CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
33. Permohonan


__ADS_3

Dikoridor rumah sakit yang cukup ramai, Danira berjalan tergesa-gesa sambil menggendong Khalisa, semua mata yang ada disana tertujuh pada Danira, Danira tak peduli dengan pandangan-pandangan aneh orang-orang itu padanya. Dia terus berjalan dan berhenti tepat di depan meja resepsionis untuk menanyakan ruangan Ny. Calina. Danira yang mendapat kabar dari Bik Sri, mengenai kondisi Ny. Calina, dengan cepat berangkat dari rumahnya menggunakan Taxi. Awalnya Bik sri menawarkan jemputan saja, atas perintah Ny. besarnya, Namun Danira menolak. Setelah mengetahui dimana ruang rawat Ny. Calina, Danira pergi berlalu setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat.


Danira mengetuk pintu ruangan itu, tak lama pintu terbuka muncul lah bik Sri dari balik pintu.


" Maaf...Apa benar ini ruangan Ibu Calina". Danira bertanya kepada bik Sri, yang sedari tadi melihatnya dari atas sampai bawah.


" Iya benar...apa anda yang bernama Danira?". tanya bik Sri memastikan.


" Iya benar, saya Danira ".


" Ahh...ayo masuk non. Nona sudah ditunggu Nyonya didalam". Ajak bik Sri dengan suara ramah. Danira masuk, tanpa melihat kesekeliling ruangan. Matanya langsung tertujuh pada wanita yang sedang berbaring diatas ranjang mewah rumah sakit itu. Wanita itu tersenyum cerah melihat kedatangan Danira dan Khalisa.


" Assalamualaikum Ibu". Danira mengambil tangan Ny. Calina, lalu mencium punggung tangannya.


" Waallaikumsalam".


" Ibu kenapa seperti ini, kenapa ibu melakukan hal nekat seperti ini". Suara Danira bergetar, menahan tangis dari balik Burqanya.


" Ibu tidak apa-apa nak, ini hanya luka kecil saja. Kamu tidak perlu khawatir".


"Bagaimana bisa ibu bilang ini tidak apa-apa, ibu sampai dirawat disini. Kenapa ibu melakukan ini". pecah sudah tangis Danira, bahunya bergetar menandakan Dia benar-benar merasa sedih.


"Sudah...kamu Jagan menangis, lihatlah ibu masih bernafas bukan, ibu masih hidup kenapa kamu menangis". Ny. Calina mengeratkan genggaman tangannya pada Danira.


" Aku takut, ibu kenapa-kenapa, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan seorang ibu untuk kedua kalinya". ujar Danira jujur.


" Kamu tidak akan kehilangan ibu lagi nak, ibu akan tetap baik-baik saja..hhmm". Ny. Calina menampilkan senyum untuk menenangkan Danira.


" Ra bole ibu bertanya lagi, mengenai tawaran ibu yang kemarin. Apakah kamu sudah memikirkannya?". Danira mematung sejenak, Danira baru teringat keinginan Ny. Calina kemarin saat mereka makan di mall. Danira belum memberikan jawaban apapun ketika Ny. Calina memintanya menikah dengan Gavino, Danira beralasan akan memikirkannya dulu. Namun Danira hanya menganggap itu angin lalu, karena dia tau Ny. Calina sering kali bergurau atau bercanda yang terlihat serius.


"Maaf ibu, Danira belum memikirkannya. Danira pikir ibu hanya bergurau saja". jawaban polos Danira, membuat Ny. Calina gemas.


"Ibu serius Danira, apa sekarang saya masih terlihat main-main?". sorot mata Ny.Calina serius. Danira menatap manik mata wanita itu.


"Ibu...menikah bukan hal yang gampang, semua ada prosesnya. Apa lagi aku dan putra ibu belum pernah kenal dan bertemu. Aku paham ada yang menikah dengan cara ta'aruf tanpa perkenalan atau pacaran terlebih dahulu, tapi ini berbeda Bu, jujur aku belum memikirkan untuk menikah". Danira memberitahu Ny. Calina apa yang ada pikiran dan hatinya saat ini.


"Tapi saya ingin kamu menjadi putri saya, menjadi menantu saya". Mata Ny. Calina mulai berkaca-kaca.


" Aku akan tetap menjadi putri ibu tanpa harus menikah dengan anak ibu, bukankah selama 1 bulan ini kita sudah seperti itu".


" Lagi pula, belum tentu putra ibu akan setujuh menikah denganku. Aku memiliki Khalisa, ibu belum tau siapa aku sebenarnya, semua tak semudah yang ibu bayangkan. Bahkan ibu belum pernah melihat wajahku, bagaimana ibu bisa mempercayai aku menjadi istri yang baik untuk anak ibu. Dan aku tidak ingin akan ada kekecewaan didalam pernikahan ini jika terjadi".ujar Danira lembut, memberi pengertian.

__ADS_1


" Nak...!! ibu tidak perduli dengan rupa ataupun statusmu saat ini. Yang ibu tau kamu wanita yang tepat untuk Gavino. Dan satu lagi, Gavino sudah siap menikah dengan kamu". Jawaban dari Ny. Calina membuat Danira Syok, bagaiman laki-laki itu bisa setujuh menikah dengannya, sedangkan mereka belum pernah bertemu sama sekali.


" Tapi Bu......!!".


" Ra...ibu mohon, tolong kabulkan keinginan saya kali ini. Anggap saja ini permintaan terakhir saya. sebelum saya menghadap ilahi, saya ingin melihat kamu menikah dengan anak saya Gavino". Ny. Calina menangis, memperlihatkan wajah memelas dan memohonnya.


" Maaf Bu...tapi saya tidak bi...".


Ucapan Danira terpotong, saat melihat Ny. Calina memegang dadanya dengan nafas tersengal-sengal. Danira mulai panik, bik Sri yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka segera keluar memanggil dokter.


Danira sudah menangis sejadi-jadinya, dia memeluk Khalisa yang tertidur dengan erat. Danira mulai takut, takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Ny. Calina, Danira takut kehilangan lagi. Tak lama Bik Sri, menghampiri Danira yang tadi diminta menunggu diluar ruangan.


" Nona...Ny. Besar ingin bertemu dengan anda".


" Iya bik". Danira berjalan, mengikuti bik Sri yang ada didepannya.


" Ibu...". Danira menangis lagi, melihat Ny. Calina terbaring, dengan selang oksigen yang telah tepasang dihidungnya.


" Danira.....!! Ibu mohon, kali ini saja, kabulkan permintaan ibu, Ibu sangat mohon sama kamu nak". Ny. Calina berbicara setengah berbisik, menahan sesak di dadanya.


Danira yang melihat itu, semakin bergemuruh didadanya.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan.


Haruskah aku menerima permintaan Ibu. Calina.


Ya Allah, tolong beri petunjuk-Mu.


Hanya Engkau yang maha mengetahui, mana yang terbaik bagi Hambanya.Batin Danira berdoa.


Danira benar-benar dilema. Dia bingung harus memberikan jawaban apa, dia tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Karena ini menyangkut masa depan nya kelak. Apalagi menikah, itu bukan perihal main-main, Itu adalah janji yang disaksikan oleh para malaikat dan sumpah di hadapan Allah SWT.


"Ra....!! jika kamu tidak bersedia, tidak apa-apa". Saya Ti..ti.dak a.a.akan memaksakan kamu la..la.lagi". Ucapan Ny. Calina terbata-bata, dengan mata mulai sayu, menandakan sesak yang luar biasa dirasakannya. Danira menggenggam tangan Ny. Calina Erat. Danira menggeratkan pula tangannya yang 1 lagi memeluk Khalisa.


Bismillahirrahmanirrahim


" Danira bersedia menikah dengan putra ibu". Danira berucap pelan sambil memejamkan matanya.


Tes..


Tes..

__ADS_1


Tes..


Jatuh lagi air mata Danira, dia seakan tak percaya dengan ucapannya sendiri. Bagaimana bisa dia mengucapkan dengan lantang menerima permintaan Ny. Calina. Apa ini salah satu pertanda dari Allah, pikir Danira. Danira menggigit bibir bawahnya, seakan masih tak percaya dengan dirinya sendiri.


Ny. Calina yang mendengar jawaban dari Danira, tersenyum bahagia dicampuri dengan tumpahan air mata. Dia benar-benar senang.


" Terima kasih nak, terima kasih sudah mau menerima permintaan saya". ujarnya sambil menarik Danira, ingin memeluk. Danira hanya menjawab dengan anggukan.


...****************...


Ny. Calina telah tertidur akibat pengaruh obat dari selang infus nya. Danira berdiri dari kursi samping tempat Ny. Calina berbaring, Danira berjalan menghampiri Bik Sri yang ada disofa.


" Bik...Saya permisi mau pulang dulu, kasihan Khalisa, karena saya tadi kesini buru-buru jadi lupa membawa susunya."


" Jika nanti ibu sudah bangun, sampaikan maaf saya karena tidak bisa menemani. Kalau ada apa-apa, tolong beritahu saya ya bik". Ujarnya pada bik Sri.


" Iya Non..., terima kasih sudah kesini. saya pasti akan mengabari nona jika ada apa-apa ". ujar bik Sri lagi.


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya bi, Assalamualaikum ".


"Waallaikumsalam ". jawab Bik Sri, sambil melihat Danira hilang dibalik pintu.


"Dia benar-benar wanita yang lembut, pantas saja Nyonya sangat menyukainya, hingga rela melakukan segala cara". gumam bik sri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pintu ruangan Ny. Calina kembali terbuka, masuklah pria berjas putih berjalan mendekati Ny. Calina yang masih tertidur.


" Hekkhemmm". Deheman dokter Richard.


" Apa kau masih betah, ber- akting seperti ini Lina, perasaan aku hanya memasukkan vitamin bukan obat tidur tadi". ujar dokter Richard, sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Ny. Calina membuka matanya, menatap tajam pada sahabatnya itu.


" Pelankan suaramu, nanti ada yang mendengar hancur semua usahaku". ujar Ny. Calina sambil bangun, dan duduk menyadar.


" Hhaiss...kau ini, apa kau tidak kasihan melihat gadis itu menangis, karena ulahmu". ketus Dokter Richard kesal.


"Hahh...Aku tau, sejujurnya aku juga tidak tega, tapi kau lihat sendiri bukan bagaiman dia menangis untukku. itu makin menandakan bahwa dia amat sangat peduli dan sayang kepadaku, hingga dia menyanggupi keinginanku". jawab Ny. Calina lagi dengan wajah yang cerah, sudah tak nampak wajah pucat sakit itu lagi.


"Kau baru saja menyeret, seekor kucing kedalam kubangan buaya. Dan kau tau sendiri bagaiman sifat Gavino, apa kau tega menyiksa gadis itu hanya untuk memenuhi keinginanmu saja". Dokter Richard benar-benar geram, melihat kelakuan sahabatnya yang melibatkan orang luar dalam urusan keluarganya.


" Aku tahu...!!!tapi kau kenal aku bukan, aku tidak akan pernah salah dalam menentukan sesuatu, apalagi ini menyangkut anakku. Kau tenang saja hard, gadis itu akan aman dan bahagia. Aku yang akan menjaminnya, mungkin dia akan melewati kerikil-kerikil yang dibuat oleh Gavino, tapi aku yakin dia mampu menyapu semua itu, mengganti kerikil itu menjadi aspal yang halus". Ujar Ny. Calina penuh percaya diri.


" Ya...Semoga semua yang kau katakan menjadi nyata". pasrah dokter Richard.

__ADS_1


......................


...Bersambung......


__ADS_2