Cinta Yang Terlarang

Cinta Yang Terlarang
Episode 94


__ADS_3

Halooo my readers, di episode kali ini author mau menceritakan bagaimana Johan bisa dekat dengan Nani. Penasaran khaan??


Happy Reading genks 😍


♥️♥️♥️


Kalian masih ingat kan ketika Devo dan keluarga liburan ke puncak, Nani dan genks somplak pun ikut serta. Mulai dari satu mobil hingga satu villa. Nahh dari situlah semua bermula. Ternyata keributan waktu akan berangkat ke puncak mengenai pembagian mobil membuahkan hasil. Karena pada Lisa waktu itu Nani pada akhirnya ikut dengan mobil rombongan genk somplak tersebut.


Awalnya memang tidak pernah terpikir oleh Johan apalagi punya niatan untuk menjalin hubungan dengan Nani sang perempuan dari desa yang agak lugu itu. Terlebih Nani bekerja dirumah sahabatnya Devo, Waahh,,, bisa jatuh reputasinya sebagai playboy cap badak.


Tapi apalah arti sebuah reputasi jika yang namanya cinta sudah bicara.


Kalau masalah cantik, Nani tidak kalah cantik dengan perempuan kota yang sering ditemui Johan. Justru Nani mempunyai kelebihan, cantiknya itu benar-benar alami, khas dengan kecantikan wanita desa.


Karena Johan sering berkunjung kerumah sahabatnya Devo, maka sudah pasti Johan juga sering bertemu dengan Nani. Pertama, pasti Nani yang membukakan dirinya pintu untuk masuk, kedua yang lebih pasti lagi Nani lah yang menyediakan kopi untuknya. Ketiga, jika Johan sedang menunggu Devo karena masih dikamar atau dilantai atas pasti Johan mengisi waktu dengan ngobrol-ngobrol ringan dengan Nani.


Aahh...kalo yang ketiga author nggak setuju, itu sihh modus lo doang aa Johan.


♥️♥️♥️


Rupanya semakin hari Johan seperti terhipnotis karena senyum dan rasa kopi buatan Nani.


Entah bagaimana wajah Nani terus saja berputar dikepalanya, "Duuhh!! kenapa gue jadi inget si Nani terus sihh!!" Johan mengusap kasar wajahnya karena sejak tadi ia tidak berhasil memejamkan matanya.


Apalagi kopi yang ia minum semakin hambar saja rasanya bila dibandingkan kopi buatan Nani.


"Gue kenapa sih?" tanya Johan pada dirinya sendiri. Mencoba menghubungi Afi sekedar menghabiskan waktu dan menghilangkan bayangan wajah perempuan desa yang senyumnya manis tiada tara.


"Bro Lo dimana? gue otw ke apartemen lo!"


ucap Johan pada Afi.


"Gue masih dirumah bos, kenapa lo nyari gue?! tumben???" sahut Afi, karena memang Afi sedang membicarakan proyek yang akan ditangani oleh Devo. Sebagai asisten ia sedang mempersiapkan segala sesuatunya.


"Ok, gue otw kesitu! tungguin!" Johan kegirangan, sebenarnya memang ia ingin sekali menemui Nani. Tapi rasanya tidak mungkin, dengan alasan apa ia kerumah Devo. Ia tidak ada keperluan kerumah Devo, jika sekali-kali sih masih wajar. Masa iya setiap ia kepikiran dengan Nani ia harus kesana, rasanya kan jadi sangat tidak masuk akal.


Tapi kali ini bak gayung bersambut, apa yang ia inginkan tanpa sengaja menjadi kebetulan.


"akhirnya bisa ketemu kamu Nani" ucap Johan sambil cengar-cengir. Tanpa berlama-lama Johan langsung menaiki mobilnya menuju kediaman Devo.

__ADS_1


♥️♥️♥️


"Dev??" ucap Johan, saat ini ia bertiga sedang berada dikantor Devo. Johan mendatangi kantor Devo memberikan berkas laporan keuangan perusahaan genk somplak yang dikelola oleh Yudha dan Johan.


"Lo kenapa broo?? kayaknya belakangan ini gue perhatiin lo uring-uringan nggak jelas" tanya Devo.


"Iya nih, tumben banget ya Dev?!" sahut Afi.


"kenapa siie?!" tanyanya lagi.


"Sebenarnya gue mau tanya pendapat kalian nih!" ujar Johan dengan wajah yang malu-malu.


"Yaa elahh...gaya lo udah kayak anak perawan Jo!" Afi tampak kesal menunggu Johan yang belum juga mau mengutarakan maksud pembicaraannya.


"Gue lagi naksir cewek nih!"


"Tumben lo naksir cewek pake bilang-bilang sama kita, biasanya juga lo nyosor sendiri!" Devo menanggapi curhatan Johan.


"Ya itu maksud gue! gue mau mau ijin dulu sama lo Dev!"


Sontak saja Devo dan Afi tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Johan.


"Gue mau ijin ngajak Nani keluar, gue mau ngajak Nani jalan Minggu ini!" Johan akhirnya dengan jujur mengatakan maksudnya.


"Nani?? maksud lo Nani yaaaang___" Devo mengatakan sambil berpikir.


"Iya" sahut Johan tanpa menunggu Devo menyelesaikan kalimatnya.


"Lo serius Jo??" tanya Devo tidak percaya dengan jawaban Johan.


Afi hanya bengong menyaksikan kedua sahabatnya main tebak-tebakan, maksudnya Devo dan Johan saling memahami tanpa harus menggunakan bahasa. Namun tidak demikian untuk Afi, "Maksud nya apaan sih, terus terang gue bingung nih!" Afi protes karena ia ada diruangan yang sama tapi seperti kacang, alias dicuekin.


"Entar juga lo ngerti Fi" ucap Devo.


"Gimana??" tanya Johan meminta persetujuan majikan dari perempuan yang ia taksir.


"Iya, gue ijinin. Nani anak baik kok. Kalo lo emang bener serius Lo deketin aja, tapi kalo lo cuma mau maenin tuh anak.. gue nggak bakal ijinin. Karena selama dia di Jakarta dan ikut gue ya berarti dia tanggung jawab gue"


Devo berkata bijak.

__ADS_1


"Oke, siaap bos!" Johan senang sekali mendapat dukungan dari sahabat sekaligus majikan Nani, ia berencana melakukan pendekatan dengan Nani.


♥️♥️♥️


Hari yang ditunggu pun tiba, Johan datang kerumah Devo untuk mengajak jalan. Dengan alasan Johan minta ditemani membeli oleh-oleh untuk dikirim ke Yogyakarta untuk tantenya Johan.


"Nani, temani saya yuk?" ucap Johan saat Nani menyediakan secangkir kopi untuknya.


"Kemana pak?" sahut Nani polos.


"Saya mau kirim sesuatu buat tante saya di Yogyakarta, kira-kira yang pantas apa ya Nan?" tanya Johan senatural mungkin. Ia tidak mau jika terlalu terbuka diawal nanti Nani malahan akan menjauh darinya.


"Tapi pak??" Nani mengarahkan pandangannya pada Devo.


"Nggak apa-apa Nan, kamu temenin Johan ya. Kasihan dia nggak ngerti masalah cewek"


Devo yang sudah mengerti maksud Johan membantu untuk meyakinkan Nani.


"Tuh,, Devo sudah ngijinin kok!" tambah Johan.


"Kalo gitu saya ganti baju dulu ya pak?" Nani pamit pada Devo dan Johan kekamarnya untuk berganti pakaian.


♥️♥️♥️


Kini mereka sudah berada di sebuah Mall, alih-alih membeli oleh-oleh buat sang tante, Johan justru berbelanja untuk Nani. Ia membelikan beberapa setel pakaian dan juga alat kosmetik untuk Nani.


"Pak? kok bajunya Nani yang coba? emangnya ukuran badan tantenya pak Johan sama kayak Nani ya?" Nani bertanya dengan polos.


"Iya, ayuk dicoba dulu" Johan menggandeng tangan Nani untuk mengantarnya ke kamar pas.


Sebenarnya Nani bingung, apakah tantenya pak Johan seumuran dengannya? karena baju yang Johan pilihkan sangat bergaya muda, memang pantasnya dipakai oleh gadis seumuran dirinya.


Tapi Nani hanya bertugas sebagai menemani pak Johan, terserah saja ia mau membeli apapun yang ia suka.


♥️♥️♥️


Kira-kira Nani mau menerima pemberian Johan nggak yaa??


yuuk ikutin terus ceritanya, btw...jangan lupa dong like n komen nya, yaa...yaa...😍

__ADS_1


__ADS_2