
Dorman masih terlihat tidak puas dengan jawaban Reiga. Meskipun pada dasarnya Dorman sangat mempercayai Reiga, namun entah mengapa kini Dorman memiliki firasat yang berbeda.
Dorman terus meringis menahan sakit di dadanya. Dorman merasa sakit hati bukan karena Anyelir adalah gadis yang ia cintai, namun Dorman merasa sakit hati karena kabar buruk ini menyeret anak semata wayangnya. Dorman takut jika anak yang ia bangga-banggakan nyatanya tidak seperti apa yang ia harapkan.
"Kita sudahi pembicaraan ini, Ayah harus istirahat," ujar Reiga. Ia masih bisa melihat sang ayah sedang menahan rasa sakitnya.
"Bagaimana denganmu, Anyelir? Apa kau yakin jika kau tidak menggoda putraku?" Dorman melempar pertanyaan pada istrinya.
"Tidak mungkin. Saya tidak mungkin berani melakukannya!" jawab Anyelir dengan tegas. Meskipun hubungan gelapnya bersama Reiga adalah suatu kebenaran, namun sejak awal ia tidak pernah sedikitpun memiliki niat untuk menggoda Reiga.
Dorman memandang Anyelir dengan tatapan tidak percaya. Wajah laki-laki paruh baya itu datar, kedua matanya tidak berkedip menatap gadis yang sudah beberapa bulan menjadi istrinya.
"Jika kau berani sekali saja menggoda Reiga. Maka bukan hanya kau yang akan mendapatkan akibatnya, melainkan kedua orang tuamu juga akan ikut merasakannya!" tegas Dorman memperingatkan.
Anyelir duduk dengan gemetar. Kedua tangannya saling meremas. Anyelir merasa cemas dan ketakutan.
"Jangan mengancamnya, Ayah. Kami sudah katakan jika berita itu bohong. Jadi Ayah tidak perlu memikirkannya," sela Reiga.
Dorman menarik napas dalam-dalam untuk meringankan rasa nyeri di dadanya. Ia begitu mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Reiga. Dorman berpikir, jika Reiga tidak akan pernah mungkin membohonginya.
Setelah keadaan mulai tenang, Reiga segera mengantar Dorman ke kamar tamu. Reiga tidak mau jika Dorman terus menerus membuat Anyelir terpojok dan ketakutan. Reiga khawatir jika penyakit Dorman semakin parah, dan Anyelir juga semakin menderita karena masalah ini.
Selepas kepergian Dorman dan Reiga, Anyelir kembali ke kamarnya sendiri. Ia menaiki anak tangga dengan kaki gemetar. Anyelir benar-benar cemas. Ia takut jika hubungannya dengan Reiga terbongkar. Anyelir tidak mengkhawatirkan dirinya, namun ia mengkhawatirkan nasib kedua orang tuanya.
Di dalam kamar, Anyelir menangis. Ia tidak tahu bagaimana awal mula semua ini terjadi. Anyelir paham, Anyelir tahu, jika cinta yang bersemayam di hatinya adalah cinta berlapis dosa yang tidak akan pernah menemukan jalannya.
Anyelir telah melangkah begitu jauh dari kebenaran yang selama ini ia pertahankan. Anyelir baru sadar, jika cinta yang ia rasakan juga membawa begitu banyak kepedihan.
Saat Anyelir sedang merenungi semua kesalahannya, pintu kamarnya terbuka perlahan.
Anyelir menoleh, melihat Reiga berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja," ucap Reiga pelan. Ia duduk berjongkok di depan Anyelir, sementara gadis itu duduk di pinggiran kasur dengan wajah basah oleh air mata.
"Maafkan aku karena membuatmu berada dalam masalah ini," ujar Anyelir.
"Tidak, ini bukan kesalahanmu. Aku mencintaimu dan aku menyayangimu, itu bukan kesalahanmu. Aku memutuskan untuk mencintaimu karena hatiku memilihmu," jelas Reiga.
"Tapi semua ini sudah salah sejak awal. Seharusnya kita ...."
"Ssttt!" Reiga menempelkan jari telunjuknya di bibir Anyelir sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya.
"Kau tidak pernah memaksaku untuk mencintaimu. Aku mencintaimu dengan kemauanku. Jadi jangan salahkan dirimu."
Anyelir menatap Reiga. Ia membiarkan laki-laki itu mengusap bulir bening yang terus menerus jatuh membasahi pipinya
"Mulai saat ini, lebih baik kita berhenti. Semuanya sia-sia, kita tidak akan pernah menemukan jalan untuk bersama," ujar Anyelir. Ia meraih tangan Reiga di pipinya, lalu menjauhkan tangan itu dari kulitnya.
"Tidak, jangan mengatakan hal seperti itu. Aku ingin kita tetap bersama!" tolak Reiga.
"Kita tidak bisa melakukannya. Kita hanya akan saling tersakiti dan menyakiti orang-orang yang menyayangi kita. Ini salah, ini bukan cinta, melainkan nafsu!"
"Apapun yang kau katakan, aku tidak akan pernah mundur. Kita tetap akan seperti ini. Aku akan mengungkap kebenarannya di waktu yang tepat!" tegas Reiga. Ia pun berjalan keluar dari kamar dan meninggalkan Anyelir.
Rasa cintanya untuk Anyelir sudah tumbuh dan berakar dengan kuat. Reiga tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja. Ia tidak pernah mencintai seseorang sampai sedalam ini. Dan Reiga tidak akan pernah berhenti untuk tetap pada pilihan hatinya.
...****************...
Sejak kabar buruk itu muncul, Dorman kini lebih mengawasi Anyelir. Dorman selalu berada di dekat gadis itu setiap hari dan setiap waktu.
Dorman bahkan menjadi lebih sensitif dari biasanya. Kini kebiasaannya untuk memaki dan menghardik Anyelir lebih parah. Dorman bahkan tidak segan-segan menyakiti gadis itu dengan banyak cara. Sedikit saja Anyelir melakukan kesalahan atau salah berbicara, maka Dorman akan langsung murka dan memukulnya.
Selain mengawasi Anyelir dengan ketat, Dorman juga berusaha untuk menjauhkan Reiga dari Anyelir. Dorman sengaja membuat Reiga bekerja di perkebunan dari pagi hingga sore hari, ia juga melarang keras Anyelir makan di meja makan serta mengurus keperluan Reiga.
__ADS_1
Dorman ingat, beberapa waktu lalu Anyelir berniat melunasi seluruh hutangnya yang berjumlah cukup besar. Selama ini Anyelir tidak bekerja dan ayahnya tetap bekerja di perkebunan teh seperti biasa. Tidak mungkin Anyelir bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Dorman menebak, jika Anyelir berusaha merayu Reiga untuk memberinya uang.
Saat ini, Dorman berada di ruang makan dan memperhatikan Anyelir yang sibuk memasak hidangan untuk makan malam mereka. Dorman memperhatikan gadis itu dengan seksama. Dorman jelas tahu jika kecantikan istrinya tidak diragukan lagi, bahkan seluruh warga desa mengakuinya. Dorman khawatir, Reiga menjadi lemah dan lengah hingga mudah diperdaya oleh pesona serta kepolosan Anyelir.
"Mulai hari ini, kau harus tidur bersamaku di kamar tamu," ucap Dorman. Anyelir menoleh, inilah yang ia takutkan.
"Bukankah Reiga menemanimu?" tanya Anyelir.
"Ya, tapi mulai malam ini kau yang akan menemaniku."
"Baik." Anyelir mengangguk setuju. Itu adalah sebuah perintah, dan ia dilarang untuk menolak.
Beberapa saat kemudian, Anyelir telah menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba, Reiga datang dan duduk di dekat Dorman. Anyelir pun mengerti, ia bergegas pergi meninggalkan ruang makan.
"Bagaimana keadaan perkebunan hari ini?" tanya Dorman.
"Baik, Ayah. Seperti biasa," jawab Reiga. Ia tampak lelah, sudah berhari-hari ia bekerja hampir seharian penuh.
"Bersihkan dirimu. Lalu kita makan bersama," pinta Dorman. "Mulai malam ini, tidurlah di kamarmu. Anyelir akan menemani ayah," lanjutnya.
Reiga terkejut, ia mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" tanya Reiga.
"Kenapa apanya? Apakah ada yang salah jika Ayah ingin Anyelir menemani Ayah?"
"Tidak. Maksudku, kenapa tiba-tiba sekali? Bukankah Ayah senang jika aku yang menemani Ayah?"
"Kau harus beristirahat dengan nyaman dan tenang. Lebih baik jika kau tidur sendiri di kamarmu."
"Ayah tidak akan menyakiti Anyelir, kan?" tanya Reiga.
__ADS_1
Dorman mengerutkan kening. Ia cukup kesal dengan pertanyaan Reiga. Namun Dorman berusaha menahan diri, ia tidak mau meledak dan membuat hubungannya dengan Reiga merenggang.
"Apa yang terjadi di antara Ayah dan Ibu tirimu itu bukan urusanmu," jawab Dorman. Ia melajukan kursi rodanya meninggalkan Reiga yang masih duduk mematung di ruang makan.