
Danira terjaga, melihat kesisi kanan tempat tidur, dia tak mendapatkan Gavino disana, lalu beralih melihat jam didinding, waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Danira turun dari tempat tidurnya, memakai sendal rumah. Dia melangkah kekamar mandi, mungkin Gavino ada didalam sana. pikir Danira. Namun saat dibuka, kosong.
" Mas Gavin kemana ?, masa belum pulang dari kantor jam segini ". Gumam Danira. Dia merapikan piyama tidurnya, memakai kerudung lalu keluar dari dalam kamar. Danira membuka ruang kerja suaminya, tak ada siapapun disana.
Danira mengambil ponsel, mencoba menghubungi nomor Gavino, lagi-lagi ponsel Gavino tidak aktif. Danira beralih menghubungi Sean, namun tak ada jawaban. Hati Danira mulai resah, khawatir dan cemas mulai melanda. Tiba-tiba rasa curiga mulai bergelayut di benaknya, Danira yang biasanya selalu berfikir positif entah mengapa sejak mengetahui penghianatan Aryo, ikut merasa was-was dan menjadi overthinking begini.
" Astaghfirullah....apa yang aku pikirkan. Mas Gavino tak mungkin macam-macam diluar sana ". Gumam Danira, sambil menuruni anak tangga, mansion itu sangat sepi. Ya wajar saja, ini waktu untuk semua orang beristirahat. pikir Danira. Danira masuk ke arah dapur, membuka kulkas lalu mengambil air mineral dingin, dia meneguk 1 botol hingga tandas. Dia ingin meredam rasa panas yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Danira berusaha sangat keras menepis semua kecurigaan yang datang, namun seakan setan tak ada habisnya berbisik ditelinganya, hingga nama Stevani kembali muncul diingatan Danira.
Apa mas Gavin bertemu dengan mantan kekasihnya ?!!!... tidak-tidak, Danira berhentilah berfikir yang bukan-bukan, dia suamimu Gavino bukan Aryo. Batin Danira.
Kini Danira duduk diruang tamu yang tamaram, Danira tak berniat menyalakan lampu, matanya hanya tertujuh pada jam disudut ruangan. Danira seakan ikut menghitung setiap detik demi detik jam berganti. Hingga akhirnya pintu terbuka, muncul seorang pria tampan, dengan kemeja berwarna abu, ditangannya terdapat jas yang terlipat. Gavino yang baru saja menutup pintu, terperanjat kaget melihat Danira yang duduk disana.
" Astaga.....". Pekik Gavino, memundurkan langkahnya, terkejut. Danira dapat melihat eksperi terkejut Gavino yang lucu, meski Danira ingin sekali tertawa, namun dia tahan. Efek dari rasa kesal lebih menguasai hatinya.
" Sayang....kau mengangetkanku ". Ujar Gavino berjalan mendekati Danira.
" Mengapa kau belum tidur ?" Tanya Gavino, lalu beralih melihat jam, ternyata sudah pukul 03.35 pagi. Danira tetap diam, tak berniat menjawab pertanyaan Gavino. Saat Gavino semakin mendekat, Danira berdiri lalu berlalu pergi begitu saja meninggalkan Gavino.
Ada apa dengannya mengapa dia terlihat sangat marah. Batin Gavino.
" Sayang....?"
" Sayangku...Danira ". Panggil Gavino mengejar Danira yang telah lebih dahulu menaiki anak tangga, menujuh kamar mereka. Gavino membuka pintu kamar, dia melihat Danira baru keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah tak bersahabat.
" Sayang...ada apa ?, mengapa kau terlihat kesal sekali padaku ?, apa aku telah melakukan kesalahan ?". Tanya Gavino, dia sangat bingung karena seingatnya saat dia pergi tadi pagi, Danira masih baik-baik saja. Bahkan Danira masih tersenyum manis padanya. Tapi mengapa sekarang Danira begini. pikir Gavino.
Danira tak menggubris, dia masih sibuk kesana kemari menyiapkan piyama tidur Gavino, mematikan air dikamar mandi, lalu mengambil jas yang ada ditangan gavino. Kemudian mendorong Gavino duduk dibibir kasur. Tanpa mengatakan apapun, Danira membuka sepatu dan kaus kaki yang masih gavino gunakan. Meski dalam keadaan marah pun, Danira tak melupakan kewajibannya, hanya saja minus senyum yang biasa dia tampilkan. Danira berdiri, dan siap pergi, namun dengan cepat Gavino mencekal tangan Danira.
" Say......!!!".
" Apa mas tau ini sudah jam berapa ?". Potong Danira. Gavino terdiam, lagi-lagi dia dibuat terkejut, meski Danira berkata dengan nada rendah,tapi Gavino bisa menangkap bila saat ini istrinya sedang dalam mode marah.
" Apa sebegitu sibuknya sampai lupa waktu ?".
" Aku tau mas sangat sibuk, pekerjaan menumpuk aku tau. Tapi mas juga harus ingat normalnya orang bekerja hanya 8 jam, paling lama jika lembur cukup sampai jam 10 malam. Perjalan pulang dari kantor ke sini hanya 20 menit. Dan sekarang sudah hampir jam 4 pagi mas baru pulang ?".
Duar*
Gavino baru menyadari kesalahannya, Gavino menunduk ketika melihat wajah Danira yang merah padam, Apa Danira terjaga semalaman, mengapa istrinya menjadi jauh lebih pintar sekarang, bahkan Danira menghitung tiap menit dan detik jarak dari mansion ke kantornya pikir gavino. Namun ditegah keterkejutan Gavino, diam-diam Gavino mengamati ekspresi Danira yang berubah-ubah, dia baru menyadari meski dalam keadaan marah pun wajah istrinya tetap mengemaskan.
" Apa mas tidak tau betapa cemasnya aku hah ?, aku kesal saat ditelpon nomormu tidak aktif, Sean juga sama tak menjawab telponku. Apa kalian berdua bersengkongkol agar aku mati berdiri karena khawatir ?". Danira mengeluarkan kekesalan sedari tadi dia tahan, sebenarnya Danira tak ingin mengomeli suaminya. namun apa daya jiwa kewanitaannya keluar, tak bisa dia tahan lagi, Gavino harus mendengarkannya kali ini.
__ADS_1
" Sayang ponselku mati, dan mungkin Sean tidak mendengar ada panggilan telpon masuk ". Jawab Gavino masih menunduk, merasa bersalah.
" Astaghfirullah...ya Allah...!! hhhuuhh...lebih baik sekarang mas mandi, bersih-bersih, lalu tidur. Aku sedang kesal dengan mas Gavin, jadi jangan terlalu dekat-dekat denganku dulu ". Ujar Danira, membelakangi Gavino, melipat tangannya didepan dada.
Gavino melemas, mengigit bibir bawahnya melangkah kecil secara perlahan mendekati Danira.
" Sayang...!!?". Gavino menarik-narik ujung piyama Danira, wajahnya memelas seperti anak kucing yang tidak diberi susu oleh ibunya.
" Apa sih mas, lepasin ih...aku masih kesal dan marah sama mas Gavin ". Sungut Danira, cemberut.
" Sayang....jangan marah begitu. Aku tau aku salah, tolong maafkan aku ?". Ucap Gavino pelan, memainkan ujung rambut Danira, memilin-milin dengan ujung jarinya. Wajah Gavino yang biasanya terlihat datar dan dingin, kini berubah memelas didepan istrinya. Hilang sudah kegarangan yang biasa melekat padanya, bila sudah berhadapan dengan Danira.
" Aku sudah memaafkan mas Gavin, tapi aku masih sangat kesal. Jadi beri aku waktu dulu ". Ucap Danira, ingin beranjak pergi. Namun lagi-lagi Gavino menarik tangan Danira, lalu memeluknya dari belakang.
" Sayang...sayang...!! jangan begitu. Aku..aku tidak bisa tidur bila kau masih kesal padaku. Aku janji tidak akan seperti ini lagi ". Gavino membenamkan wajahnya dileher Danira. Seketika Danira menunduk, rasa kesalnya berubah menjadi tangis, merasakan tangannya basah, Gavino mengangkat kepalanya, lalu memutar tubuh Danira.
" Hei...jangan menangis, aku minta maaf, aku janji tidak akan seperti ini lagi ". Gavino menjewer kedua telinganya sendiri, didepan Danira. Sebagai bentuk rasa bersalahnya.
" Mas aku hanya khawatir, apa itu salah ? Bila terjadi sesuatu pada mas Gavin diluar sana bagaimana ? aku sudah tidak memiliki siapapun lagi, aku hanya memiliki mas Gavin dan Khalisa. Jika mas Gavin sampai kenapa-kenapa, lalu aku bagaimana? semua harta yang mas Gavin kumpulkan juga tidak akan ada gunanya lagi ". Ujar Danira lirih, Danira benar-benar takut, mengingat banyaknya musuh yang mengincar nyawanya sekarang. Tidak menutup kemungkinan musuh-musuh nya juga akan mencelakai Gavino.
Gavino membasuh air mata Danira, sebegitu berartikah dirinya bagi Danira, hingga sangat menghawatirkan ya seperti ini. pikir Gavino. Rasanya Gavino ingin berteriak dengan kencang, meski saat ini sedang dimarahi, tapi entah mengapa ini rasanya sangat membahagiakan bagi Gavino. Baru kali ini gavino merasa berbunga-bunga saat diomeli.
" Maafkan aku, tolong maafkan aku...aku tidak bermaksud membuatmu cemas seperti ini. Tadi aku ada pekerjaan keluar kota, Sean memberi tahu dadakan, makanya aku telat pulang. Ponsel ku juga lowbat, sayang....jangan menangis lagi. Aku benar-benar tidak mengira bila kau akan menunggu sampai selarut ini ". Ucap Gavino, memeluk Danira penuh perasaan, dia benar-benar merasa bersalah.
" Apa mas tau, aku telah berperasangka buruk pada mas Gavin ?".
" Perasangka buruk ?". Danira mengangguk.
" Aku pikir mas Gavin, sedang bersama dengan mantan kekasih mas Gavin, hingga lupa waktu dan lupa jalan pulang ". Ucap Danira memajukan bibirnya. Seketika Gavino tergelak.
" Ha..ha..ha....apa sekarang istriku sedang cemburu ?". Danira kembali mengangguk, jujur. Wajah Danira sangat lucu, akibat menangis hidungnya menjadi merah.
" Mas Gavin saja sampai berganti pakaian, ini semakin membuat aku overthinking ". Gavino menunduk, melihat kemeja yang dia kenakan. Aahh...Gavino lupa, bila pakaian yang dia kenakan tadi pagi adalah pilihan Danira. Otomatis Danira akan tau bila dia telah berganti pakaian. Gavino bingung harus menjawab apa, dia tidak mungkin jujur bila dia baru saja habis memberi hukuman dengan cara membelah kepala seseorang, bisa-bisa Danira akan takut padanya. pikir Gavino. Gavino menggaruk-garuk alisnya, bingung.
" Tadi bajuku kotor karena keringat, tidak mungkin aku menghadiri meeting dengan baju yang telah basah karena keringat bukan, itu membuatku tidak nyaman ". Bohong Gavino, Danira masih menyelidik mencari kejujuran Dimata suaminya.
" Mas yakin hanya meeting ?, bukan bertemu dengan wanita lain ?". Tanya Danira, menyelidik, menyipitkan matanya.
" Aku sangat jujur sayang, seharian ini aku tidak bertemu dengan wanita manapun. Kau bisa tanyakan pada Sean. Lagi pula, aku tidak membutuhkan wanita lain dan tak akan pernah tergoda dengan wanita manapun, kau sudah cukup bagiku. Daniraku sudah terlalu sempurna bagi seorang Gavino ". Danira menunduk, menyembunyikan rona merah, dia mengulum senyum mendengar gobalan gavino.
" Sekarang mas sudah pintar mengombal ya, bagaimana bila Stevani datang lagi ?". Danira tau Stevani sampai saat ini masih berusaha mendekati Gavino, bahkan beberapa kali Danira mendapat pesan dari nomor yang tak dikenal. Namun Danira bisa tau, bila itu adalah Stevani, mantan kekasih suaminya.
__ADS_1
" Aku tidak perduli, meski dia datang tanpa busana sekalipun aku tidak akan tergoda. Aku hanya tergoda bila kau yang berada dihadapanku. Karena aku hanya mencintaimu, aku telah terdanira-danira ". Gavino melingkarkan tangannya di pinggang ramping Danira, Danira mencebikkan bibirnya tak percaya.
" Jadi sekarang aku sudah dimaafkan bukan ?". Danira masih diam.
" Sayang....ayolah ". Ucap Gavino mengedip-edipkan matanya, memasang wajah memohon. Danira masih diam, lalu melepaskan tangan tangan Gavino dari pinggangnya.
" Akan aku pertimbangkan ". Ujar Danira, beranjak naik ketempat tidur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut sambil memeluk Khalisa. Dari balik selimut Danira tersenyum lebar.
...****************...
Danira telah berada di dapur untuk membuat sarapan. Meski para pelayan telah melarang, namun Danira bersikeras ingin membantu. hingga membuat semua pelayan menuruti keinginan sang Nyonya muda. Ny. Calina baru saja keluar dari dalam kamarnya, masih menggunakan baju tidur, dengan rambut acak-acakan. Dia melangkah menujuh dapur, namun matanya menyipit ketika melihat Gavino masih bersantai disofa depan televisi, sambil bermain dengan Khalisa yang berada diatas perutnya.
" Huuaammm...!! Tumben kau belum siap-siap, biasanya jam segini kau sudah berpakaian rapi untuk bekerja ?". Ucap Ny. Calina, menggaruk-garuk kepala, ikut duduk disana, lalu menuangkan air putih kedalam gelas.
" Semalam ada yang berkata, bekerja keras boleh. Tapi harus ingat tubuh juga butuh istirahat. Jadi hari ini, aku memilih istirahat ". Ujar Gavino sedikit kencang, Danira menyelang melihat Gavino, membuat Gavino memajukan bibirnya membentuk kecupan untuk Danira. Para pelayan yang melihat tingkah Gavino, menjadi salah tingkah dan malu-malu sendiri.
" Idihhh...". Geli Ny. Calina melihat kebucinan Gavino, yang tampak aneh di matanya.
" Mami, para koki pria yang biasa disini kemana mi ?, mengapa sejak semalam Danira tak melihat mereka ?". Tanya Danira, yang mulai menyajikan makanan diatas meja makan.
" Tanya saja pada suamimu, kemana dia membuang semua pria dirumah ini ". Ucap Ny. calina, kembali berguling-guling diatas sofa. Danira melirik Gavino, yang hanya menanggapi dengan santai.
" Aku tidak membuangnya mi, hanya memindah tugaskan mereka bila istriku sedang berada disini. Aku tidak suka ada pria lain yang berkeliaran disekitarnya ". Jelas Gavino, sambil mencium-cium Khalisa, yang terus menempel padanya.
" Kau memang sudah gila ". Ucap Ny. calina, lalu menyalakan televisi.
" Memang, bila perlu aku akan mengganti Scurity yang ada didepan dengan scurity wanita saja, ketika Danira sedang kesini ". Danira menghela nafas pelan, mengapa Danira merasa sekarang suaminya terlalu berlebihan. Namun tak ada yang bisa melarang, bila si tuan arogan telah mengambil keputusan.
" Pa...papa...!!". Ucap Khalisa, yang kini telah duduk didada gavino, sambil mengelus-elus pipi Gavino.
" Wooww...apa katamu tadi, bisakah kau mengulanginya ?".
" Pah...papa". Gavino tersenyum senang, entah mengapa hatinya merasa sangat bahagia mendengar Khalisa memanggilnya dengan sebutan itu. Ny. calina dan Danira saling lirik melihat interaksi Gavino dan Khalisa.
" Anak pintar,...!! kau akan menjadi anak yang paling beruntung didunia, karena memiliki papa setampan dan sekaya aku ". Ucap Gavino, membuat Khalisa tergelak. Sedangkan Ny. calina dan Danira kompak memutar bola mata mereka malas.
Disaat mereka sedang asik bercengkrama dengan Khalisa, suara berita ditelevisi menarik perhatian mereka.
...' Selamat pagi pemirsa, kami akan menghadirkan beberapa berita dari dunia bisnis hari ini. Yang pertama, perusahaan terbesar nomor dua diindonesia tengah mengemparkan jagat raya, bagaimana tidak, semalam perusahaan Radenayu Group menarik Shen-Shen Galery dan Shen Diamond masuk kedalam naungan perusahaan mereka. Meski pimpinan yang telah mengelola Shen Diamond menolak, namun tak ada yang bisa menghentikan Radenayu Group, karena mereka memiliki kelengkapan data yang sah secara hukum. Berikut pernyataan dari perwakilan Radenayu Group. " Kami mengikuti mandat dari pimpinan, yang mengginginkan Shen-Shen Galery dan Shen Diamond kembali kedalam Radenayu Group, sampai pewaris sah tumbuh hingga dewasa, dan mampu mengelola perusahaannya sendiri ". Wajah Sarah tampil di televisi. Hingga saat ini belum diketahui pasti apa alasan yang melatar belakangi penarikan kekuasaan perusahaan berlian itu. Ucap Reporter'...
Danira berdiri ditempat, wajahnya yang tadi cerah berubah datar. Tatapannya tak beralih dari televisi, sorot mata yang tajam mampu menyisa siapapun yang melihatnya. Melihat ekspresi menantunya yang tak biasa, membuat Ny. calina menyenggol kaki Gavino, lalu menggerakkan alisnya kearah Danira. Gavino menoleh mengikuti arah pandangan sang mami. Dia melihat Danira mematung, dengan tatapan yang sulit Gavino artikan, bahkan mampu membuat Gavino sedikit merinding.
__ADS_1
......................
...Bersambung.........