
Hawa dalam ruangan Gavino membuat Stevani merasa sesak, tatapan tajam Gavino seakan menusuk ke hati Stevani, Dia masih menunggu jawaban, Stevani turun dari pangkuan Gavino bejalan menuju sofa lalu mendudukkan bokongnya disana. Stevani mulai memikirkan alasan yang tepat, supaya tidak membuat Gavino mencurigainya. Gavino melihat gelagat salah tingkah Stevani yang tak biasa.
" Ada apa ?, apa ada yang kau sembunyikan dariku?". Suara Gavino membuat Stevani tersentak, Dia semakin gelagapan dengan tatapan tajam Gavino.
" Tidak Honey...!! mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu. Sebenarnya selama seminggu ini aku di Canada menemui Papa yang sedang ada bisnis disana."
" Lalu mengapa ponselmu tidak aktif, jika hanya menemui ayahmu ?, biasanya kau tidak pernah seperti itu ?". tanya Gavino lagi.
" Honey....kau tau bukan papa masih belum sepenuhnya merestui kita, jadi waktu itu papa ingin meminjam ponselku karena aku takut dia melihat foto-foto kita makanya ponselku aku matikan, aku memberi alasan kepada papa jika ponselku rusak karena terjatuh". Jelas Stevani memberikan alasannya.
" Apa kau yakin? hanya hanya karena itu?". Gavino menyelidik dengan tangan melipat didepan dadanya.
" Ayolah honey...apa sekarang kau mencurigai kekasihmu ini ?". Suara lembut Stevani seakan memberikan keyakinan pada Gavino.
" Bukan begitu, kau tau bukan aku tidak bisa jika kau tak mengabariku barang sehari saja".
" Maafkan aku honey, lain kali aku tidak akan seperti itu lagi". Stevani memasang wajah bersalah. " Apa sekarang kau sudah percaya padaku". Tanya Stevani lagi.
" Aku percaya kepadamu." Jawab Gavino pelan, Stevani tersenyum senang, Dia sudah menduga Gavino akan mempercayai apapun alasan yang dia berikan. Karena Gavino sangat mencintainya, pikir Stevani. Namun mata Stevani tertujuh pada cincin yang ada dijari manis Gavino, Dia menyipitkan matanya, memastikan lalu melihat wajah Gavino.
" Honey...sejak kapan kau suka memakai cincin dijari manismu, tangan kanan lagi ?".
" Seperti pria yang sudah menikah saja". Gurau Stevani asal.
Gavino terkejut wajah datar menjadi mendung mendengar ucapan Stevani, gevino melihat cincin yang terpasang dijarinya, dia sedikit menghembuskan nafas berat. Sudah berulang kali Gavino mencoba melepaskan cincin itu namun selalu gagal, cincin itu sekan dilem mati Jagan kan lepas, bergerak dan bergeser pun tidak bisa. Sudah semua cara Gavino lakukan dari memakai sabun, benang dan lainnya namun hasilnya tetap sama yang ada jarinya menjadi lecet dan perih. Gavino benar-benar kesal, ini semua pasti ulah maminya yang memesan cincin yang kecil sehingga sulit untuk Gavino lepaskan. Gavino berniat datang ke toko perhiasan saja, mungkin disana ada alat yang bisa memotong cincin itu, namun karena kesibukan yang padat membuat niat Gavino belum terlaksana.
Apa sudah saatnya Stevani mengetahuinya, tapi aku tidak bisa menyembunyikannya terus menerus darinya. Sebelum dia mengetahui dari orang lain, lebih baik aku sendiri yang mengatakan padanya. Gumam Gavino dalam hati.
"Ada apa,?...mengapa wajahmu seperti itu ?, aku hanya bergurau honey, tidak mungkin kan kekasihku benani menikah diam-diam dibelakang ku". Stevani berujar sambil terkikik melihat wajah Gavino yang menurutnya lucu.
"Maafkan aku " lirih Gavino, Dia bejalan mendekati Stevani dan duduk disampingnya.
"Apa kali ini kau ingin membalas gurauanku honey ??....e'eem.. tidak bisa, karena aku sudah tau ". Stevani mengeraskan tawanya, sehingga menampakkan baris gigi putih yang di veneer.
" Vani...!!". Gavino masih dengan mimik serius, tawa Stevani perlahan mulai mereda melihat, Gavino yang matanya memerah.
" Kau hanya bercanda kan honey, mana mungkin kau tega melalukan itu padaku". Stevani masih berkata dengan senyuman dibibirnya. Gavino menggenggam kedua tangan Stevani, mata mereka saling bertemu. Seketika Stevani melepaskan genggaman tangan Gavino, matanya memanas berkaca-kaca.
__ADS_1
" Katakan jika itu hanya lelucon mu saja kan ?".
" Katakan jika ini bohong?".
" Gavino...!! Jawab aku". ujar Stevani pelan.
" Maaf kan aku Van, aku terpaksa melakukannya, mami mengancam dengan bunuh diri. Aku tidak bisa melakukan apapun selain menyetujuinya Van". Gavino kembali menggenggam tangan Stevani, mencoba menjelaskan awal mula pernikahannya.
Jantung Stevani bergemuruh, seakan tertimpa batu besar dihatinya mendengar jika sang kekasih telah menikah dengan wanita lain. Tanpa permisi genangan air mata telah membasahi pipi mulusnya, Stevani tak berkedip melihat Gavino yang sedang menceritakan semuanya. Stevani tak bisa menahannya lagi, dia menangis.
" Bangsat....!! Brengsek kau vino, Mengapa kau tega melakukan ini kepada ku, katanya kau hanya mencintaiku. kau sendiri yang menjanjikan ingin menikahi aku, tapi nyatanya apa hah. Kau malah menikah dengan wanita lain. Brengsek kau vino, Brengsek...!!! Pekik Stevani sambil memukul-mukul dada Gavino dengan tinjunya, Gavino hanya diam menerima setiap pukulan yang diberikan stevani. Gavino tau saat ini Stevani sedang meluapkan rasa sakit hatinya, Gavino hanya menatap wajah Stevani dengan rasa bersalah.
" Maaf kan aku Van...aku mohon maafkan aku, aku benar-benar terpaksa melakukannya".
" Terpaksa kamu bilang.., kenapa kamu tidak mencoba menolak keinginan mami-mu. Atau kabur saat tau akan dinikahkan?". Teriak Stevani kencang, dengan wajah merah padam.
" Aku tidak bisa Van, aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Jika mami mencoba bunuh diri, aku bisa saja kabur saat akan melakukan akad, tapi aku tidak mungkin bisa melihat ibuku mati". Jelas Gavino.
Bangsat kau nenek gayung, mengapa kau tidak mati saja saat itu. aku benar-benar membencimu nenek gayung, sangat sangat membencimu. Batin Stevani emosi kepada Ny. Calina. Stevani menyelang tajam pada Gavino, Dia masih tak bisa menerima apapun alasan Gavino.
" Cciihh... omong kosong, jangan-jangan memang kau juga menyukai wanita itu, atau kau telah tidur dengannya?". Tuduh Stevani dengan penuh emosi.
" Apa maksudmu belum pernah melihat wajahnya, ...itu tidak mungkin. Jangan coba-coba membodohi ku Gavino".
" Aku serius Van, bukankah sudah aku katakan jika dia menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya termasuk wajahnya".
" Aku tidak mungkin menghianatimu jika bukan karna paksaan mami Van, aku hanya mencintaimu. Hanya kau wanita satu-satunya yang ingin aku nikahi, bukan wanita buruk rupa itu".
" Kau bilang, kalau kau belum pernah melihat wajahnya. Lalu dari mana kau tau jika wajahnya buruk rupa hah ?". Stevani mulai terpancing emosi lagi, wajah sembabnya mulai memerah seperti udang rebus.
" Aku memang belum pernah melihatnya, tapi cobaa kau fikir jika dia tidak buruk rupa, untuk apa dia menutupi wajahnya. Bukankah wanita selalu membanggakan kecantikannya, hingga ingin menarik lawan jenisnya hanya dengan kecantikan yang mereka miliki". Gavino menjelaskan sesuai yang ada dalam fikirannya, Stevani tampak berfikir dengan penjelasan Gavino.
" Bagaiman jika kau salah, bukannya banyak wanita di negara kita yang juga menggunakan Cadar ?". Tanya Stevani, meragukan ucapan Gavino.
" Kebanyakan mereka hanya menutup sebagian wajah mereka, tapi tetap memperlihatkan bagian mata mereka. Namun wanita ini berbeda dia benar-benar menutup semua tubuh dan wajahnya tanpa celah sedikitpun, jika bukan buruk rupa, mungkin wajahnya cacat karena terbakar kan, makanya dia malu untuk memperlihatkan rupanya itu". ujar Gavino lagi. Stevani mulai memikirkan apa yang dikatakan Gavino, namun sekelibat ingatannya kembali mengingat wanita yang dia tuduh menabraknya dimall, wanita itu memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang dijelaskan Gavino.
Apa Dia wanita yang Gavino nikahi..!! Tapi tidak mungkin dari suaranya saja terdengar lembut dan halus, tidak Mungin buruk seperti yang Gavino katakan. Sepertinya bukan dia. Batin Stevani menebak-nebak sendiri.
__ADS_1
" Mungkin kau benar". Ujar Stevani singkat, masih membayangkan wanita yang menabraknya tadi.
" Vani...aku mohon percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu, dan selamanya mencintaimu. Kita akan tetap menikah. Aku berjanji kepadamu, aku tidak akan pernah menyentuh wanita itu". Ujar Gavino, sambil menggenggam erat tangan Stevani, mata elangnya menatap manik Stevani dalam-dalam.
" Janji...!! Kau tidak akan pernah menyentuh apalagi jatuh cinta padanya ?". Stevani berkata dingin, dengan tatapan tajam mengancam Gavino.
" Aku janji... percayalah padaku".
"Aku tidak yakin, bukankah kalian serumah, kecil kemungkinan bila kau tak akan jatuh hati pada wanita sialan itu". Stevani melipat kedua tangannya didepan dada, merajuk.
" Tidak akan Van, bahkan sampai saat inipun kami belum pernah tinggal bersama. Dia masih tinggal dirumah kumuhnya itu". Stevani melirik Gavino, ingin tahu mengapa mereka belum tinggal bersama.
" Mengapa kalian masih tinggal terpisah, bukankah mamimu akan marah bila tau ?".
" Mami sedang pergi keluar negri, jadi dia tidak tau apa yang aku lakukan pada wanita itu. Tapi sepertinya aku harus membawa wanita itu ke penthouses ku, karena mami mulai curiga, Dia mengirim orang untuk memata-matai penthousesku, sepertinya bik Sri sudah melapor jika aku tidak membawa wanita itu ke rumah utama." Jelas Gavino pada Stevani, dia tak ingin menutupi apapun lagi.
" Jadi kau akan membawa wanita itu ke penthouses mu ? Mengapa harus disana, bukankah lebih baik kau belikan saja dia rumah yang kecil tanpa harus membawanya ke tempat favorit ku". Stevani tak suka jika ada wanita lain yang memasuki penthouses Gavino, karena penthouses itu adalah impiannya. Dia tak Sudi jika ada orang lain yang pernah tinggal disana.
" Ini hanya sementara, setelah aku bisa membuktikan kebusukan wanita itu dihadapan mami aku akan langsung menceraikannya. Aku yakin wanita itu hanya mengincar harta keluargaku saja, pasti dia hanya memanfaatkan kebaikan mamiku kepadanya".
" Iya kau benar, dari semua ceritamu itu sepertinya wanita itu memang memiliki tujuan lain". timpa Stevani, mulai memupuk kebencian lagi dihati gavino untuk Danira.
" Janji ya Honey...kau tidak bole jatuh cinta padanya, apalagi menyentuhnya. Jika sampai itu terjadi aku akan sangat membencimu". Ujar Stevani dengan nada dibuat semanja mungkin.
" Aku janji padamu". Ujar Gavino, sambil menangkap pipi Stevani, kemudian mendaratkan kecupan di bibir Stevani.
" Kau hanya miliki, selalu milikku". ucap Stevani lagi, melebur dalam pelukan Gavino.
" Vani...?" Panggil Gavino.
" Bisakah kau tak pergi-pergi Keluar negri lagi sendiri, tanpa aku?".
Bam*
Stevani Tersentak mendengar permintaan Gavino.
......................
__ADS_1
...Bersambung.......