
Kesabaran serta perjuangan yang tidaklah mudah kini telah membuahkan hasil. Setelah sekian lama melakukan persiapan dan segala keperluannya, tibalah hari di mana Anyelir dan Reiga akan menaiki pelaminan bersama.
Keduanya adalah pendatang yang baru dua bulan lamanya tinggal di kota baru, tidak banyak yang hadir dalam acara pernikahan mereka, hanya beberapa teman kampus Anyelir serta sejumlah teman dosen Reiga yang sama-sama mengajar di kampus yang sama.
Kedua orang tua Anyelir pun nampak sangat bahagia, mereka melihat Anyelir tersenyum dengan tulus. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi mereka selain melihat Anyelir bahagia dan menemukan tambatan hatinya.
Prosesi pernikahan berjalan dengan singkat dan lancar. Meski hanya digelar secara sederhana di sebuah hotel, namun semuanya nampak sangat bahagia.
"Kalian akan langsung pulang ke rumah setelah ini?" tanya Seruni.
"Ya, Bu," jawab Anyelir.
"Ah, tidak, Bu. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk Anyelir. Jadi untuk beberapa hari ini, kami akan menginap di tempat lain," sela Reiga.
"Kejutan?" Anyelir menoleh, menatap laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya.
"Hmm, kejutan." Reiga mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, kami akan pulang dan menunggu kalian di rumah," ujar Sapto.
"Baik, Ayah, Ibu. Hati-hati dijalan." Anyelir dan Reiga bergantian mencium tangan kedua orang tuanya.
Pesta pernikahan yang digelar secara singkat telah berakhir. Para tamu undangan serta kedua orang tua Anyelir pun sudah kembali pulang.
__ADS_1
Kini, Reiga membawa Anyelir ke sebuah resort mewah yang terletak cukup jauh dari rumah mereka.
Jauh-jauh hari sebelum pesta pernikahan diadakan, Reiga sudah menyewa tempat terbaik sebagai hadiah bulan madu untuk istrinya.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Anyelir. "Aku bahkan belum berganti pakaian," keluhnya.
"Ini kejutan."
"Bagaimana kita bisa pergi selama beberapa hari jika kita tidak menyiapkan apapun?"
"Aku sudah menyiapkan segalanya, Sayang. Jangan khawatir," ucap Reiga tenang. Sebelah tangannya meraih tangan Anyelir dan menggenggamnya.
Anyelir tidak banyak bertanya, ia hanya tersenyum dan menatap suaminya. Anyelir tahu, Reiga tidak akan pernah membuat rencana tanpa persiapan, dan Anyelir mempercayai apapun yang laki-laki itu lakukan.
Setelah perjalanan memakan waktu hampir satu jam, tibalah mereka di depan sebuah gerbang besar yang terbuat dari kayu.
"Ah, kau membuatku penasaran," gumam Anyelir.
"Aku harap kau menyukainya," ujar Reiga.
Setelah mobil masuk, Reiga langsung memarkir mobilnya di depan sebuah bangunan kayu yang unik namun tetap terlihat mewah dan elegan.
Suasana asri sangat terasa di sini, Anyelir bahkan bisa merasakan sesuatu yang berbeda saat keluar dari mobil.
__ADS_1
Reiga menuntun Anyelir, lalu membuka penutup matanya.
"Kejutan!" seru Reiga.
Anyelir membulatkan matanya lebar, menatap sekeliling dengan pandangan kagum. Kini ia berdiri di sebuah tempat yang sangat berbeda dari suasana perkotaan.
Bangunan di depannya terbuat dari dinding kayu, sebuah jembatan kecil pun terbuat dari kayu dengan sungai buatan yang mengelilingi bangunan.
"Kita di mana?" tanya Anyelir.
"Ini adalah tempat bulan madu kita," bisik Reiga menjawab. Anyelir tersenyum, kedua pipinya merona merah karena malu.
Saat memasuki bangunan yang bisa disebut rumah sementara ini, Anyelir semakin kagum. Segala interior berbahan dasar kayu namun begitu unik dan modern.
Reiga mengajak gadis itu berkeliling untuk melihat pemandangan sekitar dan semua ruangan.
Resort berbentuk lingkaran dengan bagian tengah terdapat kolam renang ini sangat menakjubkan. Anyelir bisa merasakan suasana asri dan sejuk di tempat ini. Sama seperti suasana di pedesaan tempat ia tinggal sebelumnya.
"Kau suka?" tanya Reiga.
"Hmm."
"Baiklah, kalau begitu kita akan ke ruangan intinya," ajak laki-laki itu. Ia menggandeng Anyelir dan melewati ruangan yang berfungsi sebagai tempat menonton televisi dan bersantai.
__ADS_1
Mereka membuka pintu, memasuki sebuah kamar berukuran besar dengan dipan kayu serta tempat tidur yang sudah dihias dengan kelopak bunga yang indah.
Anyelir merasa sangat senang. Baru kali ini, ia benar-benar merasa bahagia dan dicintai sebagai seorang wanita.