CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
53. Pujaan Hati


__ADS_3

Hari semakin petang, pusat perbelanjaan itu makin dipadati pengunjung yang baru saja tiba. Danira berjalan sambil mendorong stroller khalisa dengan santai. Hatinya masih kesal dengan kekacauan yang diciptakan oleh Stevani. Apalagi mendengar Stevani sering kali menyebutnya dengan sebutan wanita penggoda, itu membuat Danira geram. Walaupun Danira telah berusaha sekuat apapun untuk bersabar, namun Danira tetaplah gadis yang masih berusia 20 Tahun, terkadang emosinya juga suka naik turun. Apalagi menghadapi manusia seperti Stevani dan Gavino, sepertinya Danira harus mulai menbah stok kesabarannya.


Danira terus berjalan, hingga berhenti didepan pintu lobby, ternyata diluar hujan deras, Danira menarik penutup Stroller Khalisa, agar tidak terciprat air hujan. Danira mengeluarkan ponselnya dari dalam tas sandang, membuka aplikasi untuk memesan Taksi online. Namun jarinya berhenti, ketika mendengar suara seseorang yang cukup familiar memanggil namanya dari samping.


" Neng.."


" Neng Danira ?". Suara Bass pria itu kian mendekat kepada Danira, Danira menoleh mencari asal suara, Danira terkejut melihat siapa laki-laki yang telah berdiri disampingnya ini.


" Ini betul neng Dira kan ?". pria itu memastikan lagi, Dia takut salah orang.


" Aa Ilham ?". Cicit Danira pelan, lalu menundukkan lagi pandangannya. Ilham tersenyum mendengar Danira menyebut namanya.


" Alhamdulillah...ternyata Aa tidak salah orang". Ujar Ilham sambil terkikik.


" Assalamualaikum Neng ?".


" Neng gimana kabarnya ?".


Aa rindu sekali sama neng Dira. Ucap Ilham hanya berani didalam hati.


" Waallaikumsalam, Alhamdulillah Aku baik dan sehat Aa". Jawab Danira lembut. " Aa sendiri bagaimana kabarnya ? Kok aa bisa ada disini ? bukannya seharunya aa masih di Kairo ya ?". tanya Danira.


" Alhamdulillah aa seperti yang Eneng lihat saat ini, masih sehat dan tampan kan?". Ilham sedikit bergurau. Danira tersenyum dibalik cadarnya.


" Aa bisa aja, iya lah tampan, Aa kan laki-laki. Kalau Cantik mah perempuan". Jawab Danira tertawa kecil.


" Iya yang cantik itu cuma kamu ". Puji Ilham sambil melihat Danira.


" Aamiin,...kecantikan hanya milik Allah aa". Ujar Danira menimpali.


" Ya ya..kau benar ". Ilham hanya mengangguk mendengar jawaban Danira, karena dia tau Danira tidak terlalu suka dipuji. Mata Ilham beralih, melihat bayi imut yang sedang memandangnya dari dalam stroller, bayi itu melihat wajah Ilham dengan serius. Ilham menundukkan tubuhnya, agar mendekat kepada Khalisa.


" Assalamualaikum anak Solehah, apa kamu masih kenal sama om?". Ujar Ilham, menoel-noel pipi gembul Khalisa, hal itu membuat Khalisa tertawa renyah.


" Boleh aa gendong Khalisa nya neng?". Ilham meminta ijin Danira.


" Iya silahkan aa ".


Ilham mengangkat tubuh montok Khalisa, lalu mencium pipi bayi cantik itu.


" Masya Allah, Tabarakallah. Kamu cepat sekali ya besarnya khali, perasaan waktu om tinggalkan kamu masih suka berjemur di taman". Goda Ilham dengan berceloteh tersenyum-senyum kepada Khalisa. Khalisa membalas dengan memegang pipi Ilham.


" Aa belum jawab pertanyaan neng, kenapa aa bisa ada disini ?". Danira mengulang pertanyaannya lagi, masih penasaran. Ilham melihat Danira lalu tersenyum manis.


"Aa pulang karena rindu dengan Abah dan umi, tadi saat dijalan aa sengaja minta taksi berhenti disini, karena ingin membeli sesuatu ". Gavino mengangkat 3 paper bag ditangannya.


" selain itu juga aa punya niat lain". Jawab Ilham dengan senyum yang tak pernah memudar dibibirnya.


" Niat lain ?".

__ADS_1


" Iya, sebenarnya aa belum boleh pulang. Tapi aa bisa menyakinkan guru aa disana, dan menyelesaikan semua tugas yang dia berikan dengan benar. oleh sebab itu dia mengijinkan Aa pulang hanya 1 minggu. Aa pulang ingin meminta Abah untuk mengkhitbah seseorang yang selama ini aa suka". Jelas Ilham dengan sorot mata tak lepas melihat Danira, wanita pujaan hatinya. Rasanya Ilham ingin sekali saat ini memeluk tubuh Danira, wanita yang selama ini selalu ada dalam doanya, wanita yang akan dia nikahi. Namun dia tau, bila semua itu tidak boleh dia lakukan karena belum halal untuknya.


Aa akan bersabar sampai Eneng halal aa sentuh, sabar sebentar lagi wanita dihadapanku ini akan sah menjadi milikku. Batin Ilham bahagia. Dia sudah membayangkan hari-hari bahagianya kelak berumah tangga bersama Danira.


" Alhamdulillah, selamat ya Aa. aku turut senang mendengar kabar baik ini, semoga niat baik aa dilancarkan sama Allah SWT". Ujar Danira dengan suara yang terdengar bahagia, hal itu membuat Ilham semakin berbunga-bunga, seakan-akan itu pertanda Danira juga bahagia dengan keinginannya ini.


" Apa wanita itu juga tinggal dipesantren Abah aa ? Kok Danira tidak tau kalau aa selama ini menyukai salah satu dari wanita disana ?".


Wanita itu kamu neng, bukan wanita lain. Batin Ilham lagi.


" Iya dia juga tinggal di pesantren. Nanti juga neng dira akan tau siapa calon aa".


" Masyaallah...wanita itu akan sangat beruntung bila menjadi istri aa nanti". Ujar Danira senang, hal itu makin membuat Ilham salah tingkah.


" Aamiin,...doakan semoga gadis itu menerima pinangan aa nanti ya neng, karena aa sudah tidak bisa jauh darinya terlalu lama lagi". Ilham berucap sambil melihat Danira kian dalam dan serius, Danira yang sedari tadi menundukkan pandangannya, tidak mengetahui bagaimana cara Ilham melihatnya dengan perasaan.


" Pasti neng akan doakan, dan gadis itu tidak mungkin bisa menolak pesona aa Ilham bukan". canda Danira tertawa pelan.


Tanpa mereka sadari dari dalam mall, sepasang mata mengamati interaksi mereka dengan tajam, wajah pria itu sangat masam. Dia sangat tak suka melihat cara Danira tertawa bersama pria itu. Dia berjalan dengan cepat menghampiri mereka.


" Oh iya neng, aa sampai lupa kok neng Dira ada disini, bukannya seharusnya neng ada dipesantren ?". tanya Ilham, yang lupa menanyakan mengapa Danira ada dijakarta bukan diperkampungan tempat pondok pesantren abahnya.


" sebenarnya....!!".


Hekhem...


Pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak lagi kepadaku, lalu mulai mengeluarkan fitnahan-fitnahan yang menyakitkan lagi. Ya Allah rasa sakit atas ucapannya kemarin saja belum hilang. sekarang dia telah datang lagi. Batin Danira mulai berdialog gelisah.


Ilham melihat Gavino dari atas sampai bawah, bisa dia simpulkan bahwa pria ini orang yang berpegaruh dan kaya raya, dari penampilannya saja sudah sangat terlihat, namun kearoganan dan kesombongannya lebih terpampang diwajah dinginnya. Ilham mengerutkan dahinya melihat pria itu berdiri terlalu dekat, hingga bahu Danira hampir menempel kedada pria itu.


" Maaf Anda siapa ?". Ilham bertanya dengan sopan kepada Gavino. Gavino masih diam, dengan wajah datar.


" Apa neng Dira mengenal laki-laki ini neng ?". Ilham beralih bertanya kepada Danira.


Apa neng Dira, sial....dia punya panggilan kesayangan rupanya. batin Gavino bersungut-sungut tak suka.


" Hekmmm...perkenalkan saya Gavino suami Danira". Ujar Gavino dengan suara baritonnya, mencerminkan kewibawaan.


Ilham makin mengerutkan dahinya kian dalam, sepertinya ada yang salah dalam pendengarannya. pikir Ilham.


" Neng...apa yang dikatakan laki-laki yang bernama Gavino ini benar neng ?". Ilham melihat Danira, menunggu jawaban pasti.


Semoga pria ini hanya berdusta, katakan bukan neng, katakan bila pria ini hanya berbohong. gumam Ilham dalam hatinya.


" Apa kau tidak ingin menjawab pertanyaannya Danira ?". Danira melihat Gavino, dia mencebikkan bibirnya kesal.


" Iya Aa, pria ini berkata benar. Dia suamiku, kami sudah menikah hampir 2 bulan yang lalu". Jawab Danira jujur.


Deg*

__ADS_1


Deg*


Seakan tersambar petir ditengah hari, mendengar jawaban dari mulut sang pujaan hati, jantung ilham berdetak kencang, matanya memerah, darahnya mengalir lebih deras, berharap semua ini hanya mimpi buruknya. Sedangkan Gavino tersenyum tipis hingga tak terlihat, senang mendengar jawaban Danira.


" Apa neng berkata jujur ?". tanya Ilham sekali lagi, masih tak percaya, Gavino diam menahan kesal dalam hatinya melihat Ilham seperti pura-pura tak mendengar. pikir Gavino. Danira bingung dengan pertanyaan Ilham.


" Iya aku berkata sangat jujur aa, kami sudah menikah dan yang menjadi wali nikah kami juga Abah, jika aa masih kurang yakin, aa bisa langsung tanyakan kepada Abah saja". Jelas Danira lembut.


Bum*


Hati Ilham seakan dibom oleh keadaan, Ilham tak percaya bila abahnya tega menikahkan gadis pujaannya dengan pria lain. Bagaimana ini semua bisa terjadi. pikir Ilham tak percaya.


"Mengapa bisa....!! mengapa neng tidak mengatakan kepada aa bila neng akan menikah ?". Suara Ilham mulai melemah, tak ada lagi semangat yang sedari tadi bersamanya.


" Neng sudah meminta kepada Abah untuk menyampaikan berita ini kepada aa, dan kata Abah dia akan menelpon aa untuk memberi kabar mengenai hal itu. Neng kira ada sudah tau". jelas Danira, dia melihat Ilham sekilas, bisa Danira simpulkan bahwa Ilham syok mendengar pernikahannya. Danira hanya berpikir itu hanya ekspresi seorang kakak yang merasa tak dihargai oleh adiknya menikah tanpa memberitahu sang kakak.


" Maaf kan neng aa...maaf karena tidak memberitahu aa, neng pikir aa sudah tau dari Abah". Ilham diam, pikirannya melayang kemana-mana, hatinya benar-benar hancur. Dia tak tau harus mengatakan apa lagi. Yang jelas sekarang juga dia harus segera menemui Abah dan menanyakan kebenarannya.


Gavino mencebikkan bibirnya, risih mendengar panggilan mereka berdua. Cihh..neng, Aa panggilan apa itu. menggelikan sekali. Batin Gavino mengejek.


" Apakah jawaban dari istri saya sudah jelas, jika anda sudah paham. Sekarang saya ingin mengajak istri dan anak saya pulang ". Gavino mendekati Ilham lalu mengambil Khalisa dalam gendongan Ilham. Ilham hanya diam bergeming. sedangkan Danira, tentu saja terkejut mendengar ucapan Gavino yang mengakuinya sebagai istri dan Khalisa anaknnya, apa Gavino otaknya sedikit bergeser karena makan daging tadi. pikir Danira.


Kalisa tertawa senang digendong oleh Gavino, bayi itu seakan memeluk Gavino erat, mata Gavino melihat Danira.


" Apa aa mau mampir kerumah kami dulu ?". tawar Danira, sontak saja hal itu membuat Gavino memelototkan matanya, Danira cuek seperti tak melihat.


" Tidak neng, aa langsung pulang kepesantren saja. Aa ingin menemui Abah, menanyakan ini". Jawab Ilham lesu, Gavino hanya tersenyum seringai melihat wajah Ilham yang seperti kehabisan darah.


" Syukurlah jika anda tidak mau ". Ujar Gavino, yang membuat Danira membelalakkan matanya, tak percaya dengan jawaban Gavino.


" Ya sudah....kalau begitu neng pamit pulang dulu ya Aa. Titip salam untuk umi dan Abah?".


" Iya neng, insyaallah akan ada sampaikan".


" Assalamualaikum". salam pamit Danira.


" Waallaikumsalam"


"Ayo.." Ajak Gavino, Dia menarik tangan Danira masuk kedalam ngenggaman tangannya, hal itu membuat Danira mematung, ini pertama kalinya Gavino memegang tangannya setelah Ijab qobul mereka dulu. Gavino melihat Danira yang diam bingung.


"Ayo...kasihan Khalisa yang sudah kedinginan". ujar Gavino, ucapan Gavino menyadarkan Danira, lalu berjalan mengikuti langkah Gavino, masuk kedalam mobil yang telah menunggu mereka sedari tadi didepan lobby.


Melihat Tangan Danira yang digandeng mesra pria lain, membuat hati Ilham kian panas terbakar cemburu.


" DIRA...".


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2