CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
77. Pengadilan Agama


__ADS_3

Gavino telah kembali ke penthousesnya, dia melihat ke sekeliling. Sepi.., biasanya saat dia pulang akan selalu terdengar suara canda tawa Khalisa yang tengah digoda oleh Danira. Meski diawal itu menganggu Gavino, namun lama kelamaan dia menjadi terbiasa. Dan kini Gavino merindukan suara itu.


" Sepi sekali ". Gumam Gavino.


" Anda ingin saya temani tuan ". Ucap Sean, secara tiba-tiba dari belakang Gavino. Membuat Gavino melompat karena terkejut.


" Brengsek...kenapa kau bisa ada disini hah ?, bukannya tadi kau sudah pulang ?". Sugut Gavino, yang jantungnya masih berdetak kaget.


"Maaf tuan, saya hanya ingin memberikan ini. Tadi anda meninggalkannya di mobil ". Ujar Sean memberikan ponsel Gavino.


" Sudah sana pergi, aku ingin istirahat. Kau menganggu saja ". Ketus Gavino, mengusir.


" Baik tuan, saya permisi ". Sean pamit, memberi hormat. Belum selangkah Sean pergi, suara Gavino kembali menghentikannya.


" Sean.."


" Tolong ganti password pintu penthouses ini sekarang, aku tak ingin bila dia telah kembali password nya masih belum diganti ". Ujar Gavino sambil mendudukan bokongnya disofa.


" Anda yakin Nyonya akan kembali kepada anda tuan ? ". Ceplos Sean. Gavino memelototkan matanya.


" Maksudmu apa hah ?". Sean memilih mengatup rapat-rapat mulutnya, takut akan keceplosan lagi, dan itu akan membuat Gavino semakin murka.


" Sudah tuan ".


" Eemm...pergilah ". Usir Gavino lagi, Sean hanya membalas dengan anggukan sengkat.


Hheemmhhahh...


Gavino menghela nafas berat, Dia berdiri dan melangkah menaiki anak tangga menujuh kamarnya, namun dia berhenti menoleh melihat kamar Danira. Gavino masuk kedalam kamar Danira, dia duduk ditepi ranjangnya, mengelus-elus bantal yang biasa Danira gunakan untuknya tidur.


Gavino merebahkan tubuhnya diatas kasur itu, dapat Gavino rasakan aroma tubuh danira yang masih tertinggal.


" Selamat malam Danira ". Batin Gavino.


Perlahan-lahan matanya terpejam, dengan mengendus-endus aroma bantal yang membuat Gavino merasa nyaman, tak lama kesadaran Gavino menghilang, dia telah berkelana kealam mimpinya.


***


Malam telah berganti pagi, Gavino terbangun dari tidurnya, ketika mendengar suara dering ponselnya. Dengan mata masih setegah terpejam, Gavino melihat nama si penelpon. Tertera disana nama Stevani, karena masih mengantuk, Gavino tanpa sadar menggeser layar ke tanda merah, reject.


Gavino membelalakkan matanya ketika melihat waktu telah menunjukan pukul 8.00 pagi.


" Sial..aku kesiangan..!!". Pekiknya segera bangun dari tempat tidur, lalu pergi menujuh kamarnya untuk bersiap-siap.


Gavino telah tiba dikantornya, beberapa karyawan yang masih diluar melihat Gavino dengan tatapan bingung, ada yang aneh dengan penampilan atasannya ini.


" Apa kau melihatnya ?, tuan Gavino hari ini tampak berbeda ".


" Iya, kalu benar lingkaran hitam di bawah matanya sangat terlihat jelas, padahal dia adalah orang yang paling perfeksionis, tapi hari ini dia terlihat sangat berantakan ". Bisik para karyawan.


Gavino berjalan gontai masuk kedalam ruangannya, melewati Sonya dan Sean begitu saja.


" Pak, tuan Gavino kenapa ?". Tanya Sonya pada Sean, dan Sean hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, kemudian berlalu menyusul Gavino.


" Huhh....!!dasar Tuan dan Asisten sama saja, sama-sama batu ". Guma Sonya Cemberut.


Gavino telah duduk dikursi kebesarannya dengan mata kembali terpejam. Meski begitu, pikirannya sudah pergi entah kemana, menanti kabar yang bisa membuat hatinya tenang.

__ADS_1


" Selamat pagi tuan ". Sapa Sean memberi hormat.


" Hhmmm....bagaimana ?, apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan semalam ?". Tanya Gavino to the poin, dengan mata masih terpejam.


" Eemm, itu..!!maaf tuan, tapi saya sudah memeriksa semua CCTV jalan di negara ini, namun jejak nyonya tak terlihat dimanapun, dia seperti hilang ditelan bumi ". Mendengar penjelasan Sean, membuat Gavino membuka matanya, lalu melemparkan tumpukan berkas yang ada dimejanya.


PRAKKK**


Semua dokumen-dokumen itu berserakan dilantai. Hal itu, membuat Sean hanya diam menunduk, tau bila tuannya tegah emosi.


" Bagaimana ini bisa terjadi hah ?, tidak mungkin dia hilang begitu saja, apa kau mencoba membodohi ku ?". Teriak Gavino memenuhi semua ruangan, bahkan teriakan Gavino terdengar hingga keluar. Gavino berkecak pinggang sambil berjalan kesana kemari.


" Bagaimana dipesantren ?, apa orang-orangmu sudah memberi kabar ?".


" Sudah tuan, dan mereka bilang Nyonya tidak pernah datang kesana lagi semenjak dia pindah ke Jakarta". Jelas Sean, sesuai dengan apa yang diucapkan anak buahnya.


" Brengsekkkkk....!!.


" Kemana dia ?, apa ada orang yang membantunya bersembunyi ". Sungut Gavino mulai menebak-nebak. lalu dia berhenti, dan menyanggahkan kedua tangannya diatas meja.


" Hanya satu tempat Yang akan dia tujuh hari ini ".


" Dimana tuan ?".


" Pengadilan Agama. Bukankah dia bilang hari ini dia akan menggugat ku ?, ya hanya itu satu-satunya tempat agar aku bisa menemukannya ". Ujar Gavino yakin.


" Aku akan pergi kesana sekarang, aku kan menunggu hingga dia tiba ". Ujar Gavino ingin beranjak pergi, namun Sean menghentikan langkahnya.


" Maaf tuan, anda tidak bisa pergi sekarang ".


" Kenapa ?".


" Aku tidak perduli, kenapa dia baru membuat janji sekarang ". tolak Gavino.


" Maaf tuan, beliau telah membuat janji ini dari 1 bulan yang lalu, jadi anda tidak bisa membatalkannya, lagi pula mereka telah sampai disini ". Jelas Sean, Dia melihat mata Gavino menyelang tajam kepadanya. dan Sean hanya menanggapi dengan wajah datar.


" Kenapa kau baru mengatakannya sekarang bodoh, bahkan kau belum memberikan ku materinya ". Ujar Gavino menyalahkan Sean.


" Saya telah mengingatkan ada dari Minggu lalu tuan, dan untuk materinya sudah saya persiapkan. Hanya saja...."


" Hanya saja Apa hah ?". Ketus Gavino.


" Hanya saja, anda telah membuangnya kelantai dan tercampur dengan dokumen yang lain". Tunjuk Sean, kearah lantai yang dipenuhi dengan kertas-kertas. Gavino menghela nafas berat, melihat kearah yang ditunjuk Sean.


" Mengapa kau tidak bilang, bila itu ada dokumen pentingnya ?". Sungut Gavino, masih menyalahkan Sean.


" Saya juga tidak tau, bila tuan akan membuang semua ini kelantai ". Jawab Sean santai.


" Kau...!!".


Gavino menatap sean geram, lalu dia menekan interkom, tersambung ke meja sekertaris nya.


" Sonya ...keruanganku sekarang". Tak menunggu lama, Sonya telah mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan Gavino.


" Ada yang bisa saya bantu tuan ?". tanya Sonya sopan, dengan kepala terus menunduk.


" Bereskan semua ini, dan pastikan dokumen-dokumen ini tersusun rapi dan sesuai dengan pos-posnya. Jangan sampai anda yang salah, kau hanya punya waktu setegah jam ". Mendengar perintah Gavino, Sonya membelalakkan matanya melihat kertas-kertas itu.

__ADS_1


Hah...apa dia sudah tidak waras, yang benar saja dalam waktu yang singkat seperti itu, harus merapikan semua ini sesuai dengan lawannya... mengapa aku memiliki bos yang menyebalkan sekali seperti ini. Batin Sonya, Dia hanya berani merutuki Gavino dalam hatinya.


" Ba..ba..baik tuan ". Jawab Sonya terbata, kemudian mulai mengerjakan perintah sang tuan muda. Gavino kembali duduk dikursinya, melihat pemandangan diluar jendela.


" Tuan anda tidak perlu datang kesana, sesuai dengan perintah Anda kemarin malam. Saya telah menepatkan orang-orang yang profesional disana. Jadi anda tenang saja". Ujar Sean, meyakinkan Gavino yang masih terlihat gelisah.


" Hemmaahh...!! Aku hanya takut, bila aku terlambat lagi Sean. Aku takut Danira....!!". Gavino tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, yang membuat hatinya resah.


" Saya berjanji tuan, semua akan berjalan sesuai dengan keinginan anda ". Jelas Sean tegas.


...****************...


Ditempat lain.


Sarah telah memberhentikan mobilnya di area parkiran. Mereka masih duduk berdiam diri didalam mobil itu.


" Nona kita sudah sampai ". Ujar Sarah, ini sudah yang ke tiga kalinya dia memberi tahu Danira. Namun sepertinya Danira masih asik dengan lamunannya, hingga tak menyadari bila Sarah sedari tadi memanggilnya.


" Nona ". Panggil Sarah lagi.


" Ah iya rah, ada apa ?". Tanya Danira terkejut.


" Saya hanya ingin memberi tahu, bila kita sudah sampai nona ". Ulang Sarah lagi.


" Oh..benarkah ?, cepat sekali ?". Tanya Danira sambil melihat sekelilingnya. Sarah bisa merasakan kegugupan yang Danira alami, terlihat juga dari tautan tangan Danira yang tak pernah lepas menggenggam jemarinya sendiri.


" Nona, bila anda masih ragu, kita bisa membatalkan ini semua. Anda tidak perlu melakukannya ". Ujar Sarah.


" Tidak rah..., aku sudah siap. Aku hanya butuh waktu sebentar saja, untuk menguatkan hatiku dulu ". Jelas Danira lembut, matanya terus melihat map coklat yang ada di pangkuannya.


" Maaf nona, jika pertanyaan saya ini akan membuat nona tidak nyaman".


" Apa Nona sudah sangat yakin, dan tak akan menyesal karena telah mengambil keputusan ini ?". tanya Sarah, Danira tak menjawab, dia masih memilih diam, menanyakan jawabannya kedalam hatinya sendiri.


" Jika Nona belum yakin atau berubah pikiran, kita pulang dan batalkan saja. Mungkin saat ini nona hanya butuh waktu untuk menata hati nona kembali. Saya memang tidak tau, permasalahan apa yang nona dan tuan Gavino hadapi, tapi kalau saya boleh berpendapat, Nona Jagan mengambil keputusan dalam keadaan emosi, itu akan membuat nona menyesalinya nanti ". ucap Sarah sekedar memberi saran, dia tak ingin nonanya menyesal dikemudian hari. Karena dia sangat tau, bagaimana Danira amat sangat peduli dan menjaga Gavino tanpa sepengetahuan Gavino. Danira masih diam, dengan mata mulai berkaca-kaca kembali.


" Tidak rah, aku tidak akan merubah apa yang telah aku putuskan. Dan kau lihat sendiri bukan, mas Gavino bahkan tak mencoba mengejar atau mencari aku. Itu artinya dia juga setujuh dengan perpisahan ini". Ucap Danira dengan nada lirih.


Danira mengangkat kepalanya, melihat pahatan tulisan yang cukup besar disana


' PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN ' Danira membacanya dalam hati. Sejujurnya Danira tak perna ingin melakukan ini, apa lagi sampai datang ketempat ini, tapi dia tak ingin menyiksa dirinya sendiri, Danira terus meyakini dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


Danira menarik nafasnya, lalu menghembusnya secara perlahan. Dia menolehkan kepalanya melihat Sarah.


" Aku sudah siap rah, insyaallah ini jalan yang terbaik untuk ku dan mas Gavino ". Ujar Danira penuh keyakinan, Sarah hanya bisa mengangguk, menyetujui keputusan nonanya.


" Aku turun dulu, kamu tetap disini saja ".


" Tidak nona, saya akan ikut mendampingi anda kesana ".


" Baiklah...ayo ". Ujar Danira. Mereka berdua turun dari dalam mobilnya, dengan Danira membawa berkas-berkas yang telah Sarah siapkan. Danira masuk kedalam bangunan itu, lalu menghampiri petugas wanita, yang sedang duduk dibelakang mejanya.


" Permisi Mbak ". Ujar Danira lembut dan sopan. Wanita itu melihat Danira dengan senyum keramahan.


" Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu ?". Tanyanya tak kalah sopan, dengan mengatup kedua telak tangannya didepan dada.


" Saya ingin mendaftarkan pengajuan gugatan perceraian saya ".

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2