
Sejak hari itu, Anyelir menjadi semakin pendiam. Selama beberapa hari terakhir ia bahkan harus melewati malam yang sama. Malam di mana ia harus melayani sang suami dengan cara yang tidak biasa.
Karena Dorman sudah kesulitan menegakkan senjatanya, Anyelir dipaksa terus menerus melakukan berbagai cara untuk memuaskan sang suami.
Hal itu membuat Anyelir tersiksa setiap malam. Belum lagi Dorman memiliki cara yang menyakitkan untuk mencari sensasi tersendiri. Laki-laki paruh baya itu menjadikan ikat pinggang sebagai alat untuk menyiksa tubuh Anyelir. Bagi Dorman, hal itu membuat ia merasa senang dan puas.
Semakin hari Reiga semakin khawatir. Sudah hampir satu Minggu Anyelir terus menerus mengurung diri di kamar. Dan selama itu pula Anyelir tidak pernah memasak atau menceritakan apa yang telah ia alami.
Reiga datang ke kamar Anyelir untuk mengantar makanan setiap pagi dan siang hari. Namun tanpa Reiga ketahui, makanan itu sudah kembali ke dapur dalam keadaan hampir utuh. Anyelir hanya memakannya beberapa sendok atau bahkan hanya mencicipinya.
Pagi ini, Dorman meminta Reiga datang ke kebun teh setelah sarapan. Dorman ingin memperkenalkan Reiga pada para pekerjanya. Tanpa banyak bicara, Reiga pun setuju. Ia segera menyusul sang ayah ke perkebunan teh milik mereka setelah menyelesaikan sarapan pagi.
Saat keadaan rumah sedang sepi, Anyelir keluar dari kamar.
Gadis itu berjalan menuruni anak tangga dengan kaki gemetar. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas. Anyelir bahkan terlihat seperti mayat hidup.
Gadis itu berjalan ke arah dapur dan keluar menuju halaman belakang rumah. Di sana, ia berdiri dengan tatapan kosong.
Anyelir menangis dalam diam. Ia berdiri kaku, menatap ke langit dan berharap Tuhan mencabut semua penderitaannya.
__ADS_1
Anyelir merasa frustasi dan tertekan. Semua yang ia alami semakin hari semakin menyakitkan. Tiada satu hari pun ia lewati tanpa tangisan.
Gadis itu tiba-tiba melihat pintu gudang yang terbuka lebar, ia masuk dan menemukan seutas tali tambang yang tergeletak di lantai. Anyelir juga melihat sebuah kursi kayu yang tidak terpakai.
Tanpa berpikir, Anyelir mengambil tali tersebut dan melempar salah satu ujungnya ke dahan pohon mangga yang ada di halaman belakang rumah. Tidak berselang lama, sebuah alat bunuh diri telah ia ciptakan.
Pikiran Anyelir telah kosong, matanya telah dibutakan oleh kebencian dan rasa putus asa. Gadis itu naik ke atas kursi dan mengikat tali melilit lehernya.
"Ayah, Ibu, maafkan aku," gumam Anyelir pelan. Ia memejamkan mata, menendang kursi di kakinya dan berharap semua rasa sakit dan penderitaan yang ia alami akan segera berakhir bersamaan dengan usianya.
Anyelir kesulitan bernapas, namun ia tetap tenang saat tali tambang menjerat lehernya dengan kuat.
Beruntung, Reiga datang cepat dan berlari menghampiri Anyelir. Reiga langsung mengambil kursi yang jatuh dan naik. Ia segera melepaskan tali dari leher Anyelir dan menurunkan gadis itu.
"Ayo bangun, Anyelir. Bangun!" seru Reiga sambil terus memberikan pertolongan.
Selang beberapa saat, Anyelir membuka matanya. Reiga merasakan persendiannya lemas, ia langsung memeluk Anyelir dan mendekap gadis itu.
"Apa yang kau lakukan? Kau membuatku takut," gumam Reiga.
__ADS_1
Anyelir tidak mengatakan apapun. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Reiga. Ia tidak tahu setan mana yang mempengaruhi pikirannya, namun rasa putus asa sudah membuatnya cukup berani untuk mengakhiri hidupnya.
Setelah Anyelir cukup tenang, Reiga menggendongnya masuk ke dalam rumah. Reiga membawa Anyelir masuk ke kamar tamu, membaringkan gadis itu di atas tempat tidur dan menutupnya dengan selimut.
"Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak bisa melindungimu," ucap Reiga.
"Pikirkan bagaimana nasib orang tuamu jika kau berakhir seperti ini. Mereka akan merasa bersalah seumur hidup. Bagaimana bisa mereka hidup tanpamu?"
Anyelir diam, memiringkan tubuhnya dan membelakangi Reiga. Secara tidak sengaja Reiga melihat memar di pundak Anyelir.
Reiga membulatkan matanya lebar. Ia membantu Anyelir duduk dan memperhatikan tubuh gadis itu. Reiga melihat bekas luka dan memar di bagian tengkuk leher dan bahu.
"Boleh aku melihat punggungmu?" tanya Reiga. Anyelir menggeleng.
Reiga tidak memaksa, ia hanya mengusap punggung Anyelir dan melihat gadis itu meringis kesakitan. Bahkan tanpa melihat lukanya, Reiga tahu apa yang terjadi pada gadis malang itu.
Anyelir terdiam, namun dari kedua matanya keluar air mata yang tidak berhenti mengalir.
Reiga benar-benar sakit hati melihat keadaan Anyelir seperti ini. Ia benar-benar muak dan kesal kepada Dorman. Kini, yang bisa Reiga lakukan hanya menenangkan Anyelir. Ia memeluk ibu tirinya dan membiarkan Anyelir menumpahkan semua rasa sedih yang sedang bergejolak dalam hatinya.
__ADS_1
Saat keduanya tengah berpelukan, tiba-tiba terdengar suara orang berlari masuk ke dalam rumah.
Reiga terkejut, ia meninggalkan Anyelir dan melihat siapa yang datang tiba-tiba.