CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
44. Botol Susu


__ADS_3

Tik


Tik


Tik


Hanya ada suara detak jam yang terdengar, kedua anak manusia yang ada diruangan itu diam saling pandang, mata elang Gavino menatap Danira tajam, siap mencabik-cabik mangsanya yang ada dihadapannya ini. Danira hanya melihat Gavino sekilas, lalu Dia mengalihkan pandangannya ke vas bunga yang ada dimeja. Danira masih belum terbiasa memandang laki-laki terlalu lama, apalagi berduaan didalam ruangan membuat Danira risih dan takut. Tapi sebisa mungkin Dia menyembunyikan segala kegugupan dan ketakutannya, berusaha bersikap tenang dihadapan Gavino.


" Hey...apa kau tuli, aku sedang bertanya padamu. Mengapa kau melanggar perintahku?". Ulang Gavino lagi dengan nada suara makin meninggi, membuat Khalisa yang sedang tertidur pulas tersentak kaget. Danira menepuk-nepuk punggung Khalisa, dia melirik Gavino kesal.


" Apa anda selalu berbicara seperti itu, maksudku berteriak-teriak?". Tanya Danira enteng. Gavino makin kesal karena Danira mengabaikan pertanyaannya.


" Apa aku memintamu balik bertanya ?". ketus Gavino.


Huhhh....


Danira menghela nafas pelan, Dia butuh kesabaran ekstra menghadapi suaminya ini.


" Saya akan menjawab pertanyaan anda, bisakah anda memelankan suara anda ?, Anda tidak perlu teriak, saya tidak tuli". Gavino makin dibuat tak percaya dengan ucapan Danira, beraninya wanita ini. pikir Gavino.


" Baiklah, anda bertanya mengapa saya melanggar keinginan anda untuk tinggal dirumah itu. Jawabannya adalah ini". Danira mengangkat sedikit tubuh Khalisa. " Pernahkah anda berpikir dampak apa yang akan dialami bayi saya, bila saya tetap mengikuti keinginan konyol anda itu ?".


" Saya sangat berterima kasih atas kebaikan anda, memberikan saya tempat tinggal yang istimewa. Tapi saya minta maaf, saya lebih memilih kembali kerumah saya sendiri, dari pada harus mengorbankan kesehatan bayi saya". Ujar Danira tegas dan lugas. Gavino hanya berdecih tak suka.


" Aku tidak perduli....dan tak akan pernah perduli, jika dia sakit itu urusanmu". Cuek Gavino. Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Suaminya ini manusia apa bukan. pikir Danira.


" Lalu jika anda tidak perduli, mengapa anda meminta asisten anda untuk menjemput kami kesini. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan, jika tempat kediaman anda tidak layak untuk kami?". Gavino melirik Danira malas, dia menyandarkan lagi punggungnya ke sandaran sofa sambil menyilangkan kakinya.


" Kau jangan salah paham..!!.Tak perlu terlalu percaya diri seperti itu, aku melakukan ini karena ibuku mulai menanyakan keberadaanmu, dan mengirim mata-mata untuk melihat apa benar kau tinggal bersama dengan ku, Hanya itu. Jika bukan karena Ibuku, aku tak akan Sudi tinggal 1 rumah bersama denganmu". Jelas Gavino, kembali menyerang Danira dengan kata-kata menyakitkan. Hati Danira berdenyut nyeri, kata-kata Gavino benar-benar menusuk, Danira tersenyum getir.


" Jika hanya itu alasan anda, berarti sekarang saya boleh pergi ?, bukankah mata-mata hanya sesekali memastikan kebenarannya, mungkin sekarang mereka telah melapor kepada ibu anda, jika saya benar disini, jadi sudah tidak ada alasan bagi saya lagi untuk ada ditempat ini bukan ?". Ujar Danira dengan Tenang.


Gavino menyelang tak suka, Dia tak suka bila ada yang membalas ucapannya.


" Kau tak akan pernah bisa pergi dari sini?". Tegas Gavino.


" Mengapa, bukankah Anda mengatakan tak Sudi tinggal 1 rumah dengan saya?".

__ADS_1


" Mulai hari ini, dan sampai waktu yang belum aku tentukan kau akan tinggal disini. Mulai detik ini semua pekerjaan rumah, kau yang harus mengerjakannya, Kau harus membersihkan setiap sudut yang ada disini tanpa debu sebutirpun. Dan kau dilarang memasuki kamarku yang ada diatas dan ruang kerjaku. Ini adalah hukuman bagi orang yang berani melawan perintahku, bila kau berani melanggarnya lagi maka kau akan tau sendiri akibatnya". Ujar Gavino sedikit menekan suaranya kejam, mengancam. Danira tetap diam, tak memberi respon apapun pada Gavino.


" Saya tidak mau..!!, karena saya bukan budak anda". Tegas Danira melirik Gavino sekilas, Gavino dibuat geram mendengar penolakan yang diucapkan Danira.


" Jika kau tidak mau, itu sama saja kau menjadi istri yang durhaka, karena tak menjalankan keinginan suamimu".


" Melihat dari penampilanmu, sepertinya kau paham dengan hukum agamamu bukan, kau tau bila melawan suami termasuk dosa besar". Gavino berbicara sinis, melirik Danira dengan sombong.


" Durhaka itu, bila pasangan suami istri menjalankan rumah tangga mereka layaknya pasangan pada umumnya, sedangkan kita berbeda, anda sendiri yang membuat peraturan kita berdua hanya menikah diatas kertas, sisanya tetap seperti orang asing. Lalu anda meminta saya mengikuti perintah anda sebagai seorang istri kepada suaminya ?...Apakah anda menanggap saya sebagai istri anda ? apakah anda bisa menerima pernikahan ini ? apakah anda juga bisa menghormati saya sebagai seorang istri ?,....Jika anda bisa melakukan semua itu, Demi Allah saya akan menjalankan semua kewajiban saya sebagai seorang istri yang patuh dan menaati perintah suaminya". Cercaan pertanyaan dan jawaban Danira, membuat Gavino bungkam.


" Lalu anda menanyakan perihal saya paham hukum agama atau tidak, Insyaallah sedikit - sedikit saya tau, bahwa agama saya melarang keras istri-istri membatah atau melawan kepada suami karena itu akan dilaknat Allah. TAPI...!! itu tidak berlaku bagi suami yang Dzolim, yang suka menyakiti hati istri dan masih memiliki hubungan gelap dengan wanita lain selain mahramnya ". Jelas Danira panjang lebar, Wajah Gavino memerah, dia tak percaya Danira bisa memberikan jawaban monohok yang membuat dia makin geram.


" KAU...!!! Beraninya kau menceramahi aku hah ?, Aku tak butuh ceramah darimu. Kau pikir kau siapa, merasa hebat hanya dengan pakaianmu seperti ini ?". Teriak Gavino kencang, membuat Khalisa menjerit menangis. Danira berdiri sedikit bergoyang-goyang menenangkan Khalisa, namun bayi itu makin kencang menangis. Gavino merasa terganggu, dia melototkan matanya pada Danira. Danira membuka tas, mengeluarkan botol susu yang telah kosong, kepala Gavino makin pusing mendengar teriakan Khalisa.


" Bisakah bayimu diam Hah?". Bentak Gavino. Tangisan Khalisa makin memekikkan telinga akibat bentakan Gavino. Danira tersenyum jahil melihat wajah Gavino yang memerah.


" ini salah anda, bukankah sudah saya katakan. berbicaralah dengan pelan, tak perlu berteriak. Tapi anda tidak mendengarkan saya". Ujar Danira enteng masih menepuk-nepuk bokong Khalisa pelan, berusaha menenangkan bayinya.


" Ada 1 cara supaya dia berhenti menangis". Ujar Danira lagi.


" Bisakah anda membuatkan susu formulanya ?". ujar Danira santai.


" APA....buat susu, tidak...aku tidak mau, buat saja sendiri kau kan ibunya". ketus Gavino.


" Baiklah, aku yang akan membuatnya, bisakah anda tolong pegang bayiku sebentar, karena aku harus kedapur memanaskan air untuk susunya". Terang Danira, Gavino membulatkan matanya, memegang bayi wanita ini, yang benar saja. pikir Gavino.


" Aku tidak mau, lakukan sendiri dan suru bayimu itu diam, jika tidak....".


" Ya sudah....Khalisa akan menangis semalaman, jika dia belum mendapatkan susunya". Ujar Danira santai, sebenarnya Danira bisa saja membujuk Khalisa diam tanpa memberikan botol susunya, namun dia ingin memberikan pelajaran sedikit kepada suami arogannya ini. Gavino menutup kedua telinganya, gendang telinganya seakan ingin pecah mendengar jeritan Khalisa.


" Kemarikan botol itu, dan mana susu formulanya".


" Ini...!!". Danira memberikan Kaleng susu yang ada didalam tas ranselnya. Gavino berdiri, berlalu pergi kedapur. Gavino mulai mendidikan air menggunakan kompor listrik, Dia melihat kaleng susu itu, Gavino bingung barapa takaran susu yang harus Dia masukkan.


" Heyy wanita Berjubah...berapa sendok yang harus aku masukkan". Teriak Gavino dari dapur.


" 2 Sendok takaran saja". Ujar danira sedikit berteriak. Gavino mulai memasukkan sesuai yang dikatakan Danira. Teko telah berbunyi, menandakan bahwa air telah mendidi, matang. Gavino memasukkan air panas itu kedalam botol susu hingga penuh, lalu menutupnya. Dia berjalan dengan cepat memberikan botol itu pada Danira.

__ADS_1


" Ini....!". Gavino menyerahkan botol susu itu, Danira menerima, namu sedetik kemudian Danira menjatuhkan botol susu kelantai.


" Kenapa kau membuangnya". pekik Gavino kesal.


" Anda ingin membunuh bayi saya ya?, itu sangat panas bagi bayi". Danira berkata dengan ketus.


" Aku sudah membuatnya sesuai yang kau katakan, menggunakan air panas, lalu salahnya dimana?". Jelas Gavino, tak merasa salah. Danira sedikit berjongkok, mengambil botol dilantai, lalu memberikannya kepada Gavino.


" Anda minum saja, jika lidah anda tidak terbakar. Baru saya akan memberikan kepada bayi saya".


" KAU..!! Pekik Gavino mulai tersulut emosi. Namun Khalisa makin menjerit histeris, Gavino merebut botol susu itu lagi, kemudian berjalan menuju dapur kembali.


" Ini, sumpal cepat mulut bayimu itu agar dia segera diam, tangisannya membuat kepalaku ingin meledak".


Danira mengambil susu formula yang telah Gavino letakkan diatas meja, Dirasa hangatnya pas, Danira memasukkan ****** Dot kedalam mulut Khalisa. Seketika tangisan dan jeritannya terhenti, berganti dengan suara kecupan sedotan dari bibir Khalisa. Gavino menghela nafas lega, Dia kembali duduk disofa, kemudian mengambil gelas minumannya diatas meja, meneguk hingga tandas.


Danira tersenyum manis dibalik cadarnya, Dia bisa melihat ada sisi baik dalam diri Gavino yang tertutupi oleh sifat sombong dan arogannya itu.


Dretzzz


Dretzzz


Ponsel Gavino bergetar, Dia mengambil ponselnya dari dalam saku celana, tersenyum tipis melihat nama penelpon " Sayang".


Gavino segera menggeser tanda jawab.


Heemmm....


"Baiklah...aku akan segera kesana, tunggu aku".


" Love you to". Jawab Gavino, Dia berdiri mengambil kunci mobilnya diatas nakas, berlalu pergi meninggalkan Danira sendiri tanpa pamit. Danira hanya melihat tubuh gavino menghilang dibalik pintu yang mulai tertutup.


Perih. Batin Danira


......................


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2