
Seperti yang terjadi sebelumnya, Anyelir dan Reiga pun berbagi tugas untuk menjaga Dorman setiap siang dan malam. Anyelir masih merasa bersalah. Ia merasa jika dirinya adalah sebab dari semua yang menimpa Reiga selama ini.
Andai saja ia tidak memiliki perasaan pada laki-laki itu dan mengabaikannya sejak awal, mungkin Reiga tidak akan kesulitan karena ayahnya.
Setelah hampir tiga hari tidak sadarkan diri, Dorman pun mulai membuka matanya perlahan. Laki-laki paruh baya itu sadar dengan penuh kesedihan di wajahnya.
Dorman menatap Reiga yang terlelap di sofa panjang yang terletak tidak jauh dari ranjang tempatnya berbaring. Secara tidak sadar ia meneteskan air mata.
Anak yang sangat ia sayangi dan cintai, adalah anak yang sama sekali tidak bisa ia prediksi. Dorman tidak menyangka jika Reiga begitu tega menusuknya dari belakang.
Selama ini, Dorman berusaha keras menyembunyikan penyebab sebenarnya kematian sang istri. Ia melakukan semua itu demi hubungan baiknya bersama Reiga. Dorman tidak mau Reiga membencinya, Dorman juga tidak ingin jika satu-satunya ahli warisnya pergi menjauhinya.
Namun, kenyataan yang baru ia ketahui beberapa hari lalu, membuat hati Dorman luluh lantak. Ia tidak menyangka, ia tidak menduga, jika Reiga benar-benar menyukai Anyelir, yaitu ibu tirinya.
Bukan soal siapa wanita yang dicintai oleh Reiga, namun tentang perasaan seorang ayah yang hancur mengetahui anaknya yang tega menikamnya dari belakang.
Saat Dorman berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku, ia secara tidak sengaja menyenggol gelas yang berada di meja dekat ranjangnya.
Sontak Reiga terkejut. Ia bangun dari tidurnya dengan cepat dan menghampiri Dorman.
"Ayah? Ayah sudah sadar?" tanya Reiga. Ia menekan tombol darurat untuk memanggil perawat.
"Ayah mau minum?" tanya Reiga. Ia melihat gelas kaca yang pecah di lantai dan segera membersihkannya. Reiga lalu mengambil sebotol air mineral dan membantu Dorman minum melalui sendok.
Tidak lama kemudian, seorang perawat datang. Saat melihat Dorman sudah sadar, perawat tersebut kembali keluar dan memanggil dokter.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Reiga.
Dorman ingin berbicara, ia ingin menjawab pertanyaan anak tercintanya. Dorman ingin mengungkapkan kesedihannya dan menanyakan pada Reiga mengapa ia tega melakukan semua ini padanya.
Namun, Dorman tidak hanya kesulitan menggerakkan tubuhnya. Dorman bahkan kesulitan bicara. Ia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tanpa mengeluarkan suara.
Reiga terdiam, berusaha memahami gerakan mulut ayahnya.
"Maafkan aku, Ayah," ucap Reiga pelan. "Ini semua salahku," lanjutnya.
Dorman hanya bisa meneteskan air mata. Ia ingin marah, ia kesal, namun semua ini bukan sepenuhnya salah Reiga.
"Ma ... ap," ucap Dorman sekuat tenaga.
Reiga menatap sang ayah dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak pernah bermaksud untuk membalas dendam atau membuat Dorman dalam keadaan seperti ini. Namun Reiga tidak bisa lagi menahan diri karena semua perbuatan ayahnya sudah melewati batas.
"Jangan katakan apapun, Ayah. Dokter akan segera datang," ucap Reiga sambil mengusap punggung tangan ayahnya.
Tidak berselang lama, seorang dokter bersama perawat pun tiba. Dokter segera melakukan pemeriksaan pada Dorman. Sementara perawat mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium.
Selepas kepergian Dokter dan perawat, Reiga menarik kursi dan duduk di dekat ayahnya.
Reiga menggenggam tangan Dorman dan menatap wajah pucat ayahnya.
"Maafkan aku, Ayah. Maaf karena aku telah berkhianat dan membuat Ayah kecewa."
__ADS_1
"Aku mencintai Anyelir, aku menyukainya sudah cukup lama. Aku tidak tahan saat Ayah selalu menyakitinya, aku tidak bisa melihatnya menderita karena perlakuan buruk Ayah."
"Aku paham ini semua adalah kesalahan, ini tidak seharusnya terjadi. Tapi, kami saling mencintai. Aku mencintainya dengan tulus."
"Aku ingin mengungkapkan semuanya dengan jujur, aku tidak ingin berbohong lagi."
"Aku anak yang kurang ajar. Aku anak durhaka dan tidak tahu diri. Maafkan aku," ucap Reiga.
Tampak Dorman meneteskan air mata. Bibirnya bergetar, ia ingin berbicara, namun ia tak kuasa.
"Ayah boleh membenciku, aku bisa menerimanya. Tapi sampai saat ini, aku tidak pernah menyesal mencintai Anyelir. Aku hanya menyesal karena terlambat mengenalnya."
Dorman tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Laki-laki tua itu hanya bisa mengedipkan mata berkali-kali sambil membuka mulutnya. Dorman pun tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan leluasa, ia hanya bisa sedikit menggerakkan tangan meski berusaha sekuat tenaga.
"Ayah, apa ini sakit?" tanya Reiga. Ia memandang wajah pucat sang ayah.
"Ayah harus menyesali semua perbuatan Ayah. Mungkin ini hukuman, mungkin ini karma yang harus Ayah terima akibat semua perbuatan Ayah."
"Jangan lupakan ibu, Ayah. Berusahalah untuk mengerti setiap rasa sakitnya saat Ayah selalu memukulnya."
Reiga merasa puasa mengungkapkan semua yang ia rasakan. Meski ia tahu jika tidak seharusnya ia mengatakan semua ini saat ayahnya sedang lemah tak berdaya, namun Reiga ingin Dorman mengetahui isi hatinya.
Selama ini Reiga selalu menahan diri untuk tidak mengungkit kebenciannya. Kini akhirnya ia punya kesempatan. Meski Dorman tidak bisa menyangkal atau membantah semua ucapannya, namun Reiga berharap Dorman bisa memikirkan semua perbuatannya dan menyesalinya.
"Ini semua kejujuranku, Ayah. Maafkan aku," gumam Reiga.
__ADS_1