
Disebuah Bar, seorang wanita dan pria tegah duduk menghadap meja bar yang panjang, diatasnya sudah tersedia berbagai macam minuma beralkohol mulai dari cocktail, Gin dan sebagainya. Wanita itu duduk dengan tatapan gelisah, dia terus memutar-mutar gelas minuman, tanpa memperdulikan pria yang ada disampingnya.
" Sudahlah Van, kau tak perlu terlalu memikirkannya, santai saja ". Ujar Danu sambil menegak segelas Gin miliknya. Stevani menatap Danu tajam.
" Apa kau bilang, santai saja ? kau pikir aku masih bisa melakukan hal itu, disaat semua orang-orang suruhanmu sudah tertangkap oleh anak buah Gavino, apa kau tidak takut mati hah ?, Dia itu pria yang sangat kejam, dia tak akan melepaskan kita begitu saja". Sungut Stevani, kesal dengan Danu yang terlalu santai menyikapi masalah mereka.
" Andai saja aku tidak mengikuti rencanamu untuk mencelakai wanita itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Pasti saat ini Gavino sedang mencariku. Aahhh....!! kau benar-benar berengsek Danu ". Ujar Stevani mengacak rambutnya kesal.
" Ha..Ha..Ha....!! Tenang lah Van, bukankah kau bilang dia sangat mencintaimu, bahkan dia tak mempercayai siapapun selain dirimu bukan ?, aku yakin kali ini dia pun tetap memaafkanmu, kau cukup mencari alasan yang bisa menyakinkannya ". Ucap Danu, menghisap rokok, lalu menghembuskan ya kelangit-langit. Stevani mencebikkan bibirnya, mendengar ucapan Danu.
" Hhaahhh....!! Sepertinya sudah tak sesederhana itu, rasanya kali ini tak akan mudah bagiku membuatnya tetap mempercayai aku ".
" Apalagi sejak wanita sialan itu masuk kedalam kehidupannya, aku banyak melihat perubahan Gavino, dia sudah tak sama ". Ujar Stevani, dengan sorot mata penuh kebencian. Danu menarik sudut bibirnya, tersenyum licik.
" Heeii...kenapa kau jadi tidak percaya diri seperti ini hhmm ?, bukankah kau yang lebih mengenal Gavino dari pada wanita yang berstatus istrinya sekarang ?, apa lagi kau sendiri yang bilang, bila Gavino belum pernah menyentuh bahkan melihat wajahnya. Jadi kau tak perlu cemas. Aku yakin kali ini pun Gavino, masih bertekuk lutut padamu, dia tak akan tega menyakitimu. Tenang saja, lebih baik kita nikmati saja malam ini ". Ujar Danu tersenyum genit pada Stevani, lalu ingin mencium tengkuk Stevani. Dengan cepat Stevani meletakkan jari telunjuknya dikening Danu, lalu mendorongnya agar menjauh.
" Berhentilah melakukan hal ini sekarang, aku sedang tidak tertarik ". Ujar Stevani, menatap Danu memberi peringatan.
" Come on Van, apa lagi yang kau takutkan. Percayalah, Gavino tak akan membunuhmu. Aku yakin kau mampu mengatasi masalah ini. Kau kan seorang Dewi yang mampu menggoda setiap pria yang kau inginkan ".
" Atau kau merasa takut karena telah jatuh cinta dengan Gavino, hingga kau sangat cemas seperti ini ?". Tanya Danu, Seketika tawa Stevani meledak, mendengar pertanyaan Danu.
" Cinta ? apa kau tidak memikirkan dulu pertanyaanmu itu nu ?". Danu menaikkan sebelah alisnya, melihat Stevani yang tertawa seperti orang yang tengah kerasukan.
" Mengapa kau tertawa, memang ada yang lucu ?, lagi pula pertanyaanku itu, sangat biasa dan wajar, mengingat hubungan kalian yang sudah terjalin cukup lama. Apa kau tidak memiliki rasa sedikitpun padanya ?". Ujar Danu, heran dengan respon yang diberikan Stevani.
" Aku tertawa karena pertanyaanmu sangat lucu. Apa kau sudah lupa, sejak kapan aku percaya dengan cinta ?, itu hanya omong kosong, jika aku pernah mengatakan kata itu, sudah pasti itu hanya buaian semata, agar terlihat menyakinkan. Cinta itu tidak ada, yang ada hanya hawa nafsu yang berkedok kata cinta ". Ucap Stevani, ikut menghisap rokok yang ada dijarinya.
" Hubungan kami memang terjalin lama, tapi aku sama sekali tidak menggunakan perasaan dalam hubungan kami, apalagi dia memiliki sikap yang sangat cuek dan dingin itu, aku tak ingin terjebak dengan rasa yang membuatku hampir gila lagi. Aku hanya tak ingin kehilangannya, aku ingin dia tetap menjadi milikku tanpa adanya ikatan pernikahan ". Ucap Stevani, kembali tertawa. Danu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Stevani, Danu tau alasan mengapa Stevani tak ingin memakai perasaan dalam setiap hubungannya, mungkin karena masa lalunya, hingga dia menghapus kata itu dalam hidupnya, tapi tidak ada yang tau kebenarannya bukan, urusan hati hanya orang itu sendiri yang tau. Pikir Danu.
" Kau terlalu egois dan serakah Van, tapi aku suka ". Ujar Danu tersenyum miring, tanpa melihat Stevani, dia menyentuh permukaan gelas didepannya, menggunakan jari telunjuknya mengikuti bentuk permukaan gelas. Stevani tersenyum.
" Ya..hidup memang harus egois bukan ". Ujar Stevani santai. Dan diangguki oleh Danu.
Kau memang harus menggenggam Gavino dengan erat Van, sangat erat. Karena aku akan menggunakanmu untuk menghancurkannya. Andai saja wanita sialan itu tidak datang, mungkin saat ini pria brengsek itu sudah mati dan tertidur didalam tanah. Akan aku pastikan Gavino mendapatkan sesuatu yang tak bisa dia lupakan atas penghinaan nya terhadapku. Batin Danu. Pada malam itu Danu telah menyiapkan penembak jitu tanpa sepengetahuan Stevani untuk membunuh Gavino, namun sayang, Danira melihat orang yang akan menembak Gavino, hingga dia berlari kearah gavino, membuat si penembak kehilangan titik fokusnya. Mengetahui bila orangnya gagal, Danu murka, dan mulai memikirkan cara yang lain.
" Apa kau tau dimana pria yang telah membuat hidupmu jadi begini Van ?". Tanya Danu, mendengar itu, Stevani segera menghentikan tawanya, melirik Danu sekilas, lalu dengan cepat Stevani membuang pandangan kesembarang arah.
" Ti...ti..tidak, aku tidak tau ". Jawab Stevani gugup, lalu mengambil gelas cocktail dan menegaknya hingga tandas.
" Sudahlah jangan bahas tentangnya lagi, lebih baik kau ceritakan, mengapa kau gagal menikah ?, apa calon istrimu dibawa kabur oleh pria lain ?". Ujar Stevani, mencandai danu, sambil meminta bartender menuangkan minuman lagi kegelasnya. Danu hanya diam, kembali meminum Gin nya, lalu meletakkan gelas yang dia pegang keatas meja dengan kencang, hingga menimbulkan suara dentingan, Stevani menoleh melihat Danu, dia dapat melihat kemarahan, kekecewaan teramat sangat dari mata temannya itu.
" Wow...sepertinya tebakanku benar....Ha..Ha..Ha ". Ucap Stevani, lalu tertawa tanpa memperdulikan tatapan kesal Danu padanya. Melihat Danu terus menatapnya tajam, hingga membuat Stevani segera menghentikan tawanya.
__ADS_1
" Baiklah...baiklah...sorry !!, ceritakan padaku, mengapa kau gagal menikah dengan wanita yang sangat kau cintai itu, apa jawabannya sesuai dengan tebakanku tadi ?".
" Aku tak ingin membahasnya, jadi berhentilah bertanya tentang hubungan sialan itu lagi ". Ketus Danu, yang tadinya santai, berubah menjadi menyeramkan. Stevani mengangguk kepalanya sekilas, tau bila Danu merasa tak nyaman dengan pertanyaannya. Hingga membuat Stevani memilih diam, menikmati minumannya kembali, sambil memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada Gavino.
Tanpa mereka berdua sadari, tak jauh dari tempat duduk Stevani dan Danu, seseorang sedari tadi mengamati dan merekam semua pembicaraan mereka. Merasa cukup, orang itupun berdiri, merapikan topi yang dia kenakan, lalu pergi meninggalkan bar ternama itu.
***
Setelah melewati masa rawat selama dua hari di rumah sakit, Gavino sudah diperbolehkan pulang. Karena tak ada luka yang terlalu serius, hanya tinggal pemulihan luka memar diarea wajah, perut dan Danira juga sudah diminta oleh dokter untuk mengganti perban luka akibat tembakan di lengan Gavino. Setelah menempuh perjalanan satu jam, kini mereka telah sampai di pekarangan rumah Oma laras yang benar-benar membuat Danira takjub, sangat sejuk.
Siapa yang akan menyangka, dipelosok desa terdapat rumah yang sangat besar, dan memiliki halaman luas dan indah. Disana ditumbuhi berbagai macam tanaman bunga, pepohonan buah-buahan dan pohon yang rindang, semakin membuat suasana rumah itu semakin asri. Seketika Danira kembali teringat dengan pondok pesantren tempat dia dibesarkan sekaligus menimbah ilmu.
" Tuan, Nyonya kita sudah sampai ". Ujar supir memberitahu pada Gavino dan Danira.
" Terima kasih pak ". Ujar Danira. Gavino tetap diam, tak mengatakan apapun, dia sangat engan datang kerumah Omanya. Melihat suaminya tak ada pergerakan, membuat Danira menolah dan melihat wajah datar suaminya.
" Ada apa ?, mengapa wajah mas terlihat tak suka seperti ini, apa terjadi sesuatu ?, atau lengan mas sakit ?". Tanya Danira khawatir.
" Aku tidak apa-apa, aku hanya tak ingin masuk kedalam ".
" Kenapa ?
" Cckkk....!! kau tak perlu tau alasannya. lagi pula coba kau lihat tempat ini. Sangat membosankan, inilah salah satu alasan mengapa aku tidak pernah datang kerumah Oma, tempatnya sepi, dipelosok kampung, jauh dari mana-mana, tidak ada tempat hiburan, benar-benar tempat yang membosankan. Aku heran, mengapa Oma mau pindah ketempat seperti ini, sedangkan aku bisa saja membelikan rumah yang jauh lebih besar dan indah dari rumah ini ". Sungut Gavino, menelisik keseluruh bagian bangunan yang ada didepan mereka. Danira menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar jawaban Gavino.
" Jika aku tua nanti, mungkin aku lebih memilih tinggal ditempat yang seperti ini juga. Menghabiskan masa tuaku, ditempat yang tenang dan sejuk. Sambil menunggu kedatangan anak-anak dan cucu-cucu ku datang berkunjung. Aahhh...!! pasti itu sangat menyenangkan dan membahagiakan". Ujar Danira, membayangkan masa depannya yang indah, ditempat impiannya. Mendengar ucapan Danira, Gavino memutar kepalanya melihat Danira.
" Jadi kau ingin memiliki rumah masa tua seperti ini juga ?".
" Eemmmhh...!! Tentu saja, tidak ada yang tidak mau tinggal ditempat yang nyaman seperti ini. Kecuali mas Gavino, ya kan ?". Jawab Danira, tanpa melihat Gavino yang terus menatapnya.
Tok..
Tok..
Ketukan jendela kaca mobil, mengalihkan pandangan pasangan suami istri itu, Danira melihat seorang wanita telah berdiri tepat didepan pintu mobil mereka. Danira langsung membuka pintu itu, lalu keluar diikuti oleh Gavino.
" Assalamualaikum". Salam Danira sopan.
" Waallaikumsalam, kamu yang namanya Danira ya ?".
" Iya, saya Danira ". Jawab Danira lembut.
" Saya Santi, kak ibu mertuamu ". Ujarnya, memperkenalkan diri, mengulurkan tangan.
__ADS_1
" Ah, maaf Tante saya tidak tau ". Ujar Danira menjabat lalu mencium punggung tangan Tante Santi.
" Iya tidak apa, bukankah ini baru pertama kalinya kita bertemu, jadi wajar saja kalau kamu belum mengenali Tante". ucap Tante Santi tersenyum ramah.
" Tan...!!". Sapa Gavino yang baru keluar dari dalam mobil, mendekat lalu mencium pipi kiri dan kanan tantenya.
" Vin, bagaimana keadaanmu sekarang, sudah baikan ?, atau masih ada yang sakit ?".
" Sudah Tan, ini hanya luka kecil ". Ujar Gavino santai, Tante Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Danira...?, boleh kah tente memelukmu ?".
" Tentu Tante ". Jawab Danira, dengan senang hati Danira menerima permintaan Tante suaminya ini. Dia melangkah mendekati Tante Santi, lalu Tante Santi memeluk Danira dengan rasa sayang.
" Tente sangat senang bisa bertemu dan memelukmu langsung seperti ini, maaf waktu kalian menikah Tante tidak bisa hadir. Maklum Oma sudah sepu, sudah tidak bisaa pergi terlalu jauh. Apalagi waktu itu, Oma juga sedang dirawat dirumah sakit ".
" Tidak apa-apa Tante, Danira mengerti. Yang penting sekarang kita sudah bertemu ". Jawabnya, sambil mengembangkan senyuman dibalik cadarnya. Tante Santi menggenggam tangan Danira, lalu menatapnya.
" Terima kasih sudah mau menerima keponakan Tante, yang bentukannya seperti ini ". Gavino melihat tantenya kesal, Danira hanya tersenyum geli melihat wajah cemberut suaminya.
" Tente harap kamu akan terus mendampinginya, meski tidak akan mudah menghadapi bayi curut ini, tapi Tante sangat berharap, kamu mampu mengubahnya menjadi pria yang jauh lebih baik. Karena Tante yakin hanya kamu yang bisa ". Danira kembali menolehkan kepalanya melihat Gavino, yang memasang wajah semakin masam akibat ucapan Tante Santi yang menamainya bayi curut.
" Insya Allah Tante, Danira tidak berjanji. Tapi akan mencoba menjadi istri yang baik untuk suamiku ". Tante Santi tersenyum mendengar jawaban Danira, sedangkan Gavino melirik Danira sekilas lalu mengalihkan pandangannya kesembarang arah lagi.
Menjadi istri yang baik, berarti dia sudah menerimaku kembali dong. Eemmm kenapa suaranya sangat menggemaskan saat dia menyebut kata suamiku. Gumam Gavino dalam hati.
Tante Santi kembali memeluk Danira " Ra...!! apapun yang nanti kamu dengar atau lihat didalam, jangan jadi beban dan ambil hati ya sayang. Fokus saja, tujuan datang kesini untuk menyenangkan Oma. Jika ada kata-kata yang menyakitkan yang ditujukan untuk kamu, jangan dihiraukan ya sayang ". Ujar Tante Santi lembut, sambil mengelus punggung Danira. Danira mengerutkan dahinya bingung. Tidak mengerti mengapa Tante Santi berkata seperti ini. Danira diam, dia memilih menjawab menggunakan kepalanya pelan. Tante Santi melepaskan pelukan mereka, lalu mengalihkan pandangannya pada Gavino.
" Kenapa kamu senyum-senyum begitu Vin, kesambet ya ?". Tanya Tante Santi, heran melihat tingkah aneh Gavino. Danira pun ikut melihat kearah suaminya.
" Ti..tidak, siapa yang senyum-senyum. Tante salah lihat kali ". Ketus Gavino mengelak, kembali memasang wajah datarnya lagi.
" Ingat Vin, kamu harus menjaga istrimu dengan baik. Jangan sampai kamu menyakitinya lagi, demi wanita murahan itu. Jika sampai kejadian kemarin terulang lagi, maka adik kecilmu akan Tante potong, lalu Tante jadikan makanan ikan piranha ". Ancam Tante Santi, sambil memperagakan memotong-motong jari tangannya. Gavino mendegus kesal.
" Ya...ya...ya, baiklah. Bisakah kita masuk sekarang, kakiku sudah sangat pegal berdiri sedari tadi. Apa kalian lupa, bila aku masih sakit hah ?".
" Ciihh....tadi kau bilang tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Sekarang baru berdiri beberapa menit saja sudah mengeluh. Payah...". Ejak Tante Santi, menggandeng Danira, pergi melewati Gavino.
" Hhhaahh...!! dasar wanita, menyebalkan sekali ". Gumamnya berjalan mengikuti kedua wanita itu dari belakang.
......................
...Bersambung.......
__ADS_1