CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
66. Belanja Bersama


__ADS_3

Danira bergerak menuju dapur, para penghuni perutnya telah berdemo menandakan minta diisi, Dia berniat ingin memasak sesuatu, membuka Kulkas dan lemari penyimpanan namun tak menemukan apapun.


" Astaghfirullah...ternyata sudah habis semua ". Gumam Danira. Dia melihat jam didinding, waktu sudah menunjukkan pukul 4.35 sore. Danira bergegas masuk kedalam kamarnya, menggendong Khalisa lalu menyambar tas selempangnya.


Danira telah disiap menarik gagang pintu, namun tangannya terhenti karena dari luar terdengar suara pin ditekan. Pintu terbuka, Danira melihat Gavino yang baru saja ingin masuk.


Tumben sekali dia jam segini sudah pulang. Batin Danira.


Mereka berdua sama-sama saling berhadapan hanya berjarak setengah meter. Buru-buru Danira membuang pandangannya, lalu bergeser memberi jalan supaya Gavino bisa masuk. Bukannya berjalan, Gavino malah tetap berdiam diri ditempatnya, tanpa mengalihkan tatapannya kepada Danira. melihat Gavino tak ada pergerakan, Danira berinisiatif untuk berjalan melewati Gavino. Tanpa disangka Gavino malah memegang tangan Danira, hingga membuat Danira terkejut. Cepat-cepat Danira menarik tangannya dari ngenggaman Gavino.


" Kau mau kemana ?". Tanya Gavino, melihat Danira yang memunggunginya.


" Saya akan pergi ke supermarket didepan, karena saya lupa membeli persediaan makanan kemarin". Jawab Danira lembut.


" Saya ijin pergi dulu ". Baru satu langkah, kaki Danira kembali berhenti mendengar suara Gavino.


" Tunggu...!! aku akan ikut denganmu, kita berbelanja bersama ". Danira meloleh kebelakang melihat wajah Gavino, Merasa aneh karena Gavino ingin pergi bersama dengannya. Gavino tau Danira sedang melihatnya, dia segera meletakkan tas yang dia bawa diatas sofa, lalu membuka jas dan dasi yang masih terpasang rapi dibadannya.


" Tidak perlu melihatku begitu, aku ingin ikut denganmu karena ada barang yang ingin aku beli, aku takut kau tak akan mau membelikannya untukku ". Ujar Gavino, sambil melipat lengan kemejanya sampai siku, Danira bisa melihat otot kekar tangan Gavino, Danira membalikkan badannya lagi.


Danira menghela nafas pelan, niat hati ingin menghindari suaminya, malah sekarang Gavino mengajaknya berbelanja bersama.


" Baiklah...ayo ". Danira menarik gagang pintu, lalu keluar mendahului Gavino, melihat Danira yang berjalan seperti terburu-buru, Gavino bisa menebak bila Danira tegah meenghidarinya.


" Bisakah kau berjalan dengan santai, apa kau tidak takut kakimu tersandung karena bajumu itu, kau bisa melukai putrimu ". Ucap Gavino, sedikit berteriak, Mendengar peringatan Gavino, Danira lalu memperlambat jalannya, Gavino tersenyum tipis melihat itu.


" Sini, biar aku yang menggendong setan kecil ini ". Pinta Gavino, Danira menoleh, matanya menyelang tak suka mendengar panggilan Gavino untuk Khalisa.


" Namanya Khalisa, bukan seperti yang anda sebutkan tadi. Jadi anda salah orang jika ingin menggendongnya ". Ketus Danira kesal.


" Baiklah....baiklah, sini biar aku yang menggendong Khalisa ". Pintanya meralat ucapannya.


" Tidak perlu, saya bisa berbelanja sambil menggendong anak ". Tolak Danira, Gavino melirik Danira dengan menaikkan satu alisnya.


" Apa kau merajuk ?".


" Tidak ada alasan bagiku untuk merajuk ".


" Yah...karena aku memanggil putrimu dengan sebutan set.... ". Ucapan Gavino terhenti, karena Danira berhenti berjalan, dengan kepala mendongak kepada Gavino. Gavino menghela nafas pelan.

__ADS_1


" Iya...iya, jangan melotot begitu melihatku, kau pikir karena kepalamu ditutup aku tidak bisa mengetahui ekspresi mu apa ". Ujar Gavino santai, lalu mengangkat tubuh Khalisa dari dalam gendongan Danira secara tiba-tiba. Danira Refleks memundurkan tubuhnya, tak ingin bersentuhan dengan Gavino.


Setelah mendapatkan Khalisa, memeluk bayi itu dengan erat, Gavino berjalan meninggalkan Danira yang masih mematung ditempatnya, Gavino tersenyum jahil.


Apa-apaan dia, benaninya dia merebut Khalisa seperti itu...Mengapa dia semakin menyebalkan. Batin Danira menggerutu, lalu dia mulai melangkah menyusul Gavino dan Khalisa.


Mereka telah masuk kedalam supermarket yang berada satu gedung dengan penthouses Gavino, Danira mengambil Trolley untuk meletakkan belanjaannya.


" Jika anda tidak ingin ikut berkeliling, lebih baik anda duduk disana saja ". Ujar Danira menunjuk kursi tunggu, yang diperuntukkan untuk para suami yang sedang menunggu istri-istri mereka berbelanja, Gavino mengikuti arah jempol Danira. Lalu dia menggeleng cepat.


" Tidak...!! aku akan ikut kau saja, aku tak ingin duduk bersama orang-orang itu ". Ucap Gavino, dengan wajah merasa jijik.


" Baiklah...tapi anda jangan mengeluh bila saya belanjanya lama ".


" Memangnya kau mau berbelanja seberapa lama ". Tanya Gavino, mulai


mempertimbangkan keputusannya. Danira mulai berfikir, ingin mengerjai suaminya.


" Ya setidaknya sampai semua barang yang aku butuhkan terkumpul semua, mungkin sekitar 5 jam lah ". Ujar Danira enteng, sambil tersenyum jahil. Gavino membolakan matanya.


" 5 Jam ?, yang benar saja. Apa kau ingin memutar supermarket ini puluhan kali ?". Ucap Gavino tak percaya. Masa, dia harus mengikuti Danira selama itu. pikir Gavino.


" Jangan pernah meremehkan aku, hanya berbelanja 5 jam, itu hal yang kecil". Gavino menoleh kebelakang, melihat Danira masih diam, belum bergerak.


" Ayo...cepat ". Ujar Gavino lagi, Danira segera mendorong Trolley, dengan senyuman cantik terukir dibalik cadarnya.


***


Danira mulai mengambil satu- persatu barang-barang yang dia butuhkan, dari beras, garam, minyak goreng dan kebutuhan dapur lainnya, hingga tisu toilet pun sudah masuk kedalam Trolley. Danira sudah beralih ke rak khusus Pampers, Danira sedikit berjinjit untuk mengambil Pampers yang ada di rak paling atas, karena ukuran yang biasa Khalisa pakai tersusun diatas sana. Danira mulai celigukan mencari petugas yang biasanya berkeliling, tapi kali ini dia tak menemukannya, Danira masih terus berusaha menggapainya, namun tiba-tiba dari belakang tangan kokoh telah mengambil Pampers itu lalu memberikannya kepada Danira. Mata Danira dan Gavino saling bertemu, sekelibat rasa aneh mulai menghinggapi dada Danira lagi.


Ya Allah...Ada apa dengan ku, mengapa perasaanku jadi tak karuan seperti ini. Batin Danira.


" Jika kau tidak bisa mengambilnya sendiri, setidaknya minta tolong kepada orang lain. Bagaimana jika semua barang-barang yang ada disini terjatuh menimpa mu ?, itu akan membuat supermarket ini rugi karena ulahmu ". Omel Gavino, sedikit menekan nada suaranya. Namun yang diomel malah masih larut dalam pikirannya sendiri.


" Heii...hei wanita Berjubah, malah bengong. Ayo jalan ". Ujar Gavino, sambil menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Danira. Danira mengerjap - erjapkan matanya, menganggukkan kepala cepat, lalu mengikuti langkah Gavino. Semua pengunjung yang ada disana melihat mereka bertiga. Banyak bisik-bisik yang terdengar hingga ketelinga mereka.


" Masyaallah...mereka keluarga yang harmonis ya, lihatlah suami tampannya itu, dengan setia mengikuti kemanapun istrinya, dengan menggendong bayi mereka. Aku sangat iri melihat keluarga itu ". Bisik ibu-ibu yang sedang berbelanja.


" Iya kau benar, lihat saja suamiku. dia malah memilih duduk di kursi tunggu dari pada membantuku disini. Ujar rekan ibu yang lain.

__ADS_1


" Semoga saja nanti anakku, menemukan jodoh seperti wanita itu. Yang mau menutupi seluruh tubuhnya hanya untuk suaminya saja". ujar ibu yang lain.


Namun ada juga yang mencibir tak suka melihat keharmonisan mereka, terutama wanita-wanita lajang, mereka mencemooh Gavino yang mau menikah dengan wanita tertutup tanpa cela seperti Danira. Apalagi melihat ketampanan dan tubuh kekar Gavino, membuat mereka berlomba-lomba menyumpahi kehancuran rumah tangga Gavino dan Danira. Dan masih banyak lagi yang mereka dengar, Sejujurnya Danira merasa risih mendengar ucapan-ucapan para gadis itu untuknya, sebisa mungkin Danira tak menghiraukan. Lain hal dengan Gavino, wajahnya terlah memerah, menahan kesal sedari tadi, kupingnya panas, dia sudah tak bisa menahannya lagi. Gavino berjalan mendekati para karyawan Supermarket yang sedang bergosip tentangnya.


" Apa hanya begini pekerjaan kalian hah,?". Bentak Gavino, membuat para karyawan wanita itu tersentak kaget, melihat orang yang mereka gosipkan sudah berada didepan mereka. Danira berlari menghampiri suaminya, berusaha untuk mengajak Gavino pulang, namun Gavino yang masih tersulut emosi tak menubrus ucapan Danira.


" Berani-beraninya kalian menyumpahi rumah tanggaku seperti itu, apa kalian tidak tau siapa aku ?". Gavino melihat mereka dengan tajam, dia benar-benar tak terima dengan ucapan para gadis itu. Mereka menundukkan kepala takut, namun salah satu dari mereka ada yang melihat Gavino dengan lantang, tanpa berkedip. Bukannya takut, Gadis itu malah makin terpesona dengan Gavino. menurutnya dalam keadaan marah, ketampanan Gavino semakin meningkat.


"Mengapa kau melihatku seperti itu, apa kau sudah tak ingin bola matamu berada ditempatnya ". Ujar Gavino dengan kejam kepada gadis itu, Dia hanya berkedip sekali, lalu tersenyum kepada Gavino, membuat Gavino semakin segaram.


" DIMANA MANAGER KALIAN, PANGGIL DIA KEMARI, ". Teriak Gavino kencang, membuat semua pengunjung berbondong-bondong melihat mereka. Seorang wanita berusia sekitar 35 Tahun, berjalan sedikit berlari membelah kerumunan, dia melihat para karyawannya tebaris dengan menundukkan kepala. Gavino melihat wanita itu menyelang, membaca nametag didadanya ' Gina ' Nama yang tertulis disana.


" Apa kau Manager di sini ?". Tanya Gavino dengan suara Bariton dinginnya.


" Benar tuan, Jika saya boleh tau, kesalahan apa yang telah karyawan saya perbuat kepada tuan ?". Tanya Gina sopan.


" Tanya sendiri kepada para wanita ini, apa yang mereka gosipkan Tetang aku dan juga istriku. Aku sudah tidak bisa mentolerir lagi, mulai hari ini, Kau dan Karyawan-karyawanmu ini AKU PECAT ". Ujar Gavino tegas, membuat para karyawan itu melihat Gavino tak percaya, termasuk sang manager. mereka semua bertanya-tanya siapa Pria ini, dengan lantang memecat mereka. Danira pun membelalakkan matanya, terkejut mendengar ucapan suaminya.


Apa jangan-jangan dia...Batin Danira menebak.


" Maaf tuan, siapa anda yang berani-beraninya memecat kami ". Ujar Gina yang tak mengenal Gavino.


" Apa kau tak tau siapa aku ?". Gina menggelengkan kepalanya.


" Aku Gavino Garayudha Pradiksa, pemilik supermarket ini, jadi aku bisa memecat siapapun yang aku mau ". Orang-orang yang ada disana terkejut bukan main, Sepertinya mereka telah melakukan kesalahan besar. Gavino meraba saku celananya mencari ponselnya, tapi tidak ada. Dia baru teringat bahwa ponselnya berada didalam saku jas yang dia letakkan diatas sofa. Gavino menoleh kepada Danira.


" Mana ponselmu ?". Tanya Gavino, Danira bingung apa yang ingin suaminya lakukan denga ponselnya, namun Danira tetap memberikan ponselnya kepada gavino. Dia melihat Gavino mengetik nomor seseorang lalu menghubunginya.


" SEAN....!cepat datang ke supermarket dibawah gedung penthouses ku sekarang, jika dalam waktu 5 menit kau belum tiba, maka kau juga akan aku pecat ". ancamnya, membuat semua orang bergidik ngeri.


" Mas...sudah, ayo kita pulang saja ". Ajak Danira menarik-narik baju Gavino, Namun Gavino tak menghiraukan Danira, dia masih dikuasai amarahnya. Tak lama Sean tiba, lalu membungkuk dan memberi hormat kepada Gavino. Sang manager yang mengenal Sean, jantungnya mulai berdetak kencang, dia melihat pria yang memiliki wajah lebih dingin dari Gavino itu semakin takut.


" Urus orang-orang ini, pastikan mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan dimanapun, terutama wanita ini, bila perlu buat dia tidak bisa melihat lagi. Karena aku tidak suka cara matanya melihatku ". ujar Gavino kejam, melihat dengan tatapan elangnya, menunjuk wanita yang dari awal menganggumi Gavino dengan berani menatapnya lantang. Sean bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Namun yang pasti, orang-orang ini telah berani menyinggung tuannya.


" Dan urus juga semua belanjaan istriku ". Titahnya lagi kepada Sean.


" Baik Tuan ". Jawab Sean, lalu melihat 7 wanita yang sekarang telah berlutut dihadapannya kini, memohon ampun.


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2