
" Danira....?". Panggil Gavino pelan.
Gavino berjalan perlahan mendekati istrinya yang terlihat sangat cantik. Aahhh tidak....!! bahkan kata-kata cantik tak cukup menggambarkan Danira malam ini. Wajah Danira yang di terpa sinar rembulan pun, semakin menambah aura keindahannya. Danira hanya diam ditempat, tak berniat menghampiri Gavino, dia hanya mengembangkan senyuman termanis di bibirnya.
" Sayang....kau kemana saja seharian ini ?". Tanya Gavino, berjalan semakin mendekat kearah Danira, sambil membentangkan tangannya, ingin memeluk sang istri, namun suara Danira menghentikan langkah Gavino, secara mendadak.
" Berhenti disana saja mas, jangan mendekati aku ". Ujar Danira halus, Gavino mengerutkan keningnya heran, mengapa dia tidak boleh mendekati istrinya sendiri. pikir Gavino.
" Kenapa ?".
" Mas boleh mendekati aku lagi, bahkan bisa memelukku lagi, bila mas Gavin mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ku. Jika jawaban mas Gavin jujur, maka mas Gavin hanya boleh 1 langkah mendekatiku, tapi jika berbohong, mas Gavin harus mundur satu langkah kebelakang menjauhiku ". Danira mengutarakan peraturannya.
" Apa-apaan ini, tidak....aku tidak mau, aku ingin memeluk istriku. Apa kau tau seharian ini aku seperti orang gila mencarimu kesana kemari". Gavino menolak mengikuti permainan Danira, dia kembali mendekati istrinya, tapi......
" STOPPP.....!!!". Danira mengangkat tangannya kedepan, melebarkan lima jari lentiknya.
" Jika mas Gavin tidak mau, maka aku yang akan pergi dari sini ". Ancam Danira, Gavino semakin terbelalak tak percaya, mengapa istrinya menjadi seperti ini, apa dia telah melakukan kesalahan. Pikir Gavino.
" Ccckkkkk.....baiklah...baiklah....baiklah, aku akan mengikuti apapun kemauanmu. Cepat pertanyaan apa saja yang ingin kamu tanyakan ?!!". Ujar Gavino mengalah. Dia ingin segera menyelesaikan permainan istrinya ini lalu dengan cepat memeluk sang pujaan hati yang tegah berdiri bak bidadari.
" Mengapa mas Gavin menghancurkan rumah istri mas Aryo yang ada di Singapura ?". Pertanyaan pertama Danira, sukses membuat Gavino terkejut, dari mana Danira tau, apa Sean atau Sarah membocorkan rahasia itu. Benak Gavino menerka.
" Bukan aku yang menghancurkannya sayang !!". Sangkal Gavino santai, berdiri dengan tangan sebelah kiri masuk kedalam saku celana. Matanya tak henti-henti mengamati Danira dari atas hingga kebawah.
Aaiisshh...cantiknya istriku, kapan tantangan ini selesai, aku sudah tidak tahan ingin memeluknya. Batin Gavino, selalu mengagumi Danira nya.
" Mundur...". Ucap Danira, melipat tangannya didepan dada. Bukannya mundur, Gavino malah maju satu langkah kedepan.
" Masss...apa mas tidak tau caranya mundur ". Kesal Danira, Gavino mencebikkan bibirnya, lalu mundur dengan langkah sangat kecil.
" Aku sudah menjawab jujur sayang, memang bukan aku yang menghancurkannya. Tapi Ekskavator...". Jelas Gavino enteng, tanpa dosa. Danira memelototkan matanya melihat Gavino, dia semakin kesal.
" Iya...iya...inii...aku sudah mundur, tidak perlu melotot begitu dong sayang, nanti cantiknya nambah loh!! ". Goda Gavino ketika melihat mata biru itu melotot padanya. Gavino tak bisa membantah, dia tak bisa berbuat apa-apa, meski saat ini ingin sekali Gavino memeluk, bahkan mel*mat bibir merah yang telah menggodanya sejak tadi, namun Gavino harus tetap menahannya. Karena dia tak ingin Danira kembali pergi tanpa memberi tahunya.
" Pertanyaan kedua, Apa mas Gavin yang menyembunyikan mas Aryo ?".
Mengapa pertanyaannya sejak tadi mengarah ke keluarga itu terus, apa dia sudah tau. Aahh...!! sial, bila aku terus berbohong, otomatis dia memintaku melangkah mundur. Batin Gavino.
" Iya...!!" Jawab Gavino santai, lalu melangkah maju kedepan dengan melebarkan kakinya tiga kali lipat.
" Mas itu bukan langkah, tapi melompat. Jangan curang...".
" Memang seperti ini langkahku sayang ". Jawab gavino sambil tersenyum jahil. Danira menghela nafas pelan. Membiarkan kecurangan sang suami.
" Dimana mas menyembunyikannya ?". Gavino diam, lalu mengangkat kedua bahunya.
" Ditempat yang indah, aman dan nyaman sayang ".
" Hhuummhh.!!!.mas bohong lagi, mundur ". Gavino memanyunkan bibirnya, mundur dengan langkah yang sangat kecil. Bahkan seperti tak bergerak.
" Mas, mundur....!!". Gavino tak menjawab, dia pura-pura tuli, bersiul-siul melihat kearah lain.
" Sayang mengapa kau kesannya seperti juru parkir ya, maju...mundur...maju...mundur ..???!!". Danira tak menjawab, dia mengacuhkan lelucon garing Gavino.
" Aku sedang tak ingin bercanda mas, jadi jawab saja semua pertanyaanku tadi ?".
" Sudah dong sayang, jangan bermain seperti ini. Apa kau tau, aku sangat menghawatirkan mu seharian ini, aku sangat merindukan mu. Boleh ya aku maju lagi, tanpa menunggu pertanyaan-pertanyaan anah seperti tadi ? ". Gavino sudah tak tahan, rasanya dia ingin segera mendekap tubuh istrinya yang terlihat sangat sexy malam ini. Gavino sangat tersiksa ketika hanya bisa memandang tubuh istrinya, tanpa boleh menyentuh.
Bagaimana Gavino tak tersiksa, Danira hanya menggunakan dress panjang dengan belahan sampai paha, lalu potongan tali di bahu sebesar lidi sapu, dan di bagian punggung dibiarkan terbuka, hampir setengah punggungnya. Rambut Danira yang digulung, dihiasi dengan aksesoris tusuk konde menjuntai berwarna emas, menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus, dihiasi kalung berlian yang melingkar dilehernya. Lalu hiasan wajah yang sedikit tebal, semakin menambah berlipat-lipat aura Danira malam ini, dia tampak sangat berbeda dari biasanya. Danira benar-benar berhasil menyiksa gavino, yang masih tidak diperbolehkan mendekat apalagi menyentuhnya.
__ADS_1
" Mas tinggal jawab semua dengan jujur, baru boleh mendekati aku ". Ujar Danira, mengulang peraturannya.
" Aku sudah menjawab semuanya sayang, aku memang menculiknya, tapi tidak menyiksanya ".
" Mas, aku sudah tau semuanya. Aku hanya ingin mendengar kejujuran darimu. Bila mas tetap seperti ini, lebih baik aku pergi seka...!!!".
" Eehhh...enak saja main pergi.!!". Gavino mengamati ekspresi datar Danira, lalu dia menunduk sejenak, kemudian menatap Danira lagi.
"Baik...baiklah.., Nyonya Pradiksa, jangan merajuk seperti ini. Aku akan menjawabnya dengan jujur, oke". Potong Gavino cepat, sebelum Danira berhasil menggerakkan kakinya, pergi. Gavino menarik nafasnya dalam.
" Iya...memang aku dalang dibalik hilangnya Aryo, aku juga yang menghancurkan kediaman mereka di singapura, aku juga yang telah mengambil alih usaha mereka yang tersisa. Aku mengurung Aryo di puncak, sampai sekarang dia masih hidup. Apa itu sudah cukup ?". Jawaban Gavino, membuat Danira menahan nafasnya sesaat.
" Kenapa mas melakukan ini ?". Danira tertunduk lemas. Dengan cepat Gavino, mendekati istrinya, lalu memeluknya.
" Aku hanya memberi mereka pelajaran sayang, supaya mereka tidak melakukan hal serupa lagi padamu, khalisa dan juga orang lain ".
" Tapi tidak harus dengan menyiksanya mas, mas pikir aku tidak tau, bila mas menggantung mas Aryo dan tuan Danu di atas kandang hewan peliharaan mu ". Gavino melepaskan pelukannya, melihat wajah Danira dengan tatapan bingung bercampur terkejut.
" Da..darimana kau tau semua itu ?". Tanya Gavino gugup.
" Mas tidak penting aku tau dari mana, yang jelas, mas sudah keterlaluan, yang mas lakukan bukan memberi pelajaran. Apa mas tau itu termasuk dosa besar. Aku sudah menghukum mereka dengan menarik semua hak kakakku dan khalisa, itu sudah cukup. Tapi apa yang mas lakukan, mengapa mas bertindak dengan kejam seperti itu, aku benar-benar kecewa denganmu mas ". Lirih Danira, melepaskan tangan Gavino yang melingkar di pinggangnya. Dia sangat kesal dan marah, dia tak menyangka ternyata suaminya bisa memiliki sifat sekejam itu.
Melihat hidung istrinya memerah menahan amarah, membuat Gavino menjadi panik sendiri.
" Sayang...dengarkan aku dulu. Aku melakukan itu hanya ingin membalas atas perbuatannya selama ini kepada kakakmu, khalisa dan juga atas fitnahan yang sebarkan di media. Aku tak pernah bisa menerima sedikitpun, bila ada orang yang dengan sengaja menyakiti keluargaku ". Jelas Gavino, kembali memegang pundak Danira.
" Tapi tidak sekejam itu mas. Aku tau, mas Aryo bersalah, bahkan turut adil dalam meninggalnya kak Shena, tapi bagaimanapun dia tetap ayah khalisa, meski aku belum berniat mempertemukan mereka, tapi bila khalisa dewasa kelak, dia pasti bisa mencari ayahnya sendiri, dan aku tidak mau khalisa tau, lalu membencimu karena mas menyiksa ayahnya dengan sangat keji. Dan aku juga tak ingin suamiku dimurkai Allah, karena menyiksa hambanya yang lain ".
" Mas, bila aku mau, saat itu aku juga bisa menghancurkan keluarga mas Aryo sehancur-hancurnya. Tapi aku tidak melakukannya, karena dia memiliki anak, yang tidak bisa aku tutupi bila anak itu kakak khalisa, anak itu tidak tau apa-apa tentang masalah orang tuanya. Jangan pernah libatkan anak-anak dalam masalah seperti ini mas, pikirkan bila khalisa kita yang ada diposisi Naya saat ini ". Gavino menatap manik cantik istrinya yang berkaca-kaca, Gavino tak pernah habis pikir, bagaimana istrinya ini bisa memiliki hati yang sangat lembut dan pemaaf seperti ini.
" Khalisa ku tak akan pernah merasakan hal itu, meski 10 ayah seperti Aryo yang ingin menghancurkannya, itu tak akan pernah bisa, karena aku, aku yang akan selalu menjaganya dan melindunginya ". Tegas Gavino, mendengar itu, membuat mata danira semakin mengembun, rasa haru dan hangat menjalar di hati Danira, dia bisa melihat dari sorot mata Gavino yang kini sangat menyayangi khalisa.
" Aku bisa saja membunuhnya saat itu juga, tanpa harus mengurung lalu menggantungnya dulu, tapi aku tidak melakukannya. Aku ingin dia mengingat setiap detik kesakitan yang dia rasakan, sama halnya dengan rasa sakit yang kakakmu rasakan dulu, ketika disiksa para penjahat itu. Mungkin aku tidak mengenal kakakmu, atau turut melihat kejadian naas itu, tapi aku bisa merasakan ketika kau menangis, hal itu sangat menyiksaku". Jelas gavino, menggenggam kedua tangan Danira.
" Aku sangat senang memiliki istri yang baik hati sepertimu, lembut dan juga penyayang. Tapi, terkadang kita juga harus bertindak tegas kepada orang yang sudah keterlaluan, diam boleh, tapi jangan sampai menginjak harga diri kita, karena aku tidak pernah bisa mentolerir hal seperti itu ".
" Danira,...kau seorang pemimpin di perusahaanmu, dan sebentar lagi akan menjadi ratu bagi rakyat-rakyatmu, bila kau hanya berpegang teguh dengan kata maaf dan biarkan tuhan yang membalas, itu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri, karena kehidupan di dunia yang kejam ini harus imbang, mungkin hukuman yang kita berikan akan menyakitinya, tapi dengan hukuman itu juga akan menyadarkannya akan kesalahan yang telah dia perbuat ".
"Coba kau lihat, hukuman penjara, apakah langsung membuat seorang itu menjadi baik ? apakah menjamin orang itu tobat dan tidak mengulanginya lagi ?, Tidak.....!!! Bahkan kebanyakan dari mereka yang telah keluar, semakin menjadi, kemudian bangga karena menjadi alumni narapidana dan kembali mengulangi kejahatan yang sama, itu karena apa, karena mereka hanya dihukum kurungan, bukan hukuman berat yang mampu membuat mereka jera dan takut untuk mengulangi kesalahan yang sama. Mereka hanya berpikir, nanti juga ditangkap dan dikurung saja ".Danira terpaku mendengar ucapan suaminya.
" Aku memang melakukan hal yang sama kepada Danu, tapi aku telah membebaskannya sesuai ucapanmu tempo hari, aku menuruti nasehat istriku ".
" Mas....?". Lirih Danira.
" Aku akan mengikuti keinginanmu lagi, aku tau kau pasti meminta aku untuk melepaskan Aryo bukan ?, itulah sebabnya kau sengaja menghilang hari ini, iya kan ? ". Danira terdiam, lalu menunduk. Gavino mengelus pipi Danira lembut menggunakan ibu jarinya.
" Aku akan melepaskannya, tapi ada syaratnya !!!".
" Syarat ?, mengapa harus pakai syarat ?".
" Harus ada timbal baliknya sayang ". Gavino senyum jahil, membuat Danira memanyunkan bibirnya, cemberut.
" Apa ?".
" Syaratnya, kau tidak boleh memperbaiki rumah mereka yang telah aku hancurkan, kau juga tidak boleh memberikan usaha mereka yang telah aku ambil. Biarkan Aryo dan keluarganya memulai semua dari Nol, tanpa adanya bantuan dana milik Khalisa, biar mereka merasakan berjuang, membangun impian mereka, tanpa mengambil hak orang lain. Bagaimana, apa kau setuju ?".
" Baiklah, aku setuju...!!! jadi sekarang, mas lepasin mas Aryo ".
" Besok saja sayang, ini sudah malam. Bukankah kau sudah berdandan sexy seperti ini untuk menggodaku hhmm?". Ujar Gavino, mengelus punggung Danira yang terbuka. membuat kulit Danira meremang, apa lagi saat Gavino mencium area lehernya.
__ADS_1
" Mass ...bebasin dulu, baru boleh pegang-pegang, bukankah semua harus ada timbal baliknya ".Ujar Danira, membalas perkataan Gavino.
" Cckkk...istriku cerewet sekali ". Kesal Gavino, lalu mengeluarkan ponselnya menghubungi Sean. Tersambung....
"(......)".
" Bebaskan Aryo Narendra sekarang juga ".
" (.....)".
" Lakukan saja, ini perintah nyonya pradiksa ". Ujar Gavino, melirik Danira yang tersenyum malu-malu padanya.
" (.....)".
" Iya aku sudah menemukannya, cepat selesaikan tugasmu, setelah itu pulang dan istirahatlah, tak perlu mencari nyonya lagi, aku telah menemukannya ". Ucap Gavino, lalu mematikan panggilan telpon begitu saja. Kemudian kembali menyimpannya kedalam saku celana.
" Apa sekarang istriku sudah bahagia hhmm?". Danira tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Terima kasih mas ".
" Enak saja, ini tidak gratis sayang".
" Maksud mas ?". Gavino menunjuk-nunjuk pipinya, meminta Danira menciumnya disana. Danira yang mengerti langsung mendaratkan kecupan singkat dipipi tampan sang suami.
CUP*
" ini...".
CUP**
" ini...ini...ini...ini dan ini ". Gavino menunjuk semua area wajahnya, karena kesal Danira menarik tengkuk sang suami lalu mendaratkan kecupan di bibir cerewet Gavino. Gavino membelalakkan matanya tersentak kaget, namun sedetik kemudian dia membalas ciuman itu kian dalam dan rakus. Inilah yang Gavino inginkan sejak tadi, menikmati bibir kenyal, manis nan sexy milik istrinya.
" Siapa yang membelikan mu baju ini ?".
" Sarah..". Jawab Danira, dengan nafas sedikit terengah.
" Bagus juga selera wanita Samson itu. Tapi mengapa kau berdandan dan menyiapkan semua ini ?, apa ini khusus untuk menyambut kepulangan ku yang seharian ini sibuk mencarimu ?". Danira terkikik mendengar ucapan Gavino, dia menjadi teringat kembali bangaimana teriakan frustasi Gavino ketika menelpon Bayu tadi siang.
" Bukan mas...., apa mas lupa, sekarang tanggal berapa ?". Gavino tampak berfikir, lalu mulai mengingat tanggal berapa hari ini.
" Aku lupa, memangnya kenapa dengan tanggal hari ini, apa tanggal para karyawanmu gajian ?".
" Iisshhh....bukan itu.!! Inikan hari anniversary pernikahan kita yang satu tahun mas. Jangan bilang mas tidak tau ?".
" Benarkah ?". Gavino tampak terkejut, lalu mencoba mengingat-ingat, namun dia tetap tak mengingat tanggal pernikahan mereka dulu. Bagaimana bisa ingat, bukankah ini pernikahan yang dulu Gavino tolak.
" Sudah aku duga, pasti mas Gavin tak akan mengingatnya". Sungut Danira. Cemberut.
" Maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak ingat ". Danira menghela nafas, Dia telah memperkirakannya, itulah sebabnya danira tak terlalu kecewa.
" Iya tidak apa mas ". Ujar Danira kembali tersenyum.
" Sebenarnya aku juga tidak sengaja membuat kejutan ini, tadi siang disaat aku melihat foto akad nikah kita dulu, aku jadi teringat, ternyata hari ini tepat satu tahun pernikahan kita. Makanya, aku meminta Sarah dan Bayu membantu menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk mas Gavin disini saja, supaya aku bisa membuka hijab ku tanpa takut ada orang lain yang melihat". Jelas Danira, merapikan rambut suaminya yang terlihat berantakan. Seketika terbit senyuman menawan diwajah Gavino, namun sedetik kemudian berubah mengkerut.
" Bayu ??, jadi seharian ini Bayu bersamamu ?, jadi semua laporannya padaku hari ini ......?". Danira menggigit bibir bawahnya, merasa keceplosan. Lalu dia tersenyum kaku menampakkan deretan gigi putih nan rapinya.
......................
...Bersambung.........
__ADS_1