
Aku up lagi nih genks.
Happy Reading yeey 😘😘
♥️♥️♥️
"Haahh!!! kami dipecat pak?! salah kami apa?!" Lisa dan teman-temannya dipanggil keruangan HRD untuk mengambil surat pemecatan secara sepihak dari perusahaan dengan alasan telah menghina dan merugikan pihak lain. Mereka adalah Risa, Lina, Yuni, dan Dita.
"Silahkan kalian lihat sendiri?" ucap pak Tora pada keempat perempuan muda dihadapannya. Kepala bagian HRD itu menyetel hasil rekaman CCTv di toilet lobby kantor siang tadi.
"Ohh..jadi gara-gara dia kami dipecat! sialan tuh anak!" Risa berucap geram.
"Tapi saya nggak ikutan ngomong pak!" ucap Dita membela diri.
"Lihat aja nanti, bakal gue labrak dia! kurang ajar banget dia!! berani ngadu ke pihak perusahaan! gue juga bisa aduin dia ke bu Aurel..kalo si pelakor itu masih godain suaminya, biar dia tau rasa!!" Risa masih tidak terima dengan pemecatan yang ia terima.
"Jangan sembarangan bicara kamu!! kamu tau siapa yang tadi kamu ejek dan kamu hina haahh!!" pak Tora tampak kesal pada Risa karena ia sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas sikapnya yang sudah merugikan orang lain.
"Ya iyalah pak, jelas saya tau...dia kan pelakor. Bu Aurel tuh benci banget sama dia" Risa terus saja nyerocos.
"Risa!!" bentak Yuni pada temannya yang belum juga mau mengakui kesalahannya itu.
"Udah Sa!! kalo begini kita bakal beneran dipecat tanpa pesangon tauu!!" Lina turut bicara memperingatkan Risa.
"Enak aja lo suruh gue diem, ini urusan nya sama kerjaan kita!" Risa menyolot.
"Udah lah Ris, ngalah aja. Emang kita yang salah" Dita seakan melerai perdebatan diruang itu.
"Sudah!! sudah!! jika kalian mau pekerjaan kalian selamat sebaiknya kalian meminta maaf pada bos dan istrinya!" pak Tora memberikan solusi pada Risa dan kawan-kawannya. Sebenarnya itu juga yang disampaikan oleh Afi pada pak Tora.
"Maksudnya?? Bu Aurel?? Risa memastikan.
"Dasar stupid!!" ucap pak Tora kesal pada Risa. "Ya minta maaf sama bu Lisa lahh!!"
"hahh??? bu Lisa?? Risa menegaskan ucapan pak Tora.
"Istrinya bos itu ya bu Lisa paham kalian?!"
"****** kita Ris!" Dita sudah mulai ketakutan.
"Jadi yang tadi Lo kata-katain sampe nangis itu istrinya bos?!" wajah Yuni sudah tampak frustasi.
Wajah Risa panik karena takut, ternyata Lisa yang dulu hanya seorang karyawan biasa sama seperti dirinya kini menjadi istri pemilik perusahaan. Lalu bu Aurel??? otaknya masih berpikir keras.
__ADS_1
♥️♥️♥️
Tiba di halaman rumah Lisa membuka pintu mobil dengan kasar, ia berlari masuk kedalam kediaman mereka.
"Bun, hati-hati sayang!!" Devo belum mematikan mesin mobilnya, dan ia tidak sempat untuk mengejar istrinya yang masih terpukul.
Devo berlari masuk untuk segera menemui istrinya,
"Bun?? sebenarnya tadi Bunda kenapa?" tanya Devo penasaran.
"Bunda nggak mau bahas masalah itu lagi! Bunda bilang juga apa,,, Bunda nggak mau ke kantor kamu!"
Devo tersentak karena istrinya berkata kasar dan membentaknya, panggilan "kamu" yang keluar dari mulut istrinya sekarang bagi Devo terdengar kasar.
"Bunda nggak pantes buat ayah, huuuu..huuu... Bunda perusak rumah tangga kalian... harusnya ayah nggak perlu bertanggungjawab dengan kehamilan ini, huuu...huuu..." Lisa berkata sambil sesenggukan, suaranya serak, ia tidak bisa menghentikan tangisnya.
Devo memeluk istrinya, "Bunda ngomong apa sih?? Bunda kesayangan ayah, ayah juga sayang sama dedek" Devo mengelus perut Lisa.
"Tapi Bunda sudah salah! lebih baik ayah pergi aja dari hidup Bunda!!"
"Kamu ngomong apa sih Lis!!" Devo membentak istrinya karena ucapan Lisa menurut nya sudah tak terkontrol.
Lisa tersentak dengan suara keras suaminya itu, "huuuuu....huuuu" Lisa menenggelamkan wajahnya di bantal, bahunya bergetar.
"sekarang Bunda istirahat ya" Devo tetap disamping Lisa menunggu sampai istrinya benar-benar tenang.
Beberapa saat mulai hening, Devo tak mendengar isak tangis istri nya lagi. Ternyata benar, Lisa tertidur kelelahan karena menangis. Merapikan rambut Lisa yang sudah berantakan dan basah karena air mata, Devo menyelimuti Lisa dan mengusap keningnya yang juga basah oleh keringat lalu mengecupnya.
"Maafin ayah ya sayang" Devo tidak tega melihat keadaan istrinya.
Devo bergegas keruang kerjanya dan menghubungi Afi.
"udah lo beresin??" tanya Devo.
"sudah beres bos!"
Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Afi, Devo menyalakan laptop untuk mencari informasi mengenai yang dialami Lisa.
Dan dari beberapa informasi yang ia dapat dari google bahwa yang dialami Lisa adalah stres ringan namun kalau tetap dibiarkan bisa berbahaya untuk kehamilan dan juga anaknya kelak.
Masih bingung dengan solusi yang akan diambilnya, apakah Lisa membutuhkan psikiater atau psikolog? karena keduanya berbeda. Jika psikiater bisa memberikan terapi dengan obat-obatan dan psikolog lebih fokus pada aspek sosialnya dan bisa memberikan terapi psikologi pada Lisa.
Mengingat istrinya sedang hamil akhirnya Devo memutuskan menghubungi dokter Claudia untuk meminta solusi dan agar sang dokter dapat merekomendasikan dokter spesialis apa yang dibutuhkan Lisa.
__ADS_1
♥️♥️♥️
Satu jam sudah Devo menghabiskan waktu di ruang kerjanya, "ayah??....ayah??..." suara Lisa terdengar memanggilnya, segera keluar untuk menemui istrinya.
"Ayah disini sayang"
Lisa memeluk suaminya, "ayah?? Bunda laper" Lisa terbangun karena bayi diperutnya bergerak keras.
"Ya ampun....kalian belum makan siang ya?
kasian anak ayah" mengelus perut Lisa. "Bun liat deh dedeknya nendang-nendang. Dedek laper ya sayaang?" Devo membungkuk mengajak ngobrol calon bayi mereka.
"Bunda mau makan karedok" setelah drama yang terjadi lumayan menguras air matanya, tiba-tiba Lisa ingin makan karedok yang pedas.
"Mang Didin!!!" Devo segera memanggil supirnya untuk membelikan makanan yang di inginkan istrinya.
"Ya pak!" setengah berlari menemui sang majikan
"beliin karedok buat ibu!" ujar Devo dan memberikan uang seratus ribuan.
"Yang pedas Mang" ucap Lisa menambahkan.
"Baik bu"
"Cepet ya Mang!! pake motor aja!" tambah Devo mengekori mang Didin sambil berbisik "Mang jangan pedas-pedas ya!"
"Ohh... siap pak!" Mang Didin paham apa yang dimaksud bos nya. Devo tidak ingin bayi nya bermasalah dengan makanan pedas yang dimakan istrinya.
"Sambil menunggu karedok nya dateng, bunda minum susu dulu ya? kasian nanti anak ayah kelaparan"
Lisa mengangguk dan tersenyum, Devo lega melihat keadaan istrinya sekarang. Walaupun dengan sikap Lisa yang mudah berubah membuktikan bahwa emosi spikologis istrinya tidak stabil dan ia harus segera diberikan terapi agar tidak mempengaruhi pertumbuhan anak mereka kelak.
♥️♥️♥️
Pagi ini Devo kembali beraktivitas seperti biasa, datang ke kantor berharap masalah kemarin yang telah membuat istrinya sedih sudah terselesaikan.
Tok...tok...tok..."Pak, ada yang ingin bertemu" ucap Yola sang sekretaris.
"Ya, suruh masuk!" Devo menjawab namun tatapannya terfokus pada tahun laptop diatas mejanya.
♥️♥️♥️
Kira-kira siapa yang ingin menemui Devo ya??? tinggalkan jejak kalian seperti biasa ya genks 😍😍
__ADS_1
like, komen, n vote nya jangan lupa.