangkai mawar merah, Gavino mengambil bunga-bunga itu, hingga terkumpul sebanyak anak tangga yang dia lewati. Gavino memutar kenop pintu rooftop yang tertutup, mendorongnya secara perlahan.


Gavino membesarkan matanya melihat pemandangan gemerlap yang ada didepannya. Penampakan Rooftop itu sangat berbeda, Indah nan sejuk, Lampu hias berwarna warni menjalar diatas kerangka yang entah sejak kapan itu berada disana, diselingi lampu-lampu kristal kecil menjuntai kebawah, menambah kesan mewah nan elegan, beberapa bunga-bunga anggrek hitam dan mawar merah tertata rapi dibeberapa tempat. Dan juga beberapa tanaman rindang yang tidak terlalu tinggi berjejer dipinggir tembok pembatas.


Gavino melangkah pelan, sambil terus menyapukan pandangannya ke setiap sudut Rooftop, dalam hati Gavino terus bertanya-tanya, siapa yang melakukan ini ?dan untuk apa ?. pikir Gavino.


Kaki Gavino berhenti, ketika melihat punggung putih seorang wanita yang terbuka seksi diujung sana. Wanita bergaun malam panjang, berwarna merah mengkilap memutar tubuhnya, wanita itu tersenyum menawan dengan bibir yang seksi dilapisi lipstik dengan warna yang sama seperti dress yang dia kenakan. Dia melihat Gavino.


Deg*


Deg*


Deg*


Jantung Gavino berdebar kencang, matanya membola sempurna, dengan mulut terbuka mengangga, bahkan Gavino mematung hingga sulit bernafas. Tubuhnya menjadi kaku, bahkan untuk menghampiri wanita cantik yang sedang tersenyum seperti cahaya rembulan malam ini pun Gavino tak mampu.


" Danira....".


...~ Beberapa jam yang lalu ~...


" Sarah bisakah kau membantuku ?".


" Tentu nona ". Setelah mendengar jawaban Sarah, Danira menekan tombol Off di ponselnya, Sarah melihat bingung dengan apa yang dilakukan nona nya ini.


" Mengapa ponsel anda dimatikan nona ?". Sarah tak bisa menahan, untuk tidak bertanya.


" Tidak apa, aku sedang tak ingin menerima telpon atau pesan dari siapapun. Bila nanti Sean menghubungimu, pastikan kau tak pernah mengangkat panggilannya sekalipun, bisa kan?". Sarah tak mengerti, namun dia hanya mengangguk mematuhi perintah Danira.


" Aku yakin nanti Bayu akan datang kesini, atas perintah mas Gavin, minta Bayu datang keruangan ku. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya ".


" Baik nona ".


Benar saja, perkiraan Danira sangat tepat. Sean berkali-kali menghubungi Sarah, sampai-sampai Sarah menonaktifkan nada ponselnya yang terus berisik sejak tadi. Tak berselang lama, orang kepercayaan Gavino yang lain datang, Bayu menemui resepsionis menanyakan keberadaan Danira, resepsionis itu mengatakan bila Danira ada di ruangannya. Bayu pun dipersilahkan naik kelantai ruangan Danira.


Tok*


Tok*


Tok*

__ADS_1


Pintu yang Bayu ketuk terbuka, dia masuk lalu menundukkan kepalanya ketika melihat Danira.


" Assalamualaikum nyonya ". Salam Bayu, sopan. Tak berani mengangkat kepalanya.


" Waallaikumsalam, Bayu silahkan duduk ". Jawab Danira, menunjuk sofa yang ada ditengah ruangan. Bayu mengangguk mengikuti perintah Danira. Danira berjalan, lalu duduk di sofa yang ada diseberang Bayu, sedangkan Sarah berdiri tepat dibelakang Danira.


" Nyonya...tuan.....!!!".


" Saya tau, dia sedang mencari saya bukan ?". Potong Danira, Bayu mengangguk.


" Boleh saya bertanya sesuatu ?".


" Silahkan nyonya ".


" Saya yakin, kamu pasti tau kemana suami saya sering pergi selain Sean, dengan siapa saja dia bertemu, dan dengan siapa saja dia bermasalah, bukan ?". Bayu diam sejenak, lalu mengangguk pelan. Perasaan Bayu mulai tidak enak, ini pertama kalinya dia berhadapan langsung seorang diri, kepada Danira. Bayu bisa merasakan atmosfer lain, dari dalam diri istri bosnya ini. Hawa yang mengintimidasinya sangat terasa, meski dia tidak bisa melihat Danira, namun Bayu seakan bisa merasakan ekspresi datar sang nyonya.


" Maukah kamu memberitahu saya, Dimana suami saya sering menyekap orang-orang yang bermasalah dengannya ?". Tanpa basa basi, Danira langsung menanyakan apa yang ingin dia ketahui dari Bayu. Mendengar itu, Bayu menjadi tegang. Kepalanya terus menunduk, matanya bergerak-gerak melihat kesana kemari, kebingungan harus menjawab apa, Bayu meremas tangannya yang terasa dingin.


Astaga....mengapa nyonya harus menanyakan hal ini. Aku harus jawab apa ?, bila jujur sudah pasti tuan Gavino akan menggantungku, tapi bila aku berbohong bisa-bisa aku dihukum pancung oleh ratu yang ada di hadapanku ini. Ya tuhan.....tolong aku . Batin Bayu, yang sedang terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkannya.


" Maaf nyonya saya....saya....!!".


" Apa begitu sulit menjawab pertanyaan saya ?, sebenarnya saya bisa saja menemukan tempat itu tanpa kamu membuka mulut, tapi saya ingin melihat kejujuran mu. Apa kamu bisa menjawab pertanyaan saya ?". Tanya Danira, dengan nada sangat halus dan pelan, namun bisa dirasakan ketegasan di setiap kalimatnya. Bayu menelan ludahnya susah payah, berhadapan dengan Danira ternyata lebih mengerikan dari berhadapan dengan Gavino. Benak Bayu, cemas.


" Tenang saja, mas Gavin tidak akan memarahi kamu. Saya akan menjamin semuanya ". Ujar Danira yang mengerti ketakutan Bayu, yang terlihat sangat jelas. Bayu mengangkat kepalanya melihat Danira, lalu beralih melihat Sarah yang berdiri tegap dibelakang Danira tanpa ekspresi.


" Anda janji akan melindungi saya dari amukan tuan Gavino kan nyonya ?". Bayu mencoba meminta jaminan pada Danira.


" Saya tidak pernah ingkar, kamu bisa pegang janji saya ". Ucap Danira, Bayu menarik nafas dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu mulai menceritakan dimana tempat bosnya menyiksa orang-orang yang bermasalah dengannya, Bayu juga memberi tahu hewan-hewan mengerikan apa saja yang menjadi peliharaan bosnya, dan semua kekejaman Gavino dibongkar semua oleh Bayu. Bayu menceritakan seperti rem blong, tanpa jeda, Bayu seakan sedang menghianati bosnya sendiri.


Mendengar cerita Bayu yang panjang lebar, membuat Danira menahan nafas, bahkan memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya kencang. Danira tak bisa membayangkan, betapa mengerikannya tempat itu.


Ya Allah, apa saja yang telah suamiku lakukan selama ini. Aku yakin ini hanya sebagian kecil dari kekejaman yang telah dia lakukan, ya Rab....lembutkan lah hati suamiku, sadarkanlah dia, agar tak memiliki niat sekecil apapun itu, untuk menyiksa orang-orang lagi. Danira berdoa didalam hati, berkali-kali dia beristighfar, ketika mendengar bagian kekejaman sang suami.


" Apa mas Gavino juga menyekap dan menyiksa mas Aryo disana ?".


Deg*


Pertanyaan Danira, membuat Bayu sulit bernafas, lagi-lagi pertanyaan Danira membuat Bayu merasa dijebak. Tapi berbohong dengan Danira, sama saja mencari masalah baru. pikir Bayu.

__ADS_1


Maafkan saya tuan, saya tidak bisa berbohong. Batin Bayu, memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk ragu, melirik Danira sekilas, lalu kembali menunduk. Danira menyenderkan punggungnya lemah disandarkan sofa, tak menyangka ternyata suaminya dalang dibalik menghilangnya Aryo. Bahkan suaminya juga menyiksa Aryo dengan sangat kejam.


Astaghfirullah mas....apa yang kamu lakukan. Batin Danira, geram bercampur syok.


" Saya sudah menceritakan semua yang saya tau nyonya, tapi tolong jangan beritahu tuan, bila saya yang menceritakan kepada nyonya, saya takut dia akan menghukum saya juga ". Danira menghela nafasnya dalam. Lalu melirik Bayu sekilas, setelah itu dia kembali melihat kearah lain.


" Kamu Tenang saja, mas Gavino tidak akan menghukum kamu".


"Saya ada tugas untuk kamu ".


" Tu..tu..tugas ?, apa itu Nyonya ?".Bayu mengeryitkan dahinya, bertanya dengan gugup.


" Mas gavino pasti sedang menunggu informasi darimu, tentang keberadaan saya saat ini. Katakan saja bila saya tidak ada dikantor, dan katakan juga bila orang-orang yang biasa mengawasi saya tidak melihat, ketika saya keluar dari sini ". Ucap Danira, semakin membuat Bayu dan Sarah bingung.


Jadi selama ini Nyonya sudah tau bila saya, dan team lainnya sering membuntutinya. Waahhh, dia hebat sekali. Meskipun tau, dia tetap berpura-pura tak mengetahuinya selama ini. Cckkk tuan Gavino, beruntung sekali memiliki istri seperti dia. Coba saja kalau tuan Gavin, bisa-bisa orang yang membuntutinya mati saat itu juga. Benak Bayu, takjub.


" Apa kamu bisa melakukannya untuk saya ?". Tanya Danira lagi.


Apa sekarang aku sudah berhianat ? Tapi apa mungkin membantu istri bos sendiri itu disebut berhianat?, Sepertinya, bergabung menjadi anggota Nyonya Danira lebih menyenangkan, apa aku mengajukan pindah tugas saja ya kepada tuan Gavino . Batin Bayu berdialog sendiri. Membayangkan dia menjadi pengawal sang ratu ketika naik tahta, bahkan Bayu mengulum senyum sendiri, membayangkan dirinya menggunakan pakaian ala-ala pengawal kerajaan.


" Bayu, Bagaimana ?". Bayu tersadar ketika mendengar, Danira kembali memanggil namanya.


" Bi...bi..bisa nyonya !!". Gugup.


" Pastikan orang-orang mu tak membocorkan siapa saja yang datang menemui saya hari ini ".


" Tapi kenapa nyonya ?, bukankah lebih baik taun tau, bila nona Stevani datang menemui anda ?". Bayu memberanikan diri menanyakan perintah Danira yang memintanya merahasiakan hal itu.


" Aku tidak ingin suami saya kembali menghukum orang-orang yang menemui saya hari ini, termasuk stevani, dan biarkan mas Gavin mengalami kesibukan mencari saya hari ini ". Ujar Danira, meski di kepala Bayu penuh dengan pertanyaan dan juga rasa penasaran. Namun dia tak berani menanyakan lebih lanjut, dia memilih mematuhi keinginan Danira. Ya....bisa dibilang, saat ini semua orang-orang Gavino, lebih mematuhi perintah Danira, kecuali Sean.


Maafkan aku mas, bukan niatku untuk membuatmu kebingungan, tapi kamu harus sedikit diberi pelajaran. Supaya kamu mengerti, tidak semua kesalahan di dunia ini diselesaikan dengan cara menyiksa. Batin Danira, dia tau pasti Gavino sedang kelimpungan mencarinya saat ini. Danira bahkan sudah meminta Sarah dan Bayu mengikuti skenario yang telah dia buat.


Seharian ini, Danira selalu menerima laporan dari Bayu, kemana saja suaminya pergi mencarinya, bahkan saat Gavino menelpon Bayu, sambil memaki-maki Bayu pun Danira mendengarnya, pasalnya Danira meminta Bayu meloundspeaker panggilan gavino, mendengar teriakan suaminya yang emosi membuat Danira menggeleng-gelengkan kepalanya.


Disaat Danira membuka meja kerjanya, tanpa sengaja dia melihat foto akad nikah mereka dulu, Danira mengambilnya. Dia memandang foto itu cukup lama, foto dimana Gavino tegah menjabat tangan Abah, seketika Danira mengingat sesuatu.


" Sarah...?, Bayu...?, kita ke penthouses sekarang ".


" Baik Nona, Nyonya ". Jawab Mereka bersamaan.

__ADS_1


......................


...Bersambung........


__ADS_2