CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
107. Bidadari itu Nyata


__ADS_3

Flashback on.


Nyonya Calina telah tertidur pulas, sedangkan Danira masih terjaga, meski waktu telah menunjukkan pukul 4.00 pagi, Danira masih belum bisa memejamkan matanya, dia terus memikirkan apa yang dia dengar dari Gavino tadi. Danira perlahan menuruni tempat tidur, berjalan sedikit berjinjit, lalu mengambil ponselnya dari atas nakas, melangkah masuk kekamar mandi. Danira duduk diatas closet, dia mulai mencari nomer telpon Sarah, lalu menekan tombol panggil, tak menunggu waktu lama, panggilannya tersambung.


" Hallo, assalamualaikum Nona ?". Suara parau khas orang bangun tidur, dari seberang telpon.


" Waallaikumsalam, Sarah maaf menganggu waktu istirahatmu ".


" Tidak apa-apa nona. Apa ada yang bisa saya bantu nona?". Tanya Sarah, karena tak biasanya Danira menelponnya sepagi ini, bila tidak ada hal yang penting.


" Sarah aku ingin menanyakan, apakah besok produk kita jadi dirilis ?".


" Jadi nona, mungkin sekitar pukul 10.00 pagi, ada apa nona ?". Sarah merasa ada sesuatu dari balik pertanyaan Danira, tidak mungkin Danira menanyakan perihal yang telah dia ketahui dijam segini. pikir Sarah.


" Apa kau tau siapa yang mendesain cover produk terbaru kita ?". Tanya Danira.


" Tentu team Desain grafis kita nona ".


" Bisakah kau kirimkan semua data pembuatannya padaku sekarang juga ? aku ingin memastikan bila desain itu benar-benar milik kita ?". Ujar Danira, Sarah mengerutkan keningnya, mendengar permintaan Danira.


" Saya akan mengirimkan data lengkapnya pada anda nona, tapi kalau saya boleh tau ada masalah apa nona, bukankah Anda sangat suka dengan desain ini ?". Tanya Sarah bingung, pasalnya saat Sarah mengajukan 3 sampel desain cover produk, Danira langsung meminta cover produk yang akan dirilis besok, tapi mengapa sekarang dia ingin memastikannya kembali. pikir Sarah.


" Mas Gavino marah besar, dia mengatakan bila kita mencuri desain milik nya. Desain itu akan mereka launching bulan depan. Apa menurutmu ini hanya kebetulan mirip, atau memang ada yang mencoba menjebak perusahaan kita ?". Berita ini sangat mengejutkan Sarah, Dia langsung beranjak dari kasurnya menujuh laptop yang ada dimeja kerjanya.


" Bagaimana bisa, sedangkan kita memiliki data lengkapnya nona ".


" Aku juga tidak tau, tapi aku ingin kau mengganti desain produk kita yang akan launching besok, dengan desain yang pertama saja ". Ucap Danira, mendegar itu Sarah menghentikan tangannya yang sedang mengarahkan kursor mouse.


" Tapi kenapa nona, bukankah ini belum terbukti milik tuan Gavino, lagi pula persiapan kita telah mencapai 99% ". Ujar Sarah.


" Aku tau, tapi aku tidak ingin terjadinya keributan, apa lagi ini menyangkut 2 perusahaan. Jika mas Gavino sampai memperkarakan semuanya, lalu pablik tau, ini akan semakin memperburuk citra kita. Jadi aku putuskan kita akan memakai desain yang pertama, mundurkan waktu launching di jam 02.00 Sore, supaya team bisa menyiapkan produk yang akan di rilis besok ". Ujar Danira memberi keputusan. Sarah diam sejenak, menimbang-nimbang keputusan yang diperintahkan Danira. Meski dia tidak setujuh, tapi, Sarah juga tidak bisa menolah begitu saja.


" Aku kan menyelidiki orang-orang di bagian desain Grafis terlebih dahulu nona, hanya untuk menyakinkan kebenarannya, jika sampai adanya kecurangan dan persengkokolan, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal". Ujar Sarah.


" Lakukan apa yang terbaik menurutmu ".


" Tapi lakukan apa yang aku minta, supaya mereka dapat menggunakan desain milik mereka bulan depan ". Titah Danira.


" Baik Nona ".


Setelah mengatakan hal itu, sambungan telpon merekapun terputus, Danira kembali kedalam kamar.


Flashback off.


Gavino melihat Vidio peluncuran produk terbaru dari Radenayu Group yang dikirim oleh sean, dan benar saja, mereka tidak menggunakan desain yang sedang dipermasalahkan. Gavino semakin bertanya-tanya, apakah ini ada hubungannya dengan Danira, mengapa waktunya bisa pas sekali. Pikir Gavino, kembali melirik Danira yang hanya berdiam diri disampingnya.


Sedangkan Danira masih memikirkan anak yang bersama Aryo tadi, Danira sangat berang , rasanya dia ingin sekali memukul Aryo namun dia masih mencoba meredam emosinya, dia takut apa yang dia pikirkan sekarang hanya perasangka buruknya saja, karena Danira belum mengetahui kebenarannya, jika dia langsung menuduh Aryo berselingkuh dari kakaknya begitu saja tanpa bukti, itu sama halnya dia telah memfitnah, Danira tak ingin dia melakukan itu, semua harus sesuai fakta. pikir Danira.


Mobil yang membawa mereka berhenti di lobby Gedung bertingkat tinggi. Gavino membatalkan rencana datang keperusahaannya, dan memilih pulang ke penthouses saja. Tanpa mengatakan apapun, Gavino membuka pintu mobil terlebih dahulu, lalu turun dan pergi begitu saja tanpa menunggu Danira. Danira yang tidak tau apa yang menyebabkan Gavino marah padanya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Terima kasih pak ". Ucap Danira kepada supir, sebelum turun dari mobil.


Danira telah tiba di penthouses Gavino. Dia berhenti sejenak didepan pintu, ingatannya kembali kebeberapa bulan sebelum dia memutuskan pergi dari Gavino. Namun takdir berkata lain, dia malah kembali ketempat yang sudah tak Danira inginkan, dulu.


Danira memasukkan PINnya, kemudian mendorong pintu hingga terbuka lebar, dia masuk. Danira mengedarkan pandangan kesetiap sudut yang ada disana.


" Sudah lama sekali ". Gumam Danira, tak ada yang berubah, sejak terakhir dia memutuskan pergi. Danira berhenti ditegah ruangan, dia bingung harus masuk kekamar yang mana, dulu saat mereka menikah yang pertama, Gavino sangat melarang bila Danira masuk kedalam kamarnya, tapi sekarang apakah masih sama. pikir Danira.


" Sudahlah....aku tetap dikamarku saja, bukankah sekarang dia masih marah tidak jelas". Gumam Danira lagi, melangkah menujuh kamar tamu, tapi belum sempat Danira memegang kenop pintu, suara bariton dari atas tangga mengurungkan niatnya.


" Sepertinya kau masih betah dikamar itu ?, apa kau lupa statusmu sekarang sudah kembali sah sebagai istriku ?, bukankah kau tau dimana letak kamar suamimu ?". Ketus Gavino, berdiri diatas tangga. Danira memejamkan matanya, merapatkan giginya lalu mengepalkan tangan membentuk tinju, dia kesal dengan ucapan suaminya ini, rasanya Danira ingin menguncir bibir Gavino yang selalu berkata asal. Danira menghela, lalu memutar tubuhnya melihat kearah Gavino yang berwajah masam.


" Danira pikir mas Gavino masih belum mengijinkan untuk Danira masuk kesana ". Ujar Danira, Gavino mendegus lalu berbalik masuk kekamarnya.

__ADS_1


Iiihh...mengapa hari ini dia menyebalkan sekali. astaghfirullah, sabar Danira, sabar ..batin Danira yang semakin geram dengan tingkah suaminya.


Perlahan kaki Danira menapaki satu persatu anak tangga, ada rasa ragu yang membayangi setiap langkahnya, takut bila didalam sana masih banyak pajangan tentang masa lalu sang suami, takut bila dia kembali sakit hati. Danira telah sampai didepan pintu kamar Gavino, menimbang-nimbang haruskah dia masuk sekarang, Danira mulai mengangkat tangannya mengetuk pintu.


Tok*


Tok*


Tok*


Danira memutar kenop pintu, lalu mendorongnya. Ini pertama kalinya Danira mengijakkan kakinya, masuk kedalam kamar Gavino, aroma parfum pria menyeruak diseluruh ruangan. Ruangan yang besar, terisi dengan perabotan yang mewah, warna dinding yang kalem namun tak menghilangkan kesan maskulin. Danira melihat-lihat isi ruangan, dia tertegun ketika melihat foto pernikahan mereka sudah terpajang diatas kepala tempat tidur dengan ukuran yang cukup besar. Danira mencari keberadaan gavino, namun dia tak menemukannya. Danira mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, Dia menyakini bila Gavino sedang berada didalam sana. Danira berjalan mendekati nakas, meletakkan gelas teh yang dia bawa untuk Gavino.


Klek*


Suara pintu kamar mandi terbuka, Danira menengok Gavino yang muncul dari balik pintu hanya menggunakan Bathrobe, sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil di tangan kanannya, wajah segar dengan rambut yang basah, area dada Gavino sedikit terekspos, karena Gavino tak terlalu kencang mengikat tali Bathrobenya. Danira mematung, berusaha mengalihkan perhatiannya dari pemandangan indah yang sedang medekatinya, tapi entah mengapa dia merasa sulit sekali memalingkan wajahnya, Gavino yang melihat Danira tak bergerak tersenyum samar.


Ya ampun Danira, apa yang kau lakukan, jaga pandangamu, astaghfirullah....mengapa sulit sekali untuk memalingkan mata ini. Batin Danira merutuki dirinya sendiri. Gavino berhenti tepat didepan Danira, membuat mata Danira melihat tepat area dada suaminya yang putih.


" Mengapa kau masih berdiri disini, apa kau begitu terpesona melihatku ?". Ucap Gavino menundukkan pandangannya melihat Danira, sambil menutup sebagian dadanya yang terbuka.


" Ti..ti..tidak, aku tidak melihatmu, mas jangan terlalu kepedean ". Jawab Danira terbata-bata gugup, mengerjap-ejapkan matanya.


" Se..sepertinya, aku juga harus mandi. Boleh aku menggunakan kamar mandinya mas ?". Tanya Danira meminta ijin, dia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Gavino, jika tidak jantungnya bisa meledak ditempat. Melihat suaminya hanya diam, Danira menggeser beberapa langkah kakinya, ingin pergi, tapi dia kalah cepat dengan tangan Gavino.


" Siapa yang mengijinkanmu ?".


" Oh....kalau begitu aku akan menggunakan kamar mandi dibawah saja ". Ujar Danira, mencoba melangkah lagi, tapi kali ini Gavino menarik tangan Danira hingga hampir terjatuh, dengan cepat Gavino menahan tubuh danira.


" Yang aku maksud, siapa yang mengijinkanmu pergi. Aku masih marah padamu, mengapa kau berani sekali ingin menghindar hhhmm ?". Ujar Gavino, menyentuh pipi Danira yang masih tertutup.


" Aahh...eemm, aku tidak meng...menghindar, aku pikir mas melarang ku menggunakan kamar mandi disini ". Jawab Danira, gugup. Jantungnya semakin berdetak cepat, hati Danira semakin berdebar-debar.


" Danira apa kau tau alasaku marah padamu ?". Danira menggelengkan kepalanya.


" Mas, dia bukan ke.....".


" Sssuutttt.....aku belum selesai bicara, kau harus mendengarkan aku dulu hhmm?". Ujar Gavino bernada lembut, Danira menghela nafas pasrah.


" Aku ingin bertanya, apa kau yang meminta mereka untuk mengganti cover desain itu ?". Tanya Gavino pelan. Danira diam sejenak, mengigit bibir bawahnya, lalu menggeleng pelan. Gavino menaikkan alisnya sambil mengangguk-angguk.


" Baiklah, lupakan saja. Kita tak perlu membahas masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kita. Lebih baik kita fokus saja dengan moment kita saat ini...hhmmm?". Danira kembali mengangguk.


" Tentang mantan kekasihmu itu, apa kau masih mencintainya ?". Tanya Gavino, Danira menggeleng cepat.


" Apa kau mencintaiku?". Danira diam, Danira hanya menatap wajah Gavino, bibirnya seakan terkunci, keluh untuk mengakui perasaannya. Gavino kembali menunkan pandangannya, dia tau kini Danira sedang menatapnya.


" Mengapa kau diam, Apa kau sudah memiliki rasa cinta untukku ?". Tanya Gavino lagi, Danira menunduk mengangguk malu-malu, membuat Gavino tersenyum tipis.


"Danira aku.....".


Tring**


Ponsel Gavino kembali berdering, tertera nama Sean disana. Gavino tak memperdulikannya, dia masih terus menatap Danira.


" Mas angkat saja dulu siapa tau penting ". Ujar Danira, mencari alasa supaya Gavino bisa melepaskannya barang sebentar, agar dia bisa mengatur detakan jantung yang semakin menyiksa. Gavino mencebikkan bibirnya, lalu mengambil ponsel kemudian....


PRAK**


Gavino melemparkan benda pipih itu ketembok hingga pecah, lalu Gavino merapikan kembali Bathrobenya dan menghela pelan. Danira membulatkan matanya, tercengang dengan apa yang dilakukan suaminya ini.


" Aku tidak ingin ada yang menganggu waktu kita lagi, sudah cukup aku bersabar menahan selama ini ". Ujar Gavino kembali berdiri dihadapan Danira, yang masih mematung.


" Jadi.....apa aku sekarang sudah boleh melihat wajah istriku ?". tanya Gavino kembali menyentuh kepala Danira lembut, Danira masih terdiam, perasaannya semakin tak karuan, rasanya Danira ingin berlari bersembunyi.

__ADS_1


"A..a..apa mas yakin, jika mas kecewa bagaimana?, lagi pula aku belum bersih-bersih, pasti wajahku saat ini masih kusut akibat perjalan jauh ?". Danira masih mencoba menahan Gavino, dia benar-benar gugup, untuk memperlihatkan wajahnya dihadapan laki-laki.


" Aku tidak akan pernah kecewa, aku sudah menerimamu apa adanya. Aku sudah tidak perduli bagaimana bentuk rupamu, aku kan tetap mencintaimu ". Ucap Gavino, tangannya telah bergerak menarik pengikat Burqa Danira, dan Burqa itu terjatuh, kini mata mereka saling bertemu, Gavino terpaku menatap bola mata indah berwarna biru dan bulu mata lentik Danira hingga membuatnya tak berkedip.


Gavino mengangkat telunjuknya menyentuh mata Danira perlahan, membuat Danira terpejam. Kemudian jari itu turun lalu menarik pelan cadar yang masih menutup sebagian wajah Danira.


DEG*


Cadar pun terjatuh, Jantung Gavino seakan berhenti berdetak, matanya membola besar, aliran darahnya terasa membeku, Gavino mematung cukup lama, tanpa berkedip. Melihat eksperesi suaminya, Danira mengembangkan senyum manis, hal itu membuat Gavino semakin tak berdaya. Tuan muda Arogan terjebak didalam kesempurnaan Danira.


Bagaimana bisa, ini....ini ....ini terlalu sempurna, a..apa aku sedang bermimpi . Batin Gavino. Danira menghela pelan, melambai-lambai kan tangannya kenan dan kekiri didepan wajah Gavino.


" Mas....mas Gavino ". Panggil Danira, mencoba menyadarkan sang suami dari keterkejutan yang lama. Gavino masih bergeming, dia seakan tuli, tak mendengar suara Danira.


" Hhaahh...!!! mas Gavin ihh, jangan melihatku seperti itu, aku jadi takut ". Ujar Danira kikuk, Danira berbalik lalu menunduk. Gavino mulai mengerjap-ejapkan matanya, mencoba mengatur tekanan oksigen yang terasa berkurang didalam paru-parunya.


Gavino menyentuh pundak Danira, lalu memutar tubuh danira agar kembali menghadapnya, dia menyentuh dagu Danira mengangkatnya perlahan, hingga dagino dapat melihat dengan jelas setiap garis-garis wajah istrinya.


" Cantik....sangat cantik ". Itulah kata yang keluar dari mulutnya setelah hampir 5 menit terbungkam, kaku.


Blus**


Wajah Danira berubah menjadi merah merona, Gavino menyentuh pipi Danira bak buah tomat segar, lalu mengelusnya. Terasa lembut dijemarinya.


" Mas menyesal ? ". Tanya Danira, mengikuti arah gerak jari Gavino diwajahnya. Gavino mengangguk.


" Hhhmmm, sudah aku duga. Lebih baik aku tutup.....".


" Ssttt...". Jari Gavino menempel dibenda kenyal Semerah buah Cherry. Mata Gavino tak bisa beralih dari bibir ranum Danira.


" Aku memang sangat menyesal,....!!! menyesal mengapa selama ini aku tidak menyadari bila istriku secantik ini. Ternyata dongeng pengantar tidur itu ada benarnya, bila wujud bidadari itu nyata karena aku telah melihatnya sendiri, disini, dihadapanku". Tanpa sadar Gavino bisa menyusun kata-kata yang menyebabkan jantung Danira semakin berdebar, mendengar ucapan Gavino, membuat Danira semakin tersipu malu.


......................


...Bersambung.......


Hayo...siapa yang ikut baper plus Deg-degan dengan tatapan mas Gavino.....😁


Author juga deg-degan kok, malah senyum-senyum sendiri.


* Author cuma mau kasih tau, sebentar lagi mereka akan merayakan malam pertama, mohon untuk kakak-kakak semua jangan mengintip atau menguping ya...hihi🀭


Nanti Gavino dan Danira jadi malu😜


****


~ Author mau ngucapin terima kasih banyak, kepada para reader, yang selalu meluangkan waktu untuk mensupport karya author yang jauh dari kata baik iniπŸ™πŸ˜Š


~ Mohon maaf, bila Author belum bisa mewujudkan keinginan kakak-kakak semua untuk crazy up πŸ™


.


.


.


Jangan lupa dukung Author terus ya, dengan meninggalkan tanda cinta dalam bentuk Like, Komen dan Vote nya.πŸ’ͺπŸ™


Vote, Vote, Vote.....Agar semakin banyak yang melihat dan mambaca Novel ini. πŸ‘


Terikat kasih semua.


Salam Sayang dari Author

__ADS_1


Saranghae ❀️


__ADS_2