
Sudah lebih dari satu Minggu Dorman menjalani perawatan di rumah sakit. Keadaan laki-laki paruh baya itu berangsur membaik, namun ada beberapa masalah yang membuatnya belum diizinkan pulang oleh dokter.
"Bagaimana keadaan Ayah hari ini," tanya Reiga pada Anyelir. Seperti biasa, Reiga selalu datang ke rumah sakit setiap pukul empat sore untuk menyusul Anyelir. Ia duduk bersama Anyelir di kursi tunggu di depan ruangan tempat Dorman dirawat.
"Sudah lebih baik. Beliau sudah mau makan dan tidak terlalu sering mengeluh sakit," jawab Anyelir.
"Syukurlah. Aku akan masuk dan mengantarmu ke apartemen," ucap Reiga. Anyelir mengangguk.
Reiga masuk ke dalam ruangan dan melihat keadaan ayahnya.
"Ayah baik-baik saja?" tanya Reiga.
"Kapan Ayah boleh pulang? Ayah bosan di sini. Siapa yang mengurus kebun teh kita?" tanya Dorman.
"Aku sudah menghubungi orang kepercayaan Ayah dan memintanya mengurus semuanya. Jangan khawatir."
Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Dorman. Sejak ia sadar, Dorman hanya mengkhawatirkan pekerjaannya. Ia khawatir para pekerjanya tidak bekerja dengan baik dan menimbulkan kerugian padanya. Namun Reiga terus meyakinkan sang ayah, bahwa kesehatannya lebih penting dari harta mereka.
"Aku harus mengantar Anyelir ke apartemen. Jika Ayah butuh sesuatu saat aku tidak ada, Ayah bisa memanggil perawat," ujar Reiga.
"Biarkan dia berjalan kaki. Kenapa setiap hari kau selalu repot-repot?"
"Kasihan dia, Ayah. Dia sudah datang setiap pagi dengan berjalan kaki. Mana mungkin aku tega membiarkannya kembali dengan berjalan kaki lagi."
"Orang miskin sepertinya tidak perlu di manja. Nanti lama-lama dia malah keenakan!" seru Dorman.
"Sudahlah, Ayah. Tanpanya, aku belum tentu bisa mengurus Ayah sendirian."
Dorman terdiam, ia tidak mau berdebat dan membuat Reiga kesal padanya. Karena untuk sementara waktu, Dorman harus menggantungkan hidupnya pada Reiga dan Anyelir. Ia tidak bisa melakukan apapun tanpa mereka berdua. Dan dengan terpaksa, Dorman harus menahan diri untuk tidak membuat masalah.
Setelah berpamitan pada ayahnya, Reiga langsung mengantar Anyelir kembali ke apartemen. Namun karena bahan makanan persediaan mereka telah habis, Reiga mengajak Anyelir pergi ke toko swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan dapur.
Di swalayan, Anyelir membeli beberapa jenis sayuran, lauk pauk serta buah-buahan. Ia lebih memilih untuk memasak sendiri makanan untuk mereka daripada harus menghabur-hamburkan uang untuk membelinya di restoran.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, mereka langsung menuju apartemen.
"Pulanglah saat makan malam, aku akan memasak untuk kita," ucap Anyelir saat Reiga menurunkannya di depan gedung apartemen.
__ADS_1
"Hmm, tentu." Reiga mengangguk setuju.
Setelah Reiga kembali ke rumah sakit, Anyelir langsung masuk ke unit apartemen milik Reiga dan mulai memasak.
Anyelir memasak setiap pagi untuk dibawa ke rumah sakit dan sebagian ditinggalkan di apartemen untuk makan siang Reiga. Lalu Anyelir akan memasak lagi untuk makan malam mereka berdua setiap hari.
Reiga sangat menyukai masakan Anyelir, ia rela bolak balik dari rumah sakit ke apartemen hanya untuk makan malam bersama gadis itu. Selain karena masakan Anyelir yang enak, Reiga juga tidak tega jika membiarkan Anyelir menikmati makan malam seorang diri.
Selama ini Reiga tidak pernah mengatakan pada Dorman jika ia selalu pulang ke apartemen setiap jam makan malam untuk makan bersama Anyelir. Reiga selalu mengatakan jika ia pergi ke kantin rumah sakit untuk makan tanpa melibatkan Anyelir.
Seperti malam ini, laki-laki itu meminta izin pada sang ayah untuk pergi membeli makanan, namun karena sudah lebih dari satu minggu Reiga tidak pernah tidur nyenyak dan selalu menunggunya di rumah sakit, Dorman merasa kasihan pada anak semata wayangnya.
"Bagaimana jika kau tidur saja di rumahmu dan suruh Anyelir kemari? Kau terlihat lelah," ujar Dorman.
"Tidak, Ayah. Dia sudah mengurus Ayah seharian. Dia juga pasti lelah," jawab Reiga.
"Kenapa kau sangat peduli padanya, Reiga? Memang sudah menjadi tugasnya mengurus Ayah."
"Tidak apa, aku baik-baik saja. Aku akan kembali setelah makan."
"Apa Ayah akan baik-baik saja?"
"Ya." Dorman mengangguk. Dibalik sikap kasar dan tempramen buruknya pada semua orang, satu-satunya hal yang membuat Dorman masih memiliki hati adalah putranya, Reiga. Dorman sangat menyayangi dan mencintai Reiga, Dorman selalu melakukan segala hal untuk kebahagiaan anaknya. Karena Reiga adalah satu-satunya anak yang akan mewarisi seluruh kekayaan yang ia kumpulkan hingga saat ini.
...****************...
Di apartemen, Anyelir sudah menata semua masakannya di atas meja makan. Ia duduk dan menunggu dengan sabar.
Hanya berselang beberapa menit, terdengar suara bel berbunyi. Ia segera membuka pintu dan mempersilahkan Reiga masuk.
"Ayo makan," ajak Anyelir. Reiga mengangguk dan tersenyum.
Mereka berdua menikmati makan malam seperti hari-hari biasanya. Selain berparas cantik dan baik hati, Anyelir punya keahlian memasak yang cukup mengagumkan.
"Aku membawa pulang selimut milikmu dan mencucinya. Jangan lupa membawa selimut ganti agar kau tidak kedinginan di rumah sakit," ujar Anyelir di sela makan mereka.
"Malam ini aku tidak kembali ke rumah sakit. Ayah menyuruhku tidur di hotel, Ayah tahu aku tidak bisa tidur nyenyak di rumah sakit," jawab Reiga.
__ADS_1
"Tidurlah di sini. Kau bisa tidur di kamar sementara aku akan tidur di sofa."
"Tidak, kau bisa tetap tidur di kamar. Aku yang akan tidur di sofa," tolak Reiga. Anyelir tersenyum dan mengangguk.
Beberapa waktu terakhir, Anyelir lebih banyak tersenyum. Gadis itu semakin cantik dengan wajah ceria dan senyum merekah di bibirnya.
Reiga tahu, selama ini yang membuat Anyelir menjadi gadis pemurung dan pendiam adalah sang ayah. Dan kini, Dorman tidak bisa menyakiti Anyelir lagi. Hal itulah yang membuat Anyelir perlahan sembuh dari luka batinnya.
Setelah menghabiskan makanan, Reiga membantu Anyelir membersihkan meja makan, sementara Anyelir sibuk mencuci piring dan gelas mereka.
"Aku harus mengerjakan beberapa tugas. Tidurlah lebih awal agar kita bisa pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali," ucap Reiga. Ia masuk ke dalam perpustakaan pribadinya sementara Anyelir masuk ke dalam kamarnya.
Pukul sebelas malam saat Reiga keluar dari perpustakaannya, ia menemukan Anyelir sudah tertidur pulas di sofa dengan layar televisi masih menyala.
Reiga merasa tidak tega membangunkan gadis itu, ia berinisiatif untuk menggendong Anyelir dan memindahkannya ke dalam kamar.
Saat di kamar, Reiga menatap wajah Anyelir lebih dekat. Ia mengagumi kecantikan alami ibu tirinya. Anyelir memiliki kulit yang putih, tubuhnya padat berisi. Gadis itu memiliki bulu mata yang lentik serta dua lesung pipit yang cantik.
Secara tidak sadar, Reiga mengusap bibir tipis Anyelir dengan jarinya.
"Kenapa kau begitu cantik? Dan kenapa kau adalah ibu tiriku?" gumam Reiga pelan.
Anyelir terbangun, ia membuka matanya perlahan dan menemukan wajah Reiga begitu dekat. Anyelir terdiam, ia menatap Reiga dengan seksama.
Pelan tapi pasti, Reiga semakin dekat. Laki-laki itu kehilangan kendali dan mulai mencium bibir Anyelir dengan lembut.
Anyelir terpaku, hatinya ingin menolak, pikirannya ingin memberontak. Namun tubuhnya berkehendak lain. Anyelir justru membalas ciuman Reiga hingga keduanya telah melupakan hubungan apa yang ada diantara mereka saat ini.
Malam ini, mereka berdua tidak bisa lagi menahan diri. Rasa yang diam-diam bersemi di hati keduanya pun mulai tumbuh subur tanpa mereka sadari.
Malam ini bahkan tanpa ragu, Anyelir dan Reiga menghabiskan malam yang panas dan penuh gairah. Keduanya dimabuk oleh hasrat dan keinginan yang membara. Mereka telah jatuh terlalu jauh ke dalam dosa. Hubungan yang tidak seharusnya terjadi ini akan membuat sebuah cerita yang berbeda di antara keduanya.
Suara ******* dan erangan kenikmatan menggema dalam kamar. Anyelir baru saja melepaskan mahkota yang ia pertahankan di depan suaminya, namun dengan suka cita merelakan semuanya untuk anak tirinya.
Ironisnya, Reiga bahkan tidak ingat jika gadis yang tengah berbagi peluh bersamanya adalah gadis yang dinikahi oleh ayahnya. Gadis yang seharusnya ia panggil dengan sebutan 'ibu'.
Ini adalah malam yang panjang, malam terbaik yang takkan terlupakan bagi dua orang yang sama-sama sudah berusaha mengabaikan perasaan.
__ADS_1