
Pagi-pagi sekali, Danira dan Gavino sudah berada didalam mobil menujuh kediaman keluarga Pradiksa. Semalam Danira meminta agar datang lebih awal kesana, karena sudah tidak sabar ingin bertemu khalisa. Semalaman Gavino terjaga, dia tak bisa memejamkan matanya, Gavino hanya berbaring sambil memeluk Danira, dia tak melepaskan barang sedetikpun Danira dari dekapannya, seakan sedang menyalurkan kenyamanan dan perlindungan bagi istrinya yang tengah dilanda keresahan, yang Gavino pun tak tau apa penyebabnya.
Suasana didalam mobil sangat sunyi dan senyap, yang ada hanya suara deru mesin yang mendominasi. Sedangkan Gavino dan Danira sama-sama diam, tak ada yang berniat mengeluarkan suara sedikitpun. Meski Tangan mereka masih saling menggenggam namun pikiran mereka entah melayang kemana. Danira sibuk memikirkan masalah yang sebentar lagi akan dia hadapi, sedangkan Gavino sibuk dengan ribuan pertanyaan tentang tangisan Danira yang memilukan semalam.
Sean melirik tuan dan Nyonya mudanya dari kaca kemudi, merasa aneh dengan kebungkaman kedua manusia yang duduk dibelakang. Sesekali sean melihat Gavino melirik kearah Danira yang fokus menghadap keluar jendela. Gavino menarik tangan Danira lalu mencium punggung tangan wanita yang dicintainya itu, lalu menempelkan didada bidangnya. Danira hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap keluar jendela.
Tak berapa lama mobil yang membawa mereka, berhenti tepat didepan Mansion megah nan mewah. Sean sudah turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Gavino, lalu dia berputar ingin membukakan pintu untuk Danira, namun suara Gavino menahannya.
" Sean...biar aku saja ". Sean mengangguk lalu mundur beberapa langkah. Gavino membuka pintu mobil, tangannya mengadah diatas kepala Danira, berjaga-jaga agar kelapa Danira tak terbentur.
" Terima kasih mas ". Ucap Danira, menyambut uluran tangan Gavino. Mereka berdua pun masuk kedalam mansion, disana sudah banyak para pelayan yang berdiri menyambut kedatangan mereka.
" Selamat datang tuan dan Nyonya muda ". Hormat Bik Sri dan para pelayan lainnya.
" Ya..terima kasih ". Jawab Danira, sedikit menunduk sopan.
" Hheemm". Gavino hanya berdehem ria.
" Tuan, apa anda dan Nyonya ingin minum sesuatu ?". Tanya Bik Sri, Gavino melirik Danira.
" Kau ingin sesuatu sayang ?". Danira hanya menjawab dengan gelengan kepala, dia belum ingin makan apapun, yang dia ingin kan sekarang hanya bayinya, Khalisa.
" Nanti saja bik ". Ujar Gavino, lalu menaikkan tangannya meminta semuanya bubar.
" Apa mereka masih lama mas ?". Tanya Danira yang kini yang telah duduk diruang tamu.
" Sebentar lagi, aku sudah meminta Bayu menjemput mereka dibandara, sebentar lagi mereka akan sampai. Tenanglah, setelah ini kau bisa memeluk bayimu ". Ucap Gavino bernada pelan, menggengam tangan Danira. Danira hanya mengangguk, namun pandangannya tak beralih dari pintu utama.
Apa yang membuatmu sangat gelisah seperti ini, Mengapa kau sangat menghawatirkan Khalisa. Bukankah selama ini dia baik-baik saja. batin Gavino, sejujurnya Gavino ingin sekali bertanya, namun dia tak ingin mengingkari janjinya, bahwa dia akan menunggu sampai Danira sendiri yang mengatakannya.
" Sayang...!".
" Eemm".
" Aku tidak tau apa yang kau rasakan, tapi yang harus kau tau aku ada disini, selalu bersamamu ". Ucap Gavino, Danira menoleh melihat suaminya, dia melihat tatapan Gavino yang sangat teduh untuknya. Danira tersenyum, mengangguk.
Suara Deru mesin mobil berhenti tepat didepan Mansion, Danira langsung berdiri melangkah keluar. Danira berdiri depan pintu utama, menunggu orang yang ada didalam mobil keluar, Dia melihat Ny. Calina turun dari mobil dengan Khalisa dalam gendongannya.
Mata Danira kembali berembun, melihat wajah chubby nan lucu Khalisa. Khalisa benar-benar mirip dengan Shena, bola mata yang hitam dan bulat, hidung mungil dan lesung pipi yang imut. Benar-benar persis seperti Shena.
" Bik Bawa semua barang-barang saya kedalam ya, aahhh rasanya tubuhku lelah sekali ". Ucap Ny. Calina, menggerak-gerakan tubuhnya kekiri dan kekanan.
" Mami...". Panggil Danira menghampiri.
" Sayangku Danira....kamu sudah disini nak, sudah sangat merindukan kami ya? ". ucap Ny. calina memeluk lalu mencium pipi kiri dan kanan Danira. Danira hanya mengangguk, lalu beralih melihat Khalisa, yang telah mengulurkan tangannya pada Danira.
" Mi boleh aku menggendong Khalisa ?".
" Tentu....!!". Ny. calina menyerahkan Khalisa, yang tersenyum senang bertemu Bundanya. Danira langsung memeluk Khalisa erat, lalu menghujani pipi gembulnya dengan kecupan-kecupan rindu. Ny. calina merasa ada sesuatu yang berbeda dari Danira.
" Mi...Boleh Danira membawa Khalisa masuk diluan ?".
" Ya...ya, silahkan sayang. Ini juga rumahmu ". Ucap Ny. Calina spontan, Danira berbalik masuk kedalam mansion, menaiki anak tangga menujuh kamar Gavino.
Ny. calina langsung melirik Gavino tajam.
" Kau apakan lagi menantuku, mengapa suaranya bergetar seperti menangis begitu ?". Gavino memutar bola matanya malas, ibunya selalu saja berfikiran buruk tentangnya, hal itu membuat Gavino jengah.
" Aku tidak melakukan apapun ". Ucap Gavino datar, Ny. calina mencebik tak percaya.
" Lalu mengapa dia terlihat sangat sedih, pasti kau berkata kasar lagi padanya kan, Ckk..CK..CK. kau memang menyebalkan Gavino, istri bukannya disayang, malah dimarah-marahi ". Sungut Ny. Calina menuduh Gavino.
" Ya...ya..ya terserah mami saja ". Ujar Gavino sambil berlalu, menyusul Danira.
" Heii..bocah tengik, mami belum selesai bicara ". Pekik Ny. Calina kesal.
Didalam kamar, Danira telah membuka niqabnya, dia mencium pipi Khalisa dengan derai air mata yang tak ada habisnya. Entah mengapa, sejak mengetahui bahwa Aryo turut adil dalam meninggalnya Shena, Danira semakin merasa bila Khalisa harus dia lindungi.
" Bunda sangat rindu sama khali....!!". Peluk Danira, Khalisa seakan mengerti diapun ikut memeluk Danira, menepuk-nepuk punggung Danira.
" Khali, anak Sholehah bunda, sehat terus ya nak. Apapun yang terjadi bunda akan selalu melindungi khali, meski seluruh manusia didunia ini menolak khali, ada bunda yang akan selalu menjaga dan sayang sama khali ". Danira semakin menghujani Khalisa dengan banyak kecupan, dia tak bisa membayangkan bila malam itu Sofia dan David tidak datang menyelamatkan Shena, mungkin saat ini Danira tidak akan pernah bertemu dengan Khalisa.
__ADS_1
" Maafin bunda ya sayang....!! mungkin, bunda belum bisa mempertemukan Khalisa sama papa khali. Bunda akan perjuangkan apapun yang menjadi hakmu". Lirih Danira, sesungguhnya Danira sangat berat, dia tau hukumnya memisahkan orang tua dan anak tidak lah baik. Namun melihat dari kondisi yang mereka alami, sepertinya akan berbahaya bagi Khalisa bila bertemu dengan Aryo, yang jelas-jelas tak pernah mengharapkannya.
Mungkin saat ini adalah bentuk kekesalan Danira yang tak bisa dia ungkapkan, karena Danira selama ini selalu memendam semuanya sendiri, hinga menjadi kesulitan baginya untuk berbagi. Danira Hanya bisa menyalurkan melalui air mata. Gavino yang sedari tadi telah berdiri didepan pintu, mendengar semua ucapan Danira pada Khalisa.
Seberapa berat beban yang sedang kau alami Danira, mengapa terasa sangat menyesakkan dihatiku ketika melihatmu menangis seperti ini. Yang lebih menyiksaku lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa karena tak tau harus melakukan apa untukmu, kau hanya memintaku untuk diam, menyaksikan segala kepiluan yang sedang kau hadapi sendiri. Mengapa aku terkesan seperti suami yang tidak berguna. Rasanya aku ingin mencekik orang yang telah membuatmu bersedih seperti ini. Batin Gavino.
Gavino menghela nafas panjang, lalu mendorong pintu, dan masuk. Melihat suaminya masuk, Danira buru-buru memalingkan wajahnya, menghapus sisa air mata dipipinya, lalu mengukir senyum seindah mungkin. Gavino berjongkok lalu memeluk Danira.
" Apa sekarang perasaanmu sudah jauh lebih baik, setelah bertemu setan kecil ini ?". Ucap Gavino, sambil mengelus punggung Danira lembut.
" Mas...namanya Khalisa ". Sungut Danira, cemberut. Gavino melepaskan pelukannya lalu melihat Khalisa yang menatap Gavino tajam, seakan memberi peringatan.
" Baiklah....Khalisa, mari ikut aku ". Gavino mengambil alih baby Khalisa dari gendongan Danira.
" Apa kau tau, semalaman istriku menangis hanya karena ingin bertemu denganmu !!, jadi karena kau telah membuat istriku menangis kau harus aku hukum ". Danira membelalakkan matanya, mendengar Gavino ingin menghukum Khalisa.
" Mas....!!". Tanpa perduli ekspresi terkejut Danira, Gavino langsung membaringkan Khalisa diatas tempat tidur, lalu menyerang pipi chubby Khalisa, hinga membuat bayi itu terkikik-kikik tertawa, merasa geli. Danira tersenyum senang melihat keakraban mereka. Gavino menghentikan kejahilannya, lalu melirik Danira yang masih tersenyum meski matanya sembab.
" Tolong jangan menangis lagi, aku tak bisa melihatnya. Rasanya aku ingin membunuh banyak orang disaat kau menangis sedangkan aku tidak tau permasalahannya apa ". Perlahan Gavino mendekatkan wajahnya lalu mengecup kelopak mata kiri dan kanan Danira yang masih basah, dengan penuh kelembutan.
DRETZZ*
DRETZZ*
Gavino mengambil ponselnya dengan kesal, setiap kali dia sedang ingin bermesraan dengan Danira, selalu saja ada ngangguan yang datang. Gavino menggeser tanda jawab.
" Hallo...".
".........".
"Hhmmm".
" Aku segera kesana ". Jawab Gavino singkat, lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku kemeja.
" Sayang....aku harus pergi kekantor dulu, ada pekerjaan yang mendesak ". Ucap Gavino, dan diangguki oleh Danira. Gavino mendaratkan kecupan dikening Danira, lalu kebibir Semerah Cherry milik istrinya.
Gavino berdiri, lalu melihat Khalisa yang asik main sendiri. ". Kau seta.......".
" Baiklah...baiklah.... Khalisa, jaga ibumu baik-baik, bila kau membuat ibumu menangis lagi, aku akan menghukummu lagi ". Ujar Gavino, menoel pipi gembul Khalisa. Gavino melangkah menujuh pintu, siap keluar. Namun, bukannya keluar Gavino malah berbalik lalu memeluk Danira.
" Bisakah tubuhmu dilipat lalu masuk kesaku ku saja sayang. Aku ingin kau selalu ikut kemanapun aku pergi, aku tidak bisa jauh-jauh terlalu lama darimu ". Ucap Gavino bernada manja. Mendengar itu membuat Danira tergelak.
" Cepat lah pergi, setelah itu segeralah kembali. Aku selalu menunggu mas pulang ". Ucap Danira, membalas pelukan suaminya.
" Aku mencintaimu...." Bisik Gavino.
" Aku tau ". Gavino tersenyum, mengelus pipi halus Danira, kemudian melenggang pergi. Melihat pintu telah tertutup rapat, ekspresi wajah Danira berubah datar dan dingin, dia mencari ponselnya, lalu menekan kontak Sarah. Tak lama, telpon pun tersambung ...
" Sarah...".
" Lakukan sekarang ". Titah Danira, bernada dingin dengan tatapan terus tertujuh pada Khalisa. Danira tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil keputusan, dia sudah tau apa yang harus dia lakukan, Danira sudah memikirkan semua konsekuensi dari keputusan yang dia pilih. Danira sudah siap menghadapinya, dia akan memberikan pelajaran bagi Aryo.
...****************...
Gavino telah sampai ditempat tujuannya, dia turun dari dalam mobil, matanya menyapu kesekeliling bangunan yang besar dihadapannya. Bangunan permanen berwarna bata, dikelilingi tumbuhan pepohonan dengan batang yang besar. Bagunan itu dijaga oleh para pengawal dengan tubuh tegap berwajah garang, penjagaannya sangat ketat, karena disetiap sisi bangunan selalu ada pengawal yang berdiri, ini adalah tempat favorit Gavino.
Gavino melangkah, semua orang yang ada disana menunduk memberi hormat ketika melihat siapa yang datang.
" Orangnya sudah ada didalam tuan ". Ujar Bayu memberi tahu Gavino. Gavino hanya diam, terus berjalan masuk kedalam bagunan itu. Pintu yang terbuat dari baja terbuka, lalu pintu kedua dilapisi lagi seperti jeruji besi ikut terbuka, Gavino langsung disambut dengan oroma amis darah yang memenuhi seisi ruangan itu.
Suara desisan hewan malata terdengar nyaring di telinga, begitupun Auman hewan buas dan kepakan hewan air seakan turut menyambut kedatangan tuannya. Gavino mendekati satu persatu kandang hewan-hewan kesayangannya. Gavino adalah pencinta hewan buas, Dia memiliki banyak koleksi hewan buas dan langkah, yang dia tempatkan didalam bangunan ini.
" Apa mereka sudah diberi makan siang ?". Tanya Gavino, sambil melihat spesies ular jumbo Anaconda Green dan Boa constrictor , sebesar pohon kelapa, panjangnya hampir 40 meter.
" Belum tuan ".
" Bagus, sebentar lagi mereka akan memiliki santapan yang mengenyangkan untuk 1 Minggu kedepan ". Setelah mengatakan itu, Gavino berlalu pergi masuk kesebuah ruangan yang lebih besar, disana sudah ada seseorang yang duduk dengan tubuh terikat. Suara sepatu Gavino menarik perhatian pria itu.
" Jadi dia dalangnya ?".
" Benar tuan, dia pemilik nomer rekening yang mentransfer ke karyawan kita kemarin ". Ujar Sean memberi tahu, Gavino manggut-manggut, lalu menarik kursi kayu, duduk tepat didepan pria itu.
__ADS_1
" Ternyata nyalimu besar juga, siapa namamu?, mengapa kalau ingin memprofokasi perusahaanku dengan perusahaan Radenayu ?". Tanya Gavino menyilangkan kakinya. Pria itu melihat Gavino dengan tatapan bengis, dimatanya penuh kebencian dan dendam.
" Mengapa kau diam, apa kau tuli ?". Gavino masih berbicara dengan nada rendah, namun bisa dirasa bila setiap dibalik kalimatnya menyimpan ancaman. Pria itu tetap diam, tak berniat menjawab pertanyaan Gavino sedikitpun.
" Tuan ini data dirinya ". Gavino mengambil tab yang diberikan Sean, lalu mulai membaca data diri pria yang ada didepannya.
" Aldo Mahesa, usia 25 tahun. Oohh...!! ternyata kau putra dari si penghianat Mahesa ".
" Jaga mulut busukmu itu Gavino, ayahku bukan seorang penghianat. Dia bahkan telah mengabdi pada perusahaanmu hampir seumur hidupnya, tapi kenapa kau membunuhnya dengan sangat keji hah ?". Pekik pria itu, terpancing dengan ucapan Gavino, mendengar makian itu bukannya emosi, Gavino malah tertawa, namun tawanya terdengar sangat mengerikan.
" Ha..ha..ha..ha...!!! Aku suka keberanianmu, masih muda penuh energik, tapi sayangnya kau menggunakan masa mudamu untuk pilihan yang salah, apa lagi menantangku. apa kau tidak takut bila aku membunuhmu saat ini hhmm?".
" Ciihhh...!! jika aku takut, aku tidak akan datang kemari. Aku ingin membalas atas perbuatan mu pada ayahku ". Jawabnya, semakin memprofokasi Gavino.
" Ooh...benarkah ?, apa kau tau mengapa aku sampai membunuh ayahmu ?".
" Itu karna kau gila, manusia kejam yang tak punya hati. Kau membunuh ayahku yang tidak bersalah, akan aku pastikan kau mendapatkan ganjarannya Gavino sialan ". Pekiknya semakin emosi, amarah Gavino mulai terpancing. Gavino mengepal tangannya, lalu menghela nafas panjang.
" Kau tidak tau apa-apa anak muda, andai kau tau apa yang telah ayahmu lakukan. Mungkin kau akan menyesali perbuatanmu ini dan memohon ampun padaku ".
" Aku tidak pernah menyesalinya, bahkan aku sangat ingin membunuhmu saat ini juga ". Ujarnya berapi-api. Gavino mengeram kesal, dia sudah tak bisa menahannya lagi.
" Lepaskan dia, mari kita buktikan siapa yang akan mati. Kau atau aku ". Gavino meminta anak buahnya melepas Aldo, dia ingin berduel satu lawan satu. Gavino melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya sampai siku.
Saat ikatan telah terlepas, Aldo langsung menyerang Gavino, namun sayang Aldo salah memilih lawan, Gavino bukan hanya otot yang besar, namun tenaganya juga tak bisa diremehkan.
Bug*
Bug*
Bug*
Gavino memukul beberapa kali wajah pria itu, hingga membuatnya tersungkur. Aahh...rasanya Gavino senang sekali, bisa menyalurkan kekesalannya yang telah dia tahan sejak semalam.
" Ayo bangun....katanya kau ingin membunuhku. Baru 3 kali pukulan saja kau sudah tumbang. Dasar bocah lemah ". Ucap Gavino kembali melipat tangannya didepan dada.
" Brengsek....!!!". Aldo kembali bangun, ingin memukul Gavino, namun dengan cepat Gavino menendang bagian perutnya hingga dia kembali terjatuh dilantai. Gavino berjalan mendekat, lalu menginjak area dada dan leher Aldo, membuat pria itu meringis kesakitan.
" Sudah aku katakan, jangan coba-coba memancing amarahku. Bila kau tidak tau cerita yang sebenarnya lebih baik diam, jalani hidupmu dengan benar. Biar aku beritahu sedikit bocorannya mengapa ayahmu harus mati. Yang pertama, dia berani menjual namaku pada investor, lalu menipu mereka. Yang kedua dia memalsukan tanda tanganku lalu menggadai perusahaanku pada pihak musuh, dan yang ketiga....". Gavino menjeda ucapannya, kilatan emosi terpampang jelas dimata gavino.
" Ayahmu hampir menodai ibuku.....dan hukuman baginya harus mati saat itu juga ". Ucap Gavino, semakin menekan kakinya didada Aldo.
" Aakhh....!!". Aldo kesakitan.
Mahesa orang yang telah bekerja dengan keluarga Pradiksa cukup lama, karena kinerjanya yang bagus, dia diberi kepercayaan untuk mengelola anak perusahaan Gavino yang ada di Medan, Namun sayangnya kepercayaan Gavino disalah gunakan. Dan pada saat Ny. Calina pergi ke Medan bersama dengan geng sosialitanya, tak sengaja mereka bertemu. Mahesa yang telah menaruh hati sejak lama, merencanakan hal yang kotor pada Ny. calina, hinga menjebaknya dengan membuat Ny. calina mabuk, dan ingin membawa Ny. calina kekamar hotel. Beruntungnya orang-orang Gavino selalu mengikuti kemanapun Ny. calina pergi, hinga kejadian naas itu tak terjadi. Hal itu membuat Gavino marah besar, membuat Gavino gelap mata dan menembak kepala Mahesa saat itu juga hinga mati ditempat.
Aldo terdiam sesaat, dia masih tak mempercayai ucapan Gavino.
" Kau pembohong...". Pekiknya, Gavino kembali mendesah. Lalu melangkah menujuh dinding yang ada disana, gavino mengambil sesuatu yang menempel didinding itu. Sebuah samurai panjang, Gavino mengeluarkan samurai itu dari dalam sarungnya, dan mengarahkannya kearah Aldo, membuat Aldo sedikit bergetar.
" Kenapa kau terlihat pucat, apa kau takut sekarang hhmm?".
" Meski kau memohon pun aku tidak akan pernah mengampunimu ataupun melepaskanmu, karena kau yang datang sendiri kepadaku untuk menyerahkan hidupmu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan keberanianmu itu ". Ujar Gavino, lalu menempelkan samulai tipis itu diteliga sebelah kiri pria itu, lalu.....
" Ssrreett....!!". Gavino menarik samurainya membuat daun telinga Aldo terputus.
" AAKKHHHH..." Pekik Aldo merasa kesakitan, memegang telinganya yang berlumur darah.
" Belah kepala pria ini, ambil chip yang dipasang dalam telinganya. Dia bukan dalang utamanya ". Ucap Gavino, melepar samurai itu lalu pergi meninggalkan Aldo yang meraung kesakitan.
......................
...Bersambung.......
Assalamualaikum kakak-kakak...maaf ya kemarin Author tidak up, karena lagi kurang fit, habis minum obat langsung tepar 😁, tetap jaga kesehatan ya semua.
Tetap tunggu kelanjutannya....🤗
Salam Sayang dari Author.
Saranghae❤️
__ADS_1