
Gavino masuk kedalam kamarnya, berdiri didepan pintu Balkon yang telah dibuka lebar. Angin malam berhembus masuk, membuat gorden-gorden yang ada didalam kamarnya ikut bergerak mengikuti arah angin. Gavino berdiri dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya. Matanya menikmati pemandangan kota, yang cantik dihiasi oleh lampu-lampu gedung dan kendaraan, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Gavino sedang dilanda kebingungan dengan perasaannya sendiri.
" Ada apa dengan ku ?, mendengar dia akan dimiliki pria lain, timbul rasa tak rela seperti ini. Padahal aku tidak menyukai atau mencintainya sama sekali. Dan kenapa mulut ini mengatakan bahwa dia adalah milikku...Aahh sial !! pasti wanita itu mengira yang macam-macam dan menjadi besar kepala". Gavio menyandarkan bahunya disisi pintu, matanya mengarah ke fotonya dan Stevani yang terpasang cukup besar diatas kepala tempat tidur.
" Stevani dan Danira memang sangat berbeda, bila dilihat dari sisi manapun Danira jauh lebih unggul. Hanya saja, aku belum tau bagaimana wajahnya, jika dinilai dari kepribadiannya, Danira memiliki nilai Plus dan dia sangat bisa memposisikan diri dimanapun dia berada, dia sangat menghargai aku dan tak pernah berkata kasar, berbeda dengan Stevani". Gavino mulai berdialong dengan hatinya.
" Tidak...tidak...tidak, aku tidak boleh membanding-bandingkan mereka, jelas mereka sangat berbeda, Stevani kekasih yang sangat aku cintai. Dan hanya dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Sedangkan Danira, dia hanya tamu yang numpang singgah di kehidupanku.".
" Mungkin saat ini aku masih penasaran karena belum mengetahui wajahnya saja. Iya...!! perasaan aneh itu muncul hanya karena aku masih penasaran dengan rupa wanita itu saja, bukan karena ada rasa yang lain". Batin Gavino terus saja berbicara sendiri, mencoba menepis segala kemungkinan-kemungkinan perasaan yang mulai tumbuh.
" Aku harus segera mengakhiri semua ini, iya...harus !!!, Aku akan menemui mami, mengatakan bahwa aku dan Danira memang tidak bisa bersama-sama lagi, kami tidak memiliki kecocokan, setelah itu aku akan mengatakan niatku untuk menikahi Stevani secepatnya. Aku tidak perduli apapun keputusan mami nantinya ". Ujar Gavino, seraya berjalan menujuh kamar mandi, dia ingin berendam dengan air hangat agar menghilangkan kepenatan pikirannya. Namun telinganya mendengar Sayup-sayup suara pintu depan dibuka.
" Sepertinya dia sudah kembali. Aahh sudahlah aku tidak boleh perduli dengannya, ingat Gavino...!! dia hanya orang asing yang sebentar lagi akan menghilang dari kehidupanmu". Ujarnya dalam hati mengingatkan dirinya sendiri.
***
Danira membuka pintu, lalu masuk kedalam rumah. Kepalanya menoleh, melihat pintu kamar Gavino yang tertutup rapat.
" Mengapa dia mengatakan kalau aku ini miliknya ?, Ada apa denganya, apa dia sudah mulai bisa menerima ku, atau sudah memiliki rasa kepadaku ?".
" Sepertinya tidak, Aku tidak boleh terlalu berharap seperti ini. Aku tidak ingin sakit lebih dalam lagi, dan aku tidak boleh percaya hanya dengan kebaikan yang secara tiba-tiba dia berikan. Bisa jadi, itu hanya bentuk kepedulian karena kami serumah. Iya...bisa saja seperti itu kebenarannya".
" Selama dia masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Antara aku dan dia hanya memiliki hubungan sebatas pernikahan paksaan, yang sewaktu-waktu bisa berpisah. Aku tidak boleh memiliki harapan lebih kepadanya, tidak boleh memiliki rasa apapun, cukup menjalani kewajiban sebagai istri yang menghargai dan menghormati dia selagi menjadi suamiku...ingat itu Danira ". Batin Danira berdialong. Danira melangkah masuk kedalam kamarnya, membaringkan Khalisa lalu berlalu kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan menjalankan Sholat Isya. Setelah selesai menjalankan kewajibannya, Danira duduk diatas sajadahnya Beristighfar dan berzikir, setelah itu dia mengangkat kedua tangannya keatas, dan menundukkan kepalanya, Dia berdoa.
..."Allaahumma innaka antal azizul kabir. Wa anaa abduka adhdhoiifudzdzaliil. Alladzii laa haula wa laa quwwata illaa bika. Allaahumma sakhkhir lii ... (sebut nama orang dimaksud) kama sakhkhorta firauna li musa. Wa layyin li qolbahuu kama layyantalhadiida li dawuda. Fa innahu la yantiqu illa bi idznika. Nashiyatuhuu fii qobdhatika. Wa qolbuhuu fi yadiKka. Jalla tsanau wajhik. ya arkhamar rakhimiin"...
Artinya:
"Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan aku hamba-Mu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Engkau. Ya Allah, tundukkanlah... Suamiku Gavino padaku, sebagaimana Engkau telah menundukkan Fir'aun pada Musa AS. Dan luluhkan hatinya untukku, sebagaimana Engkau telah meluluhkan besi untuk Daud AS. Karena sungguh dia takkan berbicara kecuali dengan izin-Mu. Ubun-ubunnya dalam genggaman-Mu, dan hatinya di tangan-Mu. Pujian wajah-Mu telah Agung, wahai yang lebih sayang para penyayang."
"Aamiin ". Danira memanjatkan Doa kepada Tuhannya, memohon untuk meluluhkan hati suaminya, yang keras. Baru saja Danira selesai berdoa, tiba-tiba lampu padam, semua menjadi gelap gulita, Danira tak bisa melihat apapun.
" Astaghfirullah....Ya Allah, lampunya mati. Bagaimana ini ". Rasanya Danira ingin menangis, dia sangat takut akan gelap, perlahan Danira meraba-raba dengan mata tertutup, Dia mencari ponselnya, namun tidak ada. " Ya Allah, dimana ponselku. Aku benar-benar takut ". Ujar Danira dengan air mata mulai mengalir, Danira ingin berteriak meminta tolong, tapi diurung karena tak ingin merepotkan Gavino.
Danira meraba gagang pintu, dia ingin kedapur untuk mengambil lilin di lemari penyimpanan. Semua ruangan benar-benar gelap, wajah Danira telah dibanjiri air mata. Saat tangannya terus meraba-raba, Danira tak sengaja menyenggol guci hiasan diatas lemari.
PYAR**
Suara Benda Nyaring membentur lantai, Danira terkejut, lalu menutup mulutnya. Saat dia bergerak tak sengaja kakinya menginjak serpihan guci yang pecah berserakan.
" Allahu Akbar". Pekik Danira, terduduk dilantai, memegang kakinya yang terasa basah kesat. Danira merasakan kakinya perih bercampur sakit. Air mata Danira keluar semakin deras, rasa takut bercampur dengan kesakitan. Dari dalam kamarnya, Danira mendengar suara tangisan Khalisa, mungkin bayi itu sulit bernafas karena gelap. Danira mencoba menahan sakitnya, mencari pegangan ingin bangun. Namun dia tak bisa, karena masih ada kepingan guci yang menancap dikakinya.
"Huwekkkk ". Tangisan Khalisa semakin menjadi.
" Ya Allah, tolong...bagaimana ini ". Ujar Danira sambil menangis.
__ADS_1
Gavino yang tadinya masih berendam didalam bathtub, segera bangkit saat merasakan semua ruangan menjadi gelap, Dia segera mencari handuk untuk mengeringkan badanya. Namun dari luar Gavino mendengar suara benda pecah yang cukup keras, disusul tangisan bayi yang semakin lama, semakin nyaring. Gavino segera memakai Boxer lalu mengenakan Bathrobe.
Gavino mengambil ponselnya ingin menyalakan senter, tapi sayang ternyata ponselnya kehabisan daya.
" Sial...!!". umpat Gavino kesal.
Dia berjalan perlahan membuka pintu kamarnya, suara tangisan Khalisa semakin nyaring.
" Kemana wanita itu, apa dia tidak mendengar suara bayinya menangis ". Omel Gavino sambil menuruni anak tangga. Samar-samar mata Gavino menangkap sosok wanita duduk dilantai, dengan membelakanginya. Gavino mendengar isakan tangis pelan.
" Apa yang kau lakukan disana, apa kau tidak mendengar bayimu menangis sedari tadi ? ". Gavino kembali berbicara keras kepada Danira, merasa kesal karena Danira seakan tak memperdulikan anaknya yang sedang menangis.
" Kau dengar aku tidak hah ?". Ujar Gavino lagi, namun Danira tetap diam, Gavino sedikit mempercepat langkahnya, namun suara Danira menghentikannya.
" Jagan kesini...!!, disini banyak pecahan kaca". Ujar Danira, menggingatkan Gavino agar tak mendekat kepadanya. Bukannya mendengarkan perkataan Danira, Gavino malah berjalan semakin mendekat. Gavino mulai meraba-raba, membuka laci mencari senter kecil. Setelah menemukan senter itu, Gavino menyalakannya. Seketika mata Gavino terbelalak kaget, melihat Danira terduduk dilantai, dengan kepecahan-pecahan guci berserakan dan dilantai juga terdapat darah segar. Gavino panik, segera mendekati Danira.
" Kau kenapa ?, apa yang terjadi padamu ?". Tanya Gavino dengan raut cemas, Danira segera menutup wajahnya dengan mukena yang masih dia kenakan. Melihat apa yang dilakukan Danira, Gavino berhenti sejenak.
" Apa kau tidak memakai penutup wajahmu ?". Tanya Gavino, Danira hanya menjawab dengan mengangguk.
" Dimana kau meletakkan penutup wahamu itu ?".
" A..ad.ada dikamar ". Ujar Danira terbata-bata dengan suara parau, karena menangis.
" Ini...pakailah ". Gavino menyerahkan penutup wajah Danira.
" Bisakah anda berbalik sebentar ". Ujar Danira, Gavino mencebikkan bibirnya namun tetap mengikuti permintaan Danira.
" Sudah ". Ujarnya pelan. Gavino berbalik melihat Danira, lalu menyerahkan Khalisa kedalam pangkuan Danira. Gavino berjongkok, ingin melihat luka dikaki Danira.
" Apa yang anda lakukan? ".
" Aku hanya ingin melihat lukamu, kemarikan kakimu ".
" Ti..tidak perlu, nanti saya akan mengobatinya sendiri ". Ujar Danira, menutupi kakinya dengan kain mukena. Bukan Gavino namanya jika tidak memaksa. Dia tak mendengarkan ucapan Danira, Gavino malah menarik kaki Danira dan terlihatlah kepingan Keramik guci yang masih menancap dikaki istrinya. Gavino semakin membulatkan matanya, lalu melihat Danira tajam. Gavino, berdiri berlalu pergi.
Danira kembali memejamkan matanya, karena ruangan kembali gelap saat Gavino pergi. Tak berapa lama Gavino telah kembali, dengan membawa Lampu emergency dan kotak Obat ditangannya. Merasa ruangan terang, Danira membuka matanya, melihat Gavino tegah membuka kotak obat diatas meja.
" Cepat kemarikan kakimu ". Pinta Gavino.
" Tidak perlu, nanti saya akan mengobatinya sendiri ". Danira masih menolak bantuan Gavino, namun Gavino dengan cepat menarik kaki Danira hingga berselonjor diatas lututnya.
" Berhentilah keras kepala, saat ini kau sedang terluka. Lagi pula, aku tidak akan tergoda hanya karena melihat telapak kakimu ini ". Ketus Gavino, namun ucapan dan hatinya bertolak belakang. hanya dengan melihat telapak kaki Danira saja, gejolak didalam diri Gavino kembali muncul.
" Shitt..." Umpanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menekan perasaan aneh.
__ADS_1
" Astaga....bagaimana kau bisa seceroboh ini, apakah tidak punya mulut untuk berteriak minta tolong ?". Omel Gavino, dengan tangan mengelap kaki Danira dengan alkohol membersihkan bekas darah yang menempel.
" Kenapa kau diam, jawab aku. Aku sedang bertanya padamu ". Bentak Gavino semakin geram melihat Danira hanya diam tak menjawab.
" Sa..sasaya tidak ingin merepotkan Anda ". Ujar Danira pelan, lalu menundukkan kepalanya. Gavino mendegus kesal.
" Tapi nyatanya kau tetap merepotkanku bukan. Jika terjadi sesuatu denganmu tadi, pasti aku yang akan terseret, karena kita berada didalam satu rumah yang sama. Apa kau begitu bodoh, hingga tidak berfikir seperti itu hah?".Ketus Gavino, Danira melirik Gavino yang sedang marah kepadanya, namun diwajah Gavino yang tampak hanya raut cemas dan takut. Berbanding terbalik dengan cara ucapannya yang keras.
" Maafkan Aku ". Cicit Danira pelan. Gavino melirik Danira sekilas, lalu menghembus nafasnya kasar.
" Apa ini sangat sakit, hingga kau menangis sampai suaramu menjadi serak seperti itu ?". Tanya Gavino, masih terus membersihkan luka Danira. Danira diam, tak ingin menjawab, tapi jika dia tidak menjawab maka Gavino akan meneriakinya lagi.
" Aku menangis bukan hanya karena luka ini, tapi....!! tapi karena aku takut gelap ". Ucap Danira sangat pelan, hampir tak terdengar. Gavino menghentikan tangannya, mendongak melihat Danira. Gavino membuang pandangan kesembarang arah, kembali menekan perasaan yang ingin memeluk Danira.
" Hekmmm...lebih baik kita kerumah sakit saja, aku tidak bisa mencabut kepingan Keramik yang dikakimu ini, sepertinya itu sangat dalam. Takutnya nanti terjadi infeksi ". Ajak Gavino yang telah berdiri.
" Tidak perlu, aku...aku bisa melakukannya sendiri. Jika anda ingin istirahat tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas bantuan anda ". Ujar Danira, menolak ajakan Gavino. Gavino semakin jengah mendengar jawaban Danira.
" Lukamu cukup parah, dan ini harus ditangani oleh dokter. Mengapa kau tidak paham juga ". ujar Gavino, menekan nada suaranya. Danira tetap diam. Gavino semakin frustasi menghadapi Danira yang keras kepala.
" Kau sangat menyebalkan". Ujar Gavino, pergi meninggalkan Danira.
......................
...Bersambung........
Awas loh mas Gavino, baru telapak kaki loh itu, sudah buat deg-degan...gimana yang lainππ
.
.
.
Terima kasih kakak-kakak ku, yang selalu setia menunggu update-an Bab nya, author akan usahakan up setiap hari.
Mohon dukungannya ya....π
Dengan meninggalkan tanda cinta dalam bentuk Like, komentar dan Vote nyaπ
Terima kasih.
salam sayang sari Author π
Saranghae β€οΈ
__ADS_1