CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
94. Hukuman


__ADS_3

Danira perlahan membuka matanya, melihat langit-langit ruangan, lalu dia menoleh kesebelah kanan, terlihat ada satu buah tempat tidur kosong, berukuran besar disamping tempat tidurnya. Danira mulai bangun, duduk bersandar, dia menggamati setiap sudut ruangan yang dominan berwarna putih.


"Sstttthhh". Danira merasakan nyeri dibagian tangannya, Danira mengangkat tangan kananya, dia baru sadar bila tangannya terpasang selang diinfus.


" Kenapa aku diinfus?". Gumam Danira, bertanya pada dirinya sendiri. Seketika ingatannya mulai kembali, tentang kejadian yang menimpa mereka kemarin malam.


" Mas Gavino Dimana ?". Gumam Danira, mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan yang besar itu, Dia mengalihkan pandangannya ke pintu toilet, menajamkan pendengarannya, tapi dia tak mendegarkan apapun, tidak ada siapa-siapa didalam sana, hanya ada dirinya sendiri. Danira mulai ingat sebelum dia jatuh pingsan, dia melihat tubuh gavino yang sudah dingin dan pucat. Danira mulai panik, karena tak melihat Gavino diruangan itu. Matanya mulai memanas, jantungnya berdegup kencang. Rasa takut mulai mendominasi.


" Apa mereka sudah membawa mas Gavino keruang operasi, atau mereka telah membawa mas gavino kepemakaman ?".


" Tidak...tidak...tidak, tidak mungkin. Mas Gavino tidak Mungkin meninggalkan aku secepat ini kan?, mas Gavino pasti selamat dan baik-baik saja kan ?, ya Allah aku mohon jangan lakukan ini lagi. Cukup keluargaku, tapi tolong jangan suamiku ". Ucap Danira mulai menangis. Danira menutup mulutnya yang ingin berteriak, menarik dan menekuk lututnya, lalu memeluk dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya itu. Pikirannya sudah menguasai emosi Danira, rasa takut dan bersalah telah mengalahkan pikiran jernih danira. Dia sudah tak bisa menahan air matanya keluar semakin deras.


***


Diluar ruangan Gavino dan Sean sedang membahas orang yang telah melakukan penyerangan padanya, Dia masih tak percaya dengan kabar yang diberikan Sean padanya, apalagi pelakunya tidak lain orang yang sangat dekat dengannya.


" Tidak mungkin, kau jangan mengada-ada Sean. Mana mungkin dia melakukan ini kepadaku, aku sangat mengenalnya, dia tak akan sanggup melakukan ini kepadaku ". Ujar Gavino masih tak mempercayai apa yang Sean sampaikan. Gavino melihat Sean dengan tatapan tajam, tak terima bila orang yang pernah sangat dekat dengannya dituduh seperti itu.


" Tapi menurut para pelaku, mereka memang diperintahkan orang yang mereka sebut dengan sebutan bos Zi tuan, dan semua ciri-ciri mengarah kepada kekasih anda ". Jelas Sean, Gavino memejamkan matanya, menyandarkan punggungnya ditombok, dengan tangan sebelah kanan masih terpasang selang infus, dan tangan kirinya mengepal membentuk tinju.


" Dia bukan kekasihku lagi Sean, aku telah memutuskan hubungan kami, dua hari sebelum keberangkatan ku kesini. Apa mungkin karena itu, dia melakukan hal nekat seperti ini ?". Ucap Gavino pelan, menghela nafas berat, dia masih tak percaya bila Stevani melakukan semua ini padanya.


Haruskah aku mengatakan juga, apa yang Sarah sampaikan kepadaku tadi. Tapi sepertinya tuan muda tidak akan percaya karena belum ada bukti yang jelas. Sepertinya aku harus mencari tau semua ini terlebih dahulu, bila ternyata benar, baru aku akan mengatakan semuanya kepada tuan, fakta yang sesungguhnya. Batin Sean. Sean bisa melihat kekecewaan dari tatapan tuannya ini.


" Hhheemmm haahhh...!! Cepat cari dimana keberadaannya sekarang, awasi setiap gerak geriknya, setelah aku kembali kejakarta aku ingin dia sudah berada dihadapanku, aku akan menanyakannya sendiri, apa alasan dia melakukan ini kepadaku ". Ucap Gavino, dengan mata yang memerah menahan rasa amarah dan kecewa.


" Baik tuan ".


Gavino membalikkan tubuhnya, meraih gagang pintu, dan ingin memutarnya. Namun Gavino mengentikan tangannya.


" Sean..?".


" Iya tuan ".


" Aku punya satu tugas lagi untukmu ".


" Apa itu tuan ?".


" Selidiki dua orang pengemis di Perapatan lampu merah, dikota ini. Sepertinya mereka suami istri. Aku ingin tau siapa mereka, karena wajahnya sangat familiar ". Titah Gavino, dan diangguki oleh Sean. Gavino memutar kenop pintu, melangkah masuk kedalam, namun matanya menyipit ketika melihat Danira meringkuk memeluk lutut dengan suara isakan tangis yang memilukan. Gavino mempercepat langkahnya mendekati danira, khawatir, mengapa istrinya sampai menangis seperti ini.


" Danira...?!". Panggil Gavino, namun Danira tatap diam, dia masih merasa bila dia salah mendengar atau sedang berhalusinasi mendengar suara Gavino.


" Heii...Danira, kenapa kau menangis hhmmm?". Tanya Gavino lagi, kini telah menyentuh pundak Danira yang gemetar karena tangis. Danira mengangkat wajahnya, mencoba memastikan siapa yang menyentuh pundaknya. Danira mengerjap-ejapkan matanya, menajamkan penglihatannya, tanpa aba-aba Danira langsung memeluk Gavino erat. Hal itu membuat Gavino terkejut bukan main, dan Sean yang masih berada dibelakang Gavino, menjadi salah tingkah, langsung membuang pandangannya kesembarang arah.


Danira semakin mengeratkan pelukannya, membuat Gavino semakin bingung.

__ADS_1


" Ya Allah, terima kasih karena sudah menyelamatkan suamiku, terima kasih karena mas masih hidup dan sehat. Aku....aku ..aku sangat senang, bisa melihat mas lagi ".


" Aku pikir mas Gavino akan meninggalkan aku selamanya, aku sangat takut, tolong maafkan aku, semua ini terjadi karena aku ". Danira terus saja berbicara, sambil mengeratkan pelukannya dipinggang Gavino. Mendengar ucapan Danira yang terbata-bata karena diselingi tangisannya, membuat Gavino mengulum senyum malu-malu, wajahnya memerah. Gavino masih memilih diam, menikmati setiap ucapan dan pelukan Danira, yang entah mengapa menghangatkan hatinya, menghilangkan rasa kekecewaan ketika mendengar siapa dalang dibalik penyerangan mereka. Apalagi saat Danira menyebutnya dengan kata 'Suamiku', rasanya Gavino ingin melompat-lompat seperti naik trampolin. Gavino membalas pelukan Danira, dan mengelus-elus punggung istrinya.


" Apa kau sangat menghawatirkan aku hhmm?". Tanya Gavino pelan. Danira mengangguk cepat, sebagai jawabannya. Gavino semakin menyunggikan senyum sumringah diwajahnya.


" Apa kau sangat takut bila aku mati hhmm ?". Danira kembali mengangguk.


" Kau tenang saja, suamimu yang tampan ini tak akan mati secepat itu, apa lagi aku belum sempat melihat wajah istriku sendiri, bagaimana aku bisa mati dan meninggalkanmu. Bisa-bisa aku mati dalam keadaan penasaran ".


" Kau tak perlu takut, aku tak akan meninggalkanmu, kau masih bisa memelukku setiap saat, seperti ini ". Ujar Gavino lagi, seketika Danira membuka matanya, melepaskan pelukannya yang erat dari tubuh gavino, dia seakan baru tersadar telah melakukan kesalahan yang memalukan. Gavino kembali menautkan alisnya bingung, dengan respon danira yang berubah.


" Ma..ma..maaf, sa.saya tidak sengaja me...me..meluk anda, saya hanya terlalu senang saat mengetahui anda masih hidup, saya minta maaf karena sudah lancang memeluk anda". Ucap Danira terbata-bata, menunduk malu. Wajahnya pasti sudah memera seperti kepiting rebus saat ini, untung saja semuanya tertutup, bila tidak entah bagaimana cara Danira menyembunyikan wajahnya dari Gavino.


" Anda ?, kenapa kau harus menyebut kata itu lagi, bukankah kemarin kau sudah memanggilku dengan sebutan mas ?". Sungut Gavino tak terima, Danira kembali memanggilnya dengan sebutan yang menyebalkan di telinga Gavino.


" Aahh iya maksud saya mas, maaf ". Ujar Danira, menunduk kikuk.


" Nah begitu doang ". Ujar Gavino, Suasana kembali hening, tak ada yang berniat membuka suara, Sean ingin keluar tapi dia tak ingin menghancurkan momen yang sedang berlangsung, bila dia membuka mulutnya. Jadi dia kembali memilih diam.


" Kenapa sekarang kau jadi diam saja, dan terus menunduk apa kau malu padaku atau kepada Sean ?". Mendengar nama Sean di sebuat, Danira dengan cepat mengangkat kepalanya, dan benar saja Sean berdiri dibelakang Gavino dengan posisi tegap, melihat kearah lain dengan wajah datarnya.


Aahhh, mengapa aku tidak menyadari bila ada orang lain disini. pasti Sean melihat dan mendengar semua yang aku lakukan dan ucapkan tadi bukan, ya Allah, ini sangat memalukan. Batin Danira merutuki, kecerobohannya sendiri. Rasanya Danira ingin bersembunyi kedalam lubang semut saja, dia benar-benar malu. Gavino yang menyadari itu, menoleh melihat Sean.


" Kau tak perlu merasa malu seperti itu, Sean tidak melihat dan mendengar apapun. Bila urusan yang begini dia menjadi buta dan tuli. Benar kan Sean ?". Gavino melirik Sean memberi peringatan, Sean hanya menanggapi dengan tatapan datarnya lalu mengangguk.


" Kau.....!!" Geram Gavino.


" Pergilah....lakukan tugasmu yang aku perintahkan tadi. Kau sengguh menyebalkan ". Sean dengan segera berjalan menuju pintu dengan cepat, tak ingin tuan mudanya memberi hukuman dengan menendang tulang kakinya. Gavino kembali mengalihkan pandangannya pada Danira.


" Hekhemm....Jadi kau benar-benar takut kehilangan aku hhmm?". Tanya Gavino, berjalan mendekat, lalu duduk disamping Danira.


" Bu..Bu..bukan begitu maksudku ".


Aduh....bagaimana caraku mengatakannya, kenapa lidahku terasa keluh sekali. Ya Rab, kenapa jantungku seperti berlari maraton saat dia duduk terlalu dekat seperti ini. Batin Danira, merasa tak nyaman dengan degupan dirongga dadanya. Gavino mengerutkan keningnya.


" Jadi maksudmu, kau tidak apa-apa bila aku mati ?". Ujar Gavino, Danira melihat Gavino lalu menghela nafas pelan.


" Berhentilah membicarakan hal-hal yang mengerikan seperti itu, aku tau bila kematian sudah ditakdirkan disetiap nyawa yang dihembuskan kedalam raga seseorang. Tetapi jangan bahas itu sekarang, sungguh aku tidak ingin mendengarnya. "


" Mana mungkin aku akan baik-baik saja bila suamiku meninggal, mungkin aku tidak akan sanggup menghadapinya ". Cicit Danira, masih bisa didengar oleh Gavino. Gavino melihat Danira sejenak, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia tersenyum, hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Danira.


Hhuuhhh, kenapa jantungku rasanya akan keluar seperti ini, padahal dia hanya mengatakan kalimat biasa saja. tapi rasanya, sungguh aneh, mengapa ucapannya mampu membuatku ingin tersenyum terus-menerus seperti ini. Ada apa dengan mu Gavino, mengapa kau menjadi salah tingkah begini. Gumam Gavino dalam hatinya, dia menepuk-nepuk jantungnya yang tak berhenti berdetak dengan cepat sedari tadi. Danira melihat apa Yang Gavino lakukan.


" Apa yang mas lakukan, mengapa menepuk-nepuk dada seperti itu ?, apa ada yang sakit hah, apa..apa karena efek dari tembakan kemarin ?, ahh iya, kemarin malam mas ditembak oleh penjahat itu bukan, bagaimana apa masih sakit?, apa peluru itu sudah keluar ?, peluru itu tidak mengenai tempat yang membahayakanmu kan mas?". Deretan pertanyaan Danira yang berubah menjadi panik, menghentikan tangan Gavino yang sedari tadi menepuk-nepuk dadanya. Gavino kembali melihat Danira, meski dia tak bisa melihat ekspresi istrinya, tapi entah mengapa dia merasa nyaman dan bahagia saat Danira memberikan perhatian seperti saat ini.

__ADS_1


" Mas jangan diam saja, jangan buat aku semakin khawatir ". Ujar Danira, kesal melihat Gavino yang hanya diam menatapnya.


" Aawwwhhh". Pekik Gavino, memegang lengan tangannya, tepat diluka yang terkena tembakan. Danira refleks mendekat, panik.


" Mas...mas..mas kenapa, mas apa yang sakit ?". tanya Danira, ikut memegang lengan Gavino.


Hiks**


Hiks**


Danira kembali menangis karena khawatir dan takut.


" Biar aku panggilkan dokter, mas tunggu sebentar ". Ucap Danira, ingin turun dari tempat tidurnya, berniat memanggil dokter. Namun dengan cepat Gavino menarik tangan Danira, karena tarikan itu sangat mendadak dan cepat, membuat tubuh Danira limbung dan terjatuh menabrak tubuh gavino yang kekar. Hingga mereka berdua terjatuh diatas kasur. Gavino dapat mencium aroma manis dari tubuh danira, aroma yang selalu memabukkannya. Gavino melingkarkan tangannya kepunggung Danira, memeluknya erat.


" Tidak perlu memanggil dokter, aku tidak apa-apa. Pelurunya sudah berhasil dikeluarkan tanpa harus dioprasi, aku baik-baik saja. Semua berkat dirimu ". Ujar Gavino, semakin erat memeluk Danira.


" Terima kasih, sudah menyelamatkan aku, hingga kau rela mengabaikan keselamatanmu demi aku. Lain kali, jangan lakukan itu hhmm?, Aku berjanji hal ini tidak akan terjadi lagi pada kita, tapi bila harus terjadi, aku harap kau tak melakukan hal bodoh seperti kemarin lagi. Aku ingin kau pergi, dan menyelamatkan dirimu. Apa kau mengerti ?". Gavino menundukkan kepalanya melihat Danira yang mendongak kearahnya. Danira menggeleng cepat, jawaban itu membuat Gavino menghela nafas kasar.


" Kenapa ?, sudah aku katakan, bila aku tidak suka dibantah. Kenapa kau terus keras kepala hhmm?".


BUK**


Danira memukul dada Gavino pelan, kesal dengan ucapan suami arogannya ini.


" Aku mana mungkin meninggalkan mas dalam keadaan seperti kemarin, lebih baik kita mati bersama, dari pada aku membiarkan suamiku mati ditangan orang-orang jahat seperti itu ". Ujar Danira, jawaban itu kembali membuat Gavino mengulum senyum, dengan wajah memerah bak udang rebus.


" Apa kau begitu menyukai suami tampanmu ini hah, hingga kau tak ingin berjauhan sedikitpun. Bahkan sekarangpun kau memelukku dengan sangat erat, hingga aku tak bisa bernafas?". Goda Gavino, dengan suara dibuat berat seperti sesak nafas. Mendengar itu, membuat Danira jengkel, ingin bangun. Namun lagi-lagi Gavino menahannya.


" Lepaskan, aku tidak memelukmu. Mas lah yang dari tadi tak melepaskan tubuhku, mas sangat menyebalkan ". Sungut Danira kesal, cemberut memajukan bibirnya.


Gavino tergelak renyah, mendengar Danira mengeluh, dia yakin kini wajah Danira pasti sedang cemberut masam padanya. Danira terperagah, takjub melihat tawa yang terukir diwajah tampan suaminya, yang menampilkan barisan gigi putih dan rapi.


" Oohh jadi kau menyalahkan aku hhmm, jadi menurutmu aku yang menahan dan memelukmu dari tadi ?". Goda Gavino lagi, Danira mengerjap-ejapkan matanya, berusaha melepaskan diri dari dalam dekapan Gavino.


" Iihhh lepasin, seseak tau ". Danira mulai memberontak, ingin melepaskan diri.


" Sudah diam....ini adalah hukuman bagi istri yang tidak patuh dengan perintah suaminya, jadi nikmati saja hukumanmu, bukankah kau senang bila berada dalam pelukanku seperti ini ?, kau harus bersyukur karena tidak semua orang bisa mendapatkan pelukan dari pria tampan seperti aku ". Ujar Gavino menyombongkan diri. Danira sudah tak memberontak lagi, karena itu akan sia-sia saja. Dia akan tetap kalah melawan tenaga Gavino. kini Danira memilih diam, Danira bisa mendengar dengan jelas suara detakan jantung Gavino, Danira menarik tanggannya menyentuh dada Gavino yang berdetak cepat.


Seketika suasa diruangan itu menjadi hening, yang ada hanya suara detakan jantung masing-masing. Mereka berdua sama-sama menikmati momen yang langkah seperti ini. Tapi......


BRAKKKK**


Suara pintu dibuka secara paksa, menimbulkan suara nyaring menggema didalam ruangan.


" GAVINO....." Teriak seorang wanita masuk.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2